Another Tough Rider in The Making

Prolog :

Jumat sore 21 Juli 2017, kurang lebih sekitar 12 jam menjelang jam keberangkatan touring bersama Roger Bagen ke DH Pojok Cikole & Sukawana gue baru dapat mengirimkan konfirmasi melalui group WA perihal keikutsertaan dan tehnis keberangkatan menuju basecamp KPAD Bandung . Beruntung saat itu ternyata masih ada 1 space kosong. Saat iseng-iseng membaca update detail dari acara gowes ini sekilas gue membaca percakapan antara kang Aris (AG) dan om Akbar (AK) ;

AG : Amad jadi ikut?
AK : Insyaa Allah jadi
AG : Berarti kita ga jadi lewat hutan … (emoticon jempol)
AK : Knp om?
AG : Lewatin banyak pohon tumbang setinggi dada org dewasa.
AG : Jungle cycling
AK : Oh .. Kalo ada alternatifya mah boleh .. Kalo gak ada, biarin aja biar mentalnya nambah (emoticon senyum)

Saat membaca chatting tersebut I was wonderingwho the hell is Amad they’re talking about. Dalam hati gue bertanya-tanya siapakah Amad yang ada di pembicaraan mereka? Gue memutuskan join trip ini karena sebelumya telah mendapatkan info bahwa sebagian besar jalur yang akan dilalui adalah tipe favorit gue yakni jalur MTB di dalam hutan. And seriously, too much efforts and money spent to get my visa/permission to join this trip.

Gue buka kembali album foto gowes  dan menemukan dokumentasi trip bertanggal 30 April 2011 dengan lokasi start tidak jauh parkiran bis Tangkuban Perahu dimana saat itu kita langsung gowes ke dalam hutan yang masih sangat rapat di belakang warung kopi di sisi kanan (jika pandangan ke arah start gate DH Cikole).

“Jika benar nantinya lokasi start tidak jauh dari situ dan jenis trek MTB di dalam hutan berkarakter seperti yang ada pada album foto tersebut yang kang Aris dan om Akbar akan carikan jalur alternatifnya untuk trip hari Sabtu tanggal 22 Juli 2017 karena si Amad ini, duuuuuh bakalan rugi deh gue” Gumam gue dalam hati penuh kekhawatiran.

 

The Trails – Etape 1

Butuh waktu 2 jam 10 menit untuk dapat tiba di basecamp KPAD, itupun sudah termasuk waktu yang terbuang akibat lalu lintas yang sempat tersendat oleh ramainya truk di tol Cikampek antara KM35 – KM40. Dua buah pickup yang akan membawa kami telah siap berangkat. Hari ini gue kembali membawa Banshee Rune V2 sekedar untuk mengetestnya di 2 jenis trek dengan karakter yang berbeda yang Insyaa Allah akan kita nikmati yakni trek alami dan man-made. Trek yang dimulai dari pagar batas parkiran Tangkuban Perahu – DH Pojok serta AM Sukawana dengan trek alaminya; yang pertama akan berjenis trek hutan belukar, sedangkan AM Sukawana berkarakter trek alami melewati perkebunan teh. Beberapa bagian trek 11 Sukawana menurut info sudah dipoles rapih oleh rekan-rekan goweser Bandung, so hopefully bisa sedikit mewakili karakter sebuah trek bikepark yang playful.

Gue memutuskan naik di pickup kedua bergabung dengan ketua Roger Bagen Pak Fivin. Later on saat berjalan menuju pick up I just realized a little kid wearing full body armor sitting in front of Pak Fivin. Anak kecil tadi sedang duduk nyaman dan santai bersenderkan pada seatstay dan ban salah satu sepeda yang diikat paling ujung. Sebuah helm fullface yang tergeletak di kolong sepeda gue yakin juga miliknya.

Oh my God, otak gue langsung berfikir keras mencoba menerka-nerka apakah anak kecil ini yang bernama Amad yang disebut-sebut pada chatting antara kang Aris dan om Akbar? “Semoga bukan, Ya Allah semoga bukan, semoga bukan”. Doa dan harapan gue dalam hati.  Dont get me wrong, but posture wise anak ini masih terlihat sangat keciiiiil sekali. Bagaimana dia akan sanggup melewati jalur dan rintangan di dalam hutan sana. Bagaimana nanti dia akan sanggup melewati turunan di trek 11 Sukawana. Dan masih beberapa pertanyaan sejenis lainnya yang secara bertubi-tubi hinggap di kepala yang gue gak tahu jawabanya apakah anak kecil imut ini akan mampu menjalaninya.

Sepanjang perjalanan menuju Cikole gue mencoba mencari tahu lebih banyak tentang karakter anak kecil ini. Pertanyaan-pertanyaan ringan tentang dunia sepeda dan dunia anak-anak dijawabnya dengan lancar. Pertanyaan yang sedikit membutuhkan logika juga dapat dijawabnya tanpa menunjukkan rasa gugup sedikitpun. Bottom line-nya, rasa percaya dirinya diatas rata-rata jika dibandingkan dengan anak seumurannya dan terlihat tidak ‘cengeng’ untuk menekuni hobby MTB dan For sure trip bersepeda ini bukanlah yang pertama yang dilakoninya.

Sebuah sepeda Slope Style merk Dabomb warna camo dengan rear travel (menurut tebakan gue) tidak lebih dari 4 inch dan fork dengan travel tidak lebih dari 120mm, seatpost yang telah diturunkan full sampai mentok adalah tunggangan anak kecil ini. Terlihat gagah namun still a bit weird. Bahkan jangkauan tangganya pada grip di handle bar terlihat hanya pas saat dia berdiri pada posisi di tengah-tengah toptube. What the heck !!! looks like he doesnt even care what kind of bike he is riding, in fact he looks super ready for the trip. Perkenalkan, anak kecil bernama lengkap Muhammad Khalifah Nurpatria yang biasa dipanggil Amad ini seolah memang tidak perduli bahwa sepeda dengan ban ukuran 26 inch ini masih kebesaran untuknya bahkan dia terlihat sudah sangat siap untuk memulai trip dalam hutan ini. Seolah dia juga tidak perduli para rider dewasa teman gowesnya hari ini (yang bahkan sudah mulai menekuni MTB saat Amad belum lahir) membawa sepeda bergenre minimal All-Mountain bahkan om Roby dan om Irwand membawa HD rigs 🙂 🙂 🙂

20246185_10210602733318019_4484054377812440417_n_r

Dang .. now I’m feeling very guilty. Gue beneran merasa bersalah telah mengkompori kang Aris untuk tetap memilih trek DH Pojok yang akan melalui hutan lebat karena saat itu gue berasumsi bahwa Amad itu minimal seorang siswa SMA hingga tidak akan kesulitan sama sekali jikapun kita akan melewati trek di dalam hutan. So untuk menebus rasa bersalah gue memilih posisi tepat di depan Amad dengan harapan bisa membantu dia saat nantinya melewati rintangan-rintangan di dalam hutan sana.

Subhanallah …. riding in deep tropical forest like this one feels so good. Inilah jenis trek favorit gue. Ibarat kata gue rela jika semua porsi gaji gue serahkan ke istri asalkan diberi izin gowes ke tempat seperti ini hahahahaha. Satu dua rintangan berupa batang pohon tumbang yang melintang di tengah jalur mulai kami temui. Gue gak terlalu kaget toh ini bukanlah pengalaman pertama gue menemui rintangan model seperti ini. Seluruh peserta rombongan terlihat senyum ceria menikmati suguhan alami hutan ini.

IMG-20170724-WA0000_r

“Yang ini saya bisa sendiri om” Amad menolak dengan sopan manakala gue kembali ingin membantu mengangkatkan sepedanya melewati sebuah pohon tumbang yang memang tidak terlalu tinggi. Peserta rombongan lain masih tertinggal di belakang tertahan rintangan pohon besar sekitar 100 meter di belakang kami.

“Kemarin kita dorong-dorong, sekarang kita gotong-gotong sepeda” Amad mencoba menceritakan dan membandingkan pengalaman bersepeda dia sebelumnya dengan trip kali ini. Tone suaranya terdengar jauh dari kesan mengeluh.

20228500_10210602733038012_5475358458640360499_n_r

Mental baja dan karakter tidak mudah mengeluh sepertinya sudah mulai tumbuh pada diri Amad which is very good mengingat usianya yang masih belia. He just got his 9th anniversary presents early this July by the way. Bahkan terkadang masih banyak di sekitar kita rider dewasa yang sudah berpengalaman bertahun-tahun bersepeda namun masih mengeluh dan menyalahkan marshal yang telah memilihkan jalur untuknya ketika dihadapanya terdapat sebuah rintangan baik itu tanjakan, atau apapun yang membuat yang bersangkutan menggotong sepedanya. Rintangan di jalur hutan ini memang bervariasi dan menantang. Namun sangat sebanding dengan kenikmatan singletrack panjang selepasnya.

002_r

Selesai beristirahat di sebuah area terbuka selepas hutan kami semua bersiap meneruskan perjalanan. Trip ini bukanlah salah satu seri Rarat Race Roger Bagen namun sepertinya semua peserta rombongan benar-benar ingin menikmati jalur turunan panjang tidak terkecuali si Amad. Sampai-sampai kang Aris harus membujuknya untuk sedikit ‘mengalah’ menyerahkan pole position yang sudah ditempatinya kepada rider lain termasuk om Akbar yang notabene adalah Abi-nya si Amad sendiri hahahahahaha.

Rafdi dan om Angsa keduanya sebagai marshal yang sedang shooting film tetap di posisi terdepan. om Irwan, om Akbar om Hendri juga sudah siap dengan pov camera di helmnya masing-masing. Semuanya tampak excited untuk menikmati trek di depan sana. Sementara Amad is in good hand, akan dikawal oleh kang Aris di posisi buncit 🙂

005_r

“Amad kamu jangan terlalu sering liat ke bawah, harus lebih sering melihat trek di depan” Om Akbar memberi bimbingan tehnis kepada anaknya saat kita beristirahat di sebuah warung di dekat pintu masuk area benteng Belanda Cikahuripan perihal pentingnya mengarahkan pandangan ke arah depan untuk mengobservasi obstacle yang mungkin ada di jalur yang akan dia lewati.

Terlapas dari masukan tadi Amad sudah menjawab hampir sebagian besar kekhawatiran yang tadi pagi sempat hinggap di kepala gue. Dia mampu melewati jalur hutan (walaupun dengan beberapa kali bantuan orang dewasa), dia mampu melewati jalur singletrack panjang asoy geboy dengan selang waktu yang masih acceptable dibandingkan dengan rider dewasa lainnya sampai dengan titik finish etape 1. Kini saatnya kami loading kembali untuk menuju trek 11 Sukawana.

The Trails – Etape 2

Jalan McAdam sepanjang area perkebunan teh Sukawana perlahan meter demi meter dilalui oleh dua pickup yang kami tumpangi. Sebuah sepanduk kain bertuliskan Trek 11 Sukawana terlihat di depan sana membentang diatas sebuah receiver area.  Ah rupanya disanalah titik finish dari trek 11 Sukawana sebuah trek mini DH hasil garapan dari mang Ajo Curve, mang Epul, mang Jaep dan goweser Bandung lainnya. Tiga nama pertama jelaslah bukan nama-nama yang asing bagi kami karena mereka memang ada di group WA Roger Bagen. Kudos untuk mereka semua yang telah mengorbankan uang, waktu dan tenaga hingga trek ini dapat kita nikmati saat ini.

Pickup berhenti di sebuah tanah lapang. Kami beristirahat lumayan cukup lama disini sambil menunggu as mounting rearshock sepeda kang Aris yang sedang dimodifikasi. Dari lapanangan ini kita masih harus gowes sedikit menanjak menuju titik start trek mini DH ini. Gue sendiri memilih untuk istiqomah TTB, sedangkan Amad sudah tidak terlihat sedari tadi. Besar kemungkinan dia lahap tanjakan tersebut dengan menggowes sepedanya 🙂

Menurut ridelog milik apps trailforks yang terpasang di salah satu hp peserta rombongan kami panjang trek mini DH 11 Sukawana ini sekitar 1.5 km. Sebagian besar berkarakter flowy dengan permukaan trek sebagian besar berupa tanah perbukitan yang cukup padat diselingi dengan tanah butiran merah halus yang aman untuk high speed. Terhitung terdapat 3 belokan patah yang salah satunya lumayan cukup menantang dimana tikungan ke arah kiri dan tepat di depan tikungan adalah jurang. Gue tidak sempat memperhatikan apakah jurang tadi merupakan jurang yang dalam atau tidak.

Kami memilih lokasi titik finish sebagai tempat istirahat makan siang. Amad sedang santai menikmati jatah makan siang berupa nasi+karedok+ayam+tempe+tahu. Jersey, protector dan celananya masih terlihat bersih tanpa noda tanda dia tidak terjatuh sepanjang trek mini DH 11 Sukawana tadi. Kembali Amad dapat menjawab rasa kekhawatiran yang tadi pagi sempat terbersit dibenak gue.

The Trails – Etape 3

Selepas makan siang pickup kembali beranjak menanjak perlahan menuju titik start trek AM3 Sukawana. Rasa-rasanya tanjakan selepas dari titik finish trek mini HD tadi menuju trek AM3 lebih terjal.

Titik start trek AM3 berupa jalur celah diantara pepohonan teh persis disisi kiri jalan McAdam ini. sama seperti trek mini DH, sebuah spanduk bertuliskan Trek 11 Sukawana juga dibentangkan diikat pada dua buah pohon yang lokasinya lumayan berjauhan 🙂 Dari sini jalur langsung menurun lurus. kang Aris kembali harus membujuk Amad agar mau start di posisi buncit.

Lebar trek di awal-awal lumayan lebar dengan permukaan trek yang sudah bersih berupa tanah halus tanpa adanya sisa akar ataupun ranting pohon teh. Namun di pertengahan ban sepeda gue mulai terasa melindas patahan ranting kering bekas pepohonan teh yang sudah dipangkas. Lebar jalur juga rasa-rasanya juga makin menyempit di area sini.

20258018_10210602729677928_2398793865005860724_n_r

Terhitung dua kali rombongan rangkaian gerbong kereta api terhenti akibat beberapa rider di depan sana yang terjatuh di high speed area ini. Hopefully Amad our youngest rider doing ok di belakang sana tidak mengalami nasib seperti yang menimpa Ayahnya dan om Angsa hihihihihihi.

 

Penutup

Gue tahu di luar sana juga sudah banyak anak-anak kecil berusia sedikit diatas Amad yang sudah diarahkan oleh orang tuanya ikut lomba DH kelas peewee namun to a certain degree racing against the clock  in well-maintained trail sangat berbeda dengan riding in wilderness. Selamat untuk om Akbar yang sudah berhasil mengenalkan dunia MTB kepada Amad diusianya yang masih teramat dini. Yang terpenting menurut gue, kita sebagai orang tua tidak terlalu memaksakan hobby kita kepada mereka. Let them decide whether MTB is a cool thing/hobby to do or not. Jika mereka tertarik tinggal diajarkan tehnik-tehnik bersepeda, aspek keselamatan dan sesekali mengajaknya ke trek yang menantang untuk mengasah mentalnya.

 

Cheers, Mantel
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com

Cikarang 23 Juli 2017
Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut  (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)