Cilaki Pengalengan Not for Average Rider

Prolog

Hari libur bersama plus ahir pekan menjelang pergantian tahun 2014 gue lalui tanpa acara bersepeda satu kalipun. Perjalanan liburan ke Sumatera Selatan dan sekitarnya pada 20-26 Desember dengan mengendarai mobil membelah jalur tengah dan timur lintas Sumatera benar-benar harus berahir tanpa acara gowes sama sekali. Sepeda yang sudah siap dan duduk manis di dalam mobil dengan sangat terpaksa tetap berada ditempatnya saat gue mendapatkan info dari penduduk lokal bahwa disekitar pos titik pendakian awal gunung Dempo Tugu Rimau ini yang berada pada ketinggian 1820 mdpl menuju arah bawah area villa di Pagaralam sangat minim singletrack dan akan banyak melalui jalan seukuran mobil.

Sebaliknya ketidakberuntungan juga terjadi saat gue berkunjung ke Labuan Bajo medio Oktober 2014 lalu. Saat itu justru gue hanya mempersiapkan helm tanpa membawa sepeda karena saat browsing sebelum keberangkatan gue sama sekali tidak mendapatkan info mengenai adanya trek MTB disana. Namun apa yang terjadi saat gue tiba dan melihat sendiri betapa bukit-bukit tidak jauh dari tempat gue menginap disana seakan melambaikan tangan mengucapkan selamat datang dan selamat menikmati kami…. Hanya air liur yang dapat menetes melihat begitu anggunnya bukit-bukit tersebut menanti untuk dieksplor dengan MTB. Kenyataan terpait sepanjang tahun 2014 yang harus gue terima manakala mendapatkan kenyataan bahwa tidak ada satupun hotel ataupun tempat penyewaan sepeda atau bahkan toko yang menjual sepeda MTB disanašŸ™‚

LabuanBajo2

Anyway …. pada beberapa bulan belakangan ini terdapat lumayan banyak hal terkait MTB yang cukup menarik perhatian gue manakala membuka facebook. Postingan yang berisi beragam kegiatan MTB dari berbagai genre di berbagai jenis trek di berbagai daerah baik yang dilakukan oleh teman-teman gue sendiri ataupun temannya temannya teman gue dari berbagai komunitas MTB. Bivy biking aka bikecamp yang dilakukan di beberapa tempat oleh teman-teman Bee-G boys dan filosofi mereka dalam menikmati MTB sambil berpetualan di alam bebas termasuk yang cukup menarik perhatian gue.

Sepulang dari Sumatera Selatan secara tidak sengaja gue membaca sebuah informasi pada status FB milik salah seorang crew Bee-G boys tentang acara gowes di tanggal 3 Januari 2015 dalam tajuk soft opening sebuah trek di area Pengalengan Jawa Barat. Sepertinya kehidupan MTB gue di tahun 2015 memang sudah ditakdirkan dimulai di Pengalengan yang pernah gue kunjungi sebelumnya pada awal bulan Mei 2014 lalu saat menyicipi jalur Citando yang mashyur namanya di kalangan pencinta singletrack. (klik atau tap disini untuk membaca trip Citando klasik)

The Verdant Tea PlantationĀ 

Di hari H gue dan om Ijal Ā mewakili RogerBagen Bekasi gak ingin ketinggalan untuk mencoba jalur yang konon kabarnya baru akan diperkenalkan ke publik setelah acara gowes pada tanggal 3 Januari 2015 hari ini. Heran juga sih mengapa gue yang berangkat dari Cikarang bisa lebih dulu tiba di parkiran Situ Cileunca ketimbang om Ijal yang menyusul dari Bandung hihihihihi. Hujan gerimis yang turun mengiringi perjalanan kami dari Situ Cileunca menuju titik start sama sekali tidak mampu menghalangi pemandangan ajib hijaunya perkebunan teh yang benar-benar sayang untuk dilewatkan.

10409665_10152728348469332_1317638942471825178_nrr

“Beuhhhhhhh ini mah rider yang datang skill dan dengkulnya kelas kakap semua nich” gumam gue dalam hati saat melihat wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi. Ada kang Indra dan kang Jaep Bandung, om Ronni, om Erfin dan om Dave dari Santa Cruz Indonesia, beberapa rekan dari Freerider sudah juga terlihat disana.

Jalur Cilaki ini juga diperkenalkan dengan nama Citando 2 karena pada dasarnya titik start dan titik finishnya memang berada pada areal yang sama dengan yang digunakan pada jalur Citando klasik yakni area sumur geothermal Wayang Windu milik Pertamina-Star Energy dan berahir pada titik finish di Pasir Angin. Jalur lebar cenderung menurun di sela-sela hamparan hijaunya perkebunan teh Kertamanah yang indah menjadi hidangan pembangkit selera kami di pagi itu.

10406416_10152728351264332_211291007316567723_nrr

Bagi rider pecinta turunan dan kecepatan mungkin tidak akan menemukan sesuatu yang wow banget dari jalur kebun teh pada etape pertama dan kedua ini. Namun tidak demikian bagi rider pickniker pecinta singletrack seperti gue ini yang sepanjang jalan tidak henti-hentinya lirik kanan-lirik kiri menikmati pemandangan sambil tetap fokus kondisi trek di depan tentunya.

Selepas jalur kebun teh kami mulai memasuki singletrack lurus lumayan panjang melewati tengah-tengah ladang sayuran milik penduduk. Disambung dengan memasuki sebuah jalan pedesaan menurun dengan bermukaan bebatuan lepas. Di ujung turunan terlihat beberapa penduduk sedang mengumpulan dan merapikan hasil ladang berupa kembang kol ke atas jok sebuah motor. Beberapa rider peserta rombongan gowes hari ini juga tampak sedang beristirahat di depan sebuah bangunan berbentuk seperti gedung lapangan bulutangkis dengan dinding seng dominan berwarna abu-abu dengan sebuah tulisan lumayan besar menggunakan 3 macam bahasa, yakni bahasa Belanda, bahasa Indonesia ejaan lama dan bahasa Sunda dengan huruf kuno. Tertulis disana “levens gevaar hookspanning” yang kurang lebih maknanya berupa peringatan bahwa ada tegangan tinggi disana (SotoyBanget.com).

Gak disangka ternyata inilah lokasi dari curug Cilaki, lokasi curugnya sendiri tidak terlalu jauh di belakang bangunan ini. Untuk menuju kesana gue berjalan hati-hati melewati samping bangunan abu-abu tadi. Dengan sedikit penasaran, melalui sebuah jendela kaca yang ada di tembok samping gue mencoba melihat isi dari bangunan ini. Ahaaaaa ternyata di dalamnya terdapat turbin yang digerakkan oleh aliran air dari curug Cilaki. Terlihat beberapa tulisan yang juga dalam bahasa Belanda disamping turbin. Jadi kebayang donk berapa usia turbin pembangkin listrik ini.

Dari 30 peserta gowes entah mengapa tidak banyak yang mau menyambangi lokasi curug. Padahal andai mereka tahu, bersantai-santai sebentar di bawah curug bisa menjadi semacam mood-booster lho (mulai sotoy lagi hihihihihihi) sebelum melanjutkan perjalanan gowes. Curug atau air terjun Cilaki ini tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu lebar. Airnyapun tidak terlalu jernih dan di bawahnya terdapat sebuah kolam alami. Pada arah jam 3 dari air terjun terdapat pula air terjun dengan ukuran lebih mini lagi namun lebih tinggi dibandingkan curug Cilaki.

cropped-curug-cilaki

Cilaki Trail Not for Average Rider

Sejatinya pertualangan di trek Cilaki dimulai dari sini. Sebuah jembatan kayu yang melintasi sungai yang aliran airnya kiriman dari curug Cilaki tadi bukanlah sebuah jembatan yang lebar ukurannya. Hanya ada satu pegangan tangan yang terbuat dari bambu pada salah satu sisinya. Selepas menyeberangi sungai jalur dihadapan kami adalah sebuah tanjakan panjang meliuk-liuk. Beberapa rider memilih untuk mengangkat sepeda ke pundak ketimbang menuntunnya di spot ini.

Bersepeda menggunakan sepatu hiking sudah gue lakukan sedari awal menekuni duni MTB ini. Banyak plus factor yang gue rasakan dengan menggunakan sepatu dengan sol dengan pola bergerigi seperti halnya saat melintasi tanjakan ini. Beberapa rider yang tadinya memanggul sepeda mulai goyah iman dan fisiknya lalu memutuskan untuk menuntun dan mendorongnya. Alhamdulillah kami di T4 aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut aka TaTuTuTa telah dibekali materi yang cukup tentang bagaimana menuntun sepeda dengan lebih efisien pada jalur seperti ini hihihihihihihi.

007r

Semakin jauh kami melangkah sambil mendorong sepeda, celoteh, gelak canda riang yang sebelumnya nyaring terdengar mulai berkurang sedikit demi sedikit. Wajah beberapa rider juga sudah mulai terlihat berkurang senyumnya. Gue sendiri sudah sedari tadi menghitung langkah dan berhenti beristirahat manakala rider di depan juga sedang berhenti. Apakah sama sekali tidak bisa digowes di jalur ini? mungkin ada diantara anda yang bertanya seperti itu… Ummmm well … jangankan digowes … jalan perlahan sambil menuntun sepeda aja kadang kalau tidak cermat memilih pijakan kita akan terpeleset kok. Beberapa rider terlihat mulai menyerah dan memutuskan menitipkan sepedahnya untuk dibawakan oleh sang marshalšŸ™‚

014r

Ahir dari tanjakan setan ini berupa sebidang tanah datar lumayan luas. Tawa riang dan celoteh kembali terdengar disini. Menurut hitungan jumlah langkah gue yang sama sekali tidak terkalibrasi ini, selepas dari jembatan kayu hingga di spot ini nyaris berjarak 900-an meter. Hehehehehe lumayaaaaaaaan.

The Cilaki Forest

Hujan gerimis yang sudah sedari tadi menetes tidak bertambah lebat tidak pula berhenti turun. Setelah cukup lama beristirahat sambil menunggu seluruh peserta rombongan menyelesaikan tanjakan setan yang cukup menguras tenaga tadi kami bersiap-siap untuk menikmati turunan di dalam area hutan Cilaki. Ceritanya sih pada mau balas dendam hihihihihihi. Namun ternyata jalur menurun belum juga hadir di depan mata kami. TTB masih harus kami lakukan untuk beberapa saat sebelum ahirnya kami benar-benar menemukan jalur menurun yang cukup licin namun sangat asyik untuk dinikmati. Tidak percuma sehari sebelum keberangkatan mengikuti trip ini gue sempat mengganti ban depan dengan Minion DHF yang gue sandingkan dengan Kenda Navegal di belakang. Kedua tipe ban ini mempunyai karakter yang hampir sama saat melewati permukaan jalur yang licin. Terlepas dari tehnik pengereman yang harus pas porsinya kedua ban ini cukup membantu memberikan traksi sehingga sepeda tidak bergerak liar.

036r

“Just commit to your line choice, stay away your fingers from brake lever then you’ll enjoy the ride in the wet race”, kurang lebih demikian petuah dari para senior di RogerBagen yang gue sedang coba terapkan di jalur super licin hutan Cilaki ini. So far it works. Terhitung cuma 4 kali aja gue kok terpeleset (jatuh 4 kali kok bangga??? hihihihihih) akibat terlalu banyak memberi porsi rem depan dan atau belakang pada sebuah turunan yang lumayan curam.

Tidak semua area di dalam hutan menjadi licin akibat air hujan. Masih banyak spot dengan permukaan yang walaupun basah namun tetap aman dan nyaman dilalui bahkan dengan sedikit tambahan kecepatan. Daun dan dahan pohon pinus yang jatuh menutupi permukaan juga cukup memberi andil yang besar terhadap traksi yang didapat oleh kedua ban sepeda gue saat melintasinya.

028r

037r

Ahir dari jalur syurga hutan Cilaki adalah manakala kita mulai memasuki areal persawahan dengan view yang tidak kalah dengan area persawahan saat keluar meninggalkan area hutan Londok yang pernah gue nikmati saat trip CidaunĀ (klik atau Tap disini untuk membaca trip hutan Londok) beberapa waktu yang lalu. Beberapa rider sudah mulai meninggalkan tempat kami beristirahat di depan sebuah rumah penduduk. Om Ijal yang baru saja keluar dari area hutan Cilaki terlihat senyum cengengesan. kotoran tanah terlihat disebagian sisi wajahnya hihihihihihihi. Alasannya sih akibat jatuh terpeleset karena gak konsen kehabisan perbekalan airšŸ™‚

HaveĀ I Mentioned Cilaki Trail is Not for Average Rider ?

Oke saatnya kembali meneruskan perjalanan. Gue dan om Ijal pamit untuk terlebih dahulu meninggalkan tempat regroup tadi. Setelah cukup ragu dan sempat salah jalan ahirnya kami kembali ke jalan yang benar, sebuah singletrack lumayan maknyus.

Selepas dari desa tadi ternyata kami masih tetap berada di ketinggian. Kabut yang menutupi puncak bukit semakin membuat pemandangan disini sungguh sangat sayang untuk dilewatkan. Areal sawah bertingkat, lembah hijau di bawah sana plus bukit-bukit hijau yang tegak berdiri seperti meminta kami berdua untuk singgah sejenak untuk menikmatinya lebih lama.

043r

040r

Selepas spot dengan view ajib tadi kini kami disajikan jalan perkampungan menurun McAdam. Gue sedikit gelisah dengan kondisi kontur seperti ini. Jalan yang kami lalui semakin menurun tajam. jauh di bawah sana terlihat sungai dan sebuah jembatan. Melihat kontur yang ada ini artinya selepas jembatan tersebut kita harus melewati jalan menanjak. Tidak mau mengambil resiko lebih jauh, saat gue berpapasan dengan seorang penduduk gue menanyakan arah menuju Pasir Angin tempat titik finis trip ini. Penduduk tadi mengatakan jalur yang kita sedang lewati inipun memang menuju Pasir Angin. Ada satu jaur lainnya yang juga akan menuju Pasir Angin namun dengan kondisi jalan menanjak yang lebih terjal. Argggggh kedua jalur memang sama-sama menawarkan tanjakan yang sudah pasti akan menguras tenaga. So ahirnya kita sepakat untuk meneruskan jalur ini menuju jembatan di bawah sana sambil tetap main hujan-hujanan.

Daaan ternyataaaaaa memang benar ….. selepas jembatan jalan terlihat berkelok-kelok menanjak curam seperti ular. TTB kembali menjadi pilihan yang bijaksana di jalur menanjak seperti ini. Gue akan mencoba mendisiplinkan diri dengan hanya akan berhenti setiap hitungan langkah ke-50 ataupun 60. Jika ditotal dengan jumlah langkah sesaat setelah jembatan kayu di samping rumah turbin tadi maka tepat pada langkah ke 1487 (please dech jangan tanya ke gue apakah jumlah langkahnya memang tepat sebanyak 1487 hihihihi) tibalah gue di sebuah warung dimana gue lihat beberapa peserta rombongan juga sedang berteduh sambil beristirahat. Yeaaaaah Alhamdulillah ternyata inilah Pasir Angin titik finish dari jalur Cilaki atau Citando 2 ini.

Penutup

What a trip …. Tanjakan setan tadi sejatinya adalah jalur yang dibuat oleh penduduk sebagai jalur untuk membawa kembang kol. Setelah merasakan sendiri berjalan melewatinya dengan beban sepeda + backpack tidak lebih dari 20 kg lalu gue mencoba memposisikan diri menjadi penduduk tadi, meresapi dan merasakan perjuangan berat yang harus dilalui oleh para penduduk peladang saat mereka membawa hasil panen yang bisa jadi lebih dari 20 kg (walaupun mereka menuju arah menurun).

Terlepas dari 2 tanjakan yang cukup menguras tenaga tadi, acara gowes perdana gue di tahun 2015 lumayan cukup berkesan. Insya Allah bulan-bulan mendatang gue akan kembali datang ke Pengalengan. Masih ada beberapa jalur MTB di sekitar sini yang belum pernah gue coba.

Special thanks untuk Kang Wawan dan kang Aboey dan juga seluruh crew marshal pada trip ini. Thanks juga untuk om Dave atas izin penggunaan beberapa fotonya. See you on next trip.

Cheers, Mantel. Cikarang 8 Januari 2015

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)
| twitter : @jashujan | email : payung[at]yahoo.com |blog : jashujan.wordpress.com |


2 comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s