Telaga Warna (TW) 3 Nyambung Langsung Ke TW2

 

Sinopsis :

Berbekal rasa penasaran dengan salah  posting dari rekan goweser yang memberitakan bahwa dari TW3 bisa ada ‘jalan’ menuju TW2 maka hari Minggu 2 Mei kemarin aku dan seorang teman lamaku berniat mencari ‘jalan’ yang dimaksud.

Berhubung situs sepedaku.com masih ‘down’ maka novel  perjalananyang biasanya aku publish disana terpaksa diposting di blog pribadiku ini saja. Semoga berkenan membacanya dan bermanfaat.

+++++++++++++++++++++++++++++

TW3? TW2? Kode Onderdil Motor atau Bahan Bangunankah itu?

Keterherananku akan sepinya goweser yang memarkir kendaraan di mesjid Gadok sedikit berkurang saat melihat situasi yang cukup ramai di warung Mang Ade di Rindu Alam di pagi itu. Ada belasan rekan goweser dari grup Pertamina yang katanya mau mencoba trek RA namun hanya sampai ke Taman Safari. Saat sedang asik menghirup teh hangat, seseorang dari mereka datang menghampiri dan dengan ramah memperkenalkan diri sekaligus meminta aku untuk ‘menemani’ mereka.

“Tapi kita mau ke Telaga Warna nich om bukan ke rute RA – Gadok.” Jawabku sopan, dan untunglah mang Ade segera datang dan memberitahu bahwa dia telah ‘menemukan’ rekan lain yang kebetulan memang mau melewati trek RA dan bersedia ‘menemani’ rekan goweser dari Pertamina tersebut.

Jalan makadam menanjak selepas dari portal jalan masuk awal trek Telaga Warna masih seperti dulu selalu ramah menyapaku dan tentu saja keramahan tersebut aku balas dengan tidak segan-segan TTB kurang lebih 20 meter selepas portal, yaaa hitung-hitung pemanasan otot pinggung dan betislah. Seperti pernah aku ceritakan entah mengapa aku cenderung lebih menyukai pemandangan di trek TW ini ketimbang RA. Hamparan kebun teh disisi kiri kami tidak henti-hentinya menyajikan pemandangan indah bak background di studio foto.

Dengan bermodalkan deskripsi yang aku baca dari goweser yang sudah pernah mencoba menggabungkan TW3 + TW pada minggu sebelumnya ditambah dengan pengalaman pribadi saat aku mencoba TW2 di ahir Januari dan TW3 bulan lalu, aku  mencoba sedikit memberi gambaran perbedaan jalur trek TW3 dan TW2 sekaligus konsekuensi yang akan kita hadapi apabila kita ‘menggabungkan’ kedua rute tersebut ke om Iwan rekan perjalanku kali ini.

Dengan bahasa sederhanya dapat kita katakan bahwa secara kontur, awal pertualangan bermain miring bawah TW3 berada pada ketinggian jauh lebih rendah dari posisi awal pertualangan TW2. Otomatis ketika kita sudah menuruni jalur TW3 dan sampai diujungnya maka kita harus ‘menyeberangi’ beberapa punggungan bukit untuk kembali kearah jalur TW2 yakni pertigaan di depan gedung sekolah SD Cikoneng.

Sepi Bukan Berarti Tanpa Hambatan

 

Setelah puas gowes miring atas di jalur makadam kini saatnya menikmati turunan pertama di trek TW3 ini. Ternyata pagi ini kami tidak sendirian, dibawah sana aku paling tidak ada lima atau enam goweser lain yang sudah melewati turunan pertama.

“Di turunan manja ini banyak juga yang jatuh lho,” aku mencoba mengingatkan om Iwan untuk hati-hati karena aku ingat di tengah-tengah jalur turunan ini ada batang pohon teh yang sedikit menjorok kearah badan jalan bukan tidak mungkin tertabrak crank sepeda kita.

Curahan sinar matahari yang dikaruniai oleh Sang Pencipta di hari sebelumnya membuat permukaan tanah pada jalur sesudah kebun teh sangat bersahabat, sangat ideal untuk full speed ataupun sekedar gowes santai sambil menghirup segarnya udara pagi. Kelompok goweser tadi sudah terlihat di depan mata.

“TW3 aja atau mau lanjut ke TW2 om?” Tegurku ramah saat melewati mereka.

“Kayanya TW3 aja, “ jawab salah satu dari mereka sambil balik memberikan pertanyaan yang sama kepadaku.

“Yaaaa ngikutin kaki ajalah .. kalau masih kuat yaa kita mau lanjut ke TW2.” Jawabku.

Saat beristirahat sambil menikmati sunyinya suasanya kembali rombongan tadi melewati kami. Mengingat di depan sana akan makin banyak turunan sedap yang akan kami temui, aku memutuskan untuk menambah waktu istirahat agar interval jarak antara kami lumayan jauh. Kebayang dong kalau lagi asik menikmati turunan namun konsentrasi terbagi karena di depan kita ada goweser lain .. belum lagi bahaya yang dapat timbul karenanya.

Namun yang aku khawatirkan ahirnya terjadi juga. Saat meluncur turun pada sebuah turunan yang panjang tiba-tiba mataku menangkap sebuah objek berada kurang dari 20 meter di bawah sana. Ternyata salah satu peserta rombongan ‘tercecer’ dari rombongannya. Dalam sepersekian detik aku mencoba observasi apakah jalur yang sebenarnya tidak bisa dibilang single track ini cukup luas untuk melewati rekan goweser di depan sana. Hasil observasi mengatakan tidak mungkin dan terlalu riskan untuk mendahuluinya. Disisi kiri-kanan jalur terdapat pohon yang terlihat dari jauh batangnya runcing-runcing belum lagi resiko kalau gagal mengedalikan sepeda yang sedang meluncur kencang ini dan menabrak rekan tadi. Beberapa detik kemudian keputusan aku ambil untuk segera hard-brake dengan tetap berusaha agar ban belakang tidak terkunci dan berharap sepeda dapat aku hentikan beberapa meter sebelum menabrak goweser di depan sana.

Bukan perkara mudah mengurangi kecepatan sepeda yang sedang meluncur kencang diturunan ini. Teori bahwa jika kita dapat menguasai rem depan dengan baik maka kita akan dapat menguasai sepeda sudah aku hapal diluar kepala namun tetap saja sepeda ini masih tetap meluncur walaupun sudah berkurang kecepatannya tapi menurut hitunganku dalam kurang dari 10 detik kedepan pasti akan menabrak goweser tadi. Keputusan segera aku ambil saat kecepatan sepeda aku sudah rasakan cukup aman untuk segera  ‘menangkap’ sebuah batang pohon di sisi kiri sambil sedikit mengarahkan handlebar kearah kiri dengan harapan ban segera menabrak semak-semak. Perhitungan dan usahaku berhasil dengan sempurna.

Ternyata tampak dari keputusan yang aku ambil tadi juga mengakibatkan om Iwan yang berada dibelakangku juga sedikit panik dan melakukan hal yang sama namun  dia ‘memilih’ batang pohon disamping batang yang aku pilih tadi. Posisi jatuhnya tidak terlalu parah, namun sepertinya kepalanya membentur batang pohon dan lengannya tergores batang pula. Alhamdulillah bukan cidera yang serius namun rasa pegal di pergelangan tangan dan luka di lengannya sudah pasti sedikit banyak akan mengurangi kemampua handling sepedahnya.

Perjalanan Sesungguhnya

 

Setelah melewati turunan terjal terahir dimana terdapat  drop-off batu disambung dengan turunan manja yang lumayan panjang, menurut yang aku baca kita jangan memilih arah ke lapangan bola, namun memilih arah ke ‘tower’ jika kita mau melanjutkan ke trek TW2.  Setelah mengikuti jalan tadi sampailah kami di sebuah sungai.

“Jang, arah ke Cikoneng lewat mana?” Tanyaku pada bocah-bocah yang sedang mandi di sungai.

“Terus ajah nanti ada jembatan belok kanan.” Jawab salah satu dari mereka.

Jalan ini permukaannya telah disemen dan seperti yang telah aku duga bahwa sungai tadi posisinya berada ‘dibawah’ seperti lembah dan jalan yang akan kita lalui pastilah akan miring atas tiada henti karena memang kita telah berpindah ke punggungan bukit yang lain. Jalan kecil bersemen ini ternyata berujung di sebuah jalan beraspal halus.

“Wan elo tunggu sini ya .. gue mau tanya sama ibu-ibu di tengah tanjakan sana.” Ujarku seraya mengarahkan sepeda melewati samping portal dan bersiap melalui jalan miring atas yang lumayan panjang ini. Kalau ternyata kita salah jalan paling tidak energi yang terbuang hanya dari 1 orang pikirku dalam hati. Setelah mendapat jawaban bahwa jalan yang kita tempuh benar akupun melanjutkan gowes miring atas sambil memberi aba-aba kepada om Iwan untuk segera menyusul

Kami melihat ada sebuah belokan kearah kiri yang kita temui saat kami beristirahat, mungkin inilah jalan yang dimaksud oleh penduduk tadi. Lumayanlah  dapat bonus jalan rata pikirku dalam hati sambil menikmatinya sebelum dihadapkan oleh tanjakan-tanjakan lain yang aku yakini akan banyak kami temui di depan.

Di depan kami melihat sebuah traktor perata tanah sedang diparkir. Jalan terlihat bercabang, kearah kanan jalan tanah yang sepertinya sudah mulai diratakan oleh alat berat tersebut. Tidak ada orang yang kami temui untuk bisa ditanya arah mana yang harus kami lalui. Ahirnya aku memutuskan mengambil jalur tanah tadi. Setelah lumayan lama gowes menanjak ahirya aku melihat dua orang ibu yang langsung aku hujani dengan pertanyaan arah jalan menuju Cikoneng. Jawaban yang aku terima membuat mangkel .. ya ..ya..ya… karena kita telah salah memilih arah jalan. Kali ini om Iwan sudah terlanjur menyusul aku di tempat aku berhenti untuk bertanya pada kedua ibu tadi. Lumayaaaan nyasar barengan.

Setelah berbalik arah kami mengikuti jalan aspal halus sampai diujungnya kami kembali menemukan sebuah traktor lagi. Bukan perkara yang mudah untuk sampai disini apalagi untuk ukuranku yang stok nafasnya memang pas-pasan dan bagi om Iwan yang menurut pengakuanya sudah berumur kepala 5 dan sudah mulai sering terlihat TTB.

Lugunya Sang Bocah

 

Dari tempat beristirahat sejenak, jauh dibawah sana rumah-rumah penduduk terlihat bak rumah-rumahan kecil seperti yang digunanakan saat bermain monopoli. Aku menduga rumah penduduk dibawah sana adalah daerah Cisarua dan sekitarnya. Setelah observasi kami melihat jajaran tiang listrik di atas kami.  Aku dan om Iwan berpencar mencari jalan yang bisa kami lewati untuk bisa sampai kesana karena kami yakin disana pasti terdapat sebuah jalan.

Kini kami telah tiba di sebuah jalan berukuran sedang yang dapat dilewati sebuah mobil. Gejalan kram pada bagian betis yang telah mulai menyerang om Iwan sesaat sebelum tanjakan ujung jalan aspal kembali menyerang. Dari kotak medical kit kembali aku keluarkan obat gosok dan sekaligus betadine untuk dioleskan pada lengan om Iwan yang ternyata sebelumnya belum sempat dibersihkan saat terjatuh di trek TW2.

Jalan disisi perkebuan penduduk ini seperti tidak bosannya menghidangkan tanjakan manja kepada kami. Posisi matahari yang sudah nyaris tepat diatas kami ikut menambah beratnya usaha kami mengowes sepeda. Perbukitan di sekitar kami terlihat gundul karena memang dipermukaannya hanya ditanami sayur mayur yang dedaunannya seperti tidak mampu memberi nuansa hijau.

Sudah tidak terhitung berapa kali kami bertanya kepada penduduk yang kami temui di jalan maupun yang sedang berkebun. Pertanyaan terahir yang aku lontarkan adalah saat bertemu rumah di sisi jalan dimana tampak tiga orang penduduk sedang bercakap-cakap. Ketika tahu bahwa arah yang kami tuju adalah Cikoneng segera mereka mengarahkan tagan mereka kearah sebuah bukit di sisi kanan kami, dengan kata lain kembali kami telah salah jalan. Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh .. mana tadi sudah lumayan panjang tanjakaan saat menuju rumah tempat kami bertanya ini.

Menurut hitunganku berarti sudah 2 buah bukit kami lalui sejak kami meninggalkan ujung jalur TW3 dan entah berapa bukit lagi yang akan harus kami lalui. Pelajaran berharga yang aku dapat dari rekan-rekan CikarangMTB yang notabene sering (dan senang) nyasar adalah bagaimana kita untuk tetap ikhlas menikmati perjalanan. Dan memang beberapa kali hal tersebut terbukti. Tanjakan-tanjakan seperti foto dibawah ini kalau dilalui sambil menggerutu hanya akan membuat mental kita makin down.

Empat orang bocah tiga orang laki-laki dan seorang perempuan seumuran 8 tahuan terlihat riang gembira membawa tas plastik yang setelah aku Tanya ternyata berisi buah atau kacang seperti petai cina. Entah dari mana mereka mencari petai tersebut yang sepertinya menjadi makanan ringan yang nikmat saat kulihat seseorang diantaranya mengupas dan melahap habis kacang tersebut. Sambil beristirahat om Iwan mengajak mereka ngobrol ngalor-ngidul, sementara aku asik membuat dokumentasi karena pemandangan disekitar kita sudah mulai hijau kembali dengan adanya pepohonan teh.

Perjalanan kembali kami lanjutkan, namun entah apa hasil obrolan om Iwan dengan keempat bocah tadi sehingga aku lihat tiga bocah laki-laki beramai-ramai mendorong Blur LT om Iwan di tanjakan ini. Hmm apakah bocah-bocah ini pemberi jasa ojek seperti di tanjakan ngehe jalur RA tanyaku dalam hati. Setengah berbisik om Iwan mengatakan bahwa mereka bukan ojek tapi dia bersedia berbagi rezeki pada mereka sebagai imbalan membawakan sepedahnya. Sang bocah wanita kebagian membawakan tiga  buah tas milik ketiga temannya. Sebagai wujud kebersamaan aku menawarkan diri untuk membawakan tas-tas tersebut dan ditanggapi dengan senang hati olehnya.

Mereka mengantar kami sampai di sebuah mesjid dan tiga bocah laki tadi langsung mencopot seluruh baju kumalnya dan berendam di kolam tempat penampungan air sisa wudhu. Uhhhhhhh pasti segar banget tuh gumamku dalam hati. Ukuran kolam yang tidak lebih besar dari 2 x 3 meter mereka nikmati untuk berenang layaknya mereka sedang berenang di kolam ukuran mini olimpic, What a great moment and happiness!!!!

Warung Neng Shinta

Tersebutlah sebuah warung di sebuah desa terahir sebelum kita akan masuk ke hutan pinus jalur TW2. Menurut kabar angin anak pemilik warung tersebut bernama Neng Shinta. Tempat itulah yang akan menjadi tujuan kami selanjutnya setelah istirahat sebentar dan sholat di mesjid tadi. Ternyata jarak antara mesjid dan pertigaan jalan trek RA – TW2 dekat SD Cikoneng tidaklah terlalu jauh. Kalau dari arah mesjid berarti jalan yang harus  kita pilih adalah arah lurus. Jika kita mengikuti tiang dan kabel listrik yang ada di sisi jalan Insya Allah dapat kita jadikan patokan untuk menuju warung Neng Shinta tanpa tersesat.

Rasa lapar yang makin menjadi sejatinya membuat kayuhan makin tidak bertenaga, apalagi kita masih di hadapkan dengan beberapa tanjakan walaupun masih dalam taraf sopan. Namun menu indomie rebus+telor+nasi yang ada dibenakku sepertinya berhasil mengalahkan rasa lelah dan seperti memberikan tambahan tenaga untuk menggowes secepatnya sampai diwarung tersebut.

Mang Santana sang pemilik warung menyambut kami dengan ramah di dalam warung yang sekaligus rumah beliau. Sambil menunggu pesanan makan siang tiba kita ngobrol ngalur-ngidul termasuk tentang perjuangan warga desa saat listrik belum masuk ke desa ini, dimana mereka bergotong royong membuat semacam pembangkit listrik mini bertenaga kincir air. Tidak ketinggalan kami juga membahas tentang dampak sosial-ekonomi keluarga Mang Santana dengan makin seringnya para goweser melewati jalur TW2.

“Kalau ada rencana sepedahan kesini bisa telp bapak dulu untuk memesan makanan, lauknya bisa ayam goreng, pepes ikan pun bisa dipesan”, Ujar Mang Santana seraya membacakan nomer HP 087870936174 beliau.  Jika kita mulai gowes dari Warung Mang Ade sekitar jam 8 pagi dengan kecepatan normal, maka memang lokasi warung Mang Santana ini sangatlah strategis dilihat dari lokasi dan juga waktu tiba kita disini dimana kurang lebih saat jam makan siang tiba.

Teduhnya Hutan Pinus TW2

Dari depan warung Mang Santana kita tinggal mengarahkan sepeda mengikuti jalan sedikit agak menurun. Setelah melewati rumah-rumah penduduk sampailah kita kembali di perbatasan kebun teh. Dibeberapa bagian sepeda terpaksa kita tuntun karena memang sangat terjal. Mengingat pengalaman saat melewati jalur ini beberapa bulan yang lalu dimana beberapa rekan sempat merelakan darahnya dihisap pacet maka kali ini aku lebih memilih segera mengenakan celana pasangan raincoat. Hutan pinus ini memang lumayan lebat, bahkan dibeberapa bagian sinar matahari seperti tidak dapat menembus menyinari pepohonan disepanjang jalur sepeda dan diperparah dengan turunnya hujan pada malam sebelumnya. Kondisi seperti itulah yang merupakan tempat ideal bagi pacet.

Setelah mulai memasuki hutan, kali ini aku yakin bahwa permukaan tanah sangat bersahabat dan akan memanjakan kami dengan turunan-turunan yang asik. Aku ingat betul ada dua turunan yang lumayan curam yang akan kita lewati. Salah satunya adalah ‘turunan tangga’ dimana disisi kanan turunan tersebut terdapat seperti undakan-undakan tanah yang dibatasi bambu oleh penduduk untuk memudahkan mereka menaiki atau menuruni jalur tadi.

Sebelum sampai diturunan tangga ini kita juga akan dihidangkan sebuah turunan yang lumayan curam dan panjang. Turunan ini nyaris tidak terlihat karena terletak disisi kiri diujung jalur. Sehingga kalau dilihat dari kejauhan jalur ini seperti buntu.

“Saat melewati turunan ini ahir Januari lalu, sepeda gue tuntun wan,” ujarku saat kita berhenti sejenak diujung turunan ini sambil menurunkan adrenalin dan melepaskan lelah.

Sambil melihat kearah dasar turunan aku mencoba sedikit observasi dan memilih jalur yang akan aku lewati nanti. Kurang lebih pada jarak  3/5 dari ujung atas tarunan jalur terlihat sedikit berbelok kearah kanan dan permukaan tanah juga sepertinya tidak terlalu rata.

“Ok .. bismillah..”  gumamku dalam hati seraya mulai mengarahkan sepeda  ke jalur yang telah aku pilih tadi. Manakala jalur sedikit berbelok dengan hati-hati aku mengurangi kecepatan sepeda  namun tampaknya saat ban sedikit dibelokkan, ban depanku seperti kehilangan traksi, sedikit sliding kearah bawah dan merusak keseimbanganku yang membuat sepeda makin sudah dikendalikan.

“Mungkin ini saat yang tepat untuk melepaskan sepeda secara total,” ujarku dalam hati manakala sepedaku makin sulis dikendalikan. Ujung pant**ku yang memang sudah berada pada ujung sadel segera aku geser makin kebelakang dan pegangan tangan segera aku lepaskan dari handgrip. Aku menjatuhkan diri kearah kanan dan sepeda sedikit meluncur seblum ahirnya berhenti tidak jauh dari tempatku menjatuhkan diri. “Arghhhhhhhhh gagal maning-gagal maning,” gerutuku kesal dalam hati.

Semakin masuk kedalam hutan pinus, makin bertambah asik bersepeda di jalur ini. Hal inipulalah yang membuat aku lebih menyukainya ketimbang turunan di sepanjang jalur RA-Gadog. Ada sensasi tersendiri saat sepeda kita melewati akar-akar pohoin yang keluar dan melintang di permukaan tanah. Belum lagi saat melihat sebuah batang poho besar yang tumbang dan menutupi jalur. Mimpi dan obsesi untuk dapat epic ride di hutan tropis sedikit terobati saat melewati jalur TW2 ini.

Beberapa rekan goweser memberi julukan ‘turunan setan’ untuk turunan tangga ini.  Turunan ini lumayan curam dengan panjang kurang dari 30 meter. Patok-patok bambu yang ada disisi kanan jalur ini makin membuat turunan ini makin menantang sekaligus berbahaya. Andai .. andai kita terjatuh di tengah turunan dan gagal ‘mencari’ posisi jatuh yang bagus, maka niscaya tubuh kita akan menimpa bambu-bambu tersebut.

Kali ini sudah bertekad bulat untuk mencobanya dari ujung turunan, tidak seperti dulu yang hanya ‘berani’ mencobanya mulai dari tengah turunan. Whuuuuuuuuzzzz sepedaku meluncur kencang menuruni turunan ini .. 1/3 turunan berhasil dilewati dengan aman … begitupun saat melewati 2/3 turunan dimana disitu juga jalur sedikit zig-zag berhasil dengan aman kulewati. Kecepatan sepedakurasakan makin kencang menjelang 1/3 terahir turunan ini. Aku ingat betul bagian flat di ujung turunan setan ini tidaklah panjang karena akan bersambung dengan turunan lainnya. Diujung turunan setan ini biasanya para goweser lebih memilih menghentikan sepeda terlebih dahulu dengan mengerem sepeda dengan segera sesaat ban sepeda masuk ke bidang datar tersebut.

Walaupun di depan kita masih ada satu turunan yang berujung di pertigaan pintu masuk area wisata curug kembar. Namun sensasi trek TW2 menurutku berahir saat melewati turunan setan tadi karena sesudahnya kita hanya akan melewati turunan jalan aspal yang akan dapat membawa kita langsung ke depan pasar Cisarua ataupun Ciburial. Menurut perkiraanku seharusnya ada jalur offroad lain yang dapat kita pilih tanpa keluar ke jalan raya Puncak yang dapat membawa kita langsung  menuju Sarinande Ciawi untuk selanjutnya dapat kita tinggal gowes sedikit ke arah Mesjid Gadog. karena aku ingat betul saat gowes ke Curug Panjang bersama om HPW  kita melewati jalur offroad mulai dari Gadog sampai perempatan Lapangan golf Gn. Geulis.

+++++++++++++++++++++++++++++

Tamat,

Cikarang 3 Mei 2010

::: Mantel :::


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s