Danau Toba With Its Stunning View, From a Tourist and also MTB-er Perspective

Prolog 

Usaha gue mencari dan mencoba jalur sepeda terbaik di negeri ini kembali membawa gue jauh keluar dari area Cikarang tempat dimana gue tinggal. Untuk tahun 2014 trip ini juga merupakan acara jalan-jalan sekaligus bersepeda pertama gue keluar pulau Jawa. Danau Toba, ya siapa yang tidak pernah mendengar ataupun melihat keindahan danau vulkanik terbesar di dunia yang terletak 170-an km dari kota Medan ini melalui foto yang banyak beredar di internet ataupun media lainnya. Untuk trip ke Danau Toba ini kembali gue bergabung dengan DeGiels, my ride buddies yang sama saat gue menikmati trip bersepeda di Pulau Bali  medio Februari tahun lalu.

 

How To Get There

Tugas mencari tiket promo, menghubungi kontak di Medan yang sekaligus akan bertugas menjadi marshal saat bersepeda, mengumpulkan uang patungan dan mengatur pengeluaran disambut dengan senang hati dan diselesaikan dengan sempurna oleh sang EO om Cheppy. Hasil hunting tiket promo semenjak awal Januari 2014 berbuah tiket PP seharga 1.658 juta net. Not bad at all karena saat om Irawan membeli tambahan tiket penerbangan yang sama untuk istrinya pada ahir Februari harganya sudah melambung jauh mendekati angka 2,5 jutaan.

Urusan transportasi mulai dari bandara, Danau Toba, loading saat bersepeda hingga kembali ke bandara, akomodasi selama tinggal di Danau Toba akan dihandle oleh sang marshal. It really makes our life much easier doesnt it?  Upppsssss but it cost you quite expensive hehehehehe. Setelah dibagi dengan jumlah 10 rider peserta trip, setiap orang patungan 1.8 juta. Kalau bicara nominal, untuk gue pribadi biaya sebesar tersebut termasuk ketegori lumayan mahal. Tapi at the end mahal atau murah sebenarnya sih relatif juga ya, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Karena gue mengajak serta istri (tapi gak ikut gowes) maka ada tambahan biaya yang  juga harus gue bayarkan🙂

I do hate first flight, Citilink yang akan membawa kami ke bandara Kualanamu dijadwalkan terbang pada pukul 05.55 pagi. Ini berarti gue sudah harus meninggalkan rumah paling telat sekitar pukul 03.00 hiks hiks. Biar lebih irit, dari pada sewa mobil yang biasanya seharga sekitar 300 rb net untuk rute Cikarang – Bandara (total 600 ribu karena harus dikalikan 2 saat kembali ke rumah), gue memilih membawa mobil sendiri yang rencananya akan gue parkir inap di bandara. Hitung punya hitung biaya parkir gue perkirakan sekitar dibawah 160 ribuan.

 

North Sumatera Here We Come

Sebuah pertanyaan yang hingga kini sulit untuk gue temukan jawabannya, mengapa bandara Kualanamu yang berlokasi jauh dari di ibukota negara Jakarta bisa jauh lebih megah dibandingkan bandara Soekarno Hatta gerbang utama Indonesia? Bandara yang kabarnya menelan biaya pembuatan sebesar 5.8 trilyun ini memang baru beroperasi beberapa bulan yang lalu, bahkan baru diresmikan oleh Presiden SBY beberapa beberapa hari sebelum kami tiba disana. Namun gue yakin bukan karena masih baru ataupun Wow factor yang membuat bandara Kualanamu ini terlihat jauh lebih megah, lebih modern dan lebih rapih ketimbang bandara Soetta.

Ngaku dan jawab dengan jujur aja dech, apakah bandara Soetta punya sistem transportasi kereta yang terintegrasi dengan bandara? punya gak? lah wong kabarnya moda tranportasi kereta bandara Soetta baru sampai tahap pembebesan lahan kok hehehehehehe. 1-0.  Belum lagi membicarkan betapa nyaman dan bersihnya kereta yang akan membawa kita dari bandara Kualanamu ini ke pusat kota Medan selama hanya 37 menit. Jadi ceritanyanya walapun mobil minibus yang memang sudah bagian dari paket gowes telah tiba menjemput kami di bandara, namun kami memutuskan rela mengeluarkan tambahan biaya sebesar Rp 62.500 (untuk pembelian kelipatan 4 buah tiket) untuk mengalahkan rasa penasaran kami mencoba kereta ini.

IMG-20140329-WA0008r

 

Menurut rencana kami baru akan melanjutkan perjalanan ke Danau Toba sekitar pukul 3 sore jadi kami masih punya cukup banyak waktu untuk city tour dan menyicipi beberapa jenis kuliner di kota Medan. Dengan menggunakan minibus yang menjemput kami di stasiun ARS Medan dimulailah acara piknik.  Pitstop pertama kami adalah RM Sinar Pagi untuk menyicipi soto dan sop sebagai menu makan siang. Sop santan daging-nya in my opinion tidak terlalu berbeda dengan sop daging Betawi yang banyak dijual di Manggarai Jakarta. Setelah puas mengisi perut dan ketawa ketiwi kami melanjutkan jalur sutera kulineran di Medan dengan mengunjungi pitstop berikutnya yakni duren Ucok hmmmmmmm yummie … Tapi sayang gue cuma bisa ngiler karena memang gue sudah lumayan lama menghindar dari duren ini.

Setelah perut kenyang  diisi soto lalu disambung dengan desert duren, apalagi yang lebih indah  kalau tidak disambung dengan secangkir kopi sambil kongkow-kongkow di kedai kopi dan es krim Tip Top. Sebuah restaurant yang sudah ada sejak tahun 1929 (itu juga menurut menurut foto yang tergantung di dinding lho hehehehe).  Sambil menunggu pesanan kopi dihidangkan gue bergegas menemani istri berjalan menuju seberang kedai kopi. Disana banyak berjejer toko yang menjual aneka barang textile baik itu berupa kerudung, bahan kebaya, ulos dan sebagainya. Shalat Zhuhur sekaligus dijama dengan Ashar kami lakukan di Mesjid Arab, sebutan untuk sebuah mesjid Al-Massawa yang lokasinya tidak jauh di belakang kedai Tip Top ini.

1505195_10203463919866434_749757505_nr

 

 

It’s Riding Time Baby

No .. No .. We’re not going to ride our bike yet. Walaupun agak sedikit telat karena matahari sudah hampir tenggelam saat kami tiba di jalan menanjak yang meliuk-liuk menuju desa Tongging lokasi dimana hotel tempat kami akan menginap. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali gue mendengar gejala penyakit woooow .. woooow ataupun decak kagum dari hampir seluruh peserta rombongan saat melihat Danau Toba dari dalam minibis.

Hotel Anugrah tempat kami menginap lokasinya benar-benar persis di tepi Danau Toba. Tidak seperti wilayah lain yang berada pada ketinggian ataupun lembah, suhu udara pelataran hotel disisi Danau Toba ini tidak terlalu dingin. Terlepas dari suasana hiruk-pikuk yang keluar dari musik yang mengiringi tamu hotel yang sedang berkaraoke, sisa-sisa ekor mentari yang nyaris tenggelam di balik bukit di seberang danau masih menyapa ramah rombongan kami. Hmmmmm sungguh romantis memandangi kilauan air Danau Toba ini. Gak percuma gue mengajak serta istri untuk trip kali ini.  lhooo????? hihihihihii

 

IMG_20140330_062825rr

Peserta rombongan yang membawa istri mendapat kehormatan menempati kamar di lantai bawah sementara yang lain harus rela naik turun tangga karena mereka mendapatkan kamar di lantai dua. Sebuah catatan kecil sekaligus pengalaman pertama yang menurut gue cukup unik sekaligus lucu. Saat memasuki kamar hotel dan hendak menyalakan AC namun remote AC tidak juga gue temukan. Seorang room boy yang gue tanya lokasi tempat penyimpanan remote AC mengatakan bahwa harga kamar hotel yang gue telah bayar memang belum termasuk fasilitas AC makanya remote AC hanya akan diberikan jika gue bersedia membayar tambahan biaya sebesar Rp 75,000 per hari. Mendapat penjelasan seperti ini cuma membuat gue menggerutu sekaligus tersenyum dalam hati.

Jika sebelumnya kami sudah menyicipi duren Ucok yang (katanya) rasanya mantaf, maka malam ini kami pesta duren Brastagi yang (katanya) rasanya jauuuuuuuuh lebih mantaf dari duren Ucok tadi. Hihihihihi maklumlaah kan gue gak ikutan makan duren. Tapi dari ekspresi dan gesture dari temen-teman yang ikut pesta duren malam ini gue pretty sure bahwa duren Brastagi yang mereka nikmati memang benar-benar maknyuuuus

 

The Trail – Day 1

Menu sarapan berupa nasi goreng, telur mata sapi dan segelas teh manis hangat dengan cepat berpindah tempat masuk ke dalam perut. Hari ini menurut rencana kami akan gowes dua stage. Perjalanan menuju titik start stage pertama memakan waktu tidak lebih dari satu jam. Seluruh peserta rombongan terlihat sangat exited memulai pertualangan gowes di area Danau Toba ini. Om Iqbal sang marshal sepertinya juga dengan sengaja memberikan pemanasan kepada kami dengan gowes ringan dengan rute yang salah. Sehingga single track menurun yang sudah kami lalu tadi harus kami ulang dengan kembali balik arah. Lumayan gowes pemanasan sepanjang 2.5 km hahahahahaha. Nice try bro ….

Penyakit aneh berupa sering keluarnya suara woooww .. wooowww kembali menyerang anggota rombongan di pagi ini. Tidak membutuhkan waktu yang lama gowes menikmati jalur sedikit rolling ini saat satu persatu anggota rombongan mulai terjangkit penyakit tersebut. Permukaan jalur sudah berubah dari tanah gembur khas perbukitan menjadi bebatuan lepas sedari beberapa menit yang lalu. Sang marshal terhitung sudah dua kali melakukan pitstop untuk regroup dan memberikan waktu peserta rombongan untuk foto-foto narsis.

“Di depan sana masih ada beberapa spot yang lebih keren viewnya” ujar om Iqbal sambil mengajak untuk meneruskan perjalanan.

Mungkin ini hanya perasaan gue aja, namun sepertinya beberapa seri Rarat Race Roger Bagen yang gue ikuti sepanjang tahun 2014 membuat riding style dan nuansa race terbawa sampai trip Danau Toba ini. Gak bisa melihat om Iqbal mulai mengayuhkan pedalnya selepas beristirahat, langsung serta merta gue meluncur mengikutinya hehehehehehehe. Walaupun bukan single track yang merupakan favorit gue, namun jalur menurun disini main asik untuk dinikmati. Permukaan jalur makin lama berubah makin ganas dan liar dengan makin besarnya ukuran bebatuan yang menutupi permukaan jalur. Harus pandai-pandai memilih jalur jika tidak mau irama gowes kita terganggu.

1549424_10152154878853649_1628227586_n

 

Dari posisi gue berhenti dibawah ini, gue melihat satu persatu goweser yang tiba di spot ini mulai terserang kembali penyakit Woow Woow. Tanpa dikomando hampir semuanya berebut meminta tolong rekan disebelahnya untuk dibuatkan foto. Segala macam gaya dikeluarkan saat membuat foto narcis, mulai dengan hanya gaya standard bersedakep sampai dengan mengangkat dengan satu tangan sepeda FR yang beratnya gue tebak sekitar 17-18 kg hadeuuuuuh hihihihihihihi.

Tapi kalau boleh jujur, setengah terahir jalur SaribuDolog ini memang benar-benar jalur narcis. Pemandangan Danau Toba dengan bukit-bukit yang berdiri tegak mengelilinginya memang benar-benar menyuguhkan pemandangan yang indah. Mungkin inilah nilai plus utama dari gowes di Danau Toba ini. Andai saja sisa-sisa asap kiriman dari kebakaran hutan di Riau sana sudah benar-benar bersih, gue yakin view indah Danau Toba dibawah sana akan lebih terlihat spektakuler.

“Kita akan finish di dekat bangunan di bawah sana” jawab om Igbal saat mempersilahkan gue jika memang ingin duluan sampai di tempat finish. Saat itu kita sedang pitstop menunggu rombongan yang masih asik berfoto-foto ria diatas. Jauh dibawah sana memang terlihat dua buah bangunan seperti sebuah sekolahan tepat disisi danau. Atap dari bangunan tersebut masih terlihat kecil menandakan jarak yang lumayan jauh jika di hitung dari tempat kita pitstop. Bismillah saatnya kembali meneruskan perjalanan wuuuzzz wuuuuzzz wuuuuzzz

1972363_10203463933066764_2055755447_nr

 

Jam menunjukkan pukul sepuluh lebih sedikit saat gue tiba di titik finsih. Hmmmm berarti stage pertama jalur Saribudolog ini tidak lebih dari 1,5 jam. Itupun sudah termasuk ‘nyasar’ sepanjang 2.5 km dan juga beberapa kali pitstop untuk berfoto-foto ria. Padahal menurut om Iqbal perahu yang akan membawa kita kembali ke hotel di Tongging biasanya dijadwalkan baru akan tiba sekitar pukul 12. Okelah kita memanfaatkan waktu menunggu jemputan kapal dengan sediit berjemur agar kulit kita kelihatan sedikit hitam sekaligus ngobrol mengomentari jalur yang kita lalui tadi.

Menurut itinerary sesudah makan siang di hotel gowes stage kedua adalah jalur Puncak 2000 yang katanya lebih keren daripada track  DH di Simalem resort. Gue mengusulkan berhubung kita sudah jauh-jauh dari Jakarta mengapa gak sekalian mencoba track DH di Simalem resort juga. Menurut om Iqbal salah satu alasan mengapa kita tidak gowes kesana adalah belum lama ini ada pohon besar tumbang yang menutupi jalur. Ahirnya melalui telpon om Iqbal mendapatkan kabar dari kawannya bahwa ternyata pohon tumbang tersebut sudah disingkirkan, so stage kedua kita akan gowes kesana dan jika masih ada waktu akan dilanjutkan stage ketiga mencoba jalur Puncak 2000.

Jalur DH Simalem dimulai dari sebuah panggung kecil yang tidak terlalu tinggi  di puncak bukit yang bernama One Tree Hill. Untuk masuk ke dalam area resort Simalem harus membeli tiket sebesar 65 ribu per rider.Dinamakan demikian karena di puncak bukit yang berupa tanah lapang lumayan luas ini hanya terdapat sebuah pohon yang tumbuh (atau disisakan tumbuh??). Disini kembali penyakit woooow woooow menyerang kami semua. Pemandangan yang menakjubkan terhampar di depan sana menyajikan keindahan Danau Toba dari sisi yang lain.

Toba 30 Maret 2014 025r

 

 

Saat semua rombongan masih berjuang keras melawan penyakit wooow woooow iseng-iseng gue melakukan track walk bagin awal awal dari jalur DH ini. Sebuah turunan lurus lumayan curam langsung tersaji selepas start gate. Disambung dengan flat area tidak seberapa panjang yang langsung disambung dengan turunan tajam berbelok kearah kanan. Permukaan tanah berupa butiran bebatuan lepas dimana di tengah jalur turunan terdapat beberapa batang kayu yang sepertinya digunakan untuk menutupi area cerukan yang lumayan dalam. Walaupun sudah ditutupi batang kayu sepertinya bukan ide yang bagus jika memilih jalur tengah tadi. Mungkin lebih aman ambil sisi kiri lalu segera mengarahkan handlebar kekanan lumayan tajam dan bersiap masuk ke turunan berikutnya. Saat memasuki turunan ketiga sepertinya lebih aman mengambil jalur sisi kanan. Jika ingin maintain speed sebetulnya sisi tengah lebih enak *sotoy.com

Saatnya memulai trak DH ini. Namun karena faktor keamanan kami memutuskan memulainya dari flat area. Om Irawan dengan Mojo HD+Fork fox 180 dengan santai dan mulus melewati spot turunan kedua ini. Om Helmy dengan Commie AM warna biru juga tanpa kendala melewatinya. Apes menimpa Om Cheppy, saat gilirannya dia sedikit telat memindahkan berat badan sehingga arah sepeda terus lurus. Dengan sigap om Cheppy melepaskan sepeda dan menjatuhkan dirinya dengan sempurna. Gue yang mengantri berada tepat dibelakang om Cheppy langsung berubah pikiran .. Serreeeem Boo!!!!!

Jujur aja, mental gue tiba-tiba drop melihat kejadian tadi, gue dan beberapa rider lain memutuskan melewati jalur aspal menghindari turunan tadi untuk selanjutnya masuk lagi ke jalur DH di depan sana. Men who fight and run away, live to fight another day. Whuuuuuuu penonton kecewa … Hahahahahahaha

Toba 30 Maret 2014 029r

 

Jalur DH dilanjutkan dengan memasuki hutan lumayan lebat. Sebelumnya gue harus kembali menguji nyali untuk melewati turunan lumayan curam. Sepertinya jalur DH ini sudah tidak dipelihara dan jarang dilewati sepeda lagi. Walaupun permukaan jalur kadang nyaris tidak terlihat karena tertutu daun-daun yang luruh, namun di dalam hutan ini kami semua menemukan puncak kenikmatan bersepeda. Sebuah wallride lumayan tinggi juga masih berdiri kokoh di dalam sana. Seluruh anggota rombongan tidak ragu-ragu memuji keasikan jalur DH sepanjang 1.5 km dengan bonus akar-akar melintang yang sangat menantang favorit gue di dalam hutan ini .

“Ibarat multiple orgasme,’ timpal om Bayu mengomentari keasikan gowes di dalam hutan ini.

 

Toba 30 Maret 2014 033r

 

Sebuah roller-coster dengan sebuah jembatan kayu tepat berada pada area paling bawah melintasi sebuah sungai lumayan lebar dan lumayan dalam.  Untuk faktor keamanan permukaan jembatan kayu telah dilapisi dengan jaring kawat sehingga ban sepeda tetap mendapat traksi yang cukup saat melintasinya dengan kecepatan tinggi. Permukaan dari turunannya sendiri juga tidak terlalu rata, namun karena posisi jembatan tepat berada di tengah jalur, maka suka atau tidak suka gue memilih sisi tengah saat melewati turunan ini dari pada nanti nyelonong masuk ke kali hihihihihihi

 

Toba 30 Maret 2014 037r

 

Setelah menyelesaikan stage kedua, mungkin karena keterbatasan waktu pada ahirnya kami cuma gowes singkat dengan menu turunan panjang dengan permukaan jalan berupa konblok menuju taman burung sebagai hidangan stage ketiga kami di hari pertama ini. Acara kami lanjutkan dengan wisata kuliner dengan menyantap hidangan mie Aceh dan kopi di rumah makan Aneuk Ranto dan kembali berburu duren Brastagi Hahahahahahaha.

 

The Trail – Day 2

Hari ini kami akan mencoba gowes di track Simpang Bage – Tongging. To be honest nothing special dari jalur ini. Ada beberapa tanjakan lumayan pandang dan sepanjang perjalanan jalur berupa McAdam yang dengan kejamnya sering memberi bonus snike-bite bagi ban dalam milik siapa saja. Ban belakang Scott Voltage om Kemal dan Commie om Helmy sempat merasakan betapa kejamnya jalur ini.

1011620_10151997109730966_1252892142_nr

Bukan Danau Toba jika tidak menyajikan pemandangan yang indah dari sisi manapun kita memandangnya. Sambil istirahat mangatur nafas setelah menikmati tanjakan dengan TTB kini saatnya menikmati bonus keindahan alam ini. Jalur sepeda McAdam ini berahir di simpang jalan yang lokasinya persis sebelum hotel tempat kami menginap.

Toba 31 Maret 2014 001r

 

Penutup

Packing sepeda, mandi dan kami semua sudah siap checkout dari hotel pukul dua belas kurang sedikit. Jadwal penerbangan pesawat yang akan membawa kami adalah pukul 20.20 jadi kami nanti masih akan punya cukup banyak waktu untuk belanja oleh-oleh jajan khas Medan.

Special thanks untuk Degiels, Om Cheppy, Om Bayu, Om Kemal, Om Ari Satrya, Om Kemal, Om Irawan, Om Heriman, Om Imbang dan om Daniel, semoga gak kapok ngajak saya gowes bareng di trip berikutnya🙂

 

Cheers,

Cikarang, 4 April 2014

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s