Sisi Lain Keindahan Trek Malino – Sulawesi Selatan (Part 2)

The Makadam

Semenjak gue mengenal dunia MTB beberapa tahun yang lalu, informasi yang gue dapatkan adalah kalau ada jalan atau track MTB dengan permukaan sebagian atau seluruhnya ditutupi oleh bebatuan maka jalan tersebut biasa kita namakan “Makadam”. Sebenarnya gue kurang setuju dengan istilah dan definisi tersebut. Tahukah anda bahwa “Makadam” itu berasal dari nama seorang Insinyur berbangsa Scotlandia, John Loudon McAdam. Beliaulah yang pertama-tama merancang kontruksi jalan dengan menggunakan beberapa lapisan bebatuan. Bagian paling bawah biasa digunakan bebatuan besar kemudian bagian atasnya dilapisi ulang dengan bebatuan dengan ukuran yang lebih kecil dan ahirnya pada bagian paling atas dilapisi oleh pecahan bebatuan dengan ukuran tidak lebih dari 20 mm. Jadi sangat bertolak belakang dengan definisi yang yang gue dapatkan dari dunia MTB. Coba-coba deh tanya mbak Google atau om Wiki dech untuk sekedar crosscheck. Namun kalau harus menggunakan istilah “jalan dengan permukaan batu kali” lumayan ribet dan kepanjangan, maka untuk sekedar memudahkan gue akan tetap menggunakan istilah “Makadam” hihihihi.

Nah kemudian bagi anda yang suka memainkan game bergenre Rally baik itu di PC, XBOX ataupun PS pasti pernah memilih jenis lintasan “Tarmac”. Nah “Tarmac” tersebut adalah variasi dari jenis konstruksi “Makadam” milik John Loudon McAdam tadi. Dimana pada awalnya “Makadam” itukan bagian paling atasnya bebatuan kecil yang akan dapat mengeluarkan debu jika ada kendaraan yang melintas diatasnya dengan kecepatan lumayan kencang. Nah seiring waktu kendaraan yang ditarik oleh kuda makin cepat jalannya. Untuk menghindari berterbangannya debu tadi maka diperlukan lapisan lagi yakni dengan digunakannya “Tar” atau sebangsa aspal. Hihihihihihihi ini trip report gowes apa artikel anak Tehnik Sipil sih?????

IMG_0035cr1Anyway, permukaaan dari jalan desa yang lebarnya hanya pas untuk dilewati sebuah mobil ini memang berasal dari batu kali dengan ukuran lumayan besar yang disebar cukup merata sesuai lebar jalan namun bukan berarti permukaanya juga semuanya rata. Sebagai gambaran bagi anda yang pernah melewati trek RA – Gadog Via Ngehe kemudian di saung pertama belok kanan, nah besarnya bebatuan di trek Malino ini sedikit lebih besar dibanding ukuran bebatuan di trek RA tersebut. Pokoknya deskripsi dari jalur turunan ini jika tekanan angin ban sepeda anda kurang dijamin akan sering mengalami snake-bite ataupun jika anda terjatuh diturunan ini dijamin akan meninggalkan luka beset yang lumayan banyak dech hihihihihihihi.

“Yaaaaaaaaaaah ..,” guman gue dalam hati saat melihat sebuah mobil Kijang lawas yang mengangkut warga desa yang habis berbelanja di pasar melintas di depan tempat kami regroup dan merayap pelan menuruni turunan tadi. Tidak lama kemudian sebuah mobil lain yang  juga mengangkut warga kembali melintas. Adanya mobil-mobil yang berjalan lambat tadi berarti nantinya juga akan merusak irama gowes saat menikmati turunan ini. Menunggu lebih lama agar mobil-mobil tadi memberi jarak yang cukup jauh juga bukanlah ide yang cemerlang. Siapa sih yang tahan untuk tidak segera menikmati turunan ini setelah dihajar tanjakan beton tadi. So kedelapan goweser anggota BeYoungCareRock MTB Club Makassar ini memutuskan untuk segera meluncur untuk mendahului mobil-mobil tadi bagaimanapun caranya. Gue sebagai tamu yang baikpun tidak mau ketinggalan … Wushhhhh wushhhhhh.

“Bletak bletak bletak,” suara rantai sepeda yang bertumbukan dengan bagian bawah dari cage plate FD dan chainstay sepeda yang sebetulnya juga sudah gue beri pelindung. Suara merdu bak orkestra yang sudah hampir lebih dari sebulan lamanya gak gue dengar. Di track ajrut-ajrutan model seperti ini pasti yang sangat berbahagia adalah Om Ondha dengan Mojo HD dan Om Riad dengan Firebird-nya. Pastilah DW-Link pada sepeda mereka memberi kenyamanan lebih hihihihiiihihi #Envy Mode On

Found Another Piece of “Heaven”

Pernah anda membaca sebuah stiker dengan bertuliskan “Damn I Love Indonesia” ? Sekilas 4 buah kata tersebut seolah tidak bermakna apa-apa. Namun manakala anda menemukan dan melihat sebuah spot dengan pemandangan indah baik itu dibawah laut sana ataupun dimanapun di wilayah Indonesia barulah akan terasa makna dari ekspresi “Damn” tadi. Perasaan yang sama seperti itulah yang gue rasakan saat sedang asik-asiknya menikmati turunan ini.

IMG_0032rHamparan sawah bertingkat terlihat anggun dibawah sana disisi kanan jalur makadam ini. Tanaman padi yang sudah hampir masuk masa panen memberi nuansa kuning lebih indah terlihat dari atas sini. Sedikit dilema, antara mau berhenti untuk menikmati keindahan alam ini atau terus menikmati turunan. Ahirnya gue memutuskan untuk berhenti, toh turunan ini masih akan lumayan panjang. Dari yang pernah gue baca daerah Malino ini memang salah satu daerah lumbung padi di wilayah Sulawesi Selatan ini.

Setelah lumayan puas menikmati gue mulai melanjutkan menikmati turunan tadi. Om Appank, Om Unding dan om Zein yang tadi sempat melewati gue saat gue berhenti menepi tadi kembali dapat gue kejar. “Duluaaan ya Ommm …,” hihhihihihihi.

Di depan sana gue lihat om Cifar dengan SC Bullit-nya  juga sedang menepikan sepedahnya dan mungkin juga sedang menikmati indahnya warna kuning tanaman padi ini. Kembali gue memutuskan untuk menghentikan sepeda bergabung dengannya melakukan hal yang sama. Damn I Do Love Indonesia.

IMG_0034r

Penenang Hati

Sesi turunan Makadam dengan view mantaf berahir pada sebuah pertigaan dimana terdapat sebuah warung. Walaupun  lokasi makan siang sudah dekat kami tetap memutuskan untuk berhenti di warung  tadi sekedar untuk menikmati hangatnya teh manis dan ngobrol mengomentari perjalanan tadi. Salah satu yang gue suka dengan grup gowes  BeYoungCareRock ini adalah irama gowesnya yang setipe dengan gue. Gak terburu-buru, pokoknya gowes,  nikmati pemandangan, istirahat, ngobrol dan begitu seterusnya.

Oh iya kesempatan istirahat ini juga sekaligus memberi sang tamu kesempatan menikmati air terjun yang lokasinya sekitar 150 meteran ke arah kiri dari pertigaan tadi. Jelas gue gak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Air terjun dengan lebar debit yang tidak terlalu besar ini menambah asiknya acara gowes hari ini. Belum lagi mendengarkan gemercik suara air yang jatuh menimpa bebatuan.

“Kalo gak salah terahir kali gue gak gowes ke tempat yang ada air terjunnya itu saat ke Curug Cigentius awal 2010 lalu dech,” gumam gue dalam hati mencoba untuk mengingat.

IMG_0038r

Setelah puas dengan air terjun gue kembali gowes menanjak menuju warung kembali bergabung dengan rekan-rekan yang masih sedang asik ngobrol. Kedua mobil yang tadi kita lewati ahirnya tiba juga melintasi warung ini. Sambil menghirup sebatang rokok (jangan ditiru) iseng-iseng gue memperhatikan lebih dekat tunggangan milik crew BeYoungCareRock ini. Saat sedang asik melihat sepeda milik Om Unding, seorang anak kecil dengan membawa mainannya juga ikut mendekat memperhatikan sepeda ini.

“Ahh keren juga nich mainan yang dibawa anak ini,” ujar gue dalam hati.

Sementara “mainan” yang kita bawa hari ini berharga jutaan, bahkan mungkin puluhan juta, maka mainan berbentuk mobil-mobilan milik anak kecil tadi mungkin berharga ratusan kali lipat dibawah harga “mainan” milik kita tadi. Bahkan sangat mungkin kalau anak kecil tadi sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk bisa memiliki mainan mobil-mobilan ini.  Roda mobil dibuat dari kayu yang banyak terdapat di desa ini, begitupun dengan batang bambu yang digunakan sebagai handle-nya. Uppps ternyata mobil-mobilan inipun memiliki stir yang dihubungkan dengan seutas tali sehingga dapat menggerakkan roda di ujung bambu tadi. Nice and very creative ..

IMG_0039r

Seperti yang sudah gue utarakan tadi jarak antara warung ini dengan tempat kita beristirahat Isoma tidaklah terlalu jauh. Mungkin hanya berkisar 30 menit gowes. Lokasi istirahat adalah sebuah sungai hampir tepat dibawah sebuah jembatan. Makan siang yang memang sudah dimasukkan ke dalam tas masing-masing goweser segera kami santap. Tiada yang lebih nikmat siang ini ketimbang makan sambil duduk diatas batu dengan kaki yang kita masukkan ke dalam sungai. Aliran air sungai yang menerpa telapak kaki terasa sungguh sangat sejuk.

942635_10151570863237435_783195307_n_r

600827_10151570861987435_34083286_n_r

Insya Allah Bersambung Ke Bagian Tiga  .. Semoga masih berkenan membacanya.

[Update 29 Juni 2013, malam ini saya mendapatkan berita duka, bahwa rekan gowes kami di Malino, om Zein (Zenial Akhmad; Photo pertama pada artikel ini) telah meninggalkan dunia. Semoga amal baik dan ibadahnya selama hidup diterima disisi-Nya] 


3 comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s