Excited
Setelah nongkrong di garasi hampir 4 bulan, ahirnya kesampaian juga ngajak olah raga dan jalan-jalan Grand Livina (GL) 1.8 A/T dengan rute agak jauhan sekaligus untuk membuktikan sendiri testi dari rekan-rekan sesama pengguna GL tentang bagaimana nyamannya mobil ini jika digunakan untuk touring jarak jauh.
Yang membuat perjalanan kali ini menjadi sangat menarik karena kota yang hendak dituju ada di sekitar Provisinsi Bengkulu, tepatnya kota Curup. Dimana ini untuk pertama kalinya gue nyupir di Sumatera. Mungkin banyak rekan-rekan yang sudah sering mondar-mandir nyupir pulang-pergi Pulau Sumatera-Pulau Jawa (bahkan dari kota yang jaraknya lebih jauh dari Bengkulu) yang menganggap rute seperti ini adalah rute yang biasa saja. Namun tidak buat gue. Ini akan menjadi pengalaman yang sangat mengesankan.
Cerita tentang betapa asiknya jalur di Sumatera selalu terngiang kala gue mempersiapkan segala keperluan untuk solo-touring ini. Semua oleh-oleh, tas bahkan sepeda MTB ukuran M sudah duduk manis di bagian belakang. Karena penumpang cuma 3 orang termasuk gue maka bangku baris ketiga gue lipat. Untuk terahir kali gue coba-coba googling menyari info kondisi terahir jalan di Jalur Lintas Tengah Sumatera namun hasilnya tetap sangat minim.
Bismillah, dengan niat menyambung silaturahmi, berbekal peta keluaran Navnet versi paling terbaru dengan rute di GPS juga sudah disiapkan jauh-jauh hari ahirnya hari Sabtu tanggal 7 Januari 2012 jam 2 pagi perjalanan dari Cikarang dimulai dengan harapan saat matahari masih malu-malu mengintip gue sudah akan keluar dari area Pelabuhan Bakaheuni Lampung.
Gue baru tahu ternyata jam berapapun kita di Pelabuhan Merak, maka gak ada istilah gak ngantri saat mau masuk ke kapal. Untung mobil gue urutan kedua terahir yang masuk kapal karena urusannya bisa harus nunggu kapal lain andai saja gue ada diurutan ketiga. Untuk mobil-mobil yang masuk ke kapal antrian terahir maka drivernya diminta menjalankan mobil dengan arah mundur. Sebuah tantangan untuk melewati jalur yang menanjak, lumayan sempit plus belokan tajam sebelum masuk ke dek kapal. Namanya juga newbie, gue gak lulus di belokan tersebut. Harus mundur maju beberapa kali untuk mendapatkan sudut yang pas agar GL ini masuk dengan lurus
Etape I
Perhitungan gue sedikit meleset, saat mobil meninggalkan area pelabuhan ternyata sudah jam 6-an lebih dan jalan sudah mulai ramai oleh para pengendara R2 terutama anak sekolah. Rencananya gue memang gak akan memaksakan diri nyupir non-stop sampai ke Curup. Cerita tentang masih rawannya daerah sekitar Lahat – Tebing Tinggi juga menjadi salah satu alasan untuk nantinya mencari penginapan saat hari sudah menjelang gelap.
Perjalanan selepas Bakaheuni aspal sedikit gak mulus tapi so far lancar jaya masih bisa diladeni dengan santai oleh suspensi GL. Istrihat sarapan pagi sebentar sekalian isi bensin di SPBU 24.354.60. Total jarak dari Cikarang sampai di SPBU ini 228 km, isi sampai full tank lagi sebanyak 19.7 lt. So FC kira-kira 1 : 11.5 Not bad lah untuk mobil 1800 cc. Walapun jalanan lancar tapi semalam di Tol Merak agak-agak lumayan kenceng.
Setalah disajikan jalan apal mulus ahirnya selepas Bandar Lampung ketemu juga jalan rusak sepanjang hampir 2 Km dimana ditengahnya terdapat puluhan meter bagian jalan yang seancur-ancurnya. Terpaksa dech jalan super duper pelan-pelan cari permukaan yang tidak terlalu dalam lobangnya. Heran juga sih kenapa lokasi yang tidak jauh dari kota besar kondisi jalannya dibiarkan rusak seperti ini.
Berhubung kita membawa makanan sendiri, istirahat, sholat dan makan (ishoma) siang kembali dilakukan di SPBU sekalian isi full tank lagi. Dengan jarak tempuh 267 km kali ini GL minum 21 lt. Kondisi jalan yang mulus sehingga bisa menjaga kecepatan mobil dengan konstan bisa membuat FC meningkat sedikit ke level 1 : 12.7. Lumayaaaaaan.
Bicara tentang bahan bakar, ada pemandangan yang sedikit membuat mata gerah saat di SPBU ini dimana terlihat sebuah pickup yang berisi penuh jerigen yang ditutupi oleh terpal merah sedang mengisi bensin. Upsssss ternyata yang sedang diisi bukan tangki pick up namun jerigen yang dibawanya. For info selepas Kotabumi di beberapa SPBU terdapat antrian yang lumayan panjang jadi agak ironis juga melihat di SPBU lain bensin ‘diborong’ seperti ini.
Pada etape I ini untuk sementara jalur favorit gue adalah mulai dari daerah sekitar Bukit Kemuning sampai dengan Kotabumi dimana kondisi jalan mulus dan di beberapa daerah ditambah sedikit bonus jalan yang berliku. Kondisi jalan tadi ditambah suasana jalan yang cenderung sepi sangat sayang untuk tidak dinikmati dengan sedikit menambah kecepatan.
Strut bar di ruang mesin plus stabilizer dibagian bawah dibelakang kendaraan membuat handling makin mantap saat melewati spot tadi
Sepertinya jalur lintas tengah Sumatera yang gue lewati ini memang bukan jalur pilihan utama para bis AKAP dan truk. Atau mungkin timingnya saja yang pas saat mereka beulm masuk ke daerah ini. Kalau sekilas diperhatikan jalan pada jalur lintas tengah ini lebarnya kurang lebih sekitar 7 meter dimana sebagian besar marka pembatas jalan masih jelas terlihat. Kondisinya bahkan lebih bagus dibandingkan jalan kelas provinsi di sekitar Pantura baik di wilayah Jawa Barat ataupun Jawa Tengah.
Etape I ini gue ahiri dengan mencari penginapan sederhana yang tidak terlalu jauh dari jalur utama saat selepas magrib kita memasuki daerah Baturaja. Weleeeh kalau dihitung lama juga yaaa gue nyupirnya. Dua belas jam-an perjalanan tapi baru sampai di Baturaja. Padahal kalau melihat peta jarak Bakaheuni – Baturaja hanya sekitar 400-an km. Eh tapi kan sepanjang hari tadi kita beberapa kali istirahat sholat, makan dan juga sempat berhenti lama karena di-stop oleh razia pak Polisi
Etape II
Setelah cukup istirahat di penginapan murah meriah di sekitar jalan Moh Hatta sekitar jam 7-an pagi gue kembali melanjutkan perjalanan. Jarak dari Baturaja ke Curup masih 400-an km lagi dan gue berharap selepas Ashar sudah tiba disana. Menurut kabar jalur Lahat – Tebing Tinggi – Lubuk Lingau jalurnya maknyus melewati ketinggian dengan jalan berliku-liku rolling naik turun. Sepertinya tempat yang pas untuk mengetes torsi, engine-brake dan suspensi
Sepanjang perjalanan suasanya antrian mobil di SPBU makin menjadi. Tidak mau berspekulasi keabisan bensin di tengah hutan maka gue memutuskan untuk selalu berhenti di SPBU mengisi full tank manakala jarum sudah menunjukkan 1/4.
Selepas Baturaja kondisi jalan sedikit berlubang. Sedapat mungkin gue hindari walau dengan sedikit zig-zig. Setelah sedikit keluar kota Lahat ternyata oh ternyata kabar tentang asiknya jalur ini memang bukan isapan jempol belaka. Jalanan sangat mulus namun sepi, sangat jarang gue berpapasan dengan kendaraan dari arah depan.
Dibeberapa daerah disisi kiri kanan jalan malah terlihat seperti hutan. No wonder lah kalau para pengendara agak-agak ‘sungkan’ melewati jalur ini dimalam hari jika tidak konvoi dengan kendaraan lain.
Melewati jalan berliku seperti ini gue sangat terbantu dengan adanya GPS dimana kita bisa tahu terlebih dahulu arah belokan selanjutnya didepan sana sehingga kita bisa memprediksi kecepatan yang pas saat memasuki tikungan tersebut. Sekedar info perkenalan gue dengan mobil bertransmisi matic juga belumlah lama, jadi kebiasaan gue untuk menurunkan kecepatan dengan engine-brake seperti saat membawa mobil bertransmisi manual masih sangat kental terbawa.
Jalan menanjak berliku selepas Tebing Tinggi dilahap dengan santai oleh GL ini. Ilmu dan pesan dari para senior yang biasa bawa matic untuk selalu menjaga momentum saat di tanjakan seperti ini memang benar-benar applicable.
Ada pertanyaan yang sempat menggelitik dalam hati saat melewati jalan mulus yang membelah hutan seperti saat memasuki Lubuk Linggau, apa yang terjadi jika mobil kita mogok. Kemanakah kita akan mencari pertolongan. Tidak berapa lama ahirnya jawabannya gue temukan sendiri saat melewati sebuah truk yang sedang berhenti disisi jalan
Semogaaaa gue gak mengalami hal seperti itu dalam perjalanan touring ke Sumatera ini Amiiiin.
Jalur Lubuk Linggau – Curup jalan berkelok makin menjadi. Disini suasanya jalan cenderung lebih ramai sehingga lebih dibutuhkan konsentrasi saat memilih lane sebelum masuk dan sesudah keluar jalur tikungan. Menurut kabar yang gue dengar manakala malam tiba lokasi sekitar Kepala Curup juga terkenal rawan. Namun alhamdulillah menjelang sore gue tiba selamat sampai di alamat yang dicari.
Etape III
Etape ini adalah saat pulang kembali ke Cikarang. Memulai perjalanan dari Curup sekitar jam 6 pagi melalui jalur yang sama saat berangkat. Perjalanan pulang akan dilakukan nonstop tanpa menginap. Selepas Bandar Lampung lewat tengah malam mata sudah mulai mengantuk. Dooooooh mana hujan lumayan lebat dan lagi marka pemisah jalan dibeberapa tempat menuju arah Bakaheuni sudah tidak jelas terlihat. Dengan pertimbangan bahwa nanti di dalam kapal bisa tidur untuk istirahat maka gue tetap melanjutkan perjalanan dengan kecepatan seadanya. Kalau seharian tadi istilahnya pantang untuk didahului mobil lain (halaaaaaah) maka kali ini kadang gue tidak bernafsu sama sekali even untuk mendahului truk yang jalannya juga santai
Ada sedikit pengalaman aneh dan lucu saat dalam perjalanan kurang lebih 1 jam menjelang Bakaheuni dimana saat itu gue merasakan ban Dunlop SP 300 bawaan standard GL ini seperti tidak menapak diaspal. Mobil rasanya seperti loncat-loncat ringan namun dalam frekuensi yang cepat sehingga setir ini jadi terasa lebih ringan. Buru-buru gue menurunkan kecepatan yang sebetulnya juga sudah lumayan pelan. “Doooh semoga gak ada masalah dengan ban gue ini”, gumam gue dalam hati. Gue memang masih agak trauma dengan urusan ban karena beberapa jam sebelum saat keberangkatan dari Cikarang ban kiri belakang gue terlihat kempis. Setelah diperiksa ternyata terlihat sebuah paku sedang asik maksud menancap disana. Untung ditengah malam itu masih ada kios tambal ban tubeless di seberang fly over Cikarang. Belakangan gue tahu penyebab kejadian roda mobil serasa tidak menempel diaspal tadi dikarenakan pada saat itu sedang terjadi gempa di Aceh dan getarannya sampai di Lampung.
Alhamdulliah setelah dihadang macet di jalan tol sedari Bekasi Barat sampai dengan Cibitung yang ternyata disebabkan oleh tertutupnya pintu tol Cibitung dikarenakan adanya demo yang dilakukan oleh para rekan-rekan pekerja di kawasan industri Cibitung dan sekitarnya ahirnya sekitar jam 9-an gue tiba kembali dengan selamat sampai di rumah.
Penutup
Kalau kemarin-kemarin gue cuma sekedar dengar dan baca testimoni para memilik GL kalau ‘katanya’ GL itu mobil yang asik digunakan untuk touring jarak jauh, ahirnya setelah merasakan sendiri sensasi berkendara membawa mobil ini sepanjang 1700-an km di jalur Lintas Tengah Sumatera gue setuju 100% atas pendapat tadi.
Balutan kulit pada jok (kebetulan versi GL ini adalah Ultimate), posisi stir dan design pilar A semakin membuat nyaman berkendara. Fungsi rem juga dapat diandalkan, bahkan pada suatu jalan lurus saat etape III ini sempat juga merasakan fasilitas ABS+EBD+BA manakala dalam kecepatan lumayan tinggi tiba-tiba gue melihat di depan sana ada lobang lumayan besar. Hardbraking tanpa ragu-ragu segera dilakukan, efek kedut pada pedal rem tanda ABS sedang bekerja sangat terasa dan GL dapat melewati lobang tadi dalam kecepatan yang diinginkan.
Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga bagi gue pribadi untuk bisa menikmati sebagian alam dan aspal Pulau Sumatera. Kalau sebelumnya gue beranggapan bahwa jalan raya antara jembatan Suramadu sisi Pulau Madura adalah jalan raya paling enak untuk dilalui maka sepertinya pendapat gue tersebut sedikit berubah setelah gue merasakan Jalur Lintas Tengah Sumatera khususnya menjelang masuk Provinsi Bengkulu.
Cheers,
Cikarang 22 Jan 2012

























