Gowes di Pulau Bali, Mahal Tapi Sangat Sangat Sepadan (Bagian ke-2)

Day 2 – Sabtu 23 Feb 2013.  Nothing But Rolling Trail And a Pieace of “Heaven”

Segelas  teh manis panas dan sepiring menu sarapan yang disediakan hotel telah ludes gue santap. Saat sedang menunggu jemputan  kendaraan yang akan membawa kita ke lokasi gowes, gue baru ‘ngeh kalau ban belakang sepeda gue gembes banget, padahal gue ingat betul semalam itu gue udah fully loaded  tambah angin. Gak mau ambil resiko dengan urusan ban ini saat gowes nanti, maka buru-buru dech terpaksa gue ganti ban dalam dulu Doooooh. Oh ya, untuk acara gowes di Bali ini sang EO juga sudah membelikan kita jersey. Bukan jersey yang special designed untuk grup ini sih, tapi lumayanlah biar keliatan seragam saat foto narcis keluarga di halaman hotel sebelum berangkat hihihihihi

856806_4926068741871_1465953644_o

Salah satu alasan mengapa kami dipilihkan hotel di Ubud adalah agar dapat memotong jarak dan waktu tempuh menuju daerah Kintamani. Namunpun demikian masih tetap dibutuhkan hampir 1,5 jam untuk menuju kesana. Dapat dibayangkan berapa waktu yang dibutuhkan jika hotel kami berada disekitar Denpasar.

Starting poin trek ini tepat di depan sebuah warung. Kabut, embun dan udara yang cukup dingin khas punggungan pegunungan Kintamani menyambut kedatangan kami disana. Kesempatan touchdown pertama kali ini gak gue sia-siakan untuk ‘mengenalkan’ permukaan ban sepeda gue dengan tanah Pulau Bali ini, biar akrab gitu dan lekat gitu lho nantinya sepanjang perjalanan. Briefing, berdoa dan ritual foto bersama sebelum memulai trip ini gak lupa kami lakukan tentunya

858296_4926132343461_671446562_o

Jam 10 lebih sedikit satu persatu peserta rombongan mulai gowes. Awal trip dimulai dari depan warung ini menyusuri jalan aspal menurun lumayan panjang. Lumayanlah untuk pemanasan hub dan freehub. Gak sampai 10 menit melewati jalan menurun tadi sang marshal yang sudah menunggu dipinggir jalan memberi aba-aba untuk segera menepi ke kanan menuju jalur offroad single track yang lumayan menanjak. Kelihatannya sih awal jalur ini seperti galian yang di buat oleh penduduk setempat yang menurut gue pribadi justru kurang nyaman untuk sepeda digowes disini. Dengan posisi ban yang lebih rendah dari permukaan tanah disekelilingnya maka crank kita akan sering mentok ke permukaan tanah.

Gue sengaja memilih menjadi orang yang paling belakang pada spot ini biar nantinya gak terganggu dengan goweser lain yang leleeeet bangeeeet di depan sana saat menikmati tanjakan yang sepertinya asik untuk pemanasan dengkul ini. (hehehehehehe bukan kok, itu cuma alasan doank .. padahal sih biar kalo TTB gak ada yang liat xixixixixixixi)

IMG_20130223_102951

Yang gue suka dari trip ini adalah kita gak perlu berlama-lama gowes untuk mendapatkan pemandangan yang indah. Sesudah mengatur nafas sehabis tanjakan diawal tadi kita disajikan single trek mantaf cenderung menurun lalu disambung dengan sedikit tanjakan. Memang sih ketinggain lokasi disekitar sini membuat kadar oksigen sedikit menipis sehingga membuat kita seolah lebih mudah lelah dan mengantuk. Tapi gak sampai 15 menitan gowes sudah dapat bonus pemandangan yang sungguh membuat mata ini kembali melek seakan tidak mau menyia-nyiakan untuk menikmatinya.

Gak peduli rekan yang lain sudah mulai kembali gowes untuk menikmati turunan lain yang siap tersaji di dapan sana, gue lebih memilih untuk berhenti sejenak untuk dapat lebih menikmati Ciptaan Allah yang indah ini. Jauh-jauh gue ke Bali rasa-rasanya rugi banget kalau harus selalu gowes full speed. Toh didepan sana masih tersedia stok puluhan kilo meter jalur turunan. Di kejauhan sana terlihat Gunung Batur berdiri gagah namun seakan menyapa ramah kepada siapapun yang melihatnya.

IMG_20130223_105559

Jalur rolling naik turun mengikuti kontur perbukitan Penulisan ini sungguh sangat menyenangkan. Gak perlu ngoyo saat menghadapi tanjakan, gowes ngicik ya monggo, dituntun ya silahkan. Begitupun gak perlu malu-malu juga kalau mau menikmati turunannya. Semua pilihan ada ditangan kita dengan mengukur kemampuan tentunya.

It’s party timeeeeeee !!! Yiihaaaaaaaaaaa … Kali ini gue berinisiatif untuk mencoba nyolong start mulai gowes mendahului rekan-rekan yang masih beristirahat sehabis menyelesaikan sebuah tanjakan yang lumayan panjang. Mumpung jalur lagi kosong jadi kecepatan sepeda dapat kita atur sesuka hati. Woowwwww  dibeberapa spot turunan banyak tumbuh ilalang lumayan tinggi yang terkadang batangnya melintang pas setinggi posisi helm ataupun sedikit menjorok ke tengah jalur. Cukup berbahaya jika kita tidak waspada karena bukan tidak mungkin handlebar kita “nyangkut” pada ilalang tadi. Sekali dua kali gue berhenti sebentar untuk sekedar menyingkirkan ataupun merubah arah batang ilalang tadi agar rekan-rekan dibelakang gue nanti dapat lebih menikmati turunan ini.

So far jalur ini lumayan aman bagi anda penggila turunan. Namun kewaspadaan tetap harus dijaga ya karena di beberapa spot jalur sepeda akan berada sejajar sedikit diatas ladang milik penduduk dimana dengan kata lain akan ada kemungkinan penduduk yang juga akan melintas melewati jalur tersebut.

859822_4926218145606_1669785066_o

IMG_20130223_112230

Ahir dari jalur rolling tadi adalah saat bertemu dengan jalan aspal pedesaan. Pick-up yang yang mengangkut sepeda dari Ubud tadi ternyata sudah menunggu disana menawarkan diri bagi siapa saja yang berniat di-evak hihihihihi. Menurut rencana kita akan beristirahat menyantap makan siang di desa Songan Atas yang katanya sih letaknya tidak jauh dari dari sini. Gue sendiri memutuskan untuk meneruskan perjalanan dengan tetap gowes. Itung-itung memuaskan diri dengan udara segar Kintamani.

Agak tergoda juga sih saat pickup melintas pelan disamping gue, apalagi gue lihat di depan sana masih ada satu tanjakan yang lumayan bikin nyali ciut.  Ikut .. enggak .. ikut .. enggak  ..  Udahlah  tetap gowes ajah … biar deh ngalah sama yang lebih muda. Tepat jam 12.45 gue ahirnya tiba di depan sebuah warung tempat kita akan beristrirahat  makan siang.

IMG_20130223_123117

Makan siang ini juga bagian dari paket gowes yang telah disiapan oleh Marshall. “Nasi kotak dengan lauk dan sambal terlezat”, ujar om Kemal mengomentari menu makan siang kita ini. So far seluruh anggota rombongan yang sudah tiba menunjukkan raut muka bahagia (terutama yang tadi ikut naik pickup xixixixi) saat saling berbagi cerita saat melintasi trek rolling  yang tadi kita telah lewati. Disaat sedang asik mengobrol dengan ditemani segelas kopi, kita mendapat kabar kalau om Arie Satrya tadi sempat terjatuh.

Puncak Bukit Songan adalah tujuan kita berikutnya sehabis istrirahat makan siang. Lokasinya tidaklah begitu jauh dari warung tadi namun tanjakan terjal menjelang mendekati puncak membuat seolah perjalanan kesana menjadi lamaaaa banget saat menuntun sepedah. Tapi gue tidak akan pernah menyesal dengan perjuangan menuntun sepeda tadi. Disisi kanan jalur menanjak tadi kembali kami disajikan pemandangan Gunung Batur yang kali ini plus dengan Danaunya dan dengan jarak pandang yang lebih dekat tentunya.

IMG_20130223_133412

“Istirahaaat dan bikin foto narcis dulu aaaah”, gumam gue dalam hati sambil buru-buru menyodorkan handphone kepada seorang rekan untuk mengabadikan pemandangan yang aduhai ini. Semua orang tidak ada yang menyia-nyiakan spot ini untuk didokumentasikan. Gue gak akan keberatan untuk vote area menjelang puncak Bukit Songan untuk menjadi salah satu ikon jalur Penulisan – Tianyar. Rekan-rekan di Bali juga biasa menyebut jalur Penulisan – Tianyar ini dengan “Secret Track.”

Setelah puas foto-foto rombongan kembali meneruskan aktivitas mendorong sepeda. Sebenarnya walaupun jalur sangat menanjak tapi gowesable sih, cuma karena gue habis makan siang lumayan full plus segelas kopi jadi gue memutuskan juga untuk ikutan mendorong sepeda di spot ini (alesan klasik)

IMG_20130223_133530

Di puncak bukit ini sedikit briefing kembali diberikan oleh sang Marshall. Kondisi trek digambarkan sebagai jalur dengan lama tempuh hampir 2 jam lebih full turunan dan kami semua diminta untuk lebih berhati-hati. This is It !!!!! Seolah gak mau rugi buru-buru gue menempatkan diri pada urutan depan, bukan yang terdepan namun  posisi yang gue rasakan lumayan akan nyaman untuk menikmati dan membuktikan sendiri keasikan jalur ini.

Wusssshhhh sang Marshall sudah mulai meluncur disambung dengan om Cheppy yang beberapa bulan lalu juga sudah pernah menyicipi jalur ini sehingga terlihat sangat yakin dengan kecepatannya saat itu. Om Helmy dengan Commi Meta AM birunya juga dengan PD-nya mengejar om Cheppy. “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah la hawla wala quwwata illa billah”, doa gue dalam hati sebelum mulai mengayuh pedal ini …. Check knee dan elbow pad untuk terahir kali … Whohoooooooooooooooooooo segera meluncuurrr.

Jalur menurun ini didominasi oleh single trek berkelok-kelok masih disekitaran sisi lain dari Bukit Songan. Gue hitung ada beberapa tikungan yang lumayan patah. Kondisi permukaan tanah di jalur perbukitan ini sangat bersahabat, tidak terlalu gembur dan juga tidak terlalu lepas. Iseng-iseng coba late-brake skidding hihihihihi asik juga. Rombongan di depan gue semakin cepat memacu sepedahnya. Di depan sana Om Helmy entah karena kurang sigap atau entah karena overspeed nyrusuk disebuah tikungan patah kanan. Melihat om Helmy memberi tanda bahwa dia baik-baik saja gue langsung mengambil posisinya Weerrrrrrrrrr.

Di depan sana gue lihat om Marshall dan om Cheppy sudah menepikan sepedahnya dan sedang memandang ke arah kanan dari jalur ini. “Subhanallah ….. ” gumam gue dalam hati sesaat setalah ikutan memarkir sepeda dan memandang permukaan bukit di seberang sana. Terlihat seperti sangat berotot … Sungguh indah imho.

860005_4926434271009_1057998284_o

Mungkin inilah spot Jurassic Park yang juga menjadi ikon dari Secret Track Penulisan – Tianyar ini. Kembali seluruh rombongan tidak menyia-nyiakan priceless moment ini untuk berfoto ria sekaligus menurunkan adrenalin yang tadi sempat memuncak sepanjang 30 menit lebih menikmati turunan single track yang asik tadi.

Bersambung Bagian Ke-3

Siapa tahu blom baca bagian ke-1


8 comments

  1. Untuk biaya marshal di bali itu paketan atau perorangan ya? Estimasi biaya untuk guide perjalanan si marshak berapa ya om? Makasih

    • Om Hazbey, untuk masalah biaya silahkan langsung menghubungi nomer HP marshal yg sudah saya tulis di reply-an diatas. Thx

  2. Om, saya coba telfon nomer marshall yang sudah di share diatas tapi tidak terdaftar. Ada nomer yang lain gak om?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s