RancaBolang – Cidaun Treknya Goweser Sejati

Prolog : Membaca beberapa blog di internet maupun koleksi foto di FB tentang catatan perjalanan gowes di jalur Rancabolang – Cidaun  sudah cukup membuat adrenalin gue terpacu. Pada sebuah blog digambarkan betapa jalur Rancabolang – Cidaun sepanjang lebih dari 60-an km ini mustahil dapat diselesaikan sebelum malam tiba. Beberapa grup memang berhasil menyelesaikannya tanpa menginap di tengah perjalanan namun dengan konsekuensi melakukan NR pada sebagian jalur. Bagian terberat dan penuh tantangan (terutama saat hujan turun) adalah di area hutan Londok yang dapat berubah menjadi ‘neraka’ karena permukaan tanah yang super becek sehingga sama sekali tidak dapat digowes. Sementara pada blog lain,  foto-foto dan catatan dari om Heru Roger Bagen tergambarkan dengan jelas bahwa jalur ini adalah jalur ‘surga’ bagi MTB dengan turunan yang sangaaaaat panjang pada hampir sepanjang jalur.

Sepengetahuan gue di RogerBagen sendiri, trip ke Cidaun tidak dapat diulang sembarang waktu. Butuh waktu 2 tahun agar nama gue bisa masuk dalam list daftar peserta. Angkatan pertama yang pergi pada pertengahan Juli tahun 2011 kebagian setengah ‘neraka’ dan setengah ‘surga’. Sedangkan angkatan kedua yang pergi pada pertengahan September 2012 Alhamdulillah merasakan ‘surga’ karena jalur yang kering sehingga mereka dapat memecahkan rekor dengan membutuhkan hanya 15 jam perjalanan (start jam 8 pagi, finish jam 11 malam). So here I’m terdaftar sebagai peserta trip Cidaun RB angkatan 2013 yang sudah berusaha mempersiapkan diri secara maksimal untuk menghadapi ‘surga’ ataupun ‘neraka’-nya jalur ini pada tanggal 28-29 Sept 2013.

Day 1. Rancabolang – Dusun Cihalimun

Pada awal perjalanan jalur didominasi oleh jalan  aspal rusak khas perkebunan teh, singletrack di tengah kebun teh dan juga jalan makadam dengan kombinasi bebatuan lepas pada perkampungan penduduk kebun teh Rancabolang ini. Perjalanan yang lumayan jauh dari Bekasi membuat kami memulai gowes agak siang, hampir setengah dua belas lebih sedikit. Andai kami dapat memulainya lebih pagi niscaya kami akan mendapatkan suguhan pemandangan ajib khas perkebunan teh.  Tapi syukur Alhamdulillah kami masih kebagian juga sedikit view yang cukup menyegarkan mata saat harus TTB di tanjakan yang mengitari bukit kecil di perkebunan teh ini. Om Ade Goodel, om Nahar dan om Joko Amstrong adalah sedikit orang yang tetap berusaha menggowes di tanjakan yang menyebalkan ini🙂

Londok 013r

Keliatan donk mana yang benar-benar pecinta tanjakan dan mana yang bukan hihihihihi

Jauh di bawah sana gue lihat sudah ada beberapa peserta rombongan yang sedang gowes di jalan perkebunan teh ini.  Namun gue sama sekali gak melihat ada jalan untuk menuju kesana kecuali hanya sedikit sela-sela diantara pepohonan teh yang lumayan rapat oleh ranting-ranting pohon teh musuh dari jersey ini. Tidak ada jalan lain kecuali harus menerobosnya. Lepas dari hadangan ranting pohon teh tadi sekarang gue dihadapkan dengan singletrack yang permukaannya dipenuhi oleh potongan ranting-ranting pepohon teh yang sudah mengering. Nah kalau yang ini jelas adalah musuh utama RD. Kalau tidak hati-hati memilih jalur dijamin akan ada ranting yang masuk ke sela-sela RD, rantai ataupun spokes.

Bisa jadi potongan ranting-ranting ini sengaja dibuat oleh pemilik perkebunan agar tidak dapat dilalui oleh motorcross. Yang pasti sepeda Kang Aris menjadi korban dari keganasan ranting-ranting tadi. Anting RD-nya patah dan yang lebih parahnya lagi tidak ada satupun cadangan anting yang pas untuk Kona Stinky ini. Kang DJ sang EO sekaligus mekanik dadakan berusaha memasangkan anting milik sepeda jenis lain dengan cara menumpuk keduanya lalu dikencangkan dengan mur baut yang lumayan panjang. Problem solved ….. lebih tepatnya temporary solved🙂 Karena pada ahirnya setelah digunakan beberapa saat anting-anting RD tadi kembali rusak.

Londok 025r

Anting yang lama ditumpuk dengan anting baru

Dugaan sementara terhadap kembali rusaknya RD untuk kedua kalinya adalah :
– Ridernya yang tidak patuh atas instruksi sang mekanik untuk tidak terlalu sering memindahkan gigi ke sproket besar. atau ….
– Sang mekanik kelas KW 1 yang juga sekaligus sebagai EO, yang memang telah melakukan kesalahan prosedur saat pemasangan RD hihihihihihihihi

Kasus dan insiden ini sudah dibawa ke KKBRB (Komisi Keselamatan Bersepeda RogerBagen) untuk dapat diselidiki lebih lanjut sedangkan barang bukti berupa patahan RD juga sudah dikirim ke LabForGoRB (laboratrium Forensik Gowes RogerBagen) untuk dianalisa. Baik Rider maupun Mekanik saat ini sudah dicekal untuk bepergian ke LN ataupun toko sepeda di wilayah Jakarta dan sekitarnya🙂

Barisan kabut datang menyambut saat kami tiba tiba di jalan berbatu yang sedikit naik turun diantara pepohonan teh. Pandangan kami benar-benar terhalang olehnya. Om Toys, Kang Aris, om DJ gowes santai melalui tempat gue berhenti untuk menarik nafas. Ada sensasi tersendiri gowes diantara kabut seperti ini namun demi keamanan gue lihat beberapa peserta rombongan memutuskan untuk regroup di sebuah gubuk yang sudah hancur. Saat itu jam sudah menunjukan pukul dua siang kurang sedikit.

Londok 030r

Sekarang kami tiba pada jalan pedesaan. yang akan membawa kami sampai ke warung Londok sebagai tempat pitstop untuk Isoma. Nothing special di jalur ini kecuali menjadi ajang balapan liar dari beberapa goweser yang memang merupakan praktisi dan atau mempunyai DNA-nya anak DH.  Lebar jalan pedesaan ini memang sangat pas untuk balapan dimana dua orang goweser dapat berdampingan menuruni jalan menurun ini. Seperti yang ada dihadapan gue, Kang Aris aka RB-03 sedang saling berebut tempat dengan om Erik. Pada sebuah tikugan terkadang Kang Aris mengambil dari sisi dalam, di tikungan yang lain giliran om Erik melakukan yang hal yang sama. Gue sama sekali gak tertarik untuk mengejar mereka, tipe permukaan jalur seperti ini bukan favorit gue (halaaaah biang aja gak mampu ngudak .. hihihihihihi).

Ishoma dilakukan di sebuah warung, semua peserta regroup disini. Terdapat sebuah patok beton penunjuk arah yang sudah sedikit kusam namun masih lumayan terlihat bahwa jarak dari titik ini menuju kota Bandung adalah 80 km sedangkan jakar menuju Cidaun adalah 52 km. Tentunya jarak tersebut dihitung jika melalui jalan raya ‘normal’ bukan melalui hutan Londok seperti yang akan kita lakukan sore hari ini.

Tidak beberapa lama setelah rombongan mulai gowes meninggalkan warung antrian mulai terjadi. Gue mempunyai firasat buruk tentang keadaan trek hutan Londok ini. Indikasi awal adanya genangan air di beberapa spot saat rombongan TTB mulai memasuki hutan makin membuat gue khawatir bahwa trip Cidaun RB angkatan 2013 ini yang akan mendapat giliran menghadapi ‘neraka’ hutan Londok.

Londok 032r

Permukaan tanah yang berupa tanah merah gembur yang sudah bercampur dengan air telah menghasilkan adonan donat yang sempurna. Tidak banyak area disini yang bisa digowes, kalaupun bisa digowes palingan hanya sepanjang 5-10 meter karena sesudah itu biasanya adonan donat makin dalam yang membuat ban tidak bisa digerakkan sama sekali.

Sambil mendorong sepeda gue kembali mencoba berhitung, mengacu pada trip report angkatan 2012 -dimana saat itu jalur hutan dominan kering- rombongan terahir yang kelaur dari hutan Londok butuh waktu 4 jam untuk jarak 12 km dihitung dari tempat kita tadi Isoma sampai dengan rumah Kang Ucu tempat mereka beristirahat. Dengan kondisi trek yang becek seperti saat ini menurut hitungan gue maka paling tidak akan dibutuhkan 5 jam lebih untuk sampai di rumah Kang Ucu. Sementara saat ini sudah jam 15.30, dengan kata lain Insya Allah gue baru akan sampai disana sekitar pukul 20.30 malam. Kembali dalam hati gue berusaha menguatkan mental.

Londok 033r

Kondisi dalam hutan Londok menjelang petang. Silahkan bandingkan dengan foto dibawah.

IMG-20130927-WA0011r

Kondisi hutan Londok yang kering saat RB angkatan 2012 melewatinya

Dengan diiringi hujan yang tidak lebat tidak pula rintik ahirnya matahari sudah sama sekali tidak terlihat pancaran sinarnya dan gelap benar-benar telah datang.  Saat briefing di Rancabolang sebelum mulai gowes disepakati bahwa kita akan gowes dengan metode ‘Never leaves your friend behind’. Namun jalur hutan Londok ini benar-benar telah membuat seleksi alam terhadap rombongan kami. Ketika itu yang ada di sekitar gue adalah Pak Fivin, Om Iwan, Om Tito Toys dan Om Engkus. Inilah tim kecil kami yang sepakat untuk bahu-membahu mengarungi keganasan adonan lumpur, turunan batu, tanjakan jalur hutan Londok ini sampai dengan tempat kami akan menginap di rumah Kang Ucu di luar area hutan. Sial bagi Pak Fivin, senter yang sudah dipersiapkannya di rumah sebelum keberangkatan lupa beliau bawa sehingga disepakati gue akan menempati urutan pertama sehingga sinar lampu dari senter yang gue pasang di handlebar sedikit dapat membantu Pak Fivin yang berada pada urutan kedua. Disusul om Tito, om Iwan lalu om Engkus diurutan terahir.

Banyak area disini yang sudah tergerus oleh ban motorcross sehingga membentuk cerukan yang lumayan dalam. Sangat serba salah, jika ban sepeda kita lewati melalui cerukan tadi maka kita harus pandai-pandai mengatur posisi crank sekaligus meletakkan kedua kaki kita di kedua permukaan cerukan sebagai penyangga tambahan agar sepeda dapat dikendalikan. Kalau hal tersebut dilakukan di siang hari mungkin tidak akan terlalu banyak menimbulkan masalah. Namun yang kita lalukan saat itu adalah dalam keadaan gelap. Lampu senter memang sangat membatu gue memilih jalur namun tetap saja om Fivin dan anggota lain tim kecil ini selalu tepat berada dibelakang gue terutama ketika lepas dari sebuah belokan dimana arah sorotan lampu senter akan ‘hilang’ seiring berubahnya arah sepeda akibat belokan tersebut.

Oh BTW, boleh percaya boleh tidak, selama ‘karir’ gue bersepeda ini merupakan kali pertama gue gowes menggunakan senter. Ya benar, ini adalah kali pertama gue melakukan NR dan langsung gue lakukan di tengah hutan hohohohohoho. Jika teman-teman gowes gue yang lain selalu heboh dan rutin melakukan NR pada setiap weekend di bulan Ramadhan, tapi gue sama sekali enggan melakukan ritual tersebut. Entah sudah berapa puluh kali kami harus berhenti untuk saling menjaga agar rombongan tidak tercecer jauh. Beberapa pitstop kali lakukan karena Om Engkus berteriak karena kakinya keram. Sesuai komitmen kita tetap akan saling menunggu, menjaga sesama anggota tim kecil ini.

Gelapnya hutan Londok pada pukul 18.00

Gelapnya hutan Londok pada pukul 18.00

Berada di tengah hutan dengan ditemani sedikit orang Insya Allah bukan hal baru bagi gue. Summit attack di gn. Rinjani ataupun gn. Semeru yang notabene harus melalui beberapa area yang lumayan menyeramkan pernah gue lakukan hanya berdua. Namun bersepeda menuruni turunan yang licin vs berjalan mendaki menuju puncak gunung dengan penyinaran yang minim jelas sangat berbeda. Apalagi ini merupakan NR gue yang pertama. Namun paling tidak, secara mental Insya Allah gue sudah sangat siap untuk mengarungi hutan Londok ini. Diantara peserta tim kecil ini hanya Pak Fivin yang sudah pernah mengikuti trip Cidaun. Sama sekali gue gak berusaha untuk menanyakan pertanyaan semisal “Masih jauh gak tempat finishnya” kepada Pak Fivin namun beliau memberikan sedikit clue bahwa ahir dari hutan Londok ini jika kita sudah melewati sebuah jembatan.

Pada sebuah spot yang kebetulan gowesable tiba-tiba gue mendengar suara bergemuruh.

“Bruuuuuk …. Bruuuuuuuk ..” Secara reflek gue menghentikan laju sepeda dan segera melepaskan senter dari pegangannya dan mengarahkan ke belakang. Gue khawatir Pak Fivin terjatuh ataupun ada hal lain yang menimpa dirinya. Di belakang sama sekali tidak terlihat siapapun. Dalam hati gue berpikir, apakah pak Fivin jatuh dan terperosok ke dalam jurang. Ahirnya gue inisiatif untuk memanggil namanya.

“Pak Fiviiin, Paaaaak,” Tapi tidak juga terdengar  sedikitpun sautan. Dalam hati kembali gue kembali berzdikir.

“Mungkinkah tadi seekor babi hutan yang berlari melintasi jalur sepeda an menabrak pohon?” Gue mulai menerka-nerka sendiri. Karena tadi memang sangat jelas suara yang gue dengar berasal dari sisi kiri kemudian disusul oleh suara sejenis di sisi kanan gue.

“Ataukah seekor macan hitam yang sedang terbang dari satu dahan ke dahan lain lalu terjatuh?” Menurut informasi, area hutan Londok ini memang masih banyak dihuni oleh binatang buas .. Auuuuummmmmmmm hihihihihihihi.

Alhamdulillah sayup sayup gue mendengar suara orang di kejauhan sana dan ternyata itu adalah Pak Fivin. Langsung gue menceritakan kejadian tadi, Menurut beliau kemungkinan itu hanyalah sebuah batang pohon besar yang tumbang. Rombongan kecil kembali regroup disini.

Londok 039r

Ditengah kelelahan, kami semua masih bisa tersenyum

Setiap sebelum meneruskan perjalanan gue selalu memeriksa kesiapan seluruh anggota tim. Kali ini gue berinisiatip akan memberikan gambaran secara verbal dari kondisi trek yang ada di depan dengan harapan Pak Fivin dan anggota tim yang lain dapat lebih mengantisipasi segala kemungkinan.

“Trek datar, gowesable … ambil jalur tengah…” Gue mulai memberikan aba-aba.

“Turunan … bisa digowes .. ambil jalur paling kiri …” Kembali gue memberikan aba-aba kepada rombongan agar tetap dapat menghandle sepeda di area turunan ini.

“Tanjakan, gak bisa digowes …” ucap gue sambil turun dari saddle sepeda.

“Turunan lagi …. lewatin cerukan air yang kanan ….” Kembali aba-aba gue berikan.

“Belokan ke kanan …. tetap bisa digowes …  jaga speed … ” Setelah melewati tikungan tadi gue menghentikan sepeda sekedar memeriksa anggota tim. Pak Fivin tidak terlihat diposisinya. Segera gue arahkan sorot lampu senter ke belakang ke arah belokan tadi. Rupanya baliau ada disana. Rupanya karena tikungan tadi membuat sinar senter gue seperti hilang dari pandangan Pak Fivin makanya baliau berhenti pada titik sebelum tikungan tadi. Gue sangat sadar betapa kesulitan yang dihadapi Pak Fivin yang gowes tanpa lampu di dalam hutan Londok yang hitam pekat ini.  But show must go on !!!

Waktu menunjukkan jam tujuh malam lebih sedikit, samar-samar di depan dari arah atas sana gue mendengar suara orang yang sedang berbicara. Cukup senang juga bisa ketemu dengan anggota rombongan lain pikir gue dalam hati.

“ROGEEEEER” Teriak gue .. dengan harapan jika memang orang yang sedang mengobrol tadi adalah peserta rombongan Roger Bagen yang juga sedang tercecer maka dia akan memberi sahutan balasan. Namun sahutan balasan tidak kunjung gue dengar. Hmmmmmmmm aneh pikir gue dalam hati. Rombongan kembali gue ajak untuk meneruskan perjalanan. Kali ini sorot lampu senter gue benar-benar menagkap sosok di depan sana. Pak Fivin berteriak menanyakan siapa yang ada di depan sana. Jawaban yang terdengar tidak begitu jelas namun yang pasti suara tersebut adalah suara manusia hehehehehehe. Gue tetap memutuskan untuk bergerak kearah pemilik suara tadi.

Ahhhhhh ternyata ……. Om Joko Amstrong yang sedang istirahat sendirian. Entah bagaimana ceritannya om Joko bisa tercecer sendirian disini tapi yang pasti Pak Fivin dan om Joko langsung ngobrol menggunakan bahasa daerah.  Dengan hadirnya om Joko Amstrong jumlah tim kami menjadi 6 orang. Segera kami meneruskan perjalanan. Kali ini karena ketambahan sinar senter milik om Joko, gue lebih sedikit leluasa untuk sedikit lebih menikmati setiap turunan.

Rombongan kembali berhenti, di depan sana terlihat ada tiga orang yang sedang duduk di pinggir jalur. Ahaaaaaa ternyata mereka adalah rombongan goweser dari Bandung yang memulai perjalanan lebih dulu dari rombongan Roger Bagen. Kami menawarkan dengan tulus perbekalan snack kami dan diterima dengan baik oleh mereka.  Kami mengajak untuk meneruskan perjalanan bersama-sama namun  mereka mempersilahkan kami jalan duluan. Obrol punya obrol rupanya mereka secara perlengkapan sudah siap jika harus bermalam di hutan.

Jersey yang basah oleh keringat ditambah dengan curahan air hujan makin membuat dinginnya udara malam hutan Londok tidak dapat tertahan oleh raincoat yang gue pakai ini. Sehabis meninggalkan rombongan dari bandung tersebut adonan lumpur makin lama makin berkurang. Sampai ahirnya jembatan yang diceritakan pak Fivin sebagai ciri-ciri bahwa jalur hutan Londok akan segera berahir telah kami lewati.  Permukaan jalan telah berubah menjadi bebatuan yang sangat licin. Sehabis melewati sebuah turunan yang lumayan curam di depan sana gue melihat sinar lampu dari sebuah rumah. Jam menunjukkan pukul delapan lebih sedikit, Alhamdulillah ahirnya rombongan kecil kami telah tiba di dusun Cihalimun tempat rombongan kami akan menginap. Ternyata kami tiba lebih cepat dari perkiraan gue sebelumnya. Segera gue sandarkan sepeda, melepaskan protektor dan memberi salam kepada semua orang yang sedang beristirahat di dalam ruangan utama rumah kayu ini.

IMG-20130930-WA0033r

Singkat kata setelah prosesi membersihkan diri, shalat dan makan malam gue tidur-tiduran mencoba beristirahat. Tidur diatas lantai papan beralaskan selimut tipis memang tidak senyaman kamar tidur di rumah namun yang pasti jauuuh lebih nyaman ketimbang suasana di dalam hutan Londok sana.

Masih ada beberapa goweser yang belum tiba. Setelah diabsen ternyata om Yans, Om Erik dan Om Irwan belum ada.  Adanya Om Irwan yang juga merupakan alumni trip Cidaun angkatan 2012 dan juga om Erik yang masih aktif sebagai anggota pecinta alam pada rombongan yang tercecer tersebut membuat kami sedikit tenang dan memutuskan untuk tetap menunggu tanpa harus menjemput mereka. Setalah ditunggu lumayan lama, sekitar pukul sepuluh malam ahirnya ketiga peserta rombongan terahir tiba juga. Alhamdulillah lengkap sudah seluruh peserta rombongan tanpa kurang suatu apapun juga.

Day 2 Dusun Cihalimun – Cidaun

Perjalanan menuju Cidaun sepanjang 27-an km dimulai dengan menuruni dusun menuju areal persawahan. Gowes ngicik sebentar di pinggrir sawah disambut dengan tanjakan curam.

“Argggghhhhh tanjakan yang menyebalkan !!! ” Gumam gue dalam hati. But wait a minute !!!! Do you see what I see????? Ketika sudah hampir menyelesaikan tanjakan pertama (dengan TTB tentunya wkakakakaka)  pandangan gue arahkan ke belakang dan Subhanallah … ckckckckckckck ternyata di belakang sana terlihat dengan jelas sisi terluar dari hutan Londok yang semalam kita lalui bersama. Juga terlihat dengan jelas tebing batu yang seolah membatasi hutan Londok dengan areal persawahan. Pemandangan persawahannya sendiri sudah cukup membuat hati ini bergetar ditambah lagi dengan background tebing dan rimbunnya pepohonan hutan Londok. Benar-benar saat yang pas untuk menikmati keindahan alam Cihalimun di pagi ini.

Londok D2 004r

Selepas spot tadi kami disajikan beberapa turunan licin berbatu khas jalan pedesaan. Karena merasa sepeda agak liar saat menuruni turuna model seperti tadi, gue memutuskan untuk sedikit mengurangi tekanan ban depan dan belakang. Naaaaah sekarang sepeda lebih dapat mudah dikendalikan. Kondisi jalur menuju Cidaun didominasi hampir 90% oleh jalan makadam. Suspensi depan dan belakang akan menentukan nyaman atau tidaknya kita mengarungi turunan sepanjang puluhan kilometer ini. Jika sepeda anda dilengkapi fork yang mumpuni silahkan kedua tangan dibuat sesantai mungkin saat memegang handlebar, biarkan tangan anda mengikuti irama fork yang sedang bekerja naik turun meredam semua guncangan akibat permaukaan jalan berbatu luayan besar ini.

Sebetulnya di sepanjang jalur masih juga terdapat beberapa tanjakan. Untuk gue pribadi ada yang gowesable namun lebih banyak lagi tanjakan yang kemiringannya tidak sopan sehingga TTB adalah solusi bijaksana untuk melewatinya. Butuh waktu hampir 5 jam lebih untuk sampai di Cidaun.

Penutup : Bagi gue pribadi dari beberapa trip bersepeda yang pernah gue ikuti, trip RancaBolang – Cidaun bukanlah trip yang paling melelahkan secara fisik, namuan trip ini adalah yang paling melelahkan secara mental. Area di dalam hutan Londok memberi kontribusi paling utama. Lamanya perjalanan pulang dari Pantai Jayanti menuju Cikarang merupakan kontributor lelahnya mental terbesar berikutnya. Exit permit yang diberikan istri gue cuma sampai sebelum adzan magrib di hari Minggu tanggal 29 September 2013. Namun kenyataannya gue baru bisa sampai di depan pintu rumah sekitar pukul 24.30 di hari Senin tanggal 30 September 2013 wkakakakakakakakaka.

Cheers, Cikarang, 9 Oktober 2013

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s