Trek Ngaduman, Thekelan, Salib Putih Salatiga & Ternadi Kudus Yang Ngangenin

Prolog : Kunjungan pertama gue ke Ngaduman dan Salib Putih Salatiga adalah pada ahir bulan Agustus tahun 2012 lalu. Saat itu sensasi bersepeda disana menyisakan banyak kenangan yang membuat gue berjanji dalam hati bahwa suatu saat nanti Insya Allah gue akan datang lagi berkunjung ke trek AM dan mini DH yang sangat mengasikkan ini. Dan Alhamdulillah gue berhasil menepati janji gue tadi, tanggal 12 Okteber 2013 kemarin kembali gue mengunjungi mengunjungi Ngaduman. Perasaan yang sama juga gue alami saat mencoba trek Ternadi Kudus pada keesokan harinya tanggal 13 Oktober 2013. Sepertinya gue juga jatuh cinta dengan jalur ini dan juga berjanji dalam hati untuk Insya Allah kembali ke trek ini suatu saat ini, sometime .. somehow🙂

Salah satu yang membedakan trip gue tahun ini di banding tahun lalu adalah kali ini gue mengajak om Izal bekas teman SMP dan SMA untuk sama-sama merasakan betapa asiknya jalur MTB ini. Selepas waktu maghrib Jumat tanggal 11 Oktober ahirnya muncul juga mobilnya di pelataran hotel tempat kita akan menginap di Salatiga. Cerita yang tidak mengenakkan yang dialaminya selama perjalanan dari Jakarta via Pantura menuju Salatiga mengalir lancar. Dua sepeda yang dibawanya dengan menggunakan bike-rack di tabrak dari belakang oleh mobil lain tidak jauh dari gerbang tol Cikampek. Bempernya bagian kanan nyaris terlepas, tutup kabin belakang mblesek ke dalam, 2 chainring sepeda yang posisinya berada paling belakang pengok, rim sepeda kedua juga sedikit bengkok. Masih ada kejadian yang lain, sekitar jalan by pass menjelang Cirebon mobilnya ditilang pak polisi karena membawa sepeda dengan bike-rack🙂

Day 1. Salatiga Yang Mempesona

Om Ableh yang kembali akan menemani kami gowes selama di Salatiga sudah muncul di parkiran hotel sebelum pukul delapan. Disepakati bahwa urutan trek yang akan kami coba hari ini adalah Ngaduman, Thekelan lalu baru kemudian Salib Putih. Menginjakkan kaki di area Thekelan juga akan menjadi semacam reuni kecil bagi gue. 11 tahun lalu saat mendaki Gn. Merbabu, Thekelan adalah awal titik pendakian yang gue pilih.

Tidak ada yang berubah di awal jalur selain kotak restribusi bagi goweser yang akan mencoba jalur ini yang dulunya diletakkan persis di awal jalur di samping gereja yang saat ini sudah tidak ada lagi karena dipindahkan ke sebuah pos restribusi. Turunan tajam pertama juga masih dengan manisnya berada disana. Om Izal yang berada di urutan tengah sepertinya masih sedikit kaget dengan suguhan turunan pertama ini. Padahal saat di atas pick up om Ableh sudah mewanti-wanti dan menceritakan bahwa pernah ada seorang goweser yang tiba-tiba langsung mules begitu tiba di samping gereja dan melihat turunan tadi hihihihihihi.

Debu halus yang ada di jalur ini bukan sesuatu yang harus ditakuti karena memang mereka akan selalu ada disana selama hujan belum turun. Begitupun dengan pemandangan barisan gunung yang indah di sekeliling kita di awal-awal jalur. Merekapun akan selalu ada disana, ramah menyapa sambil memamerkan keindahannya kepada siapa saja yang memperhatikannya.

IMG_20120826_083159r

Waktu setahun belum cukup untuk membuat pepohonan di sekililing jalur menjadi lebih besar dan lebih rimbun daun-daunnya. Bagi gue hal itu juga bukan masalah berarti, jalur menurun kombinasi sedikit tehnikal dan high-speed yang tiada habisnya ini dapat menjadi penawar. Gue sangat menikmati irama body position seirama lika-liku jalur. Untuk yang punya kemampuan dan keberanian diatas rata-rata pastinya akan sama sekali menjauhkan jemarinya dari brake lever di area ini. Sayangnya gue bukan termasuk diantara mereka wkakakakakakakaka.

Di beberapa spot telah dibuat obstacle semacam jumpingan namun jangan khawatir karena akan selalu ada jalur favorit gue yakni chicken way di sebelahnya. Om Ableh sangat amat faham dengan jalur ini, beliau akan selalu berhenti bilamana ada sebuah drop yang lumayan tinggi di depannya. Sekali lagi untuk yang sudah expert tentunya spot semacam ini akan menjadi bonus yangg menambah keasikan gowes di jalur Ngaduman ini.

IMG_20120826_083915r

Tidak sampai 40 menit kita akan sampai pada sebuah spot pepohonan pinus yang lebih rimbun. Ya inilah jalur karpet-nya Ngaduman. Sebuah area menurun landai dimana kita dapat bebas memilih jalur yang kita suka. Gue merasa spot jalur karpet adalah salah satu yang membuat jalur Ngaduman ini selalu ngangenin.

Setelah puas membuat foto-foto narcis dimana sangking tinggi tingkat kenarcisan-nya sampai kurang layak untuk di tampilkan disini hehehehehehe .. kita loading lagi menuju Thekelan.

Oh man !!!!! jalur ini benar-benar sorga bagi pecinta single track dan kecepatan. Sayang kemampuan dan keberanian gue cuma ala kadarnya, kalau enggak mungkin gue udah di depan sana menguntit rapat om Ableh dan Om Izal

Jateng 010r

Jalur Thekelan ini seperti sambungan dari beberapa potongan puzzle. Terkadang jalur singletrack di area terbuka yang lumayan panas habis, langsung disambung dengan area yang lumayan teduh lalu disambung lagi dengan harus melewati jalan beton pedesaan untuk selanjutnya disambung lagi dengan memasuki area perkebunan sayur mayur, singletrack lagi….. Begitu seterusnya sampai gak sadar terkadang gue teriak-teriak sendiri kegirangan menikmati jalur tersebut.

Kecelakaan kecil menimpa om Izal saat memasuki pematang dari sebuah lahan perkebunan sayur mayur. Posisi gue masih tepat di belakangnya saat  roda depan sepedanya mendarat kurang sempurna dan mengenai sisi kiri dari pematang. Para petani sayur mayur berteriak saat melihat om Izal gulung kuming. Alhamdulillah tidak ada cidera fisik serius yang didapatkannya. Namun kecelakaan tadi meningalkan cidera perasaan karena visor help Urge-nya pecah wkakakakakakakaka.

Jateng 013r

PickUp telah menunggu di titik finish jalur Thekelan. Tujuan kami berikutnya adalah start gate trek DH Salib Putih jreng jreeeeeng … maklum gue inikan cuma sekedar pecinta singletrack flat, bukan anak DH. Jadi kayanya gimanaaaaaa gitu setiap kali gowes di trek DH hihihihihihi .. Walaupun tahun lalu juga sudah pernah gowes disini, namun tetap agak-agak serem gitu lho hihihihihihihi.

Salib Putih jalurnya sangat well-maintained dan banyak berm. Kita berencana main dua run disini. Pada run pertama kita akan gowes pelan-pelan sambil mengenalkan jalur turunan asik ini kepada om Izal. Padahal sih di run kedua nantinya gue dan om Izal masih tetap pelan-pelan juga hahahahahahaha. Tapi yang pasti menurut om Ableh Salib Putih ini memang di-design supaya aman untuk kalangan DH-er pemula sampai menengah.

IMG_20120826_092105r

Segelas susu murni dicampur es, segelas teh manis, sepotong pisang ambon ludes gue lahap saat beristirahat sambil mengumpulkan sisa-sisa keberanian di basecamp tempat peristirahatan Salib Putih.  Pada run kedua om Ableh memberikan sedikit coaching clinic serta mengajak gue untuk mencoba gap-jump pertama yang ada di Salib Putih ini. Gue diminta untuk memperhatikan satu kali contoh darinya saat melewati spot tadi. Lebar gap-nya sih tidak terlalu lebar, permukaan tanah pada sisi landing areanya juga sangat mendukung namun tetap membuat jantung berdebar hahahahahaha.  Om Ableh meminta gue gowes tepat dibelakangnya dengan kecepatan yang sama dengannya. Dan gue mulai menguntit Om Ableh dengan jarak lebih kurang 5 meter dengan kecepatan persis sama seperti instruksinya. Ban depan sepeda Om Ableh dengan smooth gue lihat telah melewati ujung dari jumpingan. Dan sekarang giliran gue siap mengarahkan sepeda tepat di tengah-tengah jumpingan … namun ternyata tiba-tiba nyali ini kembali mengkerut .. dan gue secara tiba-tiba membelokkan sepeda kesisi kanan gap-jump tadi. Wuuuuuuuuuuuuuuuuuu penonton kecewa hahahahahahahaha. Maklum laaaaah kan perjalanan liburan gue masih panjang, nanti kalau sampai gue jatuh gulung kuming bisa-bisa gue gak bisa pulang ke Cikarang (alesaaaaan klasik)

Pada run kedua ini gue berada di urutan tengah dan lebih bisa menikmati liuk-liuknya jalur walaupun masih tetap dengan kecepatan yang selalu di kontrol dan konsisten untuk selalu memilih jalur chicken way ataupun sekedar me-rolling bilamana ada small ataupun medium jump. Skor 1-0 yang di pegang oleh Om Izal (untuk menghitung berapa kali kita jatuh selama di jalur sepeda) ahirnya pecah juga. Pada sebuah jump aka jungglengan yang berukuran sedang gue berniat untuk melintasinya dengan cara di-rolling. Namun siaaaaaal, ternyata di bagian bawah jungglengan tersebut terdapat cerukan tanah sehingga saat roda depan masuk ke cerukan tadi membuat gue over the bar hihihihihihihi. Untuk kecepatan sepeda gue saat itu sangat minimal sehingga Alhamdulillah gue jatuh dengan aman sentosa.

Jateng 017r

Menyelesaikan jalur Ngaduman, Thekelan dan Salib putih hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 4 jam saja. Segera kami kembali ke hotel. Sepeda kami letakkan di halaman hotel, langsung masuk kamar,  mandi bersih-bersih dan langsung mengurus checkout. Siang ini juga kami akan menuju ke Kudus untuk Insya Allah memulai petualangan mencoba tiga jalur AM disana.

 

Bersambung …..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s