Jamiroquai Live in Concert – Sentul 8 Apr 2008

sunny_s2

Sedikit bergetar hari ini manakala pertama kali mendapat info bahwa Jamiroquai akan datang ke Indonesia dan akan mengadakan pertunjukan live di Sentul dalam tajuk ‘Yes It’s True’. Inilah salah satu grup band yang memang pernah beberapa tahun yang lalu gue impi-impikan bisa manggung di Indonesia. Namun begitu melihat harga tiket pertunjukan tersebut ada sedikit kesangsian apakah budget bulanan untuk hobby gue di bulan April akan cukup untuk membelinya. Tiket kelas E & F yang paling murah tertulis seharga 750 ribu rupiah untuk lokasi bangku tribun atas dan kelas A seharga 2,5 juta untuk lokasi bangku tepat dikiri dan kanan depan panggung.

Pagi hari di tanggal 8 April, gue berniat membawa mobil untuk berangkat ke kantor. Exit permit yang sudah diberikan oleh istri untuk datang ke Sentul makin menguatkan semangat gue untuk menonton pertunjukan tersebut. Usaha terahir mencari tiket dilakukan dengan mengirim email ke teman-teman mencari informasi siapa tahu diantara mereka ada yang mempunyai tiket dan mau dijual dengan harga miring. Ada berita bagus bahwa ada yang mau menjual tiket dengan harga 350 ribu. Namun saat bermaksud mengambil tiket tersebut pemiliknya bilang bahwa tiketnya sudah terlanjur dibeli orang lain.

Kepala yang memang sedang pusing berat akibat urusan kantor terasa makin bertambah berat manakala seorang teman yang katanya sedang dalam perjalanan ke Sentul menelpon menanyakan apakah gue juga akan nonton konser. Teman tersebut sudah memegang tiket kelas D yang dia beli seharga 1,5 juta. Damn !!! bikin ngiri ajah …. Ujar gue dalam hati.

Kalau diingat-ingat memang sudah cukup lama juga gue gak pernah nonton pertunjukan musik grup dari luar negeri. Kalau gak salah terahir nonton waktu Suede manggung di lapangan tenis indoor senayan beberapa tahu yang lalu. Sebetulnya gue bukan penyuka musik jazz, namun agaknya sentuhan acid jazz yang kerap kali terdengar di banyak lagu Jamiroquai menjadikannya sebuah anomali diantara grup-grup musik favorit gue yang lain.

Sesampainya di parkiran gue dibuat terbengong-bengong dengan penuhnya mobil milik pengunjung yang datang. Gue gak begitu tahu apakah memang benar mereka yang datang ini benar-benar kenal dan tahu Jamiroquai. Ataukah biar terlihat gaul makanya cuma sekedar sebagai ‘rutinitas’ untuk selalu hadir pada setiap pertunjukan konser grup dari luar negeri apalagi jika musiknya jazz yang katanya kastanya diatas musik rock *gleks*

Ternyata tak susah mencari calo tiket di Sentul. Kalau dipikir mereka ini gigih juga ya ‘mencari nafkah’. Ada konser di Senayan mereka bekerja di Senayan, eeeee ada konser di Sentulpun mereka tetap dengan setia mencari pambeli. Setelah menawar dengan PD yang tinggi ahirnya gue bisa mendapatkan tiket kelas D dengan harga 400 ribu. Agak aneh juga sih, kalau benar mereka mendapatkan tiket tersebut melalui jalur dan harga normal, kok dia mau menurunkan harga sampai 1,1 juta padahal pertunjukan utama juga belum dimulai.

Gedung Sentul City Convention Center tempat konser dilangsungkan seperti masih baru, atau memang gue ajah yang memang gak pernah kesini. Ternyata teman-teman gue sudah mendapatkan bangku dengan posisi pas di belakang mixer. Gak jauh di depan gue sepertinya gue melihat vokalisnya Dewa. Agak jengah juga sih menonton pertunjukan konser musik dengan posisi seperti ini. Maklum dulu-dulu kan gue kalau nonton selalu dengan tiket festival (berdiri).

Ada bidang yang lumayan cukup luas diantara bangku terdepan kelas VIP dengan pagar pembatas panggung. Gue gak tahu apakah area tersebut memang sengaja disediakan oleh panitia sebagai ‘dancefloor’. Yang pasti kalau melihat dari ‘tongkrongan’ para pemegang tiket VIP gue gak yakin kalau mereka akan berdiri hanyut terbawa beat music-nya Jamiro dan memanfaatkan dancefloor tersebut.

 

Kalau dari situs fans Jamiro gue mendapatkan info mereka gak akan membawakan Corner of the Earth dan Bad Girls saat manggung di Indonesia namun paling sedikit mereka akan membawakan 13 lagu antara lain ;

  • The Kids
  • High Times
  • Seven Days In Sunny June
  • Alright
  • Little L
  • Black Capricorn Day
  • Canned Heat
  • Use The Force
  • Travelling Without Moving
  • Cosmic Girl
  • Space Cowboy
  • Love Foolosophy
  • Deeper Underground

Tepat jam 10 malam konser dimulai. Tapi kok kaya-kayanya Jay Kay malam ini agak-agak kurang energik ya pikir gue dalam hati. Penguasaan panggung yang biasanya dilakukan dengan menari dan berlari jarang dilakukan. Begitupun saat mengenalkan para personilnya, tampak banget kurang greget. Oh iya … banyak para penonton kelas E dan F yang nomaden ke arah bawah menuju kelas C dan B.

Saat Intro Cosmic Girl mulai terdengar, entah siapa yang mengkomandoi puluhan penonton dari aras sayap kiri dan kanan (arah bangku kelas A dan B; bisa jadi mereka adalah mereka yang awalnya berasal dari kelas E dan F tadi) berlari berhamburan menuju dancefloor. Seperti yang gue bilang tadi, menikmati musik Jamiro memang gak bakalan enak kalau sembari duduk tapi bukankah kalau mereka semua berdiri disisi pagar pembatas panggung itu sama artinya dengan menghalangi pandangan penonton kelas VIP yang telah membeli tiket dengan harga lebih dari 2,5 juta?.

Sepertinya masalah menerobos ke kelas yang lebih mahal harus menjadi perhatian panitia untuk masa yang akan-datang. Panitia harus jauh lebih siap kalau memang mau membedakan kelas. For info pembatas antar kelas hanya dibuat dengan tali dan dijaga oleh beberapa orang seadaanya. Orang nantinya akan enggan membeli tiket paling mahal kalau pada ahirnya orang yang membeli tiket jauh lebih murah akan bisa mendapatkan spot yang lebih bagus ‘milik’ pemegang tiket yang lebih mahal.

Ancungan jempol khusus gue berikan untuk Paul sang bassist dan William yang pegang perkusi. Paul mainnya enjoy dan asik banget dan pastinya powerfull malam itu. Sepintas gue jadi teringat Mark King-nya Level 42. Ternyata Jamiro ahirnya malah membawakan Virtual Insanity yang menurut pendapat gue pribadi kurang enak dibawakan secara live ketimbang Bad Girls.

Well 400 ribu untuk sebuah pertunjukan sepanjang 95 menit, mahal memang apalagi bagi mereka yang membeli tiket 2,5 juta. Tapi paling tidak itulah harga yang harus kita bayar untuk sesuatu yang kita sudah idam-idamkan dari dulu. Masih ada beberapa grup musik yang menjadi wishlist gue untuk bisa main di Indonesia semisal The cure, Morissey dan REM.

 


One comment


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s