Kejadian bermula saat A/C mobil Swift gue terasa tidak dingin, cuma terasa angin yang berhembus saja. Saat itu adalah sehari sesudah melakukan service regular 65 ribu km dibulan Juni 2010. Langsung gue telpon Beres Cikarang tempat gue kemarin service dan melaporkan keluhan. Pihak Beres meminta mobil segera dibawa kembali kesana untuk diperiksa. Namun karena kesibukan kantor, gue urung membawa kembali ke Beres dan untuk pemakaian sehari-hari gue cuma isi Freon, A/C langsung normal dingin kembali.
Kerusakan & Diagnosa Sementara
Kenyamanan A/C teryata hanya berlangsung 1 bulan 4 hari. A/C menjadi kembali tidak dingin. Diawal bulan Agustus setelah mencari referensi di Kaskus dan Mod.com tentang bengkel A/C yang recommended, ahirnya gue datangi sebuah bengkel A/C di daerah sekitar pasar baru. Setalah dengan teliti memeriksa pipa-pipa di ruang mesin maka hasil diagnosa mereka saat itu adalah evaporator (evap) rusak dan harus diganti.
“Waaaah bakal runyam nih urusannya” gumam gue dalam hati. Bengkel A/C menawarkan harga 3 juta All-In untuk evap baru berikut pemasangannya. Harga lumayan mahal karena menurut mereka evap-nya orisinil dan untuk memesang evap tersebut agak rumit karena lokasi ada dibawah dashboard sehingga harus membongkarnya terlebih dahulu. Gue segera mencari info di Beres Suzuki untuk second opinion. Beres Sunter mengabarkan harga evap berikut ongkos pasang adalah 1,4 juta. Sedangkan Beres Pondok Indah malah memberikan harga evap doang sekitar 1,9 juta belum termasuk ongkos pasang.
Di ahir bulan Agustus saat servis rutin di Beres Cempaka Putih, gue minta mereka memeriksa permasalahan A/C gue ini. Mereka membawa mobil gue ke bengkel rekanannya. Hasil diagnosa bengkel A/C di bilangan Sunter saat itu adalah ada masalah dengan kompresor. Kompresor A/C tidak bisa diperbaiki dan untuk mendapatkan barang ini harus indent dulu karena harus dipesan di pusat sparepart Suzuki Tambun. Harganyapun lumayan mahal sekitar 5.8 juta karena katanya untuk Swift CBU berbeda dengan kompresor lain.
Makin pusing gue jadinya. Harga semahal itu jelas membuat gue pusing. Hal kedua yang membuat gue pusing adalah ternyata dunia per-A/C-an tidak berbeda dengan dunia kedokteran. Beda dokter bisa beda diagnosa. Hal inilah yang membuat gue sangat penasaran. Gue sangat yakin sejorok-joroknya gue (merokok saat menyetir), evap dan kompresor pastilah sebuah barang yang sudah desain untuk mempunyai life-cycle panjang. Intinya adalah, gue harus mencari ‘dokter’ yang benar-benar jago sehingga hasil diagnosa benar-benar tepat.
Solusi Tidak Selalu Mahal
Secara gak sengaja gue membaca sebuah brosur kecil dari sebuah bengkel A/C di dekat rumah gue yang pernah disebar oleh seseorang di setiap rumah rumah di perumahan tempat gue tinggal. Pada Awal bulan September kesanalah mobil gue bawa. Sama dengan bengkel di Pasar Baru hal pertama yang mereka periksa adalah pipa-pipa saluran freon dan sambungannya di ruang mesin dengan metode sederhana yakni dengan membasahi pipa dengan air sabun. Jika ada kebocoran pasti akan keluar gelembung air sabun. Mereka mencurigai ada kebocoran kecil pada bagian dalam ‘sensor pressure’.
Walaupun sudah menemukan sumber kebocoran, untuk lebih meyakinkan gue minta mereka untuk tetap memeriksa semua komponen diruang mesin. Kompresor walapun tidak dicopot mereka periksa dengan teliti. Kondensor mereka copot dan diperiksa dengan seksama. Hasil diagnosa adalah sumber kebocoran cuma di sensor pressure tersebut. Saat itu gue bersukur tidak langsung mengambil keputusan mengganti kompresor seperti saran bengkel A/C rekanan Beres Cempaka Putih
Mencari pengganti sensor pressure ternyata bukan perkara mudah. Karena menurut tehnisi A/C komponen ini memang sangat jarang rusak. Setelah mencari di website spare-part online Suzuki dan menelpon langsung ternyata komponen dengan sparepart number 95546-58J00 seharga Rp. 317.800 ada stok di Tambun. Pihak Bengkel A/C bersedia membelikan dulu komponen ini dengan datang langsung ke Tambun.
Setelah komponen terpasang A/C ditest dengan sangat teliti dengan dinyalakan hampir lebih dari 30 menit. Angka yang tertera pada alat pengukur tekanan menunjukkan tidak adanya penurunan tekanan sama sekali yang berarti tidak ada kebocoran lagi. Total biaya yang gue keluarkan saat itu ‘Cuma’ 768.000 ribu !!!! Bahkan jauh dari lebih murah dibanding jika harus mengikuti saran bengkel A/C di pasar Baru. Biaya segitupun sudah termasuk penggantian beberapa komponen. Perinciannya adalah sebagai berikut;
- Sensor Pressure Rp. 318.000
- Filter A/C Rp. 125.000
- Vacuum + Oli Kompresor Rp. 50.000
- Isi Freon Rp. 125.000
- Jasa Service Rp. 150.000
Jadi permasalahannya bukan pada evaporator bukan pula pada kompresor yang berharga jutaan rupiah.
A/C Kembali Tidak Dingin
Sungguh aneh hari berikutnya saat mobil gue gunakan A/C perlahan namun pasti kembali tidak dingin. Segera gue telp bengkel A/C melaporkan hal ini. Mereka meminta mobil segera dibawa ke bengkel mereka hari itu juga. Namun karena hari itu mereka buka cuma setengah hari karena hari ini adalah hari terahir mereka buka sebelum libur hari lebaran dan kesibukkan gue di kantor maka gue menjanjikan mobil akan gue bawa di hari pertama mereka buka sesudah lebaran di tanggal 15 September 2010.
Karena A/C mobil rusak maka rencana mudik ke Malang terpaksa dibatalkan dan kunjungan ke rumah family saat lebaran harus dilakukan dengan bergerah-gerahan. Walaupun sempat diisi freon, namun dinginya A/C Cuma berumur 1 hari saja. Berkeringetan tidak begitu jadi masalah. Yang lebih sengsara adalah ketika hujan turun dimana kaca menjadi berembun dan hal ini sangat membahayakan saat berkendara.
Pada pemeriksaan berikutnya tehnisi A/C berkonsentrasi pada setiap sambungan dan seal-seal semua mereka ganti. Membongkar dashboard adalah pilihan terahir yang mereka akan lakukan jika sumber kebocoran tidak ditemukan di sekitar ruang mesin. Saat itulah mereka menemukan sumber kebocoran sangat kecil pada ‘Expansion Valve’, tepatnya ada seal-o-ring yang getas. Kebocoran ini tidak terdeteksi saat di tes pada kunjungan pertama dan penjelasan logis mengapa saat ini ada kebocoran adalah karena tekanan yang sedemikian besar sangat mungkin membuat seal rusak. Biaya yang gue keluaran untuk menyelesaikan masalah kali ini adalah cuma sebatas pengisian kembali freon yakni 125.000 rupiah. Ongkos jasa gratis karena masih dalam masa garansi
Penutup
Saat tulisan ini dibuat berarti sudah lebih dari dua bulan setelah kunjungan kedua ke bengkel A/C. Masa yang cukup lama untuk membuktikan bahwa sudah tidak ada lagi kebocoran. Suhu A/C mobil saat ini normal malah cenderung sangat dingin.
Sebuah pengalaman berharga untuk gue pribadi bahwa mencari second opinion menjadi hal penting ketika dihadapkan dengan masalah kerusakan pada sebuah komponen mobil yang berharga sangat mahal semisal evap ataupun kompresor.
Walapun sangat jarang, namun masih ada bengkel yang sangat mengutamakan kepuasan pelanggan dengan tidak terlalu berorientasi bisnis. Mereka membebankan harga yang sangat masuk akal bahkan bisa dibilang cukup murah. Sebagai gantinya gue akan dengan senang hati mencantumkan nama dan alamat bengkel A/C tersebut sebagai Recommended A/C Workshop terutama untuk rekan-rekan yang tinggal di daerah sekitar Cikarang.
Kurnia Jaya Motor
Jl. Raya Industri KM2 Jababeka Pasir Gombong Cikarang
(Depan pintu masuk Jababeka arah terminal Cikarang)
Telp 021-8900738; Bp. Hendi Gunawan
Betul pa saya jga rekomended (Like)
orang Ramah dan tidak sombong harga bisa di diskusikan , waktu itu uang saya kurang
dan dia bilang ga apa2 pa bawa dulu mobilnya tar pas lewat kesini aja lagi . atau tar saya kerumah bp minta alamatnya aja.
dan dia pun mampir kerumah saya sekalin silaturahmi. dan saya bilang jga “pa coba ikut milis cikarangBaru lumayan bisa buat promo
atau bikin blog , oh iya saya jga pingin tapi saya galtex , Saya bilang gampang pa tar saya ajarin …..
setelah ngobrol ngaler ngidul eh di kasih diskon lagi he..he…
sampai sekarang alhamdulillah masih dingin…….
Kangacoe
KijangRover’94
nanya dong, emang biasanya di swift ac nya dipasang pada nomor berapa? kecepatannya maksud saya, apakah di 1 atau 2.
klo swift di saya, 1 emang dingin tapi semburannya kurang..normlanya emang di dua.
Kalau pas lagi nyupir posisi blower di 1 masih dingin kok.
Walaupun kalau habis service di tes pakai thermometer suhu udara diujung kisi-kisi AC bisa sampai 5 derajat celsius pada posisi blower di 1, tapi untuk menghadapi panasnya suhu kota Jakarta kayanya kalau penumpang lebih dari satu apalagi antara jam 10 pagi sampai jam 4 sore posisi blower di 2 baru berasa dingin.
AC Swift menurut gue memang gak terlalu dingin, malah kalah dingin dibandingkan Xenia
Saya jadi tertarik mo servis AC Xenia Xi Sporty tahun 2008 ke bengkel Kurnia,
kebetulan lagi cari bengkel AC yang recommended di Cikarang.
Boleh tanya berapa bulan sekali yang dianjurkan untuk servis ac berkala, karena AC Xenia saya sudah kurang dingin dibanding dulu. Sudah ada 1 tahun belum diservis dan kalau boleh tahu berapa biaya2 untuk servis standar di bengkel Pak Hendy
Om Said, kalau saya termasuk user yang bandel karena suka lupa untuk service AC. Kalau dihitung semenjak kunjungan terahir service berarti sekitar hampir 1 tahun saya baru datang lagi kesana untuk service.
Mengenai estimasi biaya silahkan hubungi langsung aja Pak Hendi via nomer telp yang saya sudah tulis. Saran saya, mungkin kita sebagai konsumen tidak ada salahnya untuk crosscheck harga terlebih dahulu dengan bengkel AC lainnya.