Having a Lot of Fun at Citando Forest

Prolog 

Sekitar ahir November 2013 rekan-rekan goweser dari Roger Bagen Bekasi merilis undangan gowes yang benar-benar susah untuk tidak dihiraukan. Iklan yang beredar mengatakan bahwa trek yang akan dilewati adalah sebuah turunan panjang yang berada di dalam hutan tropis di daerah Pengalengan dimana pepohonan lebat akan ditemui sepanjang perjalanan. Namun sangat disayangkan dari itinerary ternyata rombongan sudah harus mulai gowes jam 07.00 pagi dimana hal tersebuat membuat rombongan harus berangkat pada malam hari sebelumnya. Masalah klasik yang gue dan weekend warrior lainnya harus hadapi, yakni visa izin gowes yang kami miliki hanya berlaku untuk hari yang sama terhitung  mulai dari meninggalkan rumah untuk gowes sampai kembali lagi ke rumah. Pada ahirnya saat itu gue cuma bisa gigit jari gak bisa turut serta gowes ke Citando.

Butuh waktu 6 bulan sampai ahirnya kesempatan gowes ke Citando kembali datang, 10 Mei 2014 lalu undangan gowes mencoba jalur hutan Citando datang dari temen-teman Degiels. Gue tetap konsukuen gak bisa berangkat pada malam hari sebelumnya seperti peserta rombongan lainnya, melainkan gue mencoba berangkat dari rumah di Cikarang pada pukul 04.00 pagi.  Kondisi jalan tol Cipularang yang relatif masih lowong sangat membantu kelancaran perjalanan gue menuju Pengalengan. Teman-teman Degiels sedang menyelesaikan sarapan saat gue tiba di hotel tempat mereka menginap pada sekitar pukul 06.45. Kesempatan emas untuk ikut mengisi perut yang memang sudah mulai terasa keroncongan.

Kang Abuy, Kang Wawan beserta pickup yang akan mengangkut kita selama acara gowes hari ini juga sudah siap parkir di depan hotel. Kang Abuy yang berperawakan stereg aka kekar menyapa ramah saat melihat jersey Roger Bagen yang gue kenakan pagi itu, Kang Wawan juga banyak bercerita dan menunjukkan beberapa foto  beberapa jalur MTB bergenre AM lainnya yang sangat menantang  di sekitaran Pengalengan.

 

The Trails

Karena sesuatu hal (sejujur-jujurnya sih banyaaak hal hihihihihih) pickup yang membawa sepeda dan goweser baru bisa tiba di depan area geothermal Wayang Windu pada pukul 10.30 kurang sedikit dan mulai start gowes nyaris pukul 11.30. Kalau tahu bakal mulai gowes jam segini sih sepertinya gue gak perlu bersusah payah berangkat dari Cikarang sebelum subuh dech🙂

Jalan tanah dengan permukaan batu kali di sela-sela pepohonan teh menjadi menu pembangkit selera disambung dengan doubletrack dengan rerumputan lumayan tebal. Andai jalurnya dapat terlihat jelas seharusnya di spot ini sepeda dapat kita pacu dengan kencang. Harus sedikit hati-hati kala jalur terkadang seperti hilang tertutup rumput. Gue pribadi prefer stick dengan jalur yang ada di depan mata walaunpun disisi kanan jalur tanah terliat lebih jelas. Menurut pengalaman sih dengan kecepatan seperti ini dan berpindah ke jalur sebelah akan lebih beresiko karena terkadang typical doubletrack seperti ini akan ada beda ketinggian pada bidang tengah diantara dua jalur tanah dan malah terkadang terdapat lobang yang tidak terlihat yang pastinya akan membuat roda sepeda menjadi oleh saat kita hendak berpindah jalur.

Kecelakaan kecil menimpa om Izal, walaupun dia sudah menggunakan help fullface masih saja ada patahan ranting pohon teh kering yang kangen ingin menyentuhnya walhasil sedikit meninggalkan bekas pada ujung hidungnya hihihihihi..

“Bro… broo… keknya setiap gowes bareng gue selalu ajaaaa dapat kenang-kenangan hihihihi” ujar gue saat kita regroup untuk membersihkan lukanya.

Oh ya teman gowes gue hari ini dari Degiels ada om Cheppy, om Bayu, om Aji, om Fajar kemudian ada om Ucok yang telah berbaik hari meng-arrange trip kali ini dan juga om Izal bekas temen SMA gue. Om Ucok yang sebelumnya memang sudah pernah gowes ke Citando terlihat masih hafal jalur dan PD saat kita memasuki kembali sela-sela perkebunan teh PTPN VIII Kertamanah ini.

882136_10202811090290659_4899183917052578788_o_r

Hidangan pembuka area offroad kebun teh tadi relatif tidak terlalu panjang, saat ini kami sudah ada dai jalan aspal dimana pipa gas berdiameter lumayan besar berlapis alumunium seperti sedang duduk tenang memandangi kami yang sedang gowes di jalan yang sedikit menanjak ini. Lumayan cyyn nanjak di tengah hari bolong seperti ini dengan Santa Cruz Bullit yang beratnya seperti sofa dua dudukan wkakakakakaka.

Menurut rencana kami akan regroup untuk beristirahat di Pasir Junghun sambil menunggu pickup yang akan menjemput dan selanjutnya akan membawa kami ke desa terahir sebelum memasuki kawasan hutan Citando, mem-by-pass jalanan McAdam menanjak yang sudah barang tentu sangat tidak menarik hati untuk dilewati dengan menggowes di siang hari seterik ini (padahal sih memang nggak kuat nanjak hihihihihi)

Gue kurang tahu apa nama kampung atau desa terahir sebelum memasuki area hutan Citando ini. Hanya terlihat beberapa rumah di depan pickup kami yang sedang menurunkan sepeda. Beberapa petani terlihat sedang menimbang buah kol kemudian dinaikkan keatas sebuah pick-up. Udara dingin yang berhembus main membuat suasana makin terasa damai terasa di area ini.

Area hutan Citando sendiri masih berada lumayan jauh diatas desa ini. Kalau saat trip gowes Mayday 1 Mei lalu ke pos pendakian Gn Putri di kaki Gn Panggrango kami dibantu oleh warga sekitar yang menawarkan jasanya untuk membawakan sepeda, maka disini gue tidak melihat tanda-tanda hal yang sama. Para penduduk disini lebih tertarik mengurusi hasil panen perkebunan miliknya ketimbang mendapatkan tambahan uang dari jasa membawakan sepeda kami.

1618262_10202811342496964_2256195887836292524_o_r

Walapun menurut informasi dari supir pickup yang membawa kami dari Pasir Junghun bahwa di Pengalengan dan sekitarnya sudah hampir 4 hari tidak turun hujan namun sepertinya tidak demikian halnya di area Citando ini. Jam menunjukan pukul 13.47 menit saat gue mulai mendorong sepeda melewati pickup tadi. Kalau menurut info dari kang Wawan biasanya dibutuhkan waktu +/- 4 jam untuk sampai di titik finish dengan ritme santai. Sedangkan kalau membaca trip report Kang Aris Roger Bagen, rombongan Rarat Race membutuhkan waktu 1,5 jam untuk menyelesaikan trip hutan Citando ini.

Acara mendorong sepeda menjadi tidak nyaman manakala harus melewati area jalan yang sedikit becek. Di beberapa spot malah terlihat jalur air yang lumayan dalam ciri-ciri kalau area ini pernah dilewati motor. Dan memang kalau tidak salah hitung sudah 3x kami berpapasan dengan motor yang digunakan penduduk membawa pupuk ataupun potongan rumput dari arah atas sana.

Jujur aja gue merasakan perasaan yang jauh berbeda saat berpapasan dengan mereka dibanding dengan saat berpapasan dengan rombongan motor cross seperti halnya yang sering kita temui di jalur Palasari Bandung Timur. Disini ban motor yang digunakan penduduk telah diikat dengan seutas rantai yang tentunya memang mereka perlukan untuk dapat melewati area licin seperti disini yang notabene makin membuat gerusan jalur air pada permukaan jalan makin dalam. Namun itu semuakan konsekuensi logis dari proses mereka mencari nafkah. No offense nih ya … sedangkan para pengendara motor cross jelas-jelas mereka merusak jalan demi hanya untuk kesenangan mereka pribadi.

Citando 006r

Wajah lelah dan sedikit frustasi akibat jalur yang becek yang kami baru lalui tadi terlihat jelas terpancar dari beberapa peserta rombongan kami. Gue pribadi sih masih santai aja menikmati suguhan jalan becek seperti ini toh ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yang harus gue lewati saat trip Cidaun dimana kami harus melewati jalur yang lebih bengis dari apa yang ada di bagian awal hutan Citando ini. dan saat itu kami melaluinya dalam kegelapan karena sinar matahari sudah hilang beberapa jam sebelumnya. Saat mendorong sepeda gue coba berhitung berapa waktu yang akan dilalui rombongan kami jika ternyata kondisi jalur masih seperti ini mendominasi jalur hutan Citando ini.

Syukur Alhamdulillah ternyata jalur becek aka belok tadi hanya terdapat sampai di tanjakan terahir. Dari pengamatan sekilas jalur di depan sana sudah tidak terlalu becek dan yang pasti akan full turunan .. hmmmm yummieeeeeeeee. Kang Wawan mempersilahkan gue dan rombongan melanjutkan perjalanan dengan dipandu oleh Kang Abuy.

Turunan pertama sesudah tanjakan terahir tadi sudah memberikan indikasi bahwa mulai dari titik ini sepertinya jalur akan sangat menjanjikan. Terlihat area sekitar seperti belum lama dibuka. Sisa ujung dari batang pohon sehabis dipotong masih tersembul terlihat diatas permukaan tanah. Sepeda tinggal diarahkan mengikut arah manapun yang diambil oleh Kang Abuy. Di ujung turunan sana terlihat dua buah atap rumah berukuran tidak terlalu besar. Gak begitu jelas apakah rumah tersebut benar-benar dihuni oleh penduduk ataukah hanya berupa tempat istirahat sementara milik warga desa terahir tadi yang sedang mengolah ladang di sekitar sini.

Woooow ternyata salah satu diantara rumah tersebut adalah sebuah warung. Kang Abuy menyapa ramah pemilik warung yang baru saja kembali sehabis mencuci gelas di pancuran dibawah sana. Jalur menurun selepas warung tadi kembali menawarkan siapa saja yang mau memacu sepedanya dengan full speed. Kombinasi antara jalur lurus dan sedikit zig-zag sehingga terasa tidak terlalu mellow dan lumayan tidak monoton.

Walaupun tidak bisa dibilang lebat namun makin lama suasana sebuah hutan makin terasa . Sinar matahari pukul setengah tiga-an bahkan masih terasa menyengat tanpa secara sempurna terrhalangi oleh rimbunnya pepohonnan sebagaimana layaknya sebuah hutan tropis seperti misalnya yang gue temui saat trip gowes di jalur DH Simalem Danau Toba. Namun demikian sajian akar yang gue temui sepanjang jalur saat berusaha memperpendek jarak dengan Kang Abuy di depan sana benar-benar memaksa tingkat kreativitas gue dalam memilih jalur ke level tertinggi.

Pada sebuah area flat lumayan lebar Kang Abuy memutuskan untuk istirahat sejenak menurunkan adrenalin sambil menunggu rombongan yang lumayan jauh tertinggal dibelakang. Ahirnya satu demi satu rombongan Degiels tiba di tempat kami beristirahat dengan ekspresi laksana sehabis mendapatkan multiple orgasme Upppssssssss wakakakakakaka.

Citando 015r

Jalur sesudah spot tempat kami beristirahat tadi menurut gue pribadi sangat menantang karena memang sangat technical. Segera gue geser tuas shifer depan dan belakang ke posisi chainring kecil- sprocket kecil sebagai posisi default dengan kombinasi gear belakang kadang gue pindahkan ke sproket 3 atau 4 dari paling kecil sesuai kebutuhan dan kondisi jalur. Di awal langsung tersaji mini rock garden dengan jalur yang lumayan sempit disambung dengan drop-drop alami nan imut. Tidak banyak kesempatan untuk memilih racing-line disini. Sebuah spot yang sangat sempurna untuk mengetes kehandalan sistem suspensi sepeda. Makanya gue sangat respect untuk para marshall yang menggunakan hardtail di trek Citando ini.

Seingat gue ada dua atau tiga yang harus gue lalui (proudly) dengan TTB huehehehehe… Habis mau gimana lagi, skill dan nyali pas-pasan yang gue miliki mengirimkan sinyal ke otak yang kemudian diteruskan ke kaki untuk segera turun dari saddle dan mulai melangkah menuntun sepeda menuruni turunan yang sebenarnya tidak terlalu panjang namun curam. Yang masih lumayan gue ingat ada sebuah drop dengan kombinasi turunan yang benar-benar enggak sopan. Disisi kanan hanya tersisa sebidang tanah yang tidak terlalu lebar yang langsung berbatasan dengan jurang. Sedangkan disisi kiri jelas tidak bisa dipilih untuk dilalui karena berupa dinding bukit. Andai drop tadi langsung dilewati maka harus benar-benar sempurna mendaratnya karena disana hanya tersisa tanah yang tergerus air sehingga membentuk cerukan lumayan dalam. So I think TTB is the right option🙂

Citando 011r

Pada sebuah persimpangan Kang Abuy mengajak beristirahat. Jam sudah menunjukan pukul 15.05 berarti kurang lebih sudah 1 jam semenjak saat pertama kami mulai mendorong sepeda di desa Pasir Angin. Perut gue yang sudah semenjak beberapa waktu lalu terasa lapar ahirnya mengahiri konsernya saat beberapa potong kecil buah apel dan sepotong roti bekal yang disiapkan istri malam sebelum keberangkatan ke Pengalengan ludes masuk ke dalamnya.

Tunggu punya tunggu baru om Adji yang menampakkan batang hidungnya di tempat kami beristirahat ini. Tidak lama kemudian malah justru Kang Wawan yang datang. Disusul kemudian oleh om Ucok. Menurut keterangan marshall, jalur yang mengarah lurus adalah jalur evakuasi, berupa jalur turunan yang landai. Sedangkan jalur kearah kiri jauh lebih menantang. So kami sepakat untuk memilih jalur kiri. Kali ini Kang Wawan yang akan menempati posisi di depan, berikutnya gue, om Adji dan Om Ucok.

Dengan Giant ReignX abu-abu Kang Wawan segera melesat cepat. Sekilas terlihat memang sedikit berbeda riding style Kang Wawan dan Kang Abuy. Bisa jadi faktor perbedaan sepeda yang dikendarai diantara merka juga menentukan kecepatannya. Melihat sang Marshall ngebut kami bertiga juga jadi ikutan terbawa ngebut hihihihihihi.

Citando 013r

 

Jalur technical, tikungan-tikungan di hutan Citando ini kembali gue mendapatkan fakta yang mendukung hipotesa yang selama ini sok-sokan gue buat yakni alasan mengapa Santa Cruz mendesain Bullit dengan geometry seperti ini. Dengan rear travel 7 inch jelas Bullit masuk kategori sepeda FR. Namun mengapa headanglenya cenderung tegak yakni 67,5 derajat. Bandingkan dengan adik tirinya yakni Nomad dengan rear travel 6,3 inch (atau 6.5 inch versi lama) dengan headangle 67 derajat. Dengan wheelbase yang lebih pendek dan headangle yang lebih tegal dari Nomad membuat Bullit memang lebih lincah untuk bermanuver, imho.

“Stooooop, Taaahaaaan …” Tiba-tiba gue mendengar teriakan dari arah belakang tepatnya suara tersebut adalah milik Om Adji. Buru-buru gue menghentikan sepeda dan meneriakkan hal serupa agar Kang Wawan juga berhenti. Segera kami dengan sedikit berlari menghampiri sumber suara.

“Astagfirulah .. ” ujar gue dalam hati saat melihat om Ucok dan sepedahnya tergeletak di dinding jurang kecil yang tidak terlalu dalam. Sepertinya tubuhnya tertahan oleh pepohonan yang tumbuh dibawah sana sehingga tidak terus meluncur jauh ke bawah. Kang Wawan dengan sigap segera menolong om Ucok. Alhamdulillah tidak terdapat luka serius yang menimpa om Ucok. Beliau juga mengkonfirmasikan bahwa semuanya OK saat gue tanya apakah lengan dan paha terasa nyeri yang biasanya merupakan indikasi awal jika terjadi dislokasi saat terjatuh gulung kuming seperti tadi.

Citando 017r

Pukul setengah empat lebih sedikit gue dan Kang Wawan telah keluar dari hutan Citando dan memasuki sebuah perkampungan. Kembali disini kita menunggu cukup lama seluruh rombongan Degiels untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju desa Pasir Angin melalui jalan desa McAdam rolling yang lumayan membosankan. Menurut rencana disana pick-up akan datang menjemput kami sekaligus membawakan makan siang (yang sangat tertunda)

Penutup

Perjalanan pulang dari desa Pasir Angin menuju jalan raya Pengalengan melewati jalan desa dengan permukaan batu kali yang hampir seluruhnya berupa tanjakan ekstrim. Jujur aja adrenalin saat gowes di turunan hutan Citando sana benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan saat diatas pickup ini. Gue benar-benar takut kalau-kalau mobil ini gak kuat nanjak ataupun roda mobil tidak mendapatkan traksi sehingga mobil mundur kembali. Syukur Alhamdulillah semua tanjakan tadi berhasil dilalui dengan lumayan mulus oleh pickup ini. Salut untuk pak supir yang telah dapat mengendalikan mobil dengan sangat baik sehingga kami dapat segera menuju tempat mandi air panas yang benar-benar kami butuhkan saat itu.
Special Thanks untuk seluruh crew Degiels, khususon om Fajar yang telah mentraktir kami semua atas pengeluaran pada trip ini. Terimakasih juga untuk Kang Abuy dan Kang Wawan dari Komunitas Sami Kawani Pengalengan atas segala bantuannya.

Cheers,

Taman Sentosa Cikarang, 17 Mei 2014

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s