Three Rides Four Crashes

Prolog :

Bulan September, Oktober dan November seharusnya adalah termasuk bulan-bulan yang sangat gue nanti untuk urusan sepedahan. Bulan-bulan transisi dari sisa-saia musim kemarau berganti dengan mulai datangnya sedikit hujan. Bulan-bulan dimana kondisi permukaan tanah di hampir seluruh tempat bersepeda sudah mulai sedikit diguyur hujan namun belum sampai membuatnya becek dan berlumpur.  Namun di tahun 2014 ini catatan lumayan hitam kelam gue tulis di buku harian gowes sebagai semacam bentuk peringatan untuk gue pribadi untuk periode tersebut.

Gue tidak semujur rekan-rekan lain yang benar-benar MTB weekend-warrior, yang selalu bisa tiap ahir pekan Sabtu ataupun Minggu bersenang-senang memuaskan hobby MTB-nya. Kalau si Bejo sedang ogah mampir bahkan terkadang dalam satu bulan gue cuma bisa gowes satu kali. Dan itulah yang terjadi pada 3 bulan belakangan ini. Dan yang membuat makin ‘seru’ adalah dari ketiga acara gowes di bulan September, Oktober dan November tersebut selalu saja gue menemui kecelakaan baik itu yang menimpa teman perjalanan gowes ataupun rekan-rekan dari komunitas lain.

Gn Abang Bali 18 September 2014.

Setelah menyelesaikan liburan singkat dan sempat menyicipi jalur MTB di bukit Korea kota Mataran Lombok gue menyempatkan diri mampir beberapa hari ke pulau Bali sekaligus untuk kembali menyicipi gowes disana. Singkat kata Om Ngurah yang sudah beberapa kali menemani gue gowes di sekitaran pulau Bali (silahkan baca : Penutukan – Sambirenteng dan Secret Track)  pagi itu sudah tiba di halaman hotel tempat gue menginap di area Jl. Gatot Subroto Barat. Om Ngurah datang menjemput bersama om Nico, ternyata sudah sejak kemarin menemani om Ngurah menemani om Nico gowes di beberapa track di Bali sini.

Pagi ini dengan menggunakan sebuah pick up untuk mengangkut sepeda dan sebuah minibus om Ngurah akan membawa gue dan om Nico untuk mencoba jalur gunung Abang sebuah jalur bersepeda yang menurut kabar yang gue telah dengar sebelumnya banyak didominasi oleh jalur berpasir yang menutupi permukaan jalur. Lumayan jauh juga perjalanan dari kota Denpasar menuju titik start jalur gn Abang ini. Rencana untuk sarapan di sebuah warung sate ikan menjadi gagal total karena ternyata menu tersebut belum siap untuk disajikan di jam sepagi ini.

Ternyata memang bukan isapan jempol berita tentang permukaan jalur gn Abang ini yang banyak didominasi oleh pasir dan serpihan batu berukuran kecil. Butuh kesabaran dan kehati-hatian ekstra manakala melewati turunan, mengarahkan handlebar pada kondisi jalur seperti ini. Manakala harus mengkoreksi arah ban depan juga butuh kosentrasi ekstra kalau tidak mau sepada malah akan slidding🙂

002_r

Two vintage Nomad MK1 .. Made in Merikah🙂

Degiels_RGr

Setelah istirahat sejenak sehabis menyelesaikan run pertama kini kita mencoba lagi namun kali ini melewati lebih banyak area singletrack. Permukaan singletrack yang kami lewati walaupun tetap banyak butiran-butiran pasir dan tanah diatasnya namun sepertinya lebih bersahabat untuk Kenda Nevegal yang gue pakai hari ini walhasil gue lebih bisa menikmati sambil sesekali memacu sepeda lebih kencang mengimbangi kecepatan om Ngurah dan om Nico di depan sana.

009_r

Kami telah keluar dari area singletrack dan kembali memasuki jalur lebar yang lumanyan berdebu. Jalur yang permukaanya bergelombang dengan sedikit cerukan di tengah jalur. Perlahan gue menekan brake-lever karena gue ingat di depan sana sesudah belokan ke kiri jalur dan akan disambung oleh sebuh turunan lumayan panjang dengan kondisi jalaur yang mirip dengan yang sedang gue lewati ini. Andai tidak bisa menguasai kecepatan pada turunan tersebut dan ban masuk ke dalam cerukan maka bisa dijamin kita akan terjatuh.

Saat sedang konsentrasi memilih jalur masuk awal turunan sekilas gue melihat dibawah sana om Ngurah sedang duduk tertunduk agak di tengah jalur. Naaaaaah see !!!! … turunan ini memang menurut gue cenderung tidak aman. Walapun area bawah turunan ini jalur sudah kembali rata namun area awal dan tengah yang bergelombang dan ada cerukan inilah yang bisa membuat goweser kehilangan kendali jika terlalu bernafsu ingin melewati turunan dengan kecepatan penuh.

Buru-buru gue sandarkan sepeda disisi jalur dan bergegas menghampiri om Ngurah. Dari kelopak matanya gue lihat sepertinya om Ngurah tidak sampai mengalami black-out, terlihat sadar dan stabil namun belum dapat berkata-kata sambil menahan nyeri ataupun rasa sakit yang sangat pada lengan kanannya. Terlihat pula ujung kanan visor helm milik om Ngurah kotor oleh tanah sebagai indikasi adany benturan pada sisi kanan anggota tubuh. Setalah kondisinya makin stabil sambil menahan nyeri om Ngurah mengatakan bahwa sepertinya ada tulang yang patah pada lengannya. “Doooooooh .. bisa jadi serius gini kondisinya…” gumam gue dalam hati. Walaupun permukaan jalur berupa pasir namun pastilah lengannya menghantam cukup keras kalau benar tulang lengannya sampai patah.

Titik lokasi tempat kejadian sangat sepi jauh dari rumah penduduk apalagi titik finish. Skenario terburuk adalah mengevakuasi om Ngurah dengan berjalan kaki menyusuri jaur sampai titik finish. Sambil membuka-buka backpack mencari benda yang mungkin bisa gue gunakan untuk membuat bidai agar jika memang lengannya patah maka nantinya sedikit membantu menopangnya sehingga tidak akan membuat makin bergesar jauh patahannya saat kita berjalan menuju titik finish warung dimana mobil pickup dan minibus kita parkir. Damn!! sarung yang tadi gue bawa ternyata gue titipkan di mobil pickup. Dan yang ada saat ini hanyalah sebuah sapu tangan dan buff KW1🙂

Syukur Alhamdulillah tidak lama berselang seorang penduduk pria melintas dengan mengendarai motor sambil membonceng seorang wanita. Dengan bahasa lokal om Ngurah minta tolong untuk diantarkan sampai ke tiitik finish. Wanita penumpang motor tadi sepertinya sangat mengerti keadaan yang menimpa om Ngurah dan dengan ikhlas bersedia berjalan kaki sementara om Ngurah berganti tempat membonceng motor tersebut.

20140918121021_r

Sekarang tinggal mencari solusi memikirkan bagaimana caranya membawa sepeda om Ngurah ini sampai ke titik finish🙂 Setelah cukup lama berdiskusi ahirnya Om Nico punya ide brilian, masing-masing akan menggowes sepeda secara bergantian lalu meletakkannya di lokasi yang sekiranya aman, lalu berjalan kembali ke belakang menjemput sepeda yang diparkir. Dimulai denga om Nico gowes menggunakan sepedahnya sendiri, lalu kira-kira 200 meter dia akan memarkir sepedahnya dan bersamaan dengan itu gue mulai gowes sepedah gue sendiri melewati om Nico yang sedang berjalan naik keatas dan juga melewati posisi parkir sepeda om Nico sampai kurang lebih 200 meteran juga. Setelah itu giliran gue yang memarkirkan sepeda dan jalan berbalik kearah lokasi sepeda om Nico diparkirkan. Om Nico yang telah sampai di lokasi parkir sepeda milik Om Ngurah lalu menggowesnya sampai 200 meteran di depan lokasi tempat sepeda gue diparkir. Begitu seterusnya sampai titik finish🙂

Siang itu juga dengan menggunakan menggunakan minibus, dengan sangat hati-hati dan perlahan gue membawa om Ngurah ke RSUD Klungkung yang jaraknya lumayan jauh dari titik finish tadi. Setelah om Ngurah makin tenang dan lebih bisa menahan nyeri dia memberi kode bahwa gue bisa menjalankan mobil agak lebih kencang . Baru dech wusssssssssss wusssss wusssssss … Ahirnya sampai juga di ruang UGD. Setelah om Ngurah ditangani oleh dokter jaga yang lumayan manis .. halaaaaaaaaah, gue melanjutkan mengurus masalah admisnistrasi pendaftaran pasien. Setelah beberapa kali mondar-manding keluar-masuk ruang UGD ingin mendapatkan kabar tentang luka yang diderita om Ngurah (alesaaaaaan … padahal sih sekalian mau liat dokternya hihihihihi) ahirnya sang dokter memberitahu bahwa ada tiga patahan pada tulang lengan atau bahasa kerennya Clavicle fructure .. Yiaaaaaaaaa wuhuuuuuuu welcome to the Collarbone Club om Ngurah🙂

20140918140430r

Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh dokter RSU Daerah ini selain hanya memberi obat penghilang rasa sakit. Dengan sedikit bergegas kembali gue membawa om Ngurah menuju sebuah rumah sakit di kota Denpasar untuk penanganan lebih lanjut.

Keesokan harinya gue menyempatkan diri menjenguk om Ngurah, operasi sudah berjalan dengan lancar dan tinggal butuh waktu kurang lebih tiga bulan untuk recovery dengan sama sekali tidak boleh melakukan aktivitas berat termasuk bersepeda. Belum satu bulan berlalu, saat gue kembali berkunjung ke Bali dan menyempatkan diri mampir ke rumahnya,  yang bersangkutan sudah posting sedang asik mencoba bersepeda lagi di halaman depan rumah wakakakakakakaka .. The real Degiels.

Pangheotan 25 Oktober 2014

Acara gowes bareng bertajuk Ride For Brotherhood hari ini didedikasikan untuk salah satu rekan gowes Bandung dengan mengumpulkan infaq dari sebagian hasil penjualan jersey bagi peserta yang ikut acara ini. Gue bersama beberapa crew RogerBagen tentunya tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian dalam kegiatan sosial yang sangat positif ini. Singkat kata gue berangkat bersama dengan om Holis dan beliau berbaik hati mau menjemput gue di bawah flyover Cikarang. Hihihihihihi full service … udah nebeng,  minta dijemput pula🙂

Jalur Tamiya dan turunan  Jumanji adalah icon dari jalur Pangheotan. Bulan Maret 2014 lalu sebenarnya gue sudah pernah mencicipi jalur Pangheotan ini namun saat itu karena kebablasan maka skip tidak melewati turunan Jumanji yang sudah tersohor dengan selalu ada cerita lucu disana. Inilah salah satu alasan mengapa gue memutuskan untuk ikut acara Gobar di Pangheotan.

Yang agak spesial dari peserta RogerBagen kali ini adalah salah satu generasi muda penerus RogerBagen ikut serta dalam rombongan. Dafi anak terkecil dari Pak Fivin ketua RogerBagen ikut ambil bagian. Untuk urusan skill dan nyali, Dafi tidak usah diragukan lagi. Walau masih agak malu kalau ditonton orang saat latihan jumping. Dari sisi postur memang sebenarnya anak ini masih kurang tinggi untuk mengendari MTB 26 ukuran extra small dengan standover yang paling pendek sekalipun.

10406622_745143952231952_2908067318325604501_nrr

Selepas melewati perkampungan tibalah gue di sebuah lapangan bola. Gue ingat betul saat kunjungan ke Pangheotan yang pertama gue ambil jalur lurus mengikuti jalan lebar ini sehingga tidak melewati turunan Jumanji. Tidak mau nyasar untuk yang kedua kali kali ini gue memilih untuk berhenti menunggu rombongan RogerBagen yang lain sambil istirahat menarik nafas sehabis pedaling lumayan jauh.

Rombongan yang ditunggu sudah tiba, ada om Erik, om Holis, om Irwand, om Irwan, Pak Fivin dan Dafi. Tidak jauh dari lapangan bola ternyata ke arah kiri memang ada singletrack. Ini toh rupanya biang keladi penyebab gue sampai melambung cukup tinggi saat kunjungan di bulan Maret lalu.

Tibalah kami pada sebuah turunan lumayan lucu dan imut dimana jalurnya menurun cukup tajam plus banyak switchback belokan patah. Saat kami tiba dimulut turunan sudah banyak goweser lain yang sedang mengantri. Lebih tepatnya menunggu giliran untuk menuntun sepeda pada turunan ini dengan sangat berhati-hati mengingat permukaan jalur yang banyak tanah dan batuan lepas khas perbukitan Cikalong Wetan. RogerBagen memilih untuk menunggu sampai agak jaur agak sepi. Dafi yang ditanya oleh ayahnya apakah berani menuruni turunan Jumanji hanya senyum simpul. Gue masih asik berdiri diatas sambil merokok memperhatikan beberapa goweser yang terpeleset baik itu yang sedang TTB ataupun yang sedang mencoba turunan ini dari atas sepedahnya.

Jumanji

Om Holis dan Pak Fivin sepertinya sudah tidak sabar menunggu sampai jalur benar-benar bersih. Pak Fivin menghentikan sepedahnya pada belokan kedua. Lalu naik keatas untuk untuk menjemput sepeda Dafi. Om Holis dengan Transition Bottle Rocket warna custom Hijau Stabilo juga sudah melesat turun. Jalur sudah hampir bersih, Gue perhatikan rider terdekat yang berpotensi menghalangi jalur lumayan berada jauh di depan sana. Naaah saat yang tepat untuk mencicipi Jumanji dan gue mulai menyiapkan sepeda.

Hohohoho ternyata jalur memang benar-benar licin dna agak sukar mendapatkan traksi. Tikungan bertama berhasil gue lewati dengan sempurna, sambial sedikit teriak agar jangan ada rider yang masuk ke dalam jalur. Sesudah melewati tikungan kedua … shite !!! ternyata di depan sana ada seorang rider yang tengah berdiri di tepi jalur namun badannya sedikit menutupi jalur….. Haiyaaaaaa terpaksa dech sedikit hard-brake dan walhasil sepeda berhasil gue hentikan tepat di hadapan sebuah pohon hihihihihihi. Disisi kiri gue juga sempat melihat om Holis sedang terduduk. “Mungkin om Holis sempat terjatuh juga,” gumam gue dalam hati namun gue tidak sempat berfikir terlalu lama.

Saatnya memulai menuruni Jumanji lagi gue lihat di depan sana Dafi masih ditengah jalur sedang berjalan menuruni turunan di area yang agak negatif. Mungkin karena memang jalurnya yang licin, gue lihat Dafi terpeleset dan jatuh ke arah kiri dan terguling mungkin sekitar 3 sampai 6 meter ke bawah. Gue menghentikan sepeda di titik Dafi tadi mulai terpeleset dan sedikit berteriak menanyakan kondisinya. Dafi terlihat sudah mulai dalam posisi duduk, terlihat santai dan sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Melihat keadaan Dafi yang gue rasa tidak berbahaya lalu gue kembali melanjutkan perjalanan menuntaskan turunan Jumanji yang mengasikkan ini. Sesampainya di ujung turunan, di depan sebuah dangau terlihat beberapa crew RogerBagen sedang menunggu disana. Gue ceritakan kejadian Dafi dan Om Holis kepada mereka. Tidak lama kemudian om Erik menerima telepon meminta bantuan untuk naik ke atas ke lokasi om Holis tadi terjatuh. Barulah gue sadar something quite serious happened .. Buru-buru gue berjalan menyusul ke atas.

Dafi yang tadi terlihat tenang sekarang sedang menangis sesegukan sedang diperiksa oleh om Erik. Sepertinya bukan menangis karena menahan rasa sakit namun lebih karena shock karena jatuh terguling-guling. Gue memilih untuk menghampiri om Holis yang sedang meringis menahan rasa sakit pada kaki kirinya lalu gue coba membuka sepatu yang dikenakannya. Om Erik yang telah selesai memeriksa Dafi juga telah datang ke lokasi tempat om Holis terduduk. Dari raut wajahnya sepertinya om Holis tidak akan dapat melanjutkan perjalanan. Gue inisiatif untuk membawa si Bottle Rocket turun. Lumayan masih setengah perjalanan lebih sampai di ujung turunan. Sampai dibawah segera gue naik lagi ketas untuk melihat kondisi om Holis dan Dafi. Dafi masih terlihat menangis dan om Holis masih diperiksa oleh om Erik. Ahirnya gue puskan untuk membawa turun sepeda Dafi.

Gue baru sadar kalau kacamata andalan gue hilang. Buru-buru gue berjalan kembali ketas untuk yang ketiga kalinya sembari mencoba mencari kayu untuk dijadikan tandu untuk evakuasi om Holis. Saat hampir tiba di ujung tanjakan Jumanji gue lihat Kang Coe senior kami dari Bandung dan rombongan juga sedang ada sedikit masalah karena salah seorang rider kram kakinya dan agak sulis untuk berjalan menuruni turunan Jumanji. Gue berinisiatif untuk membantu membawakan sepedanya. Tapi kali ini gue membawanya sambil TTB … sereeeem bo !!! pakai sepeda hardtail fork pendek dan headangle tegak di sini🙂

Karena tidak ada sama sekali  untuk dibuat tandu, maka proses evakuasi akan dilakukan dengan membopong om Holis berjalan secara perlahan. Om Irwand dan om Erik disisi kanan kiri membopong lengan  dan pantat lalu om Irwan mengambil posisi di depan membopong pangkal paha om Holis. Never leave our ride buddies behind.

10547758_10202943722614028_8452961292850674649_oR

Sesampainya dibawah ujung turunan Jumanji diskusi singkat dilakukan untuk mencari cara paling efisien mengevakuasi om Holis sampai di titik finish di Cirata. Sementara Dafi sudah kembali ceria dan mengajak ayahnya kembali balapan sampai ke titik finish. Berhubung jalur sudah cenderung menurun kami sepakat untuk mendudukkan om Holis di sadle sepeda denga tetap mendapatkan penjagaan di sisi kiri kanan depan dan belakang. Pokoknya mirip Secret Service saat mengawal Obama dech🙂. Gue memilih untuk mendahului mereka untuk segera sampai di titik finish untuk memberi kabar kepada peserta rombongan lain lalu kembali menyeberangi sungai untuk membantu proses evakuasi

1932715_10202943729814208_8949594201433327306_oR

10750070_10202943600010963_5236078751487900392_oR

Saat ini om Holis sedang dalam masa pemulihan setelah operasi atas patahnya tulang kaki telah berjalan dengan sukses. Speedy Recovery om .. semoga tetap bisa catch up skedul gobar teman kantor ke Bali ya🙂

10655279_10203516499846611_7305712590820916883_or

NuRa 9 November 2014

Saat hampir sebagian besar RogerBagen sedang asik melakukan rarat race seri ke 12 di Baturraden, gue cuma bisa menghabiskan jatah gowes bulan November di Nura. Maklumlah kali ini gue cuma dapat visa dan sinyal RRI (Restu Redho Istri) untuk area puncak dan sekitarnnya🙂 Untunglah di halaman mesjid Gadog gue ketemu dengan teman lama, om Ery Euy PGCC yang pagi itu bersama seorang temannya. So jadilah kita bertiga gowes di Nura.

Hari mulai siang saat angkot yang membawa kami tiba di start point Nura terlihat beberapa goweser yang juga sedang bersiap. Kami memang tadi sempat tertahan lama saat perjalanan menuju puncak oleh penutupan jalur satu arah. Dari obrolan singkat ternyata mereka sudah mau masuk ke Nura untuk yang kedua kali di hari ini. Rombongan dari Cikupa Tangerang ini pamit untuk gowes terlebih dahulu. Di rest area sesudah tanjakan kembali kami bertemu dengan mereka.

20141109101102r

Kembali mereka mohon diri untuk melanjutkan perjalanan terlebih dahulu. Sementara kita bertiga masih asik menarik nafas sehabis melewati tannjakan yang menyebalkan tadi. Kini saatnya menikmati jalur Nura yang agak basah di hari ini. Gatel juga melihat om Ery yang masih belum memacu sepedahnya. Kaya bukan om Ery yang gue kenal gitu lhoooh hihihihihihihihi.

Tidak begitu jauh dari lokasi pohon tumbang yang kedua om Ery menghentikan sepedahnya. Jalur terhalang oleh sepeda milik rombongan Cikupa yang digeletakkan begitu saja di tengah jalur yang memang agak menyempit ini. Ooooow rupanya telah terjadi kecelakaan. Salah seorang peserta rombongan mengatakan salah seorang rekannya jatuh ke jurang disisi kanan jalur.

20141109102759r

Menurutnya entah karena lelah dan ingin beristirahat atau mungkin karena ingin menghindari batu yang ada nyaris di tengah jalur sang korban lalu menghentikan sepedahnya dan meletakkan kaki kanan di atas batu. Namun apesnya mungkin karena batunya yang cukup licin membuat yang bersangkutan terpeleset dan jatuh ke dalam jurang tadi.

Saat kami tiba proses evakuasi sepeda (bike first hihihihihihi) sedang berjalan dengan mengangkatnya dari dasar jurang secara estafet. Beberapa orang setelah mendapatkan posisi berdiri yang mantaf saling mengulurkan tangan untuk mengangkat sepeda tersebut. Alhamdulillah baik sepeda dan pemiliknya tidak mendapatkan cidera serius. Walaupun lebih susah, namun sang korban juga berhasil dievakuasi diangkat keatas.

20141109101759r

Penutup :

Mountain Bike aka MTB, olah raga atupun hobby yang kita sama-sama sukai dan nikmati selama ini sejatinya adalah olahraga ekstrem yang kadar berbahayanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak memandang apakah itu genre ‘hanya’ XC, AM atau bahkan DH, marabahaya selalu mengintai kita semua para pelaku hobby ini. Namun apa mau dikata kalau sudah kadung suka dan cinta terkadang kita semua lupa akan marabaya tersebut. Kecelakaan tidak akan memandang bulu dan dapat terjadi pada siapapun. Dari seorang marshall yang sudah hafal setiap inci jalur, seorang weekend warrior yang sudah gowes lebih dari 8 tahun ataupun seorang anak kecil.

Fakta bahwa marabahaya tidak mungkiin dihilangkan sama sekali kala kita gowes di alam terbuka, maka yang bisa kita lakukan atau dalam bahasa alay-nya  ‘Managing Risk’ adalah seperti yang para senior-senior kita di dunia MTB selalu katakan, lengkapi diri dengan peralatan keamaan diri yang memadai dan skill yang cukup. Helm, knee dan elbow protector sudah menjadi kebutuhan dasar saat bersepeda.

“Masa pakai fork 160 ada drop di-rolling sih …..”

“Sepeda AM kok di turunan malah TTB….”

Satu hal yang mungkin sering dilupakan oleh kita semua saat bersepeda yang justru sangat murah dan mudah dilakukan saat Managing Risk dalam ber-MTB, yakni mengukur kemampuan, selalu sarapan pagi sebelum gowes dan membuang jauh-jauh rasa gengsi. Contoh celoteh diatas atau yang sejenisnya pastilah sering kita dengar. Sudah gak terhitung gue menyaksikan sendiri, membaca dan mendengar sebuah kecelakaan yang berawal dari rasa gengsi dan harga diri sang korban untuk TTB saat melewati sebuah turunan.

Kami di T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut gak pernah bosan menyuarakan kampanye untuk membuang jauh-jauh rasa gengsi tersebut. So silahkan aja mau pilih mana, buang jauh-jauh rasa gengsi tapi tetap bisa gowes di kesempatan lainnya atau pilih gengsi dan takut di bully tapi ahirnya kecelakaan, jatuh, patah tulang dan istirahat gowes berbulan-bulan? Man who fight and run away, live to fight another day.

Cheers, Mantel. Cikarang 18 Nov 2014

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut  (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com


3 comments

  1. resiko main sepedaan … kadang kebawa nafsu .. semoga tetap semangat bersepeda.
    blog-nya sangat menarik .. mantaff .. gowesnya sudah kemana mana …
    saya senang membacanya … salam kenal

  2. waah, aku yang dari bali aja lom berani main disana…… ( terlalu angker niih, kayaknya )
    palingan cuman di baturiti aja niih biasanya menggila, tapi kalo ke sana mikiri mikir dulu daah.
    cycle holic ga ada daah istilah kapok… biar kepala benjut, badan lecet lecet tapi, kalo nemu medan asik & sepeda masih lumayan sehat….. “GOWES TERUS AMPE MAMPUS” !!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s