Trek Ngaduman, Thekelan, Salib Putih Salatiga & Ternadi Kudus Yang Ngangenin (Bag. 2)

Day 2. Ternadi dan Pasar Siyem Kudus Yang Menghipnotis

Sabtu 12 Oktober 2013 menjelang sore gue dan om Izal (beserta istri kita masing-masing) sudah memasuki kota Kudus. Saat masih di Jakarta gue sudah coba membuat reservasi via telepon di beberapa hotel namun semuanya fully booked. Sore itu kami memang berniat go-show langsung mendatangi hotel untuk memesan kamar. Namun tidak berbeda hasilnya dengan apa yang sudah gue lakukan via telepon. Beberapa hotel yang gue datangi memang benar-benar sudah penuh. Ahirnya kami mendapatkan sebuah hotel yang lumayan masih baru namun lokasinya sudah nyaris di perbatasan antara Kudus dan Demak🙂

Sambil menikmati makan malam lesehan kita mengundang om Herman dari MOR29! Kudus untuk bergabung makan malam bersama sekaligus membicarakan rencana gowes esok hari. Mendapat konfirmasi ulang bahwa trek yang akan kita coba esok cukup aman untuk lady biker, maka menurut rencana nte Yuke isri om Izal akan turut serta gowes di Kudus. Diputuskan bahwa esok hari rombongan MOR29! akan menjemput kami di hotel pada pukul 8 pagi.

Seperti yang sudah gue singgung di awal bahwa akibat kecelakan di tabraknya mobil om Izal ternyata membuat chainring sepeda yang sedianya akan digunakan oleh nte Yuke gowes hari ini pengok maka yang bersangkutan dengan terpaksa dan muka sedikit cemberut merelakan diri untuk menemani istri gue wisata kuliner dan oleh-oleh saja hari ini hihihihihi.

Lima anggota rombongan MOR29! tiba dengan sebuah pickup grand max telah di pelataran hotel pada pukul 8 lebih sedikit. Menilik dari sepeda yang semuanya tidak ada yang menggunakan fork dengan travel dibawah 160mm dan helm fullface yang dibawanya kok perasaan gue jadi gak enak ya hihihihihi ….. maksudnya hari ini gue mau di ajak ke trek AM atau DH sih ? Untuk meyakinkannya gue meminta konfirmasi mereka.

“Om harus pakai helm fullface atau boleh half-face ya?” tanya gue.

“Half-face juga gak papa kok .. tuh om Yusuf juga pakai half-face.” timpal om Herman. Jawabannya membuat gue lumayan tenang. Bukan apa-apa, sebenarnya gue juga membawa helm fullface namun gue pikir kalau cuma trek AM males juga menggunakannya karena hanya akan membuat susah nafas.

Menurut rencana hari ini kita akan mencoba 3 jalur MTB di sekitar perbukitan yang ada di kota Kudus. Tujuan pertama adalah trek Ternadi yang sesuai namanya memang berada di desa Ternadi. Di tengah perjalanan menuju Ternadi rombongan melewati seorang goweser yang sedang mengayuh Giant Glory on-road. Ahhhhh setelah berkenalan ahirnya gue tahu beliau adalah om Nolix langganan podium DH UKDI kelas Grand Master. Waduuuuuuh .. gimana ini??? para marshall yang akan mengantar gue gowes hari ini kok ya anak DH semua🙂

Desa Ternadi ini masuk ke dalam wilayah kecamatan Dawe yang berada pada sisi sebelah timur lereng Gunung Muria. Pemandangan menuju starting point sejatinya sangat indah namun karena gue duduk di samping pak supir yang selalu sibuk memindahkan gigi 1 dan 2 jadi gak waktu untuk membuat foto dokumentasi sama sekali.

Awal trek kami langsung disuguhkan turunan lumayan panjang berupa singletrack yang jujur aja membuat gue sedikit kaget. Om Nolix dan om Yusuf melesat duluan dengan kencang …  I really meant it… benar-benar kencang … Kalau sebelumnya gue mendapat informasi bahwa trek di Kudus ini panas, sampai detik ini gue masih belum merasakannya, justru saat ini jalur yang kita lewati sesudah turunan tadi selalu dinaungi pepohonan lumayan besar.

Jateng 002r

Permukaan tanah pada awal singletrack disini berupa tanah keras dengan terkadang tertutup dedaunan yang luruh dari rantingnya. Panjangnya jarak singletrack yang disajikan juga benar-benar yahud dan gue yakin akan sanggup membuat hati setiap goweser yang melewatinya benar-benar terbuai.

Di depan sana gue liat rombongan depan sedang berhenti, sepertinya sepeda om Nolix ada sedikit masalah. Gue gak begitu tertarik untuk melihat lebih detail trouble tersebut. Gue lebih suka mengatur nafas dan adrenalin yang tadi sudah nyaris memuncak melewati beberapa spot turunan tadi. Belum reda dan normal desahan nafas, kembali debar jantung gue mulai meningkat, ya turunan tidak jauh di depan om Nolix itu lhoo. Jelas terlihat perbedaan elevasi yang lumayan drastis dari pepohonan yang ada dibawah sana. Dengan kata lain turunan itu kurang lebih akan sama bahkan lebih dari turunan pertama di awal jalur tadi. Antara senang dan takut membayangkan melewati turunan tersebut.

Jateng 003r

Gue ingat betul banyaknya tanjakan terjal yang harus dilalui dengan susah payah oleh pickup saat menuju starting point. So gue pretty sure bahwa di depan sana masih akan terdapat banyak jalur turunan yang mantaf. Faktanya memang kalau melihat sekeliling, saat ini kita memang masih berada pada lereng sebuah bukit. Teduhnya temperatur dan suhu udara yang tadi sempat gue rasakan lambat laun sirna. Pepohonan besar yang tadi sempat terlihat tumbuh di sekeliling jalur mulai tidak terlihat lagi. Hanya pepohonan yang masih berusia mungkin satu atau dua tahun yang tumbuh disini.

Jalur Ternadi ini rasa-rasanya memang kombinasi antara jalur dengan turunan tehnikal dengan singletrack aduhai yang relatif landai yang mungkin akan menjadi surga bagi pecinta FSA semisal om-om dari MOR29! ini. Walapun dengan keterbatasan skill, ahirnya guepun mulai ikut dapat menikmati keduanya.

Jateng 006rBeberapa kali kami memasuki spot singletrack pada lereng bukit dengan permukaan tanah yang sempurna, tidak terlalu gembur dan tidak pula berdebu. Memang sedikit miris melihat permukaan bukit yang hampir semuanya sudah berubah fungsi menjadi lahan perkebunan singkong dan beberapa jenis tanaman lainnya. Namun saat ini paling tidak beberapa rumpun pohon pisang yang tumbuh di sisi kiri jalur yang menghadap ke bawah bukit menjadi semacam hiasan penyejuk hati selama kami menikmati singletrack super duper maknyus ini. Jalurnya juga tidak monoton lurus namun banyak terdapat kelokan yang membuat gue juga mengarahkan sepeda seolah ikut menari meliuk-liuk mengikuti kelokan jalur. Damn !!!!! I think I’m falling in love with this Ternadi trail.

Menurut catatan gue, hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1,5 jam jalur Ternadi dapat kami selesaikan. Selanjutnya kami loading kembali menggunakan pickup menuju jalur Pasar Siyem. Jalur yang harus dilalui pickup kali ini juga tidak kalah extrem tanjakannya dan hanya pas seukuran satu mobil.

“Gak papa dech sepanjang mobilnya masih kuat nanjak, toch berarti nanti kita akan dapat turunan maknyus hihihihihi,” Pikir gue dalam hati

Sambil menunggu om Tommi yang sedang menuntaskan panggilan alam, kita ngobrol ketawa ketiwi sambil menikmati banana cake bekal pemberian nte Yuke. Matahari nyaris berada di tengah ubun-ubun saat kita memulai trip kedua ini. Om Nolix dan om Yusuf masih setia di depan menjalankan rolenya sebagai RC. Awal jalur Pasar Siyem ini tidak kalah maknyusnya dengan jalur Ternadi. Dalam hati gue masih penasaran bagaimana awal ceritanya rekan-rekan MOR29! Kudus ini bisa ‘menemukan’ jalur surga seperti ini.

Kali ini sang RC sedikit melambatkan sepedanya, sepertinya mereka sedang orientasi sejenak sambil mengingat-ingat jalur yang akan kita lalui. Sedikit tambahan informasi dari mereka bahwa jalur Pasar Siyem ini akan ada beberapa spot lo’e lo’e hihihihihihi. Saat itu gue masih belum terbayang maksud dari terminologi lo’e lo’e tersebut. Tapi yang pasti gue yakin ini sangat berhubungan dengan ‘keganasan’ turunan yang akan kita lalui nanti. Gue cuma bisa menguatkan mental, kalaupun nanti gak PD menghadapinya dan harus TTB yaaaa TTB-lah dengan dignity hahahahahaha.

Jateng 008r

Setelah menuntaskan sebuah bukit kecil yang dominan telah ditanami dengan tanaman singkong kami masuk ke area sebuah bukit yang lain. Namun kali ini sudah tidak ada lagi singletrack, yang ada di depan kami adalah jalan yang lumayan lebar dengan permukaan jenis tanah sedikit berdebu dengan kombinasi batu-batu kali. Oh yeaaaaa baby … saatnya full speed lagi hihihihihihi. Rasanya belum hilang ingatan gue akan jalur seperti ini saat hari kedua trip Rancabolang – Cidaun dimana saat itu kami disuguhkan turunan makadam tiada ahir yang membuat ban belakan gue kena snike-bite. Tidak ingin mengalami nasib yang sama gue akan berusaha commit dengan jalur yang akan gue pilih.

Arghhhhhh ternyata permukaan jalan ini bukan cuma berupa batu kali namun juga di pertengahan sudah pula dilapisi oleh sirtu (pasir dan batuan kecil). Tipe permukaan jalan seperti ini terus terang juga bukan favorit gue. Entah kenapa gue selalu deg-degan jika melewati jalur seperti ini karena perasaan roda sepeda seperti tidak mendapat traksi sama sekali. Tapi mungkin itu hanya perasaan gue saja, tuh buktinya om-om RC santai aja melibas jalur ini dengan full speed. Yaaaaaa wajarlah …. gue pernah baca hasil sebuah kejuaraan DH UKDI om Nolix menjadi juara dengan mencatatkan selisih waktu 11 fucki** seconds !!!! dari urutan keduanya. Apalagi di jalur ini yang cuma berupa jalur turuan landai yang cenderung lurus hihihihihihi.

Kembali ke masalah betapa deg-degannya gue saat melintasi jalur dengan permukaan seperti ini, yang gue bisa lakukan hanya mengatur kecepatan sepeda agar masih tetap bisa gue kontrol. Ya walaupun harga betadine dan kain kasa lebih murah dari harga brake-pad Heyes Stroker Ace tapi gak papa dech kali ini gue berkorban sedikit wakakakakakakaka. Saat sedang asik-asiknya mengontol kecepatan sepeda tiba-tiba dibelakang sana gue mendengar suara cukup kencang. “Bruuuuuuuuuk”. Gue yakin itu bukan suara dari peladang yang sedang melakukan aktivitasnya. I think somebody’s down, so buru-buru gue menghentikan sepeda dan segera berjalan menuju asal suara.  Sambil clingak-clinguk gue gak melihat sesuatupun yang mencurigakan di tengah jalur ini. But wait !!!!! ternyata om Izal sedang terduduk bersender ke sebuah motor milik peladang yang ada di sisi kiri jalan. Lucky him …. Backpack yang digunakannya ternyata berfungsi ganda sebagai bantalan yang melindungi badan bagian belakangnya saat terhempas dari sepeda dan menabrak motor tersebut.

Simpati, empati dan tidak lupa ketawa ngakak dari gue dan om Tiok yang juga sudah tiba di lokasi. Lhooo kok bisa yaaaaa posisi jatunya seperti itu. Gue kurang tahu apakah sebelum ‘ditabrak’ oleh om Izal cover penutup speedo meter dan lampu depan motor ini apakah memang sudah pecah, tapi yang pasti memang ada sedikit pecahan bahan seperti mika tepat di bawah motor tersebut. Cari punya cari kami tidak menemukan si pemilik motor tersebut. Agak bingung juga cara mempertanggung jawabkan ‘hasil perbuatan’ om Izal ini. Walaupun ini sebuah kecelakaan dan fakta bahwa kondisi motor sebenarnya memang sudah tidak rapi lagi (bayangkan sebuah motor yang biasa digunakan untuk mengangkut rumput pakan ternak) tapi om Izal tetap berkomitment untuk bertanggung jawab. Ahirnya kami putuskan untuk menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan di samping lobang kunci kontak dengan harapan semoga pemilik motor merelakan kerusakan motornya.

Simpati, empati dan suasana penuh dengan ketawa ngikik kembali terjadi di sebuah dangau saat kami beristirahat sambil membersihakan sedikit luka baret di lengan dan badan bagian samping om Izal. Yes !!!!! hari ini kedudukannya adalah 2-0 setelah sebelumnya om Izal juga sudah terjatuh dari sepeda🙂

Jateng 011rJalur yang kami lewati saat ini berada tepat ditengah-tengah kebun singkong. Jalurnya juga agak negatif jadi butuh konsentrasi lebih saat melintasinya. Informasi dari om Herman tentang panasnya jalur MTB di Kudus ahirnya terbukti. Ibarat kata, siang ini Matahari sepertinya sedang arisan di Kudus. Ahirnya sampailah kami di spot lo’e lo’e yang pertama. Sebuah turunan yang menurut gue sangat curaaaaaaam memotong vertikal perkebunan teh …… jreeeeeeng Jreeeeeeng.

“Tuntun …  jangan … tuntun … jangan … tuntun .. .jangan.” Mulai deh gue menghitung spokes (yaaaa iyaaa laaah , masa harus menghitung kancing? kan jersey gue gak ada kancingnya hihihihi)

Sementara om Nolix dan om Yusuf sudah dengan santainya menanti gue yang sedang galau. Kalau melihat permukaan tanah sepertinya cukup bersahabat dengan ban dan gue yakin akan tetap mendapatkan dapat traksi kalaupun rem depan dan belakang akan gue gunakan secara bergantian saat melintasinya, pikir gue dalam hati.

“OK laaaah sikat aja dech .. Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi” Ahirnya secara PD gue mulai mengarahkan sepeda dengan kecepatan minimal di turunan ini. Yeaaaaah panta* kebelakang, tangan berusaha sesanti mungkin sambil memainkan jemari secara bergantian di atas brake-lever jangan sampai kedua roda sepeda mengunci.

“Lepaaaas rem oommmm” OM Nolix dan om Yusf memberi aba-aba saat jarak gue dengan ujung turunan tinggal sekitar 3 metersn lagi.

Alhamdulillah ahirnya sampai juga dibawah … fiiiuuuuhhhhhh.

Jateng 015rSelepas dari spot tadi kita kembali masuk ke area yang lebih sejuk, kita blusukan di singletrack diantara pepohonan bambu. Kembali di Kudus ini gue menemukan salah satu single track terbaik yang pernah gue temukan. Segala kriteria sebuah single track terbaik versi gue ada disini. Flowy tapi tidak monoton lurus, tidak menurun terlalu curam, permukaan tanah yang bersahabat, banyak pepohonan dan rindang. Semua benar-benar ada di spot ini. Dalam hati kembali gue bertanya-tanya kok bisa ya mereka menemun jalur seperti ini saat exploring.

Jateng 017rTepat pukul 12.10 kami ahirnya tiba di sebuah rumah makan. Kalau melihat dari alamat yang tertera saat ini kami sudah memasuki area Kabupaten Pati lho hihihihihihi. Menu ikan bakar dengan sambal yang lumayan pedas. Senang banget ahirnya setelah 4 hari keliling Yogya, Salatiga dan Kudus ahirnya ketemu juga sambal yang pedas. Segelas es teh, es dawet (lebih mirip rasanya seperti bubur sumsum), sepotong ketimun ludes juga sudah ludes berpindah tempat.

Karena keterbatasan fisk gue dan om Izal memutuskan untuk skip trek ketiga yakni jalur ‘AMD’.  Adrenalin yang memuncak dan panasnya suhu di luar sana menambah rasa lelah gue siang ini. Bagi gue dua trek yang sudah kita coba hari ini sudah lebih dari cukup memuaskan diri dan memberikan jawaban lain atas usaha gue mencari singletrack terbaik di negeri ini.

Skor ahir gue vs om Izal ahirnya adalah 2-2 dimana pada ahirnya gue juga dua kali terjatuh dari sepeda. Yang pertama terjadi saat di spot lo’e lo’e kedua dimana saat itu hampir di bagian ahir turunan roda sepeda gue justru malah melintas kebagian yang tertutup daun sehingga membuatnya slidding. Berikutnya gue juga sempat jatuh saat di tengah-tengah jalur blusukan kebun bambu dimana saat itu kembali roda depan sepeda nancep di ujung sebuah gundukan hihihhihihi.

Special thanks, a huge one untuk seluruh men-temen MOR29! yang telah mau menemani newbie dari Cikarang Bekasi ini menyicipi dua jalur MTB di Kudus  yang super duper maknyusi. Sekarang saatnya kembali menabung dan menjauhkan diri dari godaan upgrade komponen sepeda supaya sesegera mungkin celengan ayam jagonya penuh dan bisa liburan lagi ke Kudus🙂

ps : Tanpa bermaksud melihat sebelah mata akan kemampuan bersepeda nte Yuke, gue gak ngebayang kalau misalnya hari ini dia jadi ikut wakakakakakakakaka .. Peace ya nte Yuke🙂

Cheers, Cikarang, 17 Oktober 2013

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)


4 comments

  1. kl hari itu gw jadi ikut…pastinyaaaaa…MTB, Mari Tuntun Bike ! wkwkwkwk….kebayang waktu malam itu Om Herman bilang “trek ini aman buat cewek…” hooooooo…ternyata beda leveeeeeel….hahaaa….

    • Sebenarnya memang masih ‘aman’ kok .. Tapi dengan konsekuensi akan TTB sepanjang jalan .. dan mengganggu irama gowes para suami huahahahahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s