Pengalaman Pertama Downhill – Dengan Sepeda Cross Country

Salah satu spesifikasi minimal dari sebuah sepeda yang dikhususkan untuk dimainkan pada trek downhill (DH) adalah geometri sepeda yang memang khusus, travel fork 180 mm, lebar ban 2,35″, chain guide, bash guard dan beberapa komponen lainnya . Lalu apa jadinya jika sebuah sebuah sepeda kelas cross country (XC) dimana hanya memiliki travel fork cuma 120 mm, tanpa chain guide dan bash guard, lebar ban belakang cuma 2,1″ dan ban depan 2,35″ travel belakang 4″ ikut lombaan DH?  (Spek Shiro)

Saat liburan lebaran tahun 2009 kemarin memang sengaja saya membawa serta serta ‘Shiro’ -sepeda keluaran United seri Radiant- kesayangan saya ini pulang mudik ke Malang dimana dikabarkan disana banyak trek XC yang asik untuk di jelajahi, terutama disekitar Karangploso, Batu dimana orang tua saya tinggal. Picture 013re1

Pada tanggal 27 September 2009 kebetulan sedang dilangsungkan lomba DH di trek Kaliandra, sebuah tempat tidak jauh dari Taman Safari Prigen Jawa Timur. Lomba ini dilangsungkan sebagai bagian dari diperkenalkannya trek Kaliandra ini sekaligus ajang silaturahmi para downhiller Jawa Timur.

Mendapat kabar bahwa trek DH ini tidak terlalu ekstrem maka dengan hati campur nekat saya memutuskan untuk mendaftar pada lomba tersebut. Hitung-hitung merasakan trek downhill untuk pertama kali, pikirku dalam hati. Kelas yang yang saya ikuti adalah Master B dimana dikelas ini tergabung para downhiller yang berusia diatas 35 sampai dengan 40 tahun.

Sekitar jam 10 pagi semua sepeda dan peserta dinaikan keatas truk untuk selanjutnya dibawa ketempat start. Semua peserta diberikan kesempatan untuk melakukan 1 kali latihan. Ahirnya tiba giliran saya untuk meluncur menuruni bukit melintasi trek sepanjang tidak lebih dari 2 kilometer. Selepas garis start sepanjang kurang lebih 50 meter trek masih belum terlalu menurun sehingga sepeda bisa dikayuh full speed. Teriknya matahari membuat permukaan trek sangat berdebu namun tetap asik untuk dilalui. Beberapa tikungan dan dan gundukan sudah dilalui dengan aman dan menyenangkan sampai ahirnya pada sebuah gundukan yang lumayan tinggi saya mendengar suara dari arah rantai. Ternyata rantai dibagian depan lepas. Sambil membetulkan rantai dalam hati saya tersenyum, inilah akibat kalau sepeda XC sok ikut-ikutan downhill. Picture 023r2

Setelah semua peserta meyelesaikan sesi latihan, maka kembali kita diangkut ke tempat start. Karena kita akan langsung masuk ke sesi pertandingan.  Berbeda dengan apa yang telah diberitakan pada sesi briefing tadi pagi, maka sesuai kesepakatan yang dimbil secara demokratis di tempat start, kelas Master C mendapat kesempatan untuk melakukan start pertama. Masing-masing peserta diberi jeda 2 menit sedang start kelas berikutnya baru akan dilepas apabila peserta terahir dari kelas sebelumnya sudah mencapai garis finish.

Berbekal pengalaman saat latihan tadi, maka untuk mengurangi beban fork saat melahap trek dan gundukan maka tekanan ban depan telah saya kurangi sekali lagi. Saya juga berharap tekanan ban yang minimal ini juga dapat mengurangi resiko sepeda terjungkal kala melewati turunan yang curam. Karena memang sepeda XC dengan head-angle 71 derajat terasa sangat lancip. Bandingkan dengan yang dimiliki oleh sepeda DH dimana biasanya memiliki sudut sekitar 66 derajat.

Semakin dekat dengan waktu start makin berdetak kencang jantung ini. Bukan takut karena terjatuh, namun takut kalau-kalau nanti di hadapan penonton rantai sepeda copot lagi hahahahahaha. Ahirnya tiba giliran saya untuk melakukan start, urutan ke enam dari tujuh peserta kelas Master B. Tadinya saya berharap dapat mendapatkan nomer urut buncit dengan harapan bahwa tidak akan ada yang meng-over lap saya di tengah lintasan.

Harus saya akui bahwa bermain DH memang sungguh sangat menyenangkan, sensasi meluncur dengan kecepatan tinggi (karena berburu dengan waktu) di turunan memang membuat ketagihan. Turunan terjal di depan kantor Kaliandra (walaupun harus dengan susah payah mengerem dan memperbaiki posisi sepeda akibat  ban belakang yang nyaris mengunci) berhasil dilalui. Seingat saya diujung turunan ini lintasan akan berbelok tajam ke kiri di lanjutkan dengan drop-off sekitar 40 cm. Arghhhh akibat terlambat mengambil momentum untuk memulai mengayuh, gagal deh ‘terbang’ melewati drop-off tersebut. Padahal disekitar situ banyak fotographer lho. Picture 024r1

Hal yang saya khawatirkan ahirnya terjadi juga, karena membuang waktu hampir 30 detik melewati turunan terjal tadi dan beberapa turuna lain maka tidak heran jika peserta terahir kelas Master B mulai mendekat. ” …. Permisi Ooommmmmmmmmm….” teriak rekan peserta dibelakang saya dengan santun. Yaa udahlah silahkan duluan deh  ….. jadilah saya di overlap  dan dirikan sisa-sisa debu yang mengepul yang membuat saya nyaris tidak bernafas, huahahahahaha.

Fuiiih … Ahirnya sampai juga di garis finish. Sayang saya tidak sempat melihat catatan waktu. Tapi dalam hati saya mencoba menerka-nerka, jika peserta kelas wanita hanya membutuhkan waktu 3 menit 18 detik, mungkin torehan waktu saya sekitar 6 menit huahahahahahaha. But I think it’s not bad for Downhiller-wanna-be with XC bike (and the first time trying the downhill course) like me. But for sure it was fun … Kalau punya kesempatan beli memiliki sepeda DH pasti saya akan kembali ke Kalindra, Klemuk Gunung Pinang ataupun trek DH lainnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s