Lemah Putih Majalengka, Spot Sempurna Untuk Ajang Test Stamina

Prolog

Tahun 2014, tahun dimana para bakal calon legislatif, bakal calon Wapres dan Capres dari banyak partai mulai menggelontorkan dana kampanye baik itu hanya dengan sekedar menempelkan flyer di tiang listrik sampai dengan memasang iklan berbiaya tinggi durasi 45 detik di TV. Bagi gue pribadi dan mungkin kebanyakan MTB-er, dont give a damn at all about those stuffs. Yang ada di benak gue adalah bagaimana memulai tahun 2014 ini dengan merencanakan waktu dan visa izin gowes sebaik-baiknya mencoba jalur sepedahan baru di lokasi yang belum pernah gue kunjungi sebelumnya.

Palu virtual di group Whatsapp telah diketok oleh Pak Ketu Roger Bagen bahwa Jalur Lemah Putih yang secara geografis masuk wilayah Kabupaten Majalengka akan menjadi touring perdana di awal tahun 2014 ini. Touring ini sekaligus menjadi seri I Rarat Race. Apa itu Rarat Race, bagaimana aturan main serta penilaian Insya Allah akan kita bahas di lain waktu.

How To Get There

Kota Sumedang kota dimana sahabat kami om Idris Ali Mohank tinggal menjadi pilihan tempat menginap hampir seluruh peserta rombongan sedari hari Sabtu tanggal 11 Januari 2014. Om Idris juga yang nantinya sebagai penghubung kami dengan rekan-rekan marshall goweser dari Wado sebuah kota kecil kurang lebih 1 jam perjalanan dengan menggunakan mobil dari Sumedang. Berhubung gue hanya mendapatkan visa izin gowes bertipe ‘same-day visa‘ hihihihi, dimana artinya saat gue meninggalkan pagar rumah dan kembali memasukinya harus pada hari yang sama maka dengan terpaksa gue memilih opsi untuk memulai perjalanan menyupir sendirian dari Cikarang  keesokan harinya di hari Minggu sekitar pukul 04.00.

Trip gowes kali ini juga menjadi semacam reuni kecil-kecilan gue dengan om Ijal dan om Anto dua orang bekas teman SMA gue dulu. Menurut GPS Garmin Nuvi jadul  yang ada di mobil, dengan gaya mengemudi yang tidak terlalu agresif gue akan tiba di hotel tempat mereka menginap di dekat alun-alun kota Sumedang sekitar pukul 06.20. Pada ahirnya gue tiba di depan hotel sedikit agak molor. Jam menunjukkan pukul 6.48 dan pagar besi hotel inipun masih tertutup. Baru kali ini gue menemukan ada hotel yang pagarnya ditutup hihihihihihihi.

Tahun baru, trip baru, tambah teman baru. Ternyata bersama om Anto adapula om Zul seorang goweser yang dulunya mantan penggila motorcross dari Balaraja. Menu sarapan yang disajikan hotel berupa nasi goreng kami nikmati sambil ngobrol ngalur-ngidul sekitar dunia MTB Indonesia. Selanjutnya kami regroup dengan Roger Bagen yang menginap di sekitar jalan Talun.

Kini saatnya rombongan bergerak ke arah Wado sekitar 30 km dari kota Sumedang untuk menjemput beberapa marshall. Semua mobil kecuali pickup yang mengangkut sepeda kami parkir disini untuk selanjutnya kami pindah berganti menggunakan angkot menuju titik start di Lemah Putih yang jaraknya kurang lebih sekitar 20 km dimana sebagian besar jalan yang kami lalui berupa tanjakan yang sungguh sangat tidak sopan. Sangking tidak sopannya itu tanjakan, angkot inipun harus berjuang merangkak saat melintasinya.

LemahPutih8

Di tengah perjalanan angkot yang kami naiki melewati seorang goweser nyentrik yang menggunakan topi koboy yang sepertinya berasal dari Wado yang dengan santainya sedang menikmati tanjakan. Dan believe me or not, tidak lama setelah angkot kami berhenti untuk menunggu rombongan pickup, gowes tadi tetap dengan gaya santainya melintas di depan kami Huehehehehehehe #hats off

The Trail

Sebelum keberangkatan ke sini info yang kami dapatkan adalah bahwa jalur yang akan kami lalui mempunyai komposisi tanjakan : turunan adalah sekitar 50:50 dan diawal perjalanan kami sudah harus akan menikmati tanjakan sepanjang sekitar 800 meter. Informasi tersebut tanpa gue kurangi dan gue tambahi juga sudah gue sampaikan ke om Ijal, om Zul dan om Anto, just wanted to manage their expectation. So far sepertinya mereka sudah siap lahir bathin untuk menikmati acara gowes kita dihari ini🙂

Sering sudah gue sampaikan bahwa gue bukan tipe pecinta tanjakan  namun juga bukan pembenci turunan, so tanjakan pertama ini akan gue coba manfataatkan sebagai wahana untuk melakukan pemanasan otot betis dan paha.Bismillah… dengan senang hati akan gue nikmati tanjakan imut ini dengan hmmmmm TTB tentunya, Yeaaaaaaah all right beybeeeeeh. Santa Cruz Bullit dengan fork Totem coil 180mm yang beratnya ibarat kulkas dua pintu gak akan gue jadikan alasan mengapa gue memutuskan TTB disini. Gak peduli dengan peserta rombongan lain yang segera melahap tanjakan ini dengan tetap menggowes sepeda. Gue gak perlu merasa malu dan minder dengan siapapun saat memutuskan untuk TTB, termasuk juga saat gue sedang beristirahat dan tiba-tiba di hadapan gue seorang lady biker cilik melintas dengan asiknya sambil mengggowes sepedahnya #$&¶§¥!^*@ .. … Nah lhooooooo hihihiihihihi …. Trus apakah pendirian gue untuk tidak malu dan tidak minder tadi masih tetap berlaku? Yeaap definitely .. pendirian gue tetap tidak berubah.

LemahPutih9

Deru nafas sehabis mendorong kulkas dua pintu sedikit demi sedikit sudah kembali normal setelah gue cukup beristirahat. OK sekarang saatnya kembali menikmati singletrack relatif flat yang maknyoooos melintasi sela-sela ladang penduduk di kaki gunung Cakrabuana ini. Sepanjang perjalanan di sisi kiri dan kanan kami hamparan ladang dimana terdapat plastik panjang berjejer yang diletakkan diatas permukaan ladang.  Entah bibit pepohonan apa yang nantinya akan ditanami dibawah plastik tersebut.

Ahhhhh sepertinya tidak perlu terburu-buru menikmati pemandangan indah ladang milik penduduk ini toh di depan sana gue lihat rombongan sedang regroup. Mungkin perwakilan dari Roger Bagen dan para marshal sedang saling berkenalan sekaligus memberikan briefing tentang kondisi trek yang akan kita lalui hari ini.

LemahPutih1

Kalau saat di tanjakan pertama tadi gue cukup dibuat gimanaaaa gitu dengan seorang lady-biker cilik yang dengan santainya menaklukan tanjakan tersebut maka sekarang gue kembali a little bit shocked dengan apa yang gue sedang lihat. Om dan tante sekalian …Meet Isal, baru berumur 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Isal sudah lumayan lama jatuh hati dengan dunia MTB dan hari ini dia tidak gowes bersama ayah ataupun sanak saudaranya, sepertinya Isal memang sudah terbiasa tanpa sungkan bergabung gowes bareng dengan rombongan goweser dewasa dari Wado ini. Dengan helm longgar yang dikenakan serta sepeda hartail sederhana yang juga terlalu besar ukuran framenya namun sudah cukup membuat Isal selalu tersenyum menemani kami di rombongan belakang saat tiba di spot ini.

Sejenak gue memperhatikan spesifikasi dan komponen yang melekat pada sepeda hadiah dari seorang pamannya yang mendukung hobby anak kecil ini sungguh jauh dari definisi sebuah sepeda MTB ideal. Bisa jadi harga fork dengan stanction warna emas yang ada pada sepeda om dan tante sekalian bisa untuk membeli 3 atau bahkan mungkin 4 sepeda fullbike seperti yang Isal sedang gunakan saat ini. Tapi silahkan perhatikan baik-baik raut muka Isal yang penuh dengan kebahagiaan walau hanya dengan mengendarai sepeda tersebut.

LemahPutih4

Lokasi tempat gue berdiri saat ini berjarak kurang lebih 10 meter-an dari posisi rider terdepan dan tepat di depan gue terdapat lumayan banyak rider lain yang sedang bersiap untuk memulai trip hari ini (tanjakan awal tadi gak dihitung ya hihihihi). Om-om Roger Bagen yang akan menjadikan trip hari ini sebagai seri pertama Rarat Race 2014 gue lihat hampir semuanya ada pada rombongan terdepan. Gue kurang tahu apakah sudah dilakukan undian penentuan pole position yang biasanya dilakukan dengan cara mengambil nama secara acak seperti yang bisa dilakukan saat acara arisan rantang susun  oleh ibu-ibu. Namun yang pasti terlihat dari sini raut muka mereka semua sudah siap tempur.

Ahaaaa ternyata awal dari trip ini langsung berupa turunan lumayan maknyus, pastinya peserta Rarat Race tadi akan langsung gas poll di spot ini. Pemandangan ladang sayuran kol milik petani terhampar hijau disisi kiri-kanan jalur yang gue lewati. Jauh dibawah sana terlihat area pepohonan hijau yang lebih rapat yang bisa jadi adalah hutan pinus. Namun sayang, saat gue bertanya kepada salah seorang marshall yang bertugas mengawal rombongan belakang ternyata jalur yang akan kita lewati nantinya tidak akan masuk ke area hijau pekat tersebut melainkan hanya akan terus menyusuri pinggiran area kebun sayur-mayur ini.

LemahPutih7r

Bersepeda MTB menyusuri single trek perkebunan sayur mayur dan tanaman lain seperti ini yang terkadang dengan tambahan bonus jalur yang lumayan menurun ini jangan ditanya betapa nikmatnya. Mungkin kalau ditanya lebih nikmat mana bersepeda di spot seperti ini jika dibandingkan empek-empek Jalan Garuda mungkin gue gak akan ragu untuk vote bersepeda di jalur ini hihihihihihi.

Seperti yang diinformasikan oleh om marshall tadi bahwa walaupun kita tidak akan memasuki area pepohonan rimbun tadi namun kita tetap terus disajikan single track maknyus nan rindang. Permukaan tanah sedikit agak becek namun belum sampai berbentuk lumpur. Namun sayang tidak sampai 30 menit terhitung dari turunan pertama tadi, single track ini berahir pada sebuah jalan aspal. Seorang marshall yang bertugas memberikan kode untuk berbelok ke arah kiri menuju pitstop untuk ishoma.

LemahPutih5r

Menu makan siang berupa ayam goreng, ikan asin plus sambal tandas dalam hitungan menit. Warung tempat kita pitstop ini juga memanjakan para rider dengan menu pecinta petai dan jengkol goreng/bakar. Disini ahirnya gue memberanikan diri untuk membuat hipotesa bahwa ada korelasi positif antara petai, jengkol dan rider yang senang ngebut. 4 dari 5 peserta Rarat Race yang doyan gowes ngebut ternyata sangat doyan petai dan jengkol huehehehehehe.

Etape kedua dimulai dengan iringan hujan rintik-rintik. Para peserta rarat race sudah barang tentu sudah semenjak tadi bergegas berebut posisi terdepan bahkan ada yang sudah siap duduk di atas sadel manakala peserta rombongan lainnya masih menyelesaikan makan siang. Jalur yang gue lalui masih berupa jalan aspal yang tidak terlalu bagus dengan kontur lumayan menurun. Cukup jauh juga jarak antara warung tadi sampai dengan spot dimana seorang marshal memberi tanda bahwa gue harus berbelok ke kanan untuk kembali memasuki habitat asli sepeda MTB ini.

Hujan terasa makin deras makin deras saat gue mencoba mengayuh santai di double-track ini. Idealnya memang gue harus berhenti sebentar untuk memakai jashujan namun entah mengapa gue sedikit agak enggan melakukannya. Apalagi irama gowes saat itu sedang asik-asiknya dimana gue close-tailing tepat di belakang Rafdi, seorang youngser Roger Bagen putra dari Kang Aries RB-03. Kebetulan Rafdi juga mengendarai Santa Cruz Bullit warna hitam. Sempat sesekali gue mendahuluinya, bukan karena gue ngebut banget .. bukan .. sama sekali bukan… itu mungkin karena Rafdi memperlambat laju sepedanya hihihihihi.

Pada sebuah persimpangan gue regroup dengan beberapa rider yang sedang menunggu anggota lainnya. Guepun memutuskan untuk berhenti karena gue belum melihat om Anto di sekitar situ. Hampir lebih dari 30 menit kami menunggu sambil berbasah-basahan bermain air hujan namun yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Seluruh peserta rombongan kecuali om Anto sudah tiba di persimpangan ini. Pasti telah terjadi sesuatu atas diri om Anto. Semoga hanya sekedar trouble pada sepedahnya yang membuat yang bersangkutan belum juga menampakkan diri. Setelah hampir 45 menit menunggu barulah dari kejauhan terlihat om Anto mendatangi rombongan. Menurut pengankuannya dia salah mengambil jalan diawal-awal memasuki spot off-road.

LemahPutih6

Etape berikutnya adalah manakala kami tiba pada sebuah spot yang tidak ada pilihan lain kecuali dengan mendorong sepeda untuk melaluinya. Sepertinya kami akan menuju puncak bukit kecil dimana menurut beberapa marshall ada lokasi untuk membuat photo PreWed diatas sana. Jalur sesudah puncak bukit kecil ini jalur menurun dan jaraknya lumayan panjang dan sedikit tehnikal dengan tikungan tajamnya. Namun sayang sekali hujan yang tadi sempat mengguyur membuat permukaan tanah berubah di beberapa area menjadi lumpur dan menempel erat disekitar permukaan ban yang membuat sepeda sama-sekali tidak dapat di gowes. Andai saja hari ini hujan tidak turun bisa dipastikan betapa maknyusnya menuruni bukit tadi.

Penutup

Apapun jenis suspensi yang ada pada sepeda yang kita gunakan, seenteng apapun sepeda yang kita bawa tidak akan banyak menolong saat melintasi area dengan tanah becek tadi hihihihihihi. Namun yang pasti itu semua tidak mengurangi keceriaan saat kami semua membersihkan sepeda secara masal pada sebuah tempat penyucian motor tidak seberapa jauh menjelang tempat kami memarkirkan kendaraan di Wado. Bukan hanya sepeda, para ridernyapun saling menyemprotkan air ke seluruh permukaan jersey dan celana membersihkan cipratan lumpur.

Hasil Rarat Race 2014 seri pertama adalah sebagai berikut :

NAME        POINT. BICYCLE
1.Demang  9.             Adrenaline FR
2.Wilman  8.             Spez Sx Trail
3.Cecep.    6.             Mongoose *
4.Aris.       5.             Kona Stinky
4.Didik.    5.             Giant Reign
4.Sadeli.   5.             Giant SX
5.Zul.         4.             Transition Covert
6.Adhe      2.             Transition BottleRocket
7.Henry.  1.             Spez *

Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk semua marshal dari Sumedang dan juga Wado yang telah dengan sabarnya menunggu peserta rombongan. Juga untuk mentemen Roger Bagen yang telah mengizinkan saya dan tiga orang teman ikut serta trip kali ini.

 

Cheers, Cikarang, 6 Feb 2014

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)


One comment


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s