Driving, Sightseeing and Riding in Lombok Island

Prolog : Walaupun sudah lebih dari satu tahun terhitung semenjak Mei 2013 saat terahir kali gue mengunjungi pulau Lombok namun keasrian dan ketenangan pantai Mawun serta asiknya bersepeda mengelilingi Gili Trawangan saat sunset dan sunrise masih begitu melekat di hati. Menjadikan semacam magnit yang menarik kuat serta terasa memanggil-manggil untuk kembali mengunjunginya saat musim liburan mendatang tiba.

Ahirnya minggu ketiga bulan September 2014 waktu yang dinanti-nanti telah tiba .. libur telah tiba .. libur telah tiba .. hore !!! … hore !!! .. hore !!!  *sambil joget ala Tasya*. Saatnya kembali ke pulau Lombok, yesss !!!!  Hunting tiket pesawat murah, akomodasi dan transportasi selama di Lombok sudah kami -gue dan istri- lakukan beberapa waktu sebelumnya hasil dari memecahkan celengan ayam jago dan semar. Biar tambah seru maka setelah liburan di pulau Lombok gue juga berencana akan langsung mengunjungi (kembali) pulau Bali. Tidak lupa pula sebuah tas sepeda berisi sepeda MTB kesayangan gue juga ikut menyertai liburan kali ini.

Seperti saat liburan sebelumnya, kami lebih memilih skema menyewa mobil sebagai alat transportasi mengunjungi objek-objek wisata ketimbang mengikuti paket-paket wisata yang banyak ditawarkan biro perjalanan wisata di pulau Lombok ini. Masalah biaya dan fleksibilitas adalah pertimbangan utama mengapa kami lebih suka menggunakan skema ini.

Menyicipi Aspal Pulau Lombok

Lokasi bandara udara yang terletak di daerah Praya yang lumayan jauh dari pusat kota Mataram (terlebih lagi area pantai Sanggigi sebagai sentra pariwisata pulau Lombok) maka dibutuhkan strategi khusus agar waktu liburan kita benar-benar efisien dan tidak banyak terbuang percuma. Bukan perkara mudah untuk mendapatkan tempat penyewaan mobil dengan skema lepas kunci (tanpa supir), namun Alhamdulillah gue berhasil mendapatkan tipe mobil yang sesuai keinginan yakni sebuah Grand Livina 1,5 putih transmisi manual yang ganteng dan seksi dengan velg ring 17/205/40 pula. Mobil yang akan menemani gue menjelajah pulau Lombok ini untuk sementara gue kasih nick name Neng Vina  hihihihihihi.

White is the new Black

White is the new Black

Agar lebih makin efisien maka gue meminta kepada tempat penyewaan mobil agar mobil pesanan gue sudah siap parkir di bandara saat hari kedatangan gue disana. Dengan skema seperti ini maka di hari pertama gue tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk ongkos taksi menuju hotel namun cukup langsung dihitung sebagai hari pertama gue menyewa mobil dan mobil bisa langsung gue guenakan untuki menjelajah area Lombok bagian utara yang memang secara jarak tidak begitu jauh dari Bandara Internasional Lombok ini.

Pantai Mawun gue skedulkan menjadi tujuan pertama siang menjelang sore selepas dari Bandara. Dengan mengandalkan GPS Garmin Nuvi yang telah gue isi dengan peta Navnet edisi lumayan anyar mulailah perjalanan menikmati jalan aspal pulau Lombok bagian utara. Ini adalah kali pertama gue menggunakan Grand Livina 1.5 dan impresi awal gue terhadap mesin HR15DE edisi lawas yang terdapat di balik ruang mesin mobil ini lumayan bertenaga walaupun gue sedikit merasakan torsi pada putaran mesin rendah agak-agak kurang. Di ahir-ahir rute menuju pantai Mawun banyak didominasi jalan aspal mulus di area perbukitan dengan kontur menanjak lumayan terjal. Beberapa kali gue terpaksa memindahkan perseneling ke gigi 1 dan karena masih belum terbiasa memainkan kombinasi pedal gas dan kopling di mobil ini maka sering terjadi ban depan spin akibat overpower🙂

Jalan aspal menuju pantai mawun memang bukan aspal kualitas nomer satu, begitupun lebar jalan juga tidak terlalu lebar. Namun tetap nyaman untuk dilalui dan dinikmati dari belakang kemudi. Letihnya tubuh karena lumayan lama menunggu di bandara serta duduk di pesawat sekan sirna manakala kedua mata ini mulai dapat melihat di kejauhan sana teluk kecil dimana pantai Mawun berada.

Pantai Mawun r

Tidak seperti tahun lalu, saat kami tiba di pos masuk area parkir terlihat pantai Mawun di depan sana sudah mulai lumayan ramai oleh pengunjung. Namun suasana ramainya pantai Mawun jangan disamakan dengan suasana pantai Kuta Bali hehehehehe. Hanya terlihat satu keluarga turis lokal dan beberapa pasang turis asing yang sedang asik berjemur diatas pasir pantai. Intinya pantai Mawun tetap sangat nyaman untuk dikunjungi  dan dinikmati untuk bersantai-santai. Hal lain yang terasa oleh indra penglihatan gue adalah suasana background dua buah perbukitan di seberang pantai yang seolah menjadi pagar pantai ini. Kalau dulu pada bulan Mei tahun lalu warna bukit terlihat hijau maka kali ini perbukitan tersebut terlihat gersang minim pepohonan. Menurut informasi memang sudah cukup lama hujan tidak turun di daerah ini.

20140912163714r

Dengan sedikit bergegas kami meninggalkan pantai Mawun untuk menuju destinasi berikutnya yakni panti Aan. Kami hanya punya waktu kurang lebih 45 menit jika ingin menyaksikan detik-detik sunset dipantai tersebut. Kondisi jalan menuju Tanjung Aan lokasi tempat pantai Aan berada sangat bertolak belakang dengan kondisi jalan menuju pantai Mawun. Hancurnya akses jalan meeri kontribusi utama yang membuat kami tiba di pantai Aan manakala mentari sudah mulai hilang sinarnya.

Sebagai catatan ternyata mengunjungi pulau Lombok pada umumnya dan pantai Aan pada khususnya di bulan September bukanlah waktu yang tepat. Hampir sebagian area pantai  Aan yang biasanya tertutupi dengan indah pasir-pasir halus khas Tanjung Aan kali ini nyaris tidak kami temui. Namun sebagi gantinya air laut yang sedang surut justru menyajikan pemandangan lumayan unik dimana bebatuan terlihat sangat mendominasi  area pantai. Silahkan diamati kedua foto dibawah … modelnya sih gak usah dihiraukan, cukup diperhatikan kondisi pantainya aja🙂

20140912_171232rrrPaket wisata hari pertama kami lanjutkan menuju area Sanggigi tempat kami menginap. Dari Tanjung Aan kita akan kembali melalui jalan yang sama menuju arah bandara dan dilanjutkan dengan melalui jalan raya lumayan lebar menuju kota Mataram kurang lebih selama 1,5 jam untuk selanjutnya mobil kami arahkan menuju Sanggigi yang jaraknya hanya kurang dari 25 km saja dari kota Mataram.

Menikmati Gunung, Pantai dan Matahari Pulau Lombok

Sesuai jadwal Sabtu 13 Sept 2014, di hari kedua kami di pulau Lombok akan kami habiskan di area Senaru untuk mengunjungi 2 air terjun yang berada di dalam hutan tropis kaki gunung Rinjani. Pemandangan laut, pantai yang terlihat dari perbukitan di sepanjang jalan raya sepanjang Sanggigi menuju daerah Bayan benar-benar membuat kami berdecak kagum dan memuji kebesaran Ilahi atas ciptaannya yang sungguh indah ini.

20140915100831r

Kondisi jalan aspal menuju Bayan relatif mulus, tidak terlalu ramai dan sangat meyenangkan untuk dilalui. Kota-kota yang kami lalui semisal Tanjung, Gondang ataupun Anyar juga tidak terlalu ramai sehingga cukup sulit untuk menemukan sebuah toko asesoris handphone saat kami hendak membeli charger baterai untuk dipasang di mobil. Alamat bisa mati gaya kalau sampai gadget kehabisan baterai hihihihi.

20140913105826r

Agak deg-degan sekaligus penasaran juga saat mobil mulai memasuki daerah desa Senaru. Mobil gue jalankan dengan perlahan saat melewati pos polisi Senaru tidak jauh dari terminal bis. Alkisah sekitar 15 tahun lalu gue dan adik dengan menumpang bis Jakarta – Terminal Cakranegara Lombok yang ditempuh hampir 40 jam dengan tujuan utama mendaki gunung Rinjani via jalur Sembalun. Perjalanan pulang kami lalui melalui jalur Senaru namun angkutan pedesaan yang membawa kami dari dekat basecamp pos pendakian terlambat tiba di terminal bis Senaru. Sementara kendaraan L300 terahir yang akan menuju Mataram sudah berangkat beberapa waktu yang lalu. Maka alhasil kami harus menunggu bis berikut keesokan harinya. Maka malam itu kami habiskan dengan menumpang menginap di pos Polisi Senaru yang baru saja gue lewati tadi plus ditonton warga sekitar hihihihihihi.

Back to topic … tujuan wisata yang hendak kami kunjungi disini adalah air terjun Sindang Gile dan Tiu Kelep. Dari lokasi tempat pembelian tiket masuk kita harus berjalan kurang lebih 15 menit menyusuri puluhan anak tangga untuk sampai di lokasi air terjun Sindang Gile. Air terjun ini terlihat seperti dua pasang air terjun kembar. Pasangan air terjun pertama jatuh pada sebuah bidang seperti bak’ penampungan pada tebing yang ditutupi tanaman lumayan lebat. Kucuran air dari ‘bak penampungan’ lalu kembali jatuh melalui dua air terjun lainnya.

Setelah lelah berjalan menaiki puluhan anak tangga ditambah suasana yang teduh cenderung dingin di sekitar air terjun membuat banyak pengunjung beristirahat di bangku ataupun dangau yang memang disediakan di sekitar lokasi air terjun ini.

20140913_111401r

Untuk mencapai air terjun Tiu Kelep kita harus kembali berjalan kurang lebih 30 menitan. Kali ini lebih dibutuhkan tenaga ekstra dan keberanian karena jalur yang dilalui sedikit ekstrim dengan melalui hutan tropis area Gn Rinjani dan juga terhitung kita harus menyebrangi sungai dangkal yang airnya sangat jernih sebanyak 2 kali. Tidak ada tanda arah petunjuk jalan yang gue temukan sepanjang jalur ini mungkin itulah sebabnya di lokasi pembelian tiket kita ditawarkan seorang guide untuk mengantar ke lokasi air terjun Tiu Kelep ini.

20140913133152r

Air terjun Tiu Kelep lebih besar dan lebih indah ketimbang air terjun Sindang Gile. Usaha yang cukup maksimal dan rasa lelah (bagi yang jarang berolah raga) saat soft trekking menuju lokasi air terjun seakan terbayar lunas manakala kita tiba di lokasi air terjun ini.Mungkin itulah mengapa banyak pengunjung terutama turis asing wanita yang segera melepas pakaian dan langsung berendam di kolam tepat dibawah kucuran air terjun Tiu Kelep ini. Anggap saja view bagus tersebut sebagai bonus tambahan hehehehehe.

20140913131600r

Untuk menyempurnakan rangkaian kegiatan sightseeing di hari ini, kami akan mencoba berburu sunset di area dekat pantai Nipah. Selain pantai Sanggigi dan bukit Malimbu, pantai Nipah menurut gue pribadi juga merupakan spot yang mantaf untuk menyaksikan prosesi terbenamnya matahari. Sambil menunggu waktu, perut yang sudah mulai keroncongan kami isi dengan semangkuk bakso lumayan segar. Penjual bakso di sekitar pelataran parkir bukit Nipah ini tidak menggunakan gerobak layaknya yang kita temukan di Jakarta namun dengan menggunakan sepeda motor. Kali ini memang gue sengaja akan mencoba menyaksikan sunset bukan dari area pantai namun dari sebuah bukit yang menjorok terjal ke arah laut tidak jauh diatas pantai Nipah. Setelah menunggu hampir satu jam ahirnya tiba juga saat mentari mulai bergerak perlahan menuju peraduannya di ujung horizon sana. Senja itu suasana langit tidak terlalu jernih namun juga tidak terlalu tertutup awan sehingga Sunset lumayan dapat kami nikmati sambil terus memuji betapa indah, indah dan sempurnanya ciptaan Allah ini.

Nipah Cliff

XC Riding Singkat Namun Padat

Hari Minggu 14 September 2014 waktu yang telah gue siapkan khusus untuk dihabiskan dengan bersepeda. Namun karena sesuatu hal acara gowes baru bisa dilakukan siang menjelang sore di bukit Korea, sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi di dekat kota Mataram. Selesai shalat ashar mobil gue arahkan menuju kota Mataram mencari alamat ruma om Dewo, seorang kawan di Santa Cruz Indonesia yang juga baru gue kenal beberapa saat sebelum keberangkatan gue liburan ke Lombok ini. Di rumah om Dewo juga sudah menunggu om Ican.

Dengan menggunakan si Putih Neng Vina  kami bertiga mulai bergerak menuju start point  jalur bukit Korea ini. Mobil kami parkir di halaman yang lumayan luas rumah milik penduduk. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih sedikit namun ternyata masih banyak rekan-rekan goweser kota Mataram yang juga baru memulai gowes di jalur ini. Menurut om Ican jalur ini memang tidak panjang dan hanya butuh 2 jam perjalanan gowes mulai dari kota Mataram, gowes di bukit Korea lalu kembali lagi ke Kota Mataram. Woooow sungguh beruntung penghobby MTB yang tinggal di kota Mataram ini.

Keberuntungan sepertinya masing enggan menyertai acara bersepeda gue kali ini, butuh waktu hampir 30 menit untuk mengganti ban belakang yang bocor tidak jauh dari lokasi start .. hadewwwwwww.  Kayuhan sepeda kembali terhenti, di depan sana terdapat iring-iringan yang menutupi seluruh bidang jalan. Dengan santun gue turun dari sepeda dan menuntunnya berjalan disela-sela rombongan peserta iring-iringan tadi. Ahaaaaa rupanya iring-iringan ini semacam acara adat mengantar calon mempelai pria dan wanita menuju rumah mempelai wanita.

Gue yang tercecer lumayan jauh dari om Dewo dan om Ical kembali meneruskan perjalanan menyusuri jalan aspal perkampungan. Ternyata mereka sedang menunggu di depan mulut sebuah jalan. Perjalanan kami lanjutkan, jalan telah berubah jalan cor  agak menanjak. Terdapat pemisah berupa jalur tanah diantara keduanya jadi seperti doubletrack cor🙂

Diawal-awal tanjakan kala tingkat kesopanannya masih tinggi gue dengan gagah perkasa ‘melibas’ tanjakan beton ini .. halaaaaaaaaah🙂 Namun ahirnya setelah hampir melewati setengah tanjakan cor ini gue memutuskan untuk beristirahat. Sambil mengatur nafas yang sudah menderu-deru gue sedikit menggerak-gerakkan kepada yang rasanya sudah mulai sedikit berkunang-kunang tanda kekurangan oksigen. Tanjakan cor ini sangat identik dengan tanjalan Ngehe di jalur Rindu Alam selepas Taman Safari Cisarua. Diawal-awal tidak terlalu curam, lupayan panjang namun secara gradual lambat namun pasti terasa makin tidak sopan.

20140914175405_r

Om Dewo dengan Santa Cruz Driver8 dan om Ican dengan Mosso FR dengan santainya melewati gue yang masih asik mengatur nafas. Hahahahaha benar-benar tipical dengkul yang sangat terlatih. Kebayang dong gowwes nanjak menggunakan sepeda FR dengan 1×9. Jam di handphone sudah menunjukkan 17.54 WITA, walaupun sinar matahari masih cukup terang namun gue menduga bahwa kita akan menemui gelap di tengah perjalnan nanti.  Mungkin karena pertimbangan waktu itupulah mengapa om Dewo mengirimkan bala-bantuan seorang penduduk dengan mengendarai motor. Sebetulnya agak enggan juga gue harus di-evac dengan naik motor seperti ini, namun kembali dengan pertimbangan waktu dan demi menghormati tuan rumah maka jadilah gue naik motor (Padahal sih dalam hati gue seneng banget gak perlu gowes nanjak lagi hihihihi). Dengan tangan kiri memegang ember yang berisi hasil panen karet  pemilik motor ini menjalankan motornya dengan sigap di jalur tanjakan cor beton ini.

Sambil menunggu om Dewo yang sedang menjemput sepeda gue di bawah sana gue kembali mencoba berhitung akankah kita melewati jalur dalam keadaan gelap tanpa sinar sedikitpun karena mamang tidak satupun diantara kita yang membawa lampu. Setelah sepeda gue tiba lalu kami putuskan akan mencoba gowes agak cepat di jalur off road selepas puncak bukit Korea ini. Om Ican ambil posisi di depan, gue lalu om Dewo di belakang. Wussssss wussss wussssss … saatnya balas dendam hihiihihihihi

20140914181154_r

Jalur menurun selepas puncak bukit lumayan lebar dan flowy. Andai kami tadi bisa tiba lebih awal disini pasti kita akan bisa lebih menikmati jalur ini dnegan sedikit menambah kecepatan. Adzan magrib sayup-sayup sudah terdengar. Wooooooow makin seru kami gowes berburu waktu di senja ini. Kini tibalah kami di sebuah persimpangan namun om Ican menghentikan sepedanya dan mengarahkannya ke arah kanan sedikit menanjak. Ahaaaaaaa rupanya walapun hari makin gelap namun berhenti di spot ini tetap harus dilakukan. Sebuah bidang datar di ketinggian yang cukup luas. Yang menarik dari spot ini jika mata kita arahkan kebawah sana, maka lampu-lampu yang menyala di kota Mataram akan terlihat indah. Dari sini bahkan menara tinggi gedung Islamic Center di bawah sana lumayan terlihat jelas.

20140914182214_r

Kami tidak bisa terlalu lama menikmati pemandangan indah dibawah sana karena saati itu hari sudah benar-benar gelap. Saatnya meneruskan perjalanan. Mata elang Om Ican kembali kami percayakan untuk memandu kami.  Setelah kurang dari 10 menitan meliuk-liuk pada jalur yang lumayan lebar kembali om Ican menghentikan sepedanya. Ternyata di depan sana adalah sebuah persimpangan. Jika kita lurus maka jalur yang akan kita lewati akan terus berukuran lumayan lebar. Karena jalur tersebut tidak melewati pepohonan maka kita akan sedikit terbantu oleh sinar bulan namun dengan konsekuensi pastinya jalur akan monoton dan kurang menantang. Pilihan berikutnya adalah memilih jalur kearah kiri masuk kearea pepohonan lebat yang mana jalur akan berupa singletrack yang pastinya akan jauh lebih gelap dibanding pilihan pertama tadi. Voting dilakukan … dasarnya gue memang pecinta berat singletrack maka dengan PD-nya gue vote untuk ambil pilihan kedua jalur singetrack. Urusan gowes di kegelapan urusan nomer dua yang penting gowes meliuk-liuk asik di sepanjang jalur di depan sana🙂

Gelapnya jalur yang kami lewati sama sekali tidak membuat kami menurunkan kecepatan, malah justru memberi sensasi lebih saat mata memandang jauh kedepan sambil mengendalikan sepeda memilih jalur yang aman. Sekilas jalur yang kita leawati saat ini sudah mulai memasuki area pepohonan perkebunan milik penduduk. Di kejauhan sudah mulai terlihat sinar lampu dari satu dua rumah penduduk.  Jam sudah menunjkan waktu 18.42 saat kami tiba kembali di pelataran tempat kami memarkirkan si neng Vina. Alhamdulillah ahirnya selesai juga acara gowes singkat namun padat di hari ini.

20140914184253_r

Penutup

Sisa waktu kami di Pulau Lombok kami habiskan di gili Trawangan, berburu sunset (lagi) dan membeli oleh-oleh. Seluruh agenda, tempat wisata di pulau Lombok yang memang sudah gue rencanakan sebelumnya Alhamdulillah sudah kita kunjungi. Hari Selasa siang neng Vina gue arahkan menuju Bandara Internasional Lombok untuk sekaligus serah terima mobil kepada karyawan pemilik penyewaan mobil. Acara liburan akan kami lanjutkan ke pulau Bali yihaaaaaaaaaaaa

Cheers, Mantel
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com

Cikarang 10 Nov 2014


One comment

  1. salam kenal om🙂
    penjelajahannya mantap sekali, saya pernah ke lombok tapi karena ikut studi tur jadi gak bisa muter2. dan jujur saya makin iri, ngeliat si om bisa muter2 dan sewa mobil, btw harga sewa mobil di sana sekitar berapa ya om?

    btw foto livina nya ijin save om, buat koleksi pribadi😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s