Curug Panjang, Air Terjun Atau Tanjakannya Yang Panjang?

Novel ini terdiri dari dua bagian, merupakan menu wajib di posting di milis CikarangMTB sehabis bersepeda. Perjalanan Rute Gadok – Curug Panjang pada tanggal 16 Januari 2010 kemarin yang full dengan jalan miring atas sungguh melelahkan bagi seorang newbie seperti gue ini.

Novel ini juga sudah diposting di http://sepedaku.com/forum/showthread.php?26405-Curug-Panjang-Air-Terjun-Atau-Tanjakannya-Yang-Panjang

————————————

Nyasar?? Sorry Yaaa … Enggak Tuh

Bangun tidur reflek gue melirik jam dinding, damnnn!!! jarum panjang dan pendek menunjukan jam  5.25 gue kesiangan. Langsung buru-buru mandi koboy, shalat subuh, sarapan roti 2 potong dan langsung nyalain mobil. Untungnya sepeda dan backpack udah dimasukin ke mobil semalam. “Hari ini sepedahan pulang jam berapa Mas?” tanya istriku. Hmmmm ini pertanyaan rutin yang selalu sulit untuk dijawab. “Insya Allah jam limaan sore lah,” jawabku sekenanya. Padahal sejujurnya gue gak yakin apakah hari ini bisa pulang jam segitu karena hari ini gue akan gowes bareng sama om AN, salah seorang kru CikarangMTB yang mengalir deras jiwa NI1 (Nyasar Itu Indah) pada dirinya. Apalagi baru beberapa hari yang lalu gue baca di milis bahwa angka ’1′ pada NI1 itu berarti adalah Nyasar 1 hari penuh.

Sampai di pelataran mesjid sembari cari tempat parkir gue ‘clingukan’ mencari wajah-wajah anak CikarangMTB yang mungkin gue kenal. Ahaaaaa itu om AN terlihat di parkiran bagian atas.

“Om AN, Sorry om saya terlambat ….” teriak gue dari balik kaca mobil. Gue baru tahu kalau ternyata om AN juga gak menyangka kalau ‘wibowo’ yang akan bareng gowes ke CP hari ini adalah ‘wibowo’ gue ini. Dan gue baru tahu juga kalau hari ini kita cuma akan gowes bertiga saja dengan om HPW. Gowes bareng dengan om AN dan om HPW hari ini bukanlah yang pertama. Gowes bareng om AN,  gue pernah bareng saat ke Curug Ciguentis. Sedang dengan om HPW kayanya gue dulu pernah gowes bareng RA – Gadok. But wait !!!! tapi kayanya dulu om HPW pake pedah Yeti dech. “Ahhh gak tau dech .. nanti ajah gue tanya langsung.” Gumam gue dalam hati. Tapi yang pasti setelah tau siapa teman gue gowes gue hari ini, gue langsung tahu bahwa pasti hari ini gue akan selalu ketinggalan jauh di belakang hahahahahaha.

Om HPW mengajak kita sarapan bubur dulu di seberang mesjid. Hmm ajakan yang menarik, mengingat gue paling takut gowes tanpa sarapan dulu apalagi tujuan kita gowes hari ini adalah sebuah curug yang pastinya akan banyak melalui tanjakan. Om AN ternyata gak tertarik untuk ikut sarapan. “Diperjalanan banyak warung kok,” kilahnya. Sementara hujan gerimis tanpa malu-malu mulai turun. Waaaah bakal gowes hujan-hujanan lagi nich pikir gue dalam hati sambil melirik isi tas om HPW dan AN sekedar menebak-nebak apakah mereka membawa raincoat atau tidak. Ternyata cuma om AN yang gak bawa raincoat.

Sambil memberi kayuhan pertama pada crank, sepeda kita arahkan ke arah kanan menuju RM Sarimande di rest area Ciawi. Om AN dan om HPW gowes santai sejajar sambil ngobrol. Tidak sampai 200 mt gowes hujan makin meningkat intensitasnya da gue memutuskan untuk berhenti sebentar untuk memakai raincoat. Rest area Ciawi sudah terlewati dan posisi gue masih urutan paling buncit. Tiba-tiba gue melihat mereka berhenti dan sepertinya hendak balik arah. “Ahhh gak mungkinlah … masa belum masuk jalur utara udah nyasar sih,” pikir gue dalam hati. Ehh tapi ternyata beneran loch ternyata kali ini om HPW agak-agak lupa belokan kanannya.

Gowes di pematang sawah atau di sela-sela pepohonan adalah favorit gue dan pagi ini semua itu gue dapatkan kala kita menyisiri kebun singkong milik penduduk. Sayup-sayup gue mendengar suara om HPW, “Pak jalan ini bisa tembus ke lapangan golf gak?”. Penduduk yang sedang berkebun tersebut mengangguk memberi sinyal kalau jalur yang kita tempuh benar adanya. Setelah mendekat dengan bercanda gue bertanya ke om HPW, “Om .. hari ini jatah kita menggunakan fasilitas bertanya sama penduduk berapa kali om?”

Menambah Pengetahuan

Bekas dua lajur telapak ban mobil terlihat jelas pada jalan berbatu ini dan salah satu jalur inilah yang gue pilih saat mengayuh santai mengarungi jalan menanjak tersebut. Sekedar untuk menghindari bebatuan yang lumayan besar yang terlepas dari dudukannya, sesekali ban depan sepeda gue arahkan ke tengah jalan dimana rerumputan tumbuh diantara bebatuan.

Walaupun tanjakan mulai terlihat tidak sopan menghadang, gue mencoba menyimpan senjata andalan dengan tetap mencoba menggunakan chainring tengah dan cassette ketujuh atau kedelapan. Diujung tanjakan dimana terdapat pertigaan dan sebuah rumah yang rusak terlihat om AN dan om HPW sedang beristirahat dengan mengobrol sambil menunggu gue. Obrolan ngalor ngidul sekitar komponen sepeda -yang menambah khasanah pengetahuan- mulai dari perbedaan material alumunium 60xx dengan 70xx sampai dengan jenis ban yang dipilih om HPW mengalir lancar diantara kita bertiga.

“Sebenarnya alasan saya memilih ban ini cuma karena ini,” kata om HPW sambil menunjuk tulisan yang ada di dinding ban sepedanya yang merupakan bagian dari nama seri ban tersebut.

Terlihat sebuah angka ’310′. “Beratnya cuma 310 gram.” Lanjut om HPW lagi.

“Alamak sedetail itukah langkah yang diambil om HPW dalam memilih komponen sepeda barunya ini” pikir gue dalam hati. Langsung gue teringat sebuah artikel di majalan MBAction saat mengulas sumbangsih masing-masing komponen dari Gary Fisher tipe Procaliber. Disana ditulis bahwa sebuah wheelset depan itu menyumbang 18.49% dari berat keseluruhan sepeda. Sedangkan kalau di breakdown lagi sebuah ban dari wheelset depan tadi menyumbang 37%.

“Hmmm berarti memang sungguh tepat langkah yang telah diambil om HPW.” Kembali gumam gue dalam hati.

Untuk kesekian kalinya gue menyilahkan mereka berdua gowes terlebih dahulu. Alasannya simple aja,  selain karena memang om HPW dikenal sebagai kuncennya jalur CP dan juga karena gue tahu banget kalau om AN itu biasanya gatal kalau melihat tanjakan. Tapi sebetulnya sih alasan utamanya karena dengan gowes paling belakang saat melahap tanjakan maka mereka berdua tidak akan tahu kalau gue sering berhenti untuk ambil nafas.

Tiba kembali pada ujung sebuah tanjakan jalan terlihat berbelok tajam ke arah kanan. Di depan pagar besi sebuah villa besar om HPW terlihat sedang menunggu Om AN dan gue. Namun alih-alih berhenti di tempat om HPW berdiri,  Om AN langsung belok kanan meneruskan gowesannya. Gue cuma bisa geleng-geleng kepala dan mencoba menebak dalam hati, Mungkin om AN sedang asik dengan irama gowesannya makanya ogah istirahat.

“Saya duluan ya .. takut om AN nyasar”, ujar om HPW saat mau mulai mengayuh menuju jalan aspal pertigaan pintu gerbang lapangan golf Gunung Geulis.

Om AN Membuang Sepedanya

Dipertigaan Bukit Pelangi terlihat om HPW sedang berhenti disebuah warung. Namun kembali gue tidak melihat om AN disitu. Kita berdua lalu melanjutkan perjalanan ke arah Bukit Pelangi dimana jalan aspal mulus seolah memberi salam hangat kepada kami berdua. Dari jauh terlihat sebuah rambu lalu lintas yang paling gue benci.  Yeeeaaah sebuah rambu dengan gambar segitiga runcing menghadap keatas memberi kabar bahwa didepan terhampar tanjakan. Arghhhh baru juga menikmati gowes onroad …. Kenikmatan semu!!!

Om AN dan om HPW gue lihat berbelok ke kiri memilih jalur offroad yang terlihat sedikit becek. sepanjang melalui jalur tanah ini sepanjang mata memandang ke arah kiri terlihat dengan indah pemandangan di bawah sana. Namun makin jauh masuk melalui jalan ini tanah makin terasa becek dimana tanah mulai bercengkrama dan bersembunyi diantara knob-knob ban depan Nevegal 2.35 sepeda gue. Ban ini makin lama makin lebih terlihat seperti donat ketimbang sebuah ban sepeda.

“Permisi Pak,” tegur om AN dan om HPW saat melewati dua orang penduduk yang sedang mengobrol di tengah jalan tanah tersebut. Sambil mengatur nafas yang mulai sedikit tersengal-sengal diiringi dengan makin beratnya beban pada ban, gue melewati dua penduduk tadi hanya dengan anggukan kepala memberi isyarat ‘permisi numpang lewat’. Sepertinya tadi gue udah gak punya energi untuk mengeluarkan tiga penggal kata ucapan permisi kepada dua penduduk tadi. Tidak lama kemudian dengan sedikit kaget gue melihat om HPW berhenti di tengah jalan, sepertinya sepedanya tertahan sebuah gundukan tanah gembur.

Sehabis melewati om HPW kembali gue dibuat kaget. Di depan gue terlihat om AN sedikit oleng ke kiri. Sementara gue lihat disisi kiri jalan permukaan tanah agak turun walaupun tidak terlalu tinggi. Om An terlihat melepaskan sepedanya jatuh kearah tanah yang lebih rendah tadi dan menjatuhkan badannya dengan sempurna pas di ujung sisi jalan ini. Om HPW segera menghampiri om AN yang sudah kembali berdiri.

“Tadi saat om HPW sepedannya terhenti karena gundukan tanah saya sempat menengok kebelakang, selepas dari itu tiba-tiba arah sepeda jadi oleng,” ujar Om AN saat kita tanya kok bisa hampir terjatuh.

Terus terang sampai saat ini gue masih gak mengerti mengapa banyak orang menyukai sepatu SPD dan pedal yang ada cleat-nya (tapi kok namanya malah clipless ya???).

“Om kalau situasi kaya tadi gitu, bagaimana caranya melepaskan kaki kita dari pedal dengan cepat,” demikian pertanyaan bohoh gue ke om AN

Dengan sabar om AN menerangkan trik-trik supaya dapat melepaskan sepeda dan jatuh denganposisi yang benar. Satu lagi pengetahuan yang gue dapat dengan gowes bareng om AN dan om HPW hari ini

Perpecahan Ahirnya Terjadi

 

Tiba-tiba om HPW menyuruh berhenti dan menyuruh mengarahkan sepeda kita sedikit kearah kanan atas ke sebuah sebidang tanah dimana tidak jauh dari situ empat orang penduduk sedang berocok tanam. Sedangkan dibelakang mereka terdapat seperti sebuah bukit tanah merah yang sepertinya enak untuk dituruni dengan sepeda. Kembali kemasalah belokan tadi, sejatinya perpindahan jalur tadi bukanlah berbentuk sebuah belokan

“Kok om bisa hapal sih kalau disini harus berbelok? kalau besok-besok saya ngajak temen kesini harus melihat tanda apa nich om?” kembali pertanyaan bodoh keluar dari mulut gue. Om HPW menunjuk sebuah pohon besar memberikan pertanyaan bodoh gue tadi. Dia juga cerita kalau saat ke CP bersama CikarangMTB mereka nyasar dan datang dari arah bukit tanah merah tersebut.

Jalan yang kita lalui mulai memasuki perumahan penduduk sampai ahirnya di ujung jalan kita bertemu dengan pertigaan. Kepada pemilik rumah yang berada diujung sisi kiri jalan tersebut om HPW kembali menggunakan fasilitas ‘bertanya’. Dijawab bahwa kalau belokan ke kanan adalah jalan buntu sedangkan kalau mau menuju Mega Mendung silahkan pilih arah kanan. Walaupun sudah sama-sama mendengar penjelasan yang sangat valid, kembali semangat NI1 datang menyerang om AN. “Saya coba lihat dan cek belokan kiri ya om,” ujar om AN mencoba memberi argumentasi. Om AN mulai gowes ke kiri dan om HPW ke kanan sedang gue memanfaatkan ‘perpecahan’ ini dengan beristirahat sejenak sambil  mengatur nafas.

“Pemandangan dibawah bagus banget,” terdengar suara om AN dari ujung sana. “Waduuuuh … apakah gue harus memanggil om HPW untuk kembali dan mencoba jalan yang dipilih om AN,”  pikir gue dalam hati.

Terdengar juga om AN yang sedang bertanya ulang kepada seorang penduduk yang sedang berjalan apakah jalur belok kiri tadi bisa tembus ke Mega Mendung. Ahirnya om AN keluar dari jalan yang dipilihnya tadi dan segera meluncur menyusul om HPW. Ahhhh leganya hati ini.

 

Kirim Salam Untuk ‘Abang’

 

Walaupun orang banyak bilang bahwa trek CP ini bertipe rolling dimana bercirikan adanya tanjakan, flat, turunan yang datang secara bergantian, namun sejauh ini kok gue merasakan yang ada cuma tanjakan dan tanjakan lagi. Namun gue tetap berusaha untuk ikhlas menghadapinya. Sama ikhlasnya ketika melahap tanjakan yang panjang pada sebuah jalan yang lumayan licin. Di ujung tanjakan kita berpapasan dengan rombongan beberapa goweser yang datang dari arah yang berlawanan yang nota bane tingggal menikmati tanjakan panjang yang baru saja gue lewati.

 

“Hati-hati om … Turunannya licin,” Om HPW mencoba mengingatkan rombongan tadi.

“Om Wibowo kerja dimana?” tanya om AN tidak lama setelah semua rombongan tadi habis melewati kita.

“Di BEJ Om,” jawab gue tanpa berusaha memberi jawaban detail.

Kembali kita meneruskan perjalanan dengan obrolan-obrolan ringan sampai ahirnya om AN bertanya kembali apakah nama perusahaan gue. “Saya di Bank Blablabla om,” jawab gue.

“Kenal dengan si xxxx xxxxxx xxxxx gak?” Tanya om AN dengan menyebut secara lancar nama seseorang yang sangat tidak asing bagi gue.

“Dia teman apanya om AN?” Gue berbalik bertanya dengan penuh selidik.

“Dia teman SD, SMP dan SMA waktu di Bontang. Kita dulu teman akrab. Ayah kita dulu sehabis kerja shift suka pergi mancing bareng dan kita suka diajak,” jawab om AN kembali.

Waaaaah what a small world nich pikir gue dalam hati. “Dia itu boss saya di kantor tuh om.”

Di sekitar Cipendawa hujan kembali turun dan kita berhenti beristrirahat disebuah warung untuk sekedar menunggu hujan reda sambil menikmati teh hangat manis.  Kepada beberapa orang yang sedang mengobrol kembali fasilitas ‘bertanya’ digunakan oleh om HPW. Kemudian om HPW menerangkan ke gue dan om AN bahwa jalan di depan warung ini yang menuju keatas yang dulu dia gunakan namun karena harus melewati sebuah komplek villa ada kemungkinan tidak diperbolehkan lewat. Sedangkan jalan yang menuju arah bawah juga dapat menuju arah yang sama namun sedikit agak memutar.  Om HPW memberikan kita pilihan, sebuah pilihan yang sulit. Pilihan jalan turun berarti nanti kita pasti akan dihadapkan lagi dnegan tanjakan yang lebih dahsyat yang bisa jadi  tidak sebanding dengan turunannya.

 

Sambil beristirahat iseng-iseng gue kirim sms ke boss gue dan bilang bahwa saat ini gue sedang gowes bareng dengan ‘Abang’ (panggilan kecil om AN) yang tadi katanya teman SD, SMP dan SMA boss gue. Tidak lama ada sms balasan dari boss gue masuk. “Hahahahaha iyaaa panggil dia ‘sumxxx’ yaa.  Teman baik tuh,” demikian isi sms tadi. Baru deh gue percaya 100% kalau om AN memang beneran teman akrabnya boss gue setelah membaca isi sms.

Di warung ini kita bertiga kembali ngobrol ngalur ngidul, mulai dari trek yang akan dilalui, game komputer favorit sampai XBOX360. Sejujurnya tipe gowes seperti inilah yang gue lebih sukai dimana kita gak terlalu dikejar-kejar waktu untuk mengayuh sepeda tanpa berhenti sedikitpun sekedar untuk istirahat ataupun chit-chat.

Telor Dadar Dimanakah Sesungguhnya Dirimu Berada

Konsekuensi membuat pemukiman di daerah perbukitan adalah jalan-jalan lingkungannya otomatis juga mengikuti kontur daerah tersebut dimana jalan aspal harus dibuat menanjak dan menurun. Tipe jalan seperti inilah yang banyak kita lalui saat menuju arah Pusdik Reserse tempat dimana konon menurut om HPW terdapat warung nasi yang menjual telor dadar super duper nikmat. Oke kembali kemasalah jalan tanjakan di pemukiman penduduk, menurut hitungan gue ada lebih dari dua tanjakan dimana awalnya jalan tersebut rata melewati halaman depan rumah (anggap saja bangunan A) kemudian berbelok kea rah kanan dan langsung menanjak tajam sehingga sangking tajamnya bangungan A tersebut sekarang hanya terlihat atapnya saja dan itupun berapa sekitar 0.5 meter disisi kanan bawah tepat saat gue menengok kekanan. Dan for your information dititik tersebut bukanlah ahir dari tanjakan tadi *gleks*

Seperti biasa om HPW dan om AN dengan sabar selalu menunggu gue diujung tanjakan.

”Kanan .. kanan .. ambil jalur yang kanan om,” demikian tips & hints yang diberikan mereka pada sebuah tanjakan yang lain. Lepas dari tanjakan tadi lumayanlah kita mendapatkan bonus jalan rata dan posisi saya tetap selalu gowes diurutan buntut. Dari kejauhan gue melihat om HPW dan om AN mendatangi seorang security di pos jaga  sebuah villa atau gedung pertemuan besar. Terbersit sedikit kekhawatiran akan cerita om HPW saat di Cipendawa tadi bahwa ada beberapa villa yang tidak boleh dilalui oleh selain penghuni. Kalau hal itu sampai terjadi berarti kan gak lucu kalau kita harus balik arah dan mencari jalan lain untuk menuju ke warung yang sedang kita impi-impikan keberadaanya yang berarti pula akan tertunda pula acara menikmati kelezatan telor dadar Mega Mendung.

Ternyata kita diperbolehkan lewat dan kalau melihat dari gesture sang security tampaknya tempat yang kita tuju sudah dekat. Maka masuklah dika ke dalam areal komplek villa atau gedung pertemuan tersebut. Gowes kearah belakang sekarang gue melihat ada bangunan seperti theater terbuka atau lebih tepat sebuah batang-batang baja khas sebuah gudang tinggi tanpa tembok. Tapi kok perasaan makin masuk kedalam komplek ini suasana makin gelap dan makin menyeramkan ya? Apa jangan-jangan ini perasaan gue saja? Lho …lho… lho… lho… apa-apaan ini??? Pikir gue dalam hati begitu melihat ada tanjakan lagi di depan sana. Ckckckckck .. kok yaa bisa-bisanya ada tanjakan lumayan terjal di dalam sebuah komplek  Tapi yaaaa kembali dengan ikhlas gue lalui tanjakan ini tapi sudah dengan menggunakan gear granny.

Ternyata keluar dari komplek tersebut terhamparlah pemandangan yang sungguh sangat indah. Yap warung nasi yang sudah kita bicarakan mulai dari awal gowes tepat berada diarah jam 1 gue. Pemandangan apalagi yang lebih indah ketimbang sudah ditemukannya waraung nasi ini. Menurut Om HPW jalan keluar komplek tadi bertemu jalan menuju CP dan jalan dari arah dimana kalau kita memilih jalur atas di depan warung tempat kita istirahat di Cipendawa tadi. Sedang tidak jauh diseberang warung tersebut terdapat plang besar ‘Pusdik  Reserse’.

Om AN dan OM HPW sudah berada di dalam warung sibuk memesan makanan untuk di bungkus. Dengan diiringi rasa penasaran terhadap ketenaran telor dadar, gue mencoba masuk sedikit kedalam dapur warung tersebut. Sepengeliatan gue tidak ada yang special disana. Adonan telornya persis sama dengan yang biasa istri gue buat, menggorengnya pun dengan menggunakan wajan sayang sama dengan yang istri gue pakai. Dan gue yakin minyak goreng dan api pada kompornyapun tidak beda jauh dengan yang ada dirumah gue. Lalu apa yang membuat telor dadar warung ini terkenal dikalangan pesepeda MTB? What de hell lah .. Pokoknya ahirnya nasi putih, telor dadar, ikan goreng plus sambal adalah menu yang gue pilih.

Siapa Yang Membuat jalan Ini

Di depan warung  sisi sebelah kanan terdapatlah sebuah tempat pedagang buah meletakkan barang dagangannya. Tidak banyak macam buah yang dijualnya. Pisang adalah salah satu yang paling menarik perhatian karena memang terlihat sangat segar. Bahkan gue lihat sebuah mobil mewah berplat nomer B rela berhenti di depan tukang buah tadi hanya untuk membeli pisang tadi. Om AN ternyata juga salah satu yang tertarik untuk memberikan sumbangsihnya agar tecipta efek domino perekonomian mikro di sekitar Mega Mendung ini dengan ikut membeli satu sisir pisang.

Hujan kembali turun lumayan deras ketika kita mulai gowes menuju jalan agak kekanan sedikit menurun arah ke CP. Om AN dan om HPW melesat bak anak panah, mungkin karena di dalam tas mereka sekarang sudah terbungkus dengan rapih menu set makan siang sehingga mereka ingin secepat mungkin menikmatinya di CP. Satu dua belokan sudah gue lalui, jalan aspal halus ini juga sudah mulai menunjukkan keangkuhannya dengan makin membentuk elevasi. Gue terpaksa berhenti disebuah warung karena melihat ada sebuah cabang/pertigaan.  Melirik ke dalam warung untuk mencari orang yang bisa ditanya namun tidak seorang pun terlihat. Segera gue berpindah ke warung di seberang jalan untuk menanyakan arah yang benar ke CP.

”Permisi A’ arah ke Curug Panjang yang mana ya?” tanya gue kepada seorang pemuda di wrung tersebut. Dijawab bahwa tidak perlu berbelok, tinggal mengikuti jalan di depan warung tersebut.

Sejatinya gowes sepeda sambil hujan-hujanan  sungguh sangat menyenangkan. Namun karena sisa flu/batuk/pilek minggu kemarin yang belum sembuh benar membuat beberapa kali isi hidung minta segera dibuang yang terkadang menganggu irama gowes. Kayuhan dengan irama makin pelan kembali gue rasakan, halaaaaah mulai lagi deh tanjakan menjadi tidak sopan. Dengan nafas sedikit tersenggal-senggal kembali gue berhenti di depan warung. Dimana seorang ibu terlihat agak bingung melihat ada orang kok main sepeda hujan-hujanan.

Sesekali sambil menarik nafas gue melirik sekedar observasi jalan yang akan gue tempuh sehabis istrirahat nanti. Sebuah tanjakan terjal yang sepertinya tidak terlalu panjang. Mungkin tidak lebih dari 100 meter. Tipe tanjakan seperti ini mutlak harus diselesaikan secara adat tanpa turun kaki .. At All Cost!!!! Karena begitu kita gak kuat dan berhenti maka untuk memulai gowes lagi hampir mustahil karena tidak ada momentum yang cukup demikian gue mencoba sok membuat hipotesa dan sedikit analisa.

Ok, lock-out fork depan sudah dipasang, gear sudah pada posisi granny dan posisi duduk di saddle sudah diatur dan siap untuk mulai menanjak. Hosh .. hosh .. hosh .. hosh nafas gue mulai memburu. Badan kembali gue bungkukkan, ujung hidung semakin dekat bak hendak mencium direct stem Funn gue yang super gede ini. Arrrrggghhh .. disaat nafas semakin memburu gue sempat kepikiran, kalau sepeda saja sudah demikian berat, bagaimana tractor saat digunakan membuat jalan ini ya….

Andai saja jarak tanjakan diperpanjang sekitar 20 meter mungkin gue tidak akan lagi mampu mengowes sepeda. Untunglah selintas terlihat om AN dan om HPW sedang senyum-senyum manis melihat gue sedang berjuang menaklukan diri gue sendiri ini di tanjakan ini.

”Hayooo om  wibowo … sedikit lagi,” demikian mereka mencoba menyemangati gue.

Terahir gue baru tau kalau tanjakan ini dinamai ’Tanjakan Mega’, bahkan ada yang tega dengan menyebutnya ’Tanjakan Jahanam Mega’ karena posisi tempat om ON dan om HPW menunggu gue adalah persis di depan gedung training center Bank Mega.

Jersey Siapakan Itu

Selepas tanjakan Mega kemiringan jalan  berangsur-angsur mulai kembali sopan bahkan kadang-kadang terdapat bonus jalan rata yang lumayan panjang. Namun disini pula gue berpapasan dengan truk polisi yang berisi rombongan wisatawan lokal yang sepertinya kurang menghargai pengendara sepeda yang sedang bersusah payah menanjak. Lebar jalan ini memang tidak terlalu besar dan yang pasti tidak cukup jika dilalui oleh dua mobil yang saling berpapasan. Namun sangat cukup luas jika truk tersebut hanya berpapasan dengan sebuah sepeda. Pada sebuah belokan truk tersebut sama sekali tidak berusaha untuk sedikit berbagi jalur, padahal gue yakin banget sisi kiri mobil tersebut masih sisa banyak. Namun yaa sudahlah biar Kapolri saja yang membalas *halaaah*

Taman Alqur’an Ar Rachman sudah beberapa menit yang lalu terlewati saat gue memutuskan kembali untuk berhenti sejenak untuk sekedar beristirahat dan memberi izin mata ini menikmati keindahan alam anugrah Sang Maha Pencipta. Jalan aspal ini terlihat dibuat menanjak mengelilingi punggungan bukit. Hal inilah yang membuat gue bisa melihat dari kejauhan sebuah objek yang bergerak dengan lambat namun pasti. Kalau dari warna objek gue pretty sure kalau itu adalah om AN yang hampir hilang dari pandangan karena berbelok ke sisi bukit yang lain.

”Hmmm berarti gue tidak ketinggalan terlalu jauh dari para senior,”  sedikit perasan GR melintas dalam hati. Kembali gue bersemangat untuk menyelesaikan trek ini.

Makin lama irama gowes gue rasakan makin serasi dengan jatuhnya rintik hujan. Tidak terasa kepala ikut bergoyan pelan ke kiri dan ke kanan  mengikuti irama percikan air hujan yang jatuh ke tanah. Itulah usaha yang gue lakukan agar tidak terlalu boring dan lelah melahap tanjakan. Sampai ahirnya di depan sana terlihat sebuah jersey yang diletakkan begitu saja diatas handlebar sebuah sepeda.  Ternyata itu adalah kaos om AN yang memang sengaja dilepas. Sedang si empunya kaos dan om HPW sedang  duduk di depan warung asik melahap nasi bungkus.

Alhamdulillah ternyata gue udah sampai, adanya sebuah loket  tempat penjualan tiket masuk Curug Panjang semakin meyakinkan diri ini kalau gue beneran sudah sampai. Selesai sudah tugas gue mengantar Shiro jalan-jalan ke Curug Panjang.

”Sini om … sudah kita pesenin teh hangat manis tuh,” ujar mereka yang terasa bagaikan ucapan ”Selamat datang” atau ”Selamat anda telah berhasil melalui semua tanjakan dan kita telah sampai di Curug Panjang”.

 

Ride it Like You Steal it

 

Rute pulang mengambil jalur di belakang Curug Panjang. Cukup senang ahirnya bisa menemui kembali jalur off road. Whuuuuuiiizzzz sepeda gue lancar menuruni turunan walau di beberapa bagian harus sedikit menekan brake-lever untuk  mengurangi kecepatan. Om AN dan om HPW sudah menunggu di seberang ‘Splash-Water’ section. Sebuah jalur air selebar sekitar 50 cm yang menyebrangi jalan tepat di ujung turunan yang tidak begitu terjal. Cipratan air terbang kearah kiri dan kanan kita saat sepeda melintasi genangan air tersebut.

“Waktu itu anak-anak CikarangMTB bolak-balik keatas untuk sekedar mengulang melewati ‘Splash-Water’ untuk sekligus membuat dokumentasi,” terang om HPW.

Sejujur-jujurnya menurut gue perjalanan pulang kearah jalan raya Puncak – Gadok tidaklah terlalu menarik, hanya sekedar mengarahkan sepeda kita mengikuti jalan lingkungan aspal yang menurun terus. Di depan gue melihat on AN sedang menghentikan sepedahnya.

“Kenapa om?” tanya gue.

“Ini bungkusan pisangnya jatuh,” jawab om AN. Ternyata gue baru tahu kalau pisang yang dibelinya di dekat warung nasi ternyata cuma di taruh di hangle bar. Sejenak gue berfikir, apakah itu berarti saat gowes nanjak tadi pisang tersebut juga dibawa dengan cara seperti itu.

“Masukin tas saya aja om”, tanpa berfikir panjang gue menawarkan untuk membawakan pisang tersebut, toh tas gue masih cukup lebar untuk dimasuki sesisir pisang.

Sampai di jalan raya Puncak – Gadok jalanan sudah terlihat ramai. walaupun hari ini masih hari Sabtu entah mengapa lebih banyak mobil yang hendak turun ke arah Gadok. Jadilah gue gowes di sela-sela mobil yang sedang bermacet-macet ria. Sesekali sepeda gue arahkan keluar dari jalur aspal manakala ada angkot berhenti ditepi jalan. Entah sudah berapa milimeter brakepad sepeda gue habis karena seringnya mengerem di jalan turunan ini hingga suatu ketika gue mendengar bunyi-bunyi aneh tipical bunyi rotor yang menempel di brakepad. Gue menepikan sepeda untuk memeriksa keadaan rotor.

“Kenapa om”, kini giliran om AN bertanya saat melintas melewati posisi gue berdiri.

“Aman om .. gak apa-apa”, jawab gue. Dan om AN kembali melanjutkan perjalanan sedang gue tetap memeriksa rotor.

Setelah mulai hampir bosan gowes di aspal ahirnya gue menemukan juga off-road, iya betul …. offroad mulai dari pintu masuk mesjid sampai dengan tempat tukang cuci sepeda berada.

“Alhamdulillah ahirnya sampai juga dengan selamat”, ucap gue dalam hati.

Gue lihat sepeda om AN sudah ditangani oleh bapak-bapak pencuci sepeda. Sedang si empunya sepeda tidak terlihat disitu. Segera gue mintakan juga mereka untuk mencuci sepeda gue.

Betis ini terutama bagian pas diatas  dengkul sepertinya mulai menjerit-jerit, maka sambil memperhatikan mereka bekerja gue mendapatkan lokasi dan posisi mantaf duduk selonjor meluruskan kedua kaki dibawah pohon.

Tidak lama kemudian sampai pulalah om HPW memasuki pelataran mesjid. Puji sukur kembali gue ucapkan karena rekan gowes gue hari ini sudah komplit.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s