Sapuangin Klaten, Another Fabulous Trail To Ride

Prologue

Setelah trip Bromo pada 25-26 May 2014 lalu bersama Roger Bagen praktis tidak ada kegiatan gowes sama sekali yang gue jalani kecuali hanya sekedar gowes ke warung rokok dan tukang sayur di ujung perumahan tempat gue tinggal. Itupun hanya menggunakan sepeda lipat hihihihihi. Beberapa undangan NR pada weekend di bulan Ramadhan sama sekali gak menarik perhatian gue. To be honest gue gak terlalu suka memforsir organ tubuh disaat dimana seharusnya organ tubuh kita butuh istirahat. Lagian bukankah lebih baik malam bulan Ramadhan dimaksimalkan dengan ibadah?

Sampai ahirnya tibalah liburan lebaran, saatnya merealisasikan salah satu agenda gowes yang sudah cukup lama gue rencanakan yakni mencoba trek Sapuangin yang berlokasi di sekitar lereng Gn Merapi. Sebagaimana kita ketahui lereng Gn Merapi menghadap ke beberapa wilayah. Kabupaten Klaten dianuggerahi keindahan lereng sisi tenggara dari Gn Merapi. Naaaah secara kebetulan pula rekan-rekan Klaten All-Mountain (10AM) akan mengadakan acara gowes bareng pada tanggal 3 Agustus 2014.

 

How To Get There

Setelah melakukan sedikit survey, tanya sama tanya sini, ahirnya sesudah menuntaskan liburan singkat menginap semalam di kota Ungaran gue putuskan untuk langsung menuju Yogya dan mencari hotel di sekitaran Prawirotaman, sebuah area favorit saat gue berkunjung ke Yogya. Bukan perkara mudah mencari hotel disaat liburan lebaran seperti ini. Hotel langganan di mulut jalan depan pasar Prawirotaman ternyata sudah full booked,  begitupun dengan beberapa hotel lain disekitarnya. Sampai ahirnya gue mendapatkan sebuah hotel lumayan bersih dan nyaman dengan tarif untuk 1 malam pertama (malam Sabtu 1 Agustus 2014) sebesar 300 ribu dan 2 malam berikutnya sebesar 250 ribu.

Perjalanan dari Yogya menuju markas tempat berkumpulnya rekan-rekan 10AM pada hari Minggu pagi 3 Agustus membutuhkan waktu kurang dari 45 menit. Hanya agak sedikit terhambat di perempatan Bandara Adisucipto. Mampir sebentar ke warung gudeg Bu Prapti di Jalan Raya Solo – Yogya KM17 untuk menjemput om Ade TN sekaligus menyicipi jamuan sarapan gudeg buatan Ibu mertua dari om Ade🙂

Di lokasi markas10AM ternyata juga sudah hadir om Mahen (Puncak Explorer) dan beberapa rekan-rekan lain dari Yogya dan Bekasi. Dengan menggunakan 1 truk ukuran sedang dan 1 pick up ukuran kecil 27 rider dan sepedahnya diangkut menuju tititk start trek Sapuangin.

IMG_20140803_083114r

 

The Trail

Beberapa penduduk desa telah siap menyambut kedatangan truk dan pickup yang kami tumpangi. Mereka menawarkan jasa porter membawakan sepeda dengan tarif 10 ribu persepeda menuju lokasi puncak bukit tempat dimana titik start trek Sapuangin ini. Untuk menghemat tenaga, hampir sebagian besar peserta rombongan memutuskan untuk menggunakan jasa mereka. Entah mengapa pagi ini gue juga agak enggan TTB untuk jalur menanjak kurang lebih 600 meteran menuju puncak bukit ini. Padahal biasanya gue paling hobby lho untuk TTB🙂 Mungkin karena efek masih lelah karena menyupir Cikarang-Ungaran-Yogya (alllesaaaaaaaaan huehehehehehe). Dengan senang hati gue menyerahkan Santa Cruz Bullit yang beratnya laksana seberat kulkas dua pintu ini ke salah seorang penduduk lokal yang dengan sigap segera membawanya.

IMG-20140803-WA0012r

“Jalan tanpa membawa beban sepeda aja sudah cukup membuat nafas menderu ngos-ngosan apalagi kalau sambil menuntun atau memanggul sepeda.” Gumam gue dalam hati saat mencoba melangkahkan kaki setapak demi setapak menyusuri singletrack menanjak ini.

Rasa respect dan salut untuk para penduduk seperti di trek Sapuangin, Klangon Gn Merapi, Gn Putri ataupun trek sepeda di daerah lain yang secara fisik mereka jauh lebih super dibandingkan orang kota yang bisa dikatakan sangat jarang melakukan aktifitas fisik seperti ini.

Sambil terus tertatih-tatih melangkah gue tetap berusaha menyoba untuk menikmati segarnya udara pagi pegunungan yang sudah cukup lama gak gue temui di Cikarang ataupun di Jakarta hihihihihi.  Menurut informasi beberapa bagian dari jalur menanjak ini nantinya akan kita lalui saat gowes, jadi sekalian aja gue observasi kondisi permukaan tanah, tikungan dan tingkat kecuraman dari jalur ini. Pagi ini permukaan tanah benar-benar sempurna, walaupun masih di area gunung berapi namun permukaan tanah tidak berdebu, tidak terlalu padat tidak pula terlalu lepas.

Sepanjang mata memandang terlihat pepohonan hasil proyek penghijauan yang sudah tumbuh lumayan besar. Jika mata ini tidak salah melihat jenis pohon Jabon, Sengon, Mahoni dan Pete dengan diameter batang utama bervariasi antara kurang lebih 10-20 cm terlihat tumbuh subur di sekitar singletrack yang gue lalui ini. Bahkan terlihat juga satu-dua pohon yang diameternya sudah mencapai hampir sekitar 40 cm.

Walaupun dedauannya belum sampai ke level yang dapat menahan sinar matahari namun cukup dapat membantu dan membuat segar hembusan angin semilir. Pada awal Februari 2014 saat gue gowes ke Klangon seingat gue bahkan tingkat kerimbunan pepohonan proyek penghijauan disana kalah jika dibandingkan dengan pepohonan di area Sapuangin ini. Personally gue sangat senang dengan perkembangan pepohonan yang bisa jadi salah satu diantaranya adalah sumbangan dari kita-kita secara perorangan, melalui komunitas ataupun dari kantor dimana rekan-rekan bekerja.

Finish point dari jasa porter sepeda yang sekaligus akan menjadi start point kita untuk acara gowes bareng hari ini adalah sebuah bidang lumayan lebar. Beberapa porter terlihat sedang asik menikmati hisapan rokok sambil berisirahat saat gue tiba di spot ini. Menurut informasi jika di tarik garis lurus jarak antara lokasi ini ke puncak Gn Merapi hanya berkisar kurang dari 3 km. Sudah menjadi qodrat Allah kalau pagi ini gue tidak dapat menikmati puncak Merapi karena awan yang menutupinya.

Mata gue segera menuju ke arah sisi kiri beberapa meter dari lokasi tempat rombongan beristirahat. Not sure apakah di depan mata gue ini kabut ataukah awan yang menutupi hampir seluruh area tersebut. Subhanallah … ternyata tepat di depan gue berdiri terdapat jurang yang karena tertutup awan/kabut tadi sehingga tidak tampak sama sekali dasarnya.

“Ini spot yang benar-benar tidak boleh dilewatkan untuk dokumentasi” Pikir gue dalam hari . Bergegas gue memindahkan sepeda ke spot ini dan mencari posisi yang benar-benar yahud🙂

Sapuangin 004r

 

Sepulang dari trip Gn Bromo gue sempat menukar spring dari rearshock Fox Van RC yang menempel di SC Bullit ini dengan ukuran yang lebih soft yakni 350 x 2.8 dan baru pagi inilah gue akan benar-benar mencoba di habitat aslinya.  Well dengan berat badan gue yang kurang dari 55 kg ternyata memang sangat berbeda rasanya jika dibandingkan spring sebelumnya dengan ukuran 450 x 2,8. Sekarang ban terasa seperti lebih grippy dan suspensi menjadi lebih aktif. Jalur menurun flowy selepas start point benar-benar dapat gue nikmati.

Om Arief 10AM yang bertugas menjadi road captain kebetulan juga sama-sama menungangi sepeda keluaran Santa Cruz, sebuah Butcher warna merah. Di awal-awal trek gue menempati posisi keempat. Tepat dibelakang om Arief menempel ketat  2 rekan dari Yogya yang menggunakan sepeda DJ dengan mengenakan fullface dan celana jeans. Asik juga memperhatikan riding style rekan-rekan dari Yogya ini, haampir selalu dalam attacking position. Sekilas terlihat knob dan thread ban yang digunakan oleh mereka memang bukan AM specific, tapi so far mereka tetap lincah mengimbangi sang road captain. Pada satu kesempatan gue mempersilahkan rider yang juga menggunakan sepeda DJ yang untuk mengambil posisi gue agar dapat bergabung dengan 2 rekannya di depan.

Sapuangin 010r

Di beberapa persimpangan road captain berhenti untuk sekedar memeriksa peserta rombongan mengontak sweeper menggunakan walkie-talkie. Saat restart gue mengajak om Ade TN untuk menempati posisi tepat di belakang gue untuk sama-sama menikmati jalur zig-zag yang maknyus di depan sana. Tidak begitu jauh sebelum tanjakan menjelang warung tempat pitstop pertama gue mendengar kalau sepeda om Ade putus rantainya. Mungkin karena masih terbawa suasana Rarat Race gue cuek aja tetap melanjutkan perjalanan hehehehehe. Maklum dalam rules and regulations Rarat Race Roger Bagen, masalah tehnis putus rantai tidak termasuk ketegori kejadian yang harus mendapatkan pertolongan … sang rider harus berusaha memperbaikinya sendiri. Sorry yaaa om Adeeeeee xixixixixi.

Lokasi pitstop ini dinamakan warung munyuk karena kabarnya masih sering terlihat monyet di sekitar sini. Di seberang warung terdapat lapangan lumayan luas yang sungguh sangat pas untuk lokasi foto keluarga. Hampir mirip dengan spot start point di atas sana, di pinggir lapangan ini juga terdapat jurang yang menganga namun bedanya disini telah dipasangi pagar bambu sebagai peringatan agar para pengunjung dapat lebih berhati-hati. Di seberang jurang sana terlihat bukit yang hijau dengan pohon-pohonnya yang lumayan lebat. Sangat mungkin area ini tidak dilalui lahar panas saat terjadinya letusan Gn Merapi beberapa tahun yang lalu sehingga pepohonan tampak tetap tumbuh lebat disana.

Sapuangin 006r

 

Setelah cukup beristirahat menurunkan adrenalin, menikmati kopi, membuat foto narsis serta memperbaiki rantai sepeda om Ade TN perjalanan kami lanjutkan. Kalau gue gak salah observasi jalur menurun yang kami lalui melewati punggungan bukit dengan lokasi jurang tetap berada sejajar di sisi kanan kita.

Damn !!!! jalur selepas warung monyet ini salah satu singletrack terbaik yag pernah gue coba.” Ujar gue dalam hati mencoba memberi poin terhadap jalur yang sedikit tehnikal yang sedang gue nikmati dengan sepenuh hati.

View sepanjang perjalanan juga benar-benar dapat melepaskan rasa kangen gue gowes di pegunungan. Jauh di ujung sana terlihat lereng sebuah bukit batu. Posisi jurang tetap berada pada sisi kanan jalur gowes yang kami lewati. Sangat mungkin jurang ini merupakan aliran sebuah sungai yang hulunya berada pada sisi timur Gn Merapi.

 

Sapuangin 014r

 

Entah sudah berapa ratus meter elevation lost yang kami nikmati pagi dan siang hari ini. Namun yang pasti jenis vegetasi lambat laun sudah mulai berubah. Pepohonan berbatang besar berdaun lebat yang sebelumnya ada disisi kiri-kanan kami telah berganti dengan pepohonan berbatang kecil bahkan pepohonan bambu sudah mulai terlihat satu-dua rumpun di depan sana sebagai pertanda alami kami sudah tidak lagi berada pada ketinggian.

Angkat topi untuk rekan-rekan Klaten All-Mountain yang “menemukan” jalur surga sepedahan di lokasi ini. Menurut hitungan perasaan gue yang tidak terkalibrasi ini mungkin sudah lebih dari 7 km semenjak start point kami disajikan singletrek ajib seperi ini. Andaikata tidak diselingi oleh banyak istirahat regroup tentu akan lebih dahsyat menikmati trek ini.

Sapuangin 053r

 

Pitstop selanjutnya adalah sebuah danau ataupun rawa yang ternyata saat ini airnya sedang surut. Tidak ada yang lebih lezat untuk dinikmati sehabis gowes selain teh manis dan pisang rebus. Thanks untuk keluarga dari crew 10AM yang telah datang menyiapkan hidangan di tepi rawa ini. Sebenarnya masih banyak jenis minuman segar semisal Coc* Col*, Fan** yang disajikan. Namun terlepas dari masalah preferensi dan resiko kesehatan mengkonsumsi minumah berkarbonat sehabis berolahraga (please cmiiw), faktanya teh manis memang tetap menjadi pilihan utama kami🙂

Side note : hati-hati banyak markas semut rangrang merah yang galak disekitar pohon beringin tempat kami beristirahat disini🙂

Sapuangin 061r

Jarak tempuh untuk etape selanjutnya masih lumayan cukup jauh. Namun lebih didominasi dengan pedaling. Beberapa spot menarik kami lewati sepanjang perjalanan menuju titik finish di Dam Sukorini.  Sebuah sungai yang nyaris kering sangat menarik perhatian gue. Diawali dengan turunan yang tidak begitu curam kami semua akan melalui aliran sungai yang airnya tidak terlalu banyak tersebut. Sensasi water-splash saat kedua ban sepeda dilewati berututan oleh banyak goweser sungguuh asik untuk disaksikan.

Icon berikutnya adalah sebuah doubletrack cukup panjang dengan permukaan trek berupa batuan lepas. Aura Rarat Race antara gue dan Om Ade dan juga antara SC Bullit dengan single pivot vs Transition Bottle Rocket dengan horst link secara sadar ataupun tidak sadar kembali terjadi di spot full pedalling yang menantang ini .. hasilnya??? hmmmmmmmmm maaaf gue memutuskan untuk tidak men-disclose di trip report ini hehehehehehe.

Sapuangin 078r

 

 

Penutup

Trek Sapuangin Deles Klaten  ini dari titik start sampai dengan titik finish benar-benar cocok untuk Rarat Race Roger Bagen, semoga  bisa masuk dalam kalender 2014. Stage I dari titik start sampai dengan Rawa sangat recommended untuk goweser pecinta keepatan.

Special thanks untuk semua teman-teman Klaten All-Mountain atas segala jamuan dan keramahtamahannya. Om Mahen untuk kerelaanya membawakan pocket camera gue dan menunjukkan spot-spot ajib serta memfotonya huehehehehehe.

 

Cheers,

Taman Sentosa Cikarang 10 Agustus 2014

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)

 

 


4 comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s