Phuket Thailand, Layakkah Dikunjungi – Bag 1

Tergoda dari foto-foto wisata pulau yang keren, liburan kali ini gue dan sang istri memutuskan pergi ke Phuket, sebuah provinsi berbentuk pulau di Thailand bagian selatan.  Dari hasil pengamatan selama 5 hari 4 malam disana, gue menarik kesimpulan (mungkin sangat prematur) bahwa objek wisata menarik yang ditawarkan  Phuket ini hanyalah sebatas  Sun, Sand and Sex. Sementara objek wisata budaya dan belanja kayanya sih ‘B’ alias biasa aja. Jadi bagi anda yang tidak suka pantai, tidak suka pulau dan wisata laut dan bukan tipe petualang kehidupan malam, maka sepertinya Phuket bukan tempat yang cocok untuk dikunjungi. Tapi lucunya justru istri gue termasuk dalam golongan yang agak phobia dengan yang berbau pantai ataupun laut.  Lho, jadi ngapian kita pergi kesana? Rasa ingin tahu -yang terkadang dapat mengalahkan rasa takut- dan yang terpenting adanya tiket pesawat ke luar negeri yang relatif murah adalah jawaban paling logis yang bisa gue berikan.

Nah berhubung objek wisatanya ‘B’ aja, maka gue lebih berminat untuk menuliskan artikel ini dari sudut pandang lain plus sedikit tips yang mungkin berguna bagi rekan-rekan yang berencana berlibur ke Phuket.

Berburu Transportasi & Akomodasi

Untuk urusan mencari tiket pesawat murah dan kemudahan transaksi pembayaran via internet, AirAsia.com gue rasa adalah yang terbaik untuk saat ini. Kalau kita mau rajin sering-sering browsing, biasanya kita bisa mendapatkan tiket ke luar negeri yang oleh AirAsia sedang dijual dengan  bentuk harga promosi. Sebagai gambaran, pada sekitar awal bulan Agustus gue mulai browsing dan mendapatkan harga relatif murah untuk penerbangan ke Phuket dibulan Oktober. Total biaya tiket PP ‘cuma’ 530 ribu rupiah plus biaya-biaya lainnya termasuk pesanan makan di pesawat dengan total jendral 793,400 rupiah. Untuk anda yang hobby belanja ataupun sekedar membeli oleh-oleh, jangan lupa juga pre-purchase untuk bagasi saat memesan tiket pesawat via internet, lumayan dapat potongan harga.

Disclaimer : Gue sama sekali bukan karyawan dari AirAsia ataupun pegawai tour-travel agency ataupun perusahaan lainnya yang berhubungan dengan AirAsia lho.

Transportasi dari bandara Phuket menuju hotel ada banyak pilihan. Kalau gak mau ribet lebih baik naik taksi bandara. Sebuah Mitsubishi Lancer GLX berwarna kuning biru yang lumayan nyaman. kalau anda keluar dari bandara maka counter taksi (taxi meter) ini berada disisi kanan.  Jarak +/- 45 KM dari bandara ke hotel di sekitaran Patong dipukul rata 450 baht equiv 135 rb rupiah (350 bath + 100 bath charge untuk taksi bandara). Namanya ‘taxi meter’ tapi saat gue lihat didalam mobil kok sama sekali ada argonya :-)

Mencari hotel melalui internet juga sesuatu yang mengasikan. Intinya kita mau mendapatkan hotel dengan fasilitas dan lokasi yang OK namun dengan harga yang juga wajar. Kalau anda pernah mendengar tagline dari sebuah restoran “Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima”, maka untuk urusan mencari hotel di Phuket  sepertinya bak mencari jarum jatuh di tumpukan sampah Bantar Gebang (kalau tidak bisa dibilang mustahil). Kriteria yang gue dan sang istri telah sepakati saat mencari hotel adalah :

  1. Lokasi harus benar-benar dipinggir pantai (beachfront);
  2. Lokasi dekat dengan pusat keramaian
  3. Kamar hotel harus nyaman
  4. Harga harus masuk akal

Dari ujung utara sampai ujung selatan sisi barat pulau Phuket terdapat beberapa lokasi pantai, namun yang paling terkenal adalah pantai Bang Tao, Kamala, Patong, Karon,  dan pantai Kata. Pantai Patong adalah pilihan pertama kami karena telah memenuhi kriteria 1&2. Mungkin kalau cerita bahwa pantai Patong termasuk yang terkena Tsunami gue ceritakan ke sang istri dari awal mungkin Patong akan dicoret dari daftar oleh istri gue :-)

Agoda.com dan HotelTravel.com bisa menjadi senjata andalan anda saat berburu hotel. Namun jangan sekali-kali tertipu dengan nama hotel  yang ada di Patong pada khususnya dan di Phuket pada umumnya. Apakah anda pikir ‘Patong Beach Hotel’, ‘ ‘Swiss Palm Beach’ ataupun ‘Seaview Patong’ berlokasi persis di depan pantai Patong? Neeeettt nooottt …  Kalau informasi lokasi hotel tertulis, “x minutes from the beach”. Nah kalau ‘x’ tadi tertulis lebih dari 1 menit itu ciri-ciri hotel tersebut tidak berhadapan langsung dengan pantai. Senjata andalan lain yang bisa digunakan adalah Google Earth (GE). Tinggal copy-paste alamat hotel ke kolom ‘Fly To’ pada GE maka dengan seketika kita bisa tahu dimana lokasi persisnya hotel tersebut apakah benar di pinggir pantai atau disisi jalan seberang pantai.

Begitupun dengan foto preview fasilitas, bentuk bangunan dan kamar hotel. Mesin pencari gambar pada Google.com lebih patut dipercaya karena biasanya hasil pencarian contoh kamar dari sebuah hotel juga akan memberikan foto yang dibuat oleh individu sehingga kita benar-benar bisa melihat seperti apa contoh kamar dan fasilitas hotel tersebut.

Pantai Patong dilihat dari restoran PBGR


Kamar cukup bersih dan rapih

Kolam renang & bangunan hotel

Sepanjang 3 KM pantai Patong, tidak banyak hotel yang benar-benar berhadapan dengan pantai. Sepengamatan gue cuma ada hotel Impiana, La Flora, Patong Bay Garden Resort (PBGR). Nah hotel PBGR yang berbintang 3 inilah pilihan dari hasil peneropongan jarak jauh kami walaupun tetap saja saat pertama tiba dilokasi agak sedikit kaget karena parkiran hotel ini lumayan sempit dimana cuma muat untuk kurang lebih 10 mobil. Jauh dari bayangan saat melihat foto hotel yang di foto dengan angle dari atas :-)

Pusat keramaian di Patong atau paling tidak bisa kita katankan bahwa daerah yang paling ‘hidup’  adalah sebuah jalan bernama Bangla, dimana mulai jam 6 sore ditutup untuk semua kendaraan. Maka jalan ini seolah berubah menjadi lorong panjang mirip dengan lorong di Pasar Baru Jakarta. Disinilah pusat dari kehidupan malam favorit para wisatawan bule,  sepanjang jalan berjejer bar dan diskotik sementara di tengah jalan banyak sekali orang-orang (calo) yang menawarkan tiket pertunjukan striptis dan lady-boy (waria). Untungnya jalan dengan istri yang berbusana muslim, gak ada satupun calo-calo yang mendekat menawarkan hiburan tadi :-)

Jarak antara PBGR ke mulut jalan Bangla (sisi pantai) hanyalah sekitar tidak lebih dari 60 meter kearah kanan.  Sedangkan panjang jalan Bangla sendiri tidak lebih dari 400 meter. Jika kita menelusuri jalan Bangla sampai keujungnya maka sedikit berbelok kekanan sampailah kita ke Mall Jungceylon, sebuah pusat perbelanjaan paling modern di Phuket. Sedangkan kalau kita memilih jalan kearah kiri dari PBGR sekitar 40 menter terdapat sebuah toko yang nyaman tempat pusat sepatu dan tas kulit. Di toko yang bernama Udomagg/Findig ini kita juga  bisa membeli oleh-oleh lain semisal kaos, tas dan souvenir kecil lainnya.

Bila anda setipe dengan gue dan istri dalam menentukan kriteria lokasi, maka sepertinya pilihan atas PBGR adalah pilihan yang OK. Namun bagaimana dengan kriteria harga?. Hmmmm uh well .. jujur saja untuk hotel bintang 3 harga USD 248 (nett dan incl makan pagi) untuk menginap selama 5 hari 4 malam di kamar standard terlihat lumayan mahal. Itukan artinya semalam sekitar USD 62. Sedikit yang membuat kita menyesal adalah tidak lama setelah kita memesan kamar ini ternayata hotel ini memberikan promosi untuk kamar yang lebih mewah dan lebih luas dengan harga USD 63 saja ….. Arghhhhhhhhhhhh.

 

Bangla Road disiang hari, ada yang anehkah?

 

Bersambung ke Bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s