Gowes di Pulau Bali, Mahal Tapi Sangat Sangat Sepadan (Bagian ke-3)

Setelah puas menikmati view Jurassic Park, semua rombongan mulai bergerak kembali. Jalur sepeda kembali berbentuk cerukan tanah namun sedikit lebih lebar yang menurut gue tetap masih sedikit berbahaya kalau dalam kecepatan tinggi ban sepeda kita tidak dapat diarahkan dengan baik dan membentur sisi luar cerukan tadi. Jalur ini sedikit mengitari bukit dan melewati sebuah spot dengan jalur sepeda makin menipis dengan sisi kanan bibir jurang yang lumayan dalam. Sedikit gak PD, gue memilih untuk turun dari saddle dan menuntun sepeda melewati spot tadi. Men who fight and run away, live to fight another day🙂

860262_4926471031928_849556722_o

Di bawah sana sekarang sudah terlihat ladang-ladang milik penduduk. Sang Marshall memberi isyarat agar sepeda dituntun manakala kita harus menyeberangi sebidang tanah yang ditanami pohon jagung. Alasan pertama karena jalur sepeda sudah “hilang” berubah menjadi pematang yang jelas susah untuk gowes melewatinya. Alasan kedua karena khawatir ban sepeda ataupun langkah kaki kita merusak tanaman milik para penduduk. Sebagai tamu kita wajib menghormati properti milik warga lokal, no doubt about it.

Laju rombongan kami terhenti, seorang ibu peladang warga sekitar terlihat sedang berbicara dengan Marshall kami. Dari yang gue dengar dari pembicaraan mereka, sang ibu mengeluhkan tentang sering rusaknya tanaman akibat orang ataupun sepeda yang melewati ladangnya. Dengan terkadang menggunakan Bahasa Indonesia bercampur dengan Bahasa Bali Om Marshall meyakinkan sang ibu bahwa rombongan kami semuanya tadi mengangkat sepeda saat melewati ladang miliknya.  Walaupun valid namun agak dilema juga sih keluhan ibu ini.  Dilema dalam hal bahwa hari ini sudah pasti bukan cuma rombongan kami yang melawati Secret Track ini dan hal ini memang terbukti bahwa jauh dibawah sana memang terlihat rombongan goweser lain yang sedang berfoto ria. Menurut ibu tadi dia sudah lama berusaha bertemu dengan para goweser namun baru kali ini berhasil “mencegat” dan kebetulan pula yang sedang melintas adalah rombongan kami. Om Marshall menanyakan apakah ada jalur lain yang dapat dilalui oleh sepeda sehingga tanpa harus melewati ladang miliknya. Ibu tadi menjawab bahwa tidak ada jalan lain. Ahirnya kami sepakat untuk memberi uang sebesar 50,000,- sebagai pengganti atas tanaman milik ibu yang telah rusak. Win win? not quite sure.

857852_4926476992077_1402753736_o

“Mohon diikhlasin ya bu …” Ujar om Bayu sambil berpamitan. Hitung-hitung sebagai bentuk perwakilan permohonan maaf dari para goweser lain yang pernah melintasi jalur ini atas kerusakan tanaman ladang yang mungkin telah terjadi.

Priceless Moment

Ikon berikutnya dari jalur ini adalah sebuah pura yang berdiri diatas sebuah bukit. Tidak seperti pura lainnya yang biasa gue lihat di Pulau Bali, pura ini lebih berwarna cerah dan karena lokasinya yang di puncak bukit dan mungkin konstruksinya yang kurang kuat, beberapa bidang bangunan terlihat agak miring. Sejauh mata memandang kearah bawah pura semuanya terlihat indah, sungguh indah.

photo2

Tidak ada satupun dari anggota rombongan yang tidak segera mengabadikan spot ini. Ada yang minta difoto beramai-ramai dan tidak sedikit pula yang minta difoto sendirian plus dengan sepedah yang diangkat setinggi-tingginya. Entah karena sangking sibuk minta difotoin, gue sendiri sampai lupa mengeluarkan camera handphone untuk mengabadikan spot ini xixixixixixixi. Kami lumayan beruntung berada disini pada bulan Februari dimana hujan sudah muai turun. Menurut om Cheppy ahir tahun 2012 saat dia berkunjung kesini kondisi trek sangat kering dan cenderung berdebu dan hampir tidak ada rumput terlihat disini.

Perjalanan kami lanjutkan melalui samping pura turun terus dengan kondisi permukaan jalur makin lama makin banyak ditemui bebatuan lepas. Mungkin inilah yang dimaksud oleh rekan-rekan goweser Bali dengan jalur Rock Garden. Rombongan yang tadi sempat kita lihat saat kita “dicegat” ibu peladang sudah berhasil kita lewati di jalur berbatu ini. Dan ditengah jalur ini pula gue mulai merasakan sesuatu yang kurang nyaman pada dada atas kanan dekat dengan pangkal lengan gue. Awalnya terasa seperti kalau kita salah posisi tidur. Gue menerka-nerka dalam hati apakah mungkin ini akibat beban backpack gue yang terlalu berat? Ahhh gak juga dech, gue memang hampir selalu membawa backpack ini kemanapun gue gowes. Dan beban yang gue bawa hari ini bukanlah yang paling berat yang pernah gue bawa.

Ketidaknyamanan ini memang tidak sampai menggangu handling sepeda namun sangat menggangu saat harus menekan brake-lever untuk mengendalikan kecepatan sepeda menjaga jarak dengan goweser di depan. Ahirnya gue memutuskan untuk benar-benar gowes santi dan berpindah ke rombongan belakang.

Ahir dari perjalanan gowes hari ini adalah sebuah pantai berpasir hitam di daerah Tianyar. Rasa nyeri yang menjadi-jadi pada pangkal lengan ini membuat gue langsung mencari tempat untuk sekedar untuk rebahan. Kali ini suhu tubuh gue mulai agak panas, gak tau juga apakah karena memang dikarenakan suhu di sepanjang jalur onroad menjelang pantai ini yang lumayan panas ataukah karena ada yang gak beres dengan tubuh gue.

886939_10200106692042393_46962007_o

Kepala terasa pening, gue memutuskan untuk beristirahat di minibis. Shalat jama qashar Dhuzur-Azhar gue lakukan dengan duduk di jok minibus. Sesudah itu yang gue ingat adalah gue langsung tertidur dengan sebelumnya gue tutup rapat tubuh gue yang mulai menggigil ini dengan sarung pinjaman. Gue terbangun saat minibus ini berhenti parkir dipinggir jalan dekat sebuah pasar yang lumayan ramai. Gue memesan semangkuk bakso dan teh panas dengan harapan semoga dapat membuat segar badan ini.

Sepanjang perjalanan pulang menuju hotel gue kembali tertidur. Sesampainya di hotelpun gue langsung masuk kamar, gue cuma bisa berharap nanti ada yang berbaik hati menaikkan sepeda gue ke lantai atas. Thanks to whoever did that for me. Sekitar jam 2 pagi gue terbangun, badan masih terasa lemas dan temperatur tubuh juga masih lumayan panas. Damn nyaris kelewatan sholat maghrib dan Isya. Gue juga teringat bahwa protector elbow dan kneepad TLD gue tertinggal di pantai Tianyar. Arghhhhhh damn!!!. Dengan konsisi badan seperti ini, gue udah merelakan untuk gak ikut gowes pada hari kedua ini. Toh katanya trek yang akan dicoba hari ini lebih cenderung XC, bukan trek Geothermal Bedugul yang gue incar. Sebelum berangkat ke Bali gue memang sempat lihat beberapa photo konsidi mini DH Geothermal tersebut.

Bersambung Ke Bagian-4  …. Dooooh banyak amat sih #@%$?!Q

Kalau mau baca dari awal, silahkan klik link ini :

Bagian ke-1

Bagian ke-2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s