Catatan Ahir Tahun dan Awal Tahun si Pemula

Tidak terasa sudah enam bulan lebih gue melakoni hobby MTB. Sepanjang periode tersebut belum terlalu banyak tempat dan jalur bersepeda yang sempat gue kunjungi, belum terlalu banyak persahabatan yang sudah dijalin, belum pula terlalu jauh jarak yang ditempuh yang sempat terekam pada tripmeter sepeda. Bottom line-nya adalah *gue masih seorang pemula/newbie/rookie* atau apalah sebutan lainnya.

Di tahun 2010 tentunya gue ingin mencoba lebih banyak trek di sekitar Jawa Barat namun pastinya tetap realistis karena untuk urusan izin (apalagi jika harus menginap) tetap akan sama tantangannya seperti di tahun 2009. Kendala bahwa acara bersepeda akan menghabiskan waktu ahir pekan tanpa bersama keluarga sudah menjadi hal yang umum. Harus dengan bijak disiasati agar kita tidak dicap sebagai orang yang egois🙂

Kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan dan tehnik bersepeda juga dirasakan makin mendesak.  Belajar untuk menikmati tanjakan sekaligus belajar menikmati turunan dengan cara yang benar adalah agenda utama di tahun 2010 ini.

Walaupun dengan status seorang pemula tentu bukan hal yang terlarang kalau dalam kesempatan ini gue menulis kesan-kesan, pendapat atau hasil pengamatan dari sesama rekan pemula yang lain dalam hal menikmati hobby bersepeda gunung ini.

Menumbuhkan Mental Sang Pemula

Sering gue melihat dan mendengar betapa teman-teman pemula mengeluh di tengah perjalanan saat bersepeda menuju suatu tempat. Kondisi trek dan jarak menempati urutan pertama dan kedua yang mereka biasanya keluhkan. Bentuk keluhan bisa bermacam-macam dan berkelas-kelas, dari yang hanya menggerutu, menyesal ikut pergi ke tempat tersebut sampai yang paling parah frustasi berjalan begitu saja meninggalkan sepedanya.

Ada guyonan diantara temen-teman senior untuk pada pemula saat ahirnya ‘berhasil’ (walapun sepeda lebih sering dituntun) sampai di tujuan pada sebuah trek off road yang ‘berat’ dimana di tengahnya terdapat banyak tanjakan panjang nan terjal ataupun jalan makadam yang panjang. Menurut mereka hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi pada sang pemula tersebut; kemungkinan pertama sang pemula akan kapok menjalani hobby barunya ini. Kemungkinan kedua sang pemula akan segera mengupdragde sepeda.

Ada untung dan ruginya bersepeda secara berkelompok (‘berkelompok’ disini maksudnya bukan gowes kolosal yang memang biasanya sudah ada yang bertugas sebagai sweeper). Sang pemula jelas berada pada pihak yang akan diuntungkan dibanding sang senior. Kecepatan dan kekuatan sang pemula jelaslah akan mempengaruhi irama bersepeda sang senior. Bayangkan kalau sang senior harus sering menunggu kita yang selalu tertinggal dibelakang.

Jatuh saat bersepeda bisa terjadi pada siapapun, tidak mengenal apakah itu senior ataupun pemula. Bahkan Sam Hill jawaranya Downhill saja bisa jatuh kok saat belok pada trek yang rata. Jadi jika keputusan untuk bersepeda secara berkelompok sudah dibuat dari awal maka menurut gue dibutuhkan komitmen dari kedua belah pihak untuk selalu bersama dan saling menjaga.

Menurut gue teman perjalanan (baca : sang senior) yang baik adalah yang juga bisa menjadi motivator bagi si pemula saat mereka harus melewati rute yang berat. Teman perjalanan yang baik adalah mereka yang juga bisa menilai batas kemampuan maksimum dari sang pemula saat melintasi sebuah medan. Terkadang dalam beberapa kondisi ada batas yang sangat tipis antara memotivasi dan melihat batas kemampuan. Ambil contoh dimana pada sebuah turunan yang terjal, sang senior yang baik akan memberikan saran kepada sang pemula untuk lebih baik menuntun sepeda kepada sang pemula. Kalaupun pada ahirnya sang pemula memutuskan untuk mencoba turunan tersebut maka sang senior yang baik hedaknya memberika tips dan trik agar berhasil melawati turuan tersebut.

Namun bukan berarti sebagai pemula kita bisa manja dan selalu menyusahkan para senior rekan perjalanan kita. Setalah mengukur batas kemampuan kita maka yang kita tinggal lakukan adalah mencoba. Misalnya ketika pada sebuah trek kita dihadapkan pada sebuah tanjakan yang cukup panjang maka tidak ada salahnya kita mencoba dulu mengayuh sepeda barang semeter atau dua meter. Kalau merasa sudah gak kuat ya silahkan berhenti untuk istirahat sebentar lalu mencoba barang semeter atau dua meter lagi.  Ketika mencoba yang kedua kali ini dirasakan dengkul sudah hampir menjerit coba diteruskan barang satu atau dua kayuhan lagi setelah itu barulah berhenti kembali untuk beristrirahat. Ucapan memang terlihat mudah ketimbang melakukan tapi paling tidak itulah cara yang biasa gue lakukan selama ini dan biasanya berhasil menyelesaikan trek.

Perjalanan Gowes Ahir Tahun 2009
Mengahiri tahun 2009 kemarin acara gowes dilakukan pada tanggal 26 Desember dengan bergabung dengan rekan-rekan Puri Gading Cycling Club (PGCC) Lite-DH di sekitar Lembang Bandung. Mobil diparkir di rumah seorang teman, sedangkan semua sepeda dan orang diangkut dengan dua buah truk.

Starting point ditandai dengan adanya menara BTS milik sebuah provider GSM yang berdiri angkuh diatas bukit Lembang. Susah payah kedua truk ini menuju kesana dengan melewati jalan aspal menanjak yang sudah rusak parah. Sampai ahirnya sekitar 3 KM menjelang lokasi kedua truk yang notabene ‘Cuma’ 2WD benar-benar sudah tidak mampu lagi menaklukan tanjakan tersebut. Keputasan ahirnya adalah semua sepeda diturunkan.

Untung sepeda gue berspesifikasi  jadi ya gak ada masalah kalaupun harus gowes nanjak keatas sampai menara. Namun tidak demikin dengan teman-teman yang lain dimana bawaaan mereka adalah spek DH dan FR yang terpaksa harus menuntunnya. Gak lama setelah kita menurunkan sepeda hujan mulai turun rintik-rintik, Arghhhh mana jas hujan lupa gue bawa. Maka jadilah gue gowes nanjak di jalur makadam ini sendirian sembari mandi hujan.

Andaikata kering pastilah trek ini sangat nikmat untuk dilalui. Turunan melewati hutan pinus dimana di tengahnya banyak akar yang melintang di tengah trek dengan menggunakan sepeda XC saja sudah demikian nikmat apalagi kalau menggunakan sepeda seperti mereka pikir gue dalam hati.

Akibat hujan maka beberapa bagian di trek ini benar-benar tidak bisa dilewati. Jangankan untuk digowes, untuk menuntun sepeda saja sudah susah untuk mencari pijakan kaki. Bahkan ada beberapa kubangan air setinggi setengah ban dimana semua orang menggerutu saat melewatinya. Maklumlah air dan Lumpur tersebut pastilah sedikit banyak bisa merusak bearing yang ada pada sepeda kita.

Overall gowes nanjak dan turun di trek ini sangat menyenangkan walaupun ini adalah pengalaman pertama kali bersepeda paling blepotan Lumpur dan paling membuat badan menggigil akibat badan basah plus udara dingin khas Lembang. Alhasil jersey harus di rendam satu hari satu malam dan membutuhkan literan air untuk menghilangkan kotoran lumpurnya itupun hasil ahirnya gak bisa bersih sekali.

Perjalanan Gowes Awal Tahun 2010

Mengawali tahun 2010 sebetulnya ada rencana gowes ke Sukamantri tanggal 2 Januari namun gagal karena exit permit gak didapat. Ahirnya keesokan harinya gue memenuhi undangan teman untuk main ke JPG.

Cukup kaget melihat pemandangan begitu banyak orang berkumpul melihat-lihat barang dagangan seputar sparepart dan asesoris sepeda yang dijajakan disana. Melihat sepeda-sepeda bagus lagi high-end dari merek-merek ternama hanya membuat menarik nafas dan menelan ludah. Sering mengelus dada sambil membesarkan hati dan mengingat sebuah kalimat bjik pada signature seorang poster di forum sepedahku.com “Yang penting sepedahannya bukan sepedahnya”.

Perasaan sedikit kaget juga gue alami ketika mulai mencoba trek ini. Akibat membludaknya goweser maka sering kali kita harus menunggu untuk mengantri cukup lama saat diawal tanjakan, turunan ataupun di pematang sawah yang memang mendominasai sebagian besar trek JPG ini.

Menurut catatan gue terdapat paling tidak tiga buah bagian yang menantang di trek ini. Pertama adalah sebuah jalur lumayan landai yang berbelok ke kiri dan langsung disambung oleh sebuah tanjakan dimana tanjakan tersebut tidak terlihat saat kita melalui jalur landai tadi. Yang kedua adalah sebuah turunan berbentuk huruf ‘S’ yang cukup patah di kedua ujungnya dan yang terahir adalah mascot dari trek JPG ini yakni sebuah roller-coster yang kabarnya pernah ‘memakan’ korban sehingga harus mengengeluarkan uang puluhan juta untuk biaya pengobatannya..

Total jarak trek inipun tidak terlalu jauh bahkan kabarnya rekor tercepat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan trek JPG adalah sekitar 15 menit saja. Jauh lebih cepat dari waktu yang gue butuhkan untuk mencapai lokasi trek JPG ini dari rumah gue di Cikarang🙂


3 comments

  1. Sebagai pemula harus bisa mengukur kemampuan. Jelas sekali biar sama2 pemula SKILL maupun POWER setiap orang beda. Ada yang baru gowes RA pertama kali sudah gowes terus sampai di tanjakan ngehe. Ada yang senior, tapi tetap ngojek. Kalau skill sih biasa nya sejalan dengan jam terbang, meski itu ngga jamin juga.

    Selain itu, meskipun sama 2 pemula, PREFERENSI setiap orang ke acara gowes amat sangat beragam.
    Ada yang suka dual (road and offroad) ada yang suka offroad aja (anti aspal)
    Ada yang cuman suka turunan, ada yang rela nanjak gila.
    Ada yang suka gowes santai sambil foto2 sama lihat pemandangan, ada yang suka ngebut.
    Ada yang suka jalan makadam berkilo2meter (karena sepedanya enak) atau turunan gila, ada yang suka light XC aja.
    Ada yang sepedanya bagus banget cuman buat jalan raya, ada yang sepedanya HT udah ngelibas makadam gila.
    Ada yang gowes karena suka alam, ada yang suka karena olah raga nya. Ada yang suka gowes karena pergaulannya, ada juga yang gowes karena ini adalah kegiatan yang lagi trend.

    Perbedaan2 inilah yang membuat gowesan ini menarik diikuti, bermacam orang dengan pribadi dan latar belakang yang berbeda dengan 1 hobi.

    Yang penting adalah masing bisa menerima bermacam2 orang dan tidak menganggap yang lain tidak pantes/bukan goweser sejati/kurang pas/atau apalah kekurangan2nya. Selama si orang lain have fun, let’s have fun together. Respect others.

    Yang saya pelajari selama main MTB :
    – kalau udah capek, sepedaan ngga fun. jadi tahu kemampuan masing2 lah.
    – kalau sudah jatuh, mental bisa drop meski sebenernya engga ada tulang yang patah atau part sepeda yang rusak, dan fisik juga sebenarnya masih kuat.
    – sepedaan tidak membuat berat badan anda turun, apa lagi kalau sepedaan nya cuman weekend
    – yang pasti, gowes ama temen2 deket itu sangat menyenangkan..

    Ya nggak..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s