Penuktukan & Sambirenteng, Another MTB Paradise in Bali

Prolog : Lupakan sejenak spot Jurassic Park dan spot-spot dengan view menakjubkan lainnya pada jalur Secret Track. Jika anda berkesempatan gowes di Pulau Bali tanyakan ke Marshall anda apakah paket gowes yang akan dinikmati rombongan anda juga termasuk gowes ke track Penutukan dan Sambirenteng. Jika jawabannya adalah tidak, maka hanya ada dua kemungkinan, No Offense …. kemungkinan pertama Marshall anda tidak percaya akan skill bersepeda anda dan rombongan anda. kemungkinan kedua, marshall anda juga belum pernah atau tidak terlalu faham dua track yang mempuyai titik start pada jalur yang sama ini. Kemungkinan pertama masih ada solusinya … silahkan kirimkan segera CV bersepeda terbaru milik anda dan milik semua peserta rombongan kepada sang Marshall dengan harapan tingkat kepercayaannya meningkat terhadap skill bersepeda anda sehingga beliau kan lebih merasa saat PD meng-guide yang pada ahirnya beliau juga akan yakin bahwa anda dan sepeda akan tiba di titik finish in one piece hihihihihihihihi. No no no .. sorry I’m just kidding.

Stage 1 – Penuktukan

Sekarang gue baru merasakan dan menemukan jawaban mengapa saat berkunjung gowes ke Bali tahun lalu rombongan kami dipilihkan hotel di sekitar Ubud. perjalanan dari Seminyak menuju start point terasa begituuuu lama. Pick Up yang hanya membawa tiga sepeda dan tiga rider berhenti di depan warung yang persis sama dengan saat gue mengunjungi Secret Track pada medio Februari 2013 lalu. Secret Track, Penuktukan dan Sambirenteng memang start pada titik yang sama di Penulisan. Awal dari trek Penuktukan dan Sambirenteng dimulai dari area offroad yang sama, jadi tehnisnya pada stage 1 kita akan mencoba Trek penuktukan terlebih dahulu, untuk mempersingkat waktu kami tidak akan finish di pantai namun cukup di pinggir jalan desa Penuktukan kemudian nanti kita akan loading kembali sampai di depan warung yang sama di Penulisan. Baru kemudian memulai trek Sambirenteng.

Karena sesuatu hal kali ini gue gak membawa sepeda milik gue sendiri dari Jakarta. Sebuah Spez Stumpy Epic with Brain (2012??) sewaan kali ini akan menemani acara gowes gue pada 27 Apr 2014 lalu.

” Hmmmmm sebuah sepeda fullsus yang lumayan ringan,” gumam gue dalam hati ketika pertama kali mencoba menaiki sepeda ini.

Dengan spek rearwheel travel 100mm, fork RS Reba RL 100mm, stem 75mm, handlebar flatbar 680mm, headangle 70 deg, ban depan super slick S-Work Fast Trak 2.0″, ban belakang fast rolling Spez Renegade Control 1.9″. Wooooow sepertinya memang sebuah sepeda XC race yang sama sekali gak proper untuk trek Penuktukan yang kabarnya banyak terdapat spot yang technical hihihihihi. Tapi masih tetap sukur Alhamdulillah masih bisa diberi kesempatan gowes di pulau Bali. Just let’s see what this bike can offer at the penuktukan trail.

rps20140429_114617

Area offroad pertama yang kami masuki sesudah melewati jalan aspal sudah terlihat sangat menjanjikan, sebuah singletrack dengan permukaan tanah yang sempurna. Entah kenapa ya … saat memulai gowes maka yang pertama gue perhatikan memang selalu permukaan jalurnya. Mungkin kalau boleh dianalogikan tidak terlalu beda dengan kebanyakan para cowo yang jika melihat wanita selalu dimulai dari betisnya ….uppppsssss.

Menurut pengalaman dari kunjungan tahun lalu, keistimewaan dari karakter bukit penulisan adalah diawal-awal jalur dimana ketinggian masih ada di level 1600-1700-an mdpl jikapun turun hujan makan tidak akan membuatnya menjadi ‘keramik’ yang sangat licin, namun tanah basah disana tetap memberikan traksi yang cukup bagi ban sepeda kita dengan asumsi semuanya juga tergantung dari tipe ban yang kita pakai.

Penuktukan 27 April 2014 001r

Agak-agak lupa gue pernah dengar atau membaca dimana, tapi yang pasti saat itu salah seorang senior MTB Indonesia pernah menceritakan sebuah joke bahwa konsumen yang membeli sepeda Stumpy Epic Brain ini biasanya menyesal dan merasa tertipu karena maksud hati membeli sebuah fullsus tapi yang didapat justru sebuah hardtail wakakakakaka. Impresi pertama gue menggunakan sepeda dengan tehnologi gabungan suspensi FSR + Brain ini selama 20 menitan memang mengatakan demikian.

Walaupun jalur ini sebenarnya berkarakter sangat cocok untuk high speed tapi gue tetap berusaha untuk menjaga kecepatan untuk tidak terlalu cepat tidak pula terlalu lambat. Maklumlah mungkin karena gue sudah terbiasa menggunakan handlebar 750mm dan stem pendek, sehingga saat gue harus menggunakan sepeda dengan handlebar 680mm dan stem 75mm perasaan sepeda ini jadi kurang stabil apabila dibawa sedikit ngebut. Ketambahan pula masih dalam suasana adaptasi dengan tehnologi mutahir yang ada pada Stumpy Epic ini. Walaupun settingan rearshock dan ‘Brain’ sudah gue set ke posisi aktif namun sepeda ini masih benar-benar terasa seperti hardtail hihihihihi. Mungkin karena sepanjang jalur yang gue lewati tadi belum ada gundukan sehingga si ‘Brain’ tadi memberikan instruksi kepada suspensi untuk tetap firm, mungkin lho ya … imho.

Penuktukan 27 April 2014 008r

Sebelum keberangkatan gue ke Bali ada dua hal yang gue catat dari rekan-rekan Degiels yang sudah mengunjungi jalur Penuktukan beberapa waktu yang lalu, yakni yang pertama bahwa jari kita akan dibuat lelah karena harus banyak nge-rem sampai-sampai tercium bau hangus akibat brakepad yang sering beradu dengan rotor. Dan yang kedua  jangan menggunakan jersey yang mahal karena akan sobek-sobek tersangkut dahan yang tumbuh di sepanjang jalur. So far catatan yang pertama belum terbukti. Kedua jari manis gue masih duduk manis menggenggam handgrip. Walaupun jalur yang awalnya lurus mellow lama kelamaan telah mulai berubah karakter menjadi banyak tikungan tajam yang sangat mengasikkan namun aktifitas braking masih dalam taraf normal.

Catatan kedua tentang banyaknya dahan ataupun ranting pohon yang tumbuh di sebagian jalur ternyata memang benar adanya. Entah sudah berapa kali pipi gue yang sama sekali gak chubby ini tergores oleh dahan-dahan tadi. Ahirnya gue menemukan jawaban mengapa Om Agus Jalu aka Bli Suka yang mengendarai Spez SX Trail sudah sedari tadi menutupi mukanya dengan balaclava. Dan hal bodoh yang gue lakaukan adalah gue lupa kalau di leher gue sedari tadi sudah menempel Buff KW3 yang bisa difungsikan juga sebagai balaclava hihihihihihi.

Penuktukan 27 April 2014 015r

Terkadang pandangan gue blank selama  satu atau dua detik manakala dahan lumayan lebat yang tumbuh di kiri-kanan jalur ataupun melintang menghalagi jalur pas setinggi kepala. Sesuatu yang cukup berbahaya, namun mau bagaimana lagi?? kalau setiap rintangaan gue harus menghentikan sepeda berarti itu sama saja gue harus sering TTB sepanjang jalan karena begitu banyaknya dahan-dahan seperti jalur ini. Ada satu pengecualian saat kita terpaksa harus berhenti karena terhalang oleh dahan dengan ukuran lumayan besar yang melintang dengan sangat tidak sopan di tengah jalur. Andai dipaksakan terus gowes tanpa berhenti dikhawatirkan dahan tadi akan pas menancap di muka kita.

Penuktukan 27 April 2014 016r

Hujan sudah menguyur lumayan lebat area ini sedari tadi dan raincoat juga sudah gue kenakan. Beberapa kali terdengar suara lengkingan yang keluar dari brakeset saat gue mengurangi kecepatan sepeda menjelang switchback. Makin lama turunan pada jalur Penutuktukan ini makin tidak sopan dan Stumpy Epic ini sepertinya memang benar-benar tidak didesain untuk menghandle jalur seperti ini hihihihihi. Gak bermaksud menyalahkan sepeda dan geometrinya sih, tapi apa yang bisa anda harapkan dari sepeda dengan headangle super tegak 70 derajat plus fork dengan travel 100mm saat melewati turunan curam seperti ini????

Karakter permukaan jalur juga sudah berubah menjadi bebatuan lepas. Menurut om Ngurah bebatuan lepas yang ada di jalur ini asli pemberian alam. Lengkap sudah ‘penderitaan’ gue hari ini hihihihihi. Sudah tidak terhitung berapa kali kepala ini hampir over the bar saat menuruni turunan disana.  Mungkin dengan ukuran lebar ban yang 2.35 saja jika tipe ban yang digunakan adalah super ataupun medium slick akan sangat tidak cocok digunakan di jalur ini. Dan hari ini gue menggunakan sepeda dengan ban depan S-Work Fast Trak 2.0 inch dan ban belakang Spez Renegade Control 1.9 inch. Silahkan googling karakter dan peruntukan ban jenis ini hihihihihi. Untuk ilmu dirtleight gue sudah mencapai taraf lumayan mumpuni jadi ‘cuma’ 2x handlebar menabrak batang pohon akibat gerakan sepeda menjadi liar. Upsss btw please jangan dicari di kamus online arti kata dirtleight ya …..  ini cuma istilah bodor-bodoran di Roger Bagen hihihihi.

Penuktukan 27 April 2014 022r

Jalur bebatuan ganas tadi ahirnya memakan korban, ban belakang sepeda Bli Suka terpaksa harus ditambal. Perjalanan masih menyisakan beberapa kilometer lagi dari total sekitar 15 km panjang jalur Penuktukan ini. Dan karakter dari ‘Brain’ ini lumayan menyebalkan. Apabila kita break lalu melanjutkan perjalanan kembali maka suspensinya tidak langsung aktif kembali secara spontan walaupun saat itu gue sudah harus berjibaku kembali dengan turunan dengan permukaan tanah masih berupa bebatuan. Jadi untuk beberapa puluh meter sepeda ini kembali terasa seperti hardtail wakakakakakaka.

Menjelang ahir terdapat sebuah turunan tangga yang lumayan panjang dengan jarak antar anak tangga lumayan tinggi dan lebar. Gue berhenti sejenak menarik nafas dan sekedar menurunkan adrenalin sambil mengukur kemampuan diri dan sepeda terhadap turunan ini. Tidak berapa lama om Ngurah juga tiba di spot ini dan dengan santainya Nomad keluaran lawas yang dikendarainya menuruni trap anak tangga tersebut.

“Hmmmmmm dia sih enaaaak pakai Nomad dan fork fox 160mm… lah gue????” Gumam gue iri dalam hati

Logika gue mengatakan tiga anak tangga pertama ini sangat gak sopan dan gue tahu diri atas batas kemampuan sepeda (dan juga nyali gue yang pas-pasan hihihihihi). So at this time TTB is the right option and it’s not a crime anyway🙂. Have I mentioned this bike has only 100mm rear travel??? Pada anak tangga ke-4 barulah gue mulai lagi mengendarai Stumpy Epic ini.

Penuktukan 27 April 2014 024r

Sesaat setelah menuruni spot anak tangga tadi gue perhatikan posisi cincin karet 0-ring yang menempel di stanction fork RS Reba ini. Ahhh ternyata belum sampai bottom-out kok .. masih sisa kurang lebih 10 mm hahahahahahaha.

Dengan gaya gowes yang tidak terlalu agresif jalur Penuktukan kita tempuh dengan waktu kurang lebih 1,5 jam. Setibanya di titik finish tanpa buang-buang waktu lagi kami segera loading menuju tempat yang sama warung di Penulisan.

 

Stage  2 – Sambirenteng

Sehabis menyantap mie instant cup dan bakso di warung Penulisan kami segera meluncur menuruni jalan aspal menuju area offroad. Yang membedakan antara jalur Sambirenteng dan Penuktukan adalah sebuah persimpangan yang terdapat tidak terlalu jauh dari area offroad di awal jalur. Jalur Sambirenteng mengambil arah ke kanan. Tidak terlalu lama selepas persimpangan tadi jalur Sambirenteng langsung menunjukkan karakter aslinya. 100% turunan sampai titik finish !!!

Permukaan jalur berupa berupa batuan lepas hingga nyaris sampai titik finish plus terdapat banyak sekali tikungan. Dibutuhkan tehnik mengerem yang pas antara porsi rem belakang dan rem depan. Salah satu tantangan pada jalur ini adalah bagaimana menurunkan kecepanan sepeda pada permukaan jalur yang berupa bebatuan lepas tanpa membuat ban kehilangan traksi dan sepeda tepat memasuki tikungaan dengan kecepatan yang kita inginkan.

Tantangan berikutnya adalah, anda harus melakukan hal tersebut berpuluh-puluh kali karena disana memang terdapat banyaaaaak sekali tikungan. Mulai dari yang berjenis tikungan nyaris berbentuk huruf U sampai jenis tikungan tidak terlalu patah dengan jalur lumayan lebar namun disisi luar dan dalam dipenuhi bebatuan lepas.

Terus terang gue bukan pecinta mati turunan dan inilah kali pertama gue gowes di jalur menurun yang justru membuat gue kelelahan. Lelah fisik pada jemari karena harus sering nge-rem dan lelah pada bagian paha karena harus menekan sepeda agar mendapatkan tambahan sedikit traksi. kelelahan lainnya adalah lelah batin memikirkan mengapa turunan ini tidak ada habis-habisnya wkakakakakakaka

 

Penutup : Special thank goes to om Ngurah dan om Agus Jalu aka Bli Suka yang sudah bersedia menjemput gue di hotel, menemani gue menikmati sorga lain MTB di pulau Bali ini hingga mengantarkan gue ke bandara. Plus oleh-oleh kopi asli Bali hasil pengolahan dari perkebunan kopi pribadi yang rasanya sangat maknyus. You are the best man !!!

 

Cheers,

Cikarang, 30 April 2014

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s