Phuket Thailand, Layakkah Dikunjungi – Bag 2

Ngapain Aja Kita di Phuket

Sebelum berangkat tentunya gue sudah browsing dan membuat list/daftar acara yang akan kita lakukan selama 5 hari disana. Terlepas dari istri gue yang agak phobia dengan laut, mengunjungi pulau James Bond juga masuk ke dalam daftar kunjungan. Secara garis besar berikut susunan acara kita disana :

Berhubung pesawat kita sampai di Phuket sekitar jam 2 siang maka sore hingga malam hari pertama kita habiskan untuk sekedar jalan kaki santai mengenal wilayah sekitar hotel sekaligus mencari brosur paket wisata untuk hari ke-2 sampai hari ke-4

Hujan yang turun deras semenjak pagi membuat kita berleha-leha dulu saat sarapan pagi. Oh ya bicara tentang makanan, hal ini juga butuh perhatian dan persiapan lebih dari kami. Maklum kalau belum ketemu nasi rasanya belum afdol. Di hari pertama kami telah menemukan KFC di dalam Mall Jungceylon (katanya sih berasal dari kata ‘Ujong Thalang’)  yang menjual nasi putih seharga 15 Baht. Gue dan istri juga termasuk yang tidak cocok dengan saus sambal buatan luar negeri oleh karenanya kami khusus membawa satu bungkus saus favorit kami ukuran sachet kecil. Dan untuk berjaga-jaga sekiranya kita tidak yakin dengan kehalalan dari menu yang dihidangkan oleh hotel saat sarapan, tidak lupa kami juga membawa rendang dan ikan asin :-)

Serasa makan dirumah

Selalu bawa saos favorit

Untuk hari kedua ini kami memutuskan untuk memilih paket wisata Half Day City Sight Seeing Tour di sore hari. Tidak seperti paket wisata ke pulau, harga paket wisata ini susah untuk ditawar (atau mungkin kitanya aja yang gak jago nawar). Dari harga yang tertulis di brosur sebesar 650 Baht hanya bisa turun menjadi 600 Baht per orang. Dengan harga segitu kita akan diajak jalan-jalan ke tempat-tempat sebagai berikut;

  1. Biggest Buddha Image
  2. Chalong Temple
  3. Cashew-Nut Factory
  4. View point
  5. Phulet Town Shopping
  6. Old Phuket Town
  7. Dan melihat sunset di Phromthep Cape

Hari itu kami kami beruntung karena ternyata peserta tour hanya kami berdua. Jadi kita benar-benar bisa menikmati perjalanan dalam van yang lumayan nyaman ini. Namun yang lebih beruntung lagi tentunya tour-guide kami karena mungkin selama ini cuma kami yang hanya berhenti selama 2 menit di Biggest Buddha Image. Hujan yang turun selama perjalanan memang membuat kami agak enggan berjalan menanjak di Biggest Buddha Images untuk sekedar membuat dokumentasi. Alasan lainnya tentu karena memang kami agak enggan dan sungkan (maaf bukan bermaksud SARA) untuk masuk terlalu jauh ke tempat ibadah agama lain. Begitupun saat tiba di Chalong Temple kami hanya membuat beberapa foto dokumentasi di pintu gerbang dan di depan temple.

Minibus teman tour hari kedua

Komplek Chalong Temple

Cashew-Nut Factory tidak lebih dari sebuah pabrik dan toko yang menjual makanan olahan yang sebagian besar terbuat dari kacang mede. Bayangkan aja toko oleh-oleh yang banyak terdapat di Bandung ataun jalur saat kita mudik lebaran. Nah mirip-mirip itulah Cashew-Nut Factory ini :-) Disinipun tidak lebih dari 10 menit kami sekedar melihat-lihat makanan yang didisplay sepanjang ruangan.  Selepas dari sana sang tour-guide juga mengajak kami mampir kesebuah toko kaos milik kawannya yang baru dibuka. Toko ini hanya sekedar toko pengecer, bukan ‘pabrik’ pembuat kaos jadi harganyapun kurang lebih sama dengan yang dijual di pinggir jalan di sekitar Patong.

Coffee Break disajikan disebuah kantin yang sepertinya bagian dari sebuah toko perhiasan besar Wang Talang. Kalau boleh menebak, sebenarnya fasilitas coffee-break ini bukan disediakan oleh pengelola tour (walaupun tour guide menyebut kalau gedung Wang Talang ini adalah perusahaan tempat dia bekerja), namun memang kantin milik Wang Talang yang menyediakan minuman gratis bagi pengunjungnya.  Setelah menurunkan kami, tour-guide buru-buru menunjukan lokasi tempat mengambil kopi. Namun sebelumnya kami harus melewati pintu masuk utama toko perhiasan ini. Aahhh ini mah sepertinya ‘akal-akalan’ agar para wisatawan mau mampir ke toko tersebut. Dengan kata lain hampir semua pengunjung yang datang bukan karena berniat berkunjung ke toko ini huehehehehehe.

Berhubung hujan kembali turun memang cuaca tidak memungkinkan kita untuk melihat sunset maka kami sepakat untuk langsung menuju kota tua Phuket. Phuket’s Old Town terkenal dengan arsitektur bangunan kunonya yang sangat dipengaruhi oleh gaya eropa. Daerah sekitar Thalang Road saat itu sebagai pusat perekonomian dimana sekarang kita bisa melihat bangunan berbentuk rumah-toko. Sayang saat itu hujan belum juga reda jadi kami tidak bisa berhenti barang sebentar untuk membuat foto dokumentasi. Tapi paling tidak sebagai banyangan kurang lebih mirip kota tua dan sekitaran statiun kereta Beos-lah  :-)

Acara tour diteruskan menuju sebuah tempat berbelanja. Kebanyakan barang yang dijual adalah produk garmen, jadi kurang lebih suasananya mirip sekali dengan ITC Mangga Dua ataupun ITC-ITC lain di Jakarta. Selama didalam pertokoan ini gue tidak melihat adanya wisatawan asing lainnya. Para pelayan toko disinipun sangat jarang yang mengerti bahasa Inggris. Namun untungnya proses tawar menawar dapat tetap dilakukan berkat bahasa universal lainnya yakni penjaga toko menuliskan harga jual dan gue menuliskan harga penawaran langsung di kalkulator :-)

Dengan biaya 1200 Baht (sekitar 360 ribu) untuk city tour selama 4 jam untuk dua orang rasanya memang tidak rugi-rugi amat sih (walaupun katanya sih kalau menyewa mobil+supir tidak melalui travel agent harganya cuma sekitar 700-800 baht). Anggap aja kita menyewa mobil+supir+tour-guide. Lagi pula kalau kita tidak mengikuti tour ini bakalan cuma bisa berbengong-bengong ria di hotel karena hujan yang turun semenjak pagi tadi.  Jadi secara umum hari kedua di Phuket kami belum juga mendapatkan sesuatu yang ‘lebih’, semuanya serba ‘B’.

 

Insya Allah Bersambung Ke Bagian 3