Fun Bike at Mt Pangrango Jungle Track

Prolog :

Kehidupan dan karir MTB saya karena sesuatu hal sudah berhenti kurang lebih 4 bulan. Memasuki bulan ramadhan kali ini sepertinya akan memperpanjang masa istirahat saya bersepeda. Untuk mengilangkan rasa kangen mungkin ada baiknya saya menguak-ngutik laptop untuk memberikan sepatah dua patah kata narasai terhadap koleksi foto dari trip terahir bersepeda yang sekaligus juga merupakan posting saya ke-62 di blog ini.

Andai saya disodori sebuah kuestioner untuk menyebutkan salah seorang nama senior MTB spesialis epic ride yang saya ingin banget bisa gowes bareng dengannya. Mungkin dengan tanpa ragu saya akan sebut nama kang Cican Chandra JJ. Sebenarnya sih ingin sebut nama Hans Rey  tapi yaaaaa sudahlah … menunggu undangan gowes bareng dari Hans Rey ibarat menunggu proyek MRT di Jakarta hahahahaha.

Sudah menjadi qadarullah ahirnya Sabtu 28 Februari 2015 ahirnya saya bisa juga gowes bareng dengan kang Cican. Tujuan gowes dihari itu lokasinyapun tidak terlalu jauh, sebuah air terjun yang mungkin sudah banyak dilupakan orang yakni curug Beret. Ibarat pepatah sudah dikasih pinjaman tangga dibikinin kopi pula, Alhamdulillah hari ini bisa berkenalan dengan Kang Dadan salah seorang MTB-er handal sekaligus praktisi petualang rimba jempolan yang secara khusus akan menemani acara fun bike di sekitaran kaki Gn Pangrango.

How To Get There

Tikum dan parkir mobil di sekitaran Ciawi sekalian jemput kang Dadan dan beberapa peserta lainnya, gowes onroad sebentar menuju jalan di samping RM Padang dekat mesjid Gadog. Ide awal dari wak Joko untuk melanjutkan gowes menanjak sampai warung di pertigaan ujung jalan aspal jalur RA – Ngehe1 secara mufakat kami tolak mentah-mentah. Gak kebayang harus gowes melawan arah di spot menurun yang biasa kita lalui dengan kecepatan lebih dari 40km/j sehabis dari jalur RA hahahahaha.

Bagi rekan-rekan yang sering gowes jalur RA – Ngehe 3 tentu sudah sangat familiar dengan turunan panjang berupa McAdam yang berujung di spot yang sama yakni sebuah warung di pertigaan jalur jalan aspal. Nah menu pemanasan kami pagi itu adalah gowes melawan arah jalur McAdam tadi terus sampai memasuki areal hutan dan regroup di spot kandang nyamuk🙂

003r

007r

Menurut rencana tempat pertama yang akan kami singgahi sebelum fun bike di jungle track kaki gn Pangrango adalah menuju the Kingdom of Pacet Curug Beret. Jalan masuk ke arah curug ini memang disisi kanan (dari arah kami datang) tepat di bawah bangunan berbentuk tugu tidak terlalu jauh dari sarang nyamuk yang sebenarnya sudah masuk ke dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Walaupun terdapat petunjuk arah, namun sepertinya tempat wisata Curug Beret ini sepertinya sudah hampir dilupakan orang. Mungkin karena faktor akses jalan menuju ke lokasi yang lumayan cukup susah untuk dilalui. Bagi anggota rombangan gowes saya di hari ini yang notabene para penggila petualang sepertinya semakin susah jalur yang harus dilalui maka akan semakin nikmat acara gowesnya.

012r

Ujian pertama terhadap jiwa petualang kami di hari ini adalah manakala kami harus melalui jalur yang terputus akibat longsor. Begitu dahsyatnya kejadian longsor yang sepertinya belum lama terjadi terlihat dari bongkahan akar pohon besar yang menutupi jalur serta permukaan tanah bekas jalur longsoran yang sudah bersih dari segala jenis tanaman sehingga terlihat benar-benar seperti sebuah jalur baru namun tegak vertikal keatas hihihihihihi.

017r

019r

Anda pikir yang diatas itu adalah jalur sepeda? Itu jalur longsoran lho🙂

Lepas dari tantangan pertama berupa longsoran kini kami disajikan singletrack maknyus khas hutan tropis. Semakin masuk ke dalam sinar matahari semakin tidak terasa sinar dan sengatannya. Entah sudah berapa tahun saya tidak menginjakkan kaki di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang pasti rasa dahaga terhadap jalur sepedahan di dalam hutan mulai sirna di hari ini. ‘Damn .. This is one one of the best jungle singletrack I have ever ridden,’ saya bergumam dalam hati.

Entah sudah berapa kali jalur yang kami lalui harus menyeberangi sungai dengan airnya yang sangat jernih sejernih air mineral botolan. Yang di depan mata saya kali ini sungainya juga tidak terlalu lebar, dangkal dan banyak bebatuan besar  namun dengan air yang lumayan deras. Sebuah spot yang sangat menarik untuk dokumentasi. Buru-buru saya mengeluarkan kamera saku .. jpreeeeet …. hasilnya salah satu koleksi foto favorit saya, sebuah MTB lawas Santa Cruz Nomad MK1 berdiri sangat anggun di kaki Gunung Pangrango … Eaaaaaaaaaaaaa  :-)

039r

Selepas menyeberangi sungai kecil tadi jalur sepeda kembali menunjukan kualitasnya. Sebuah singletrack panjang, tidak menurun tidak pula menanjak. Woooow sepertinya 6 tahun lebih masa pencarian saya terhadap singletrack idaman ke beberapa lokasi gowes di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi ahirnya salah satunya saya temukan dan lokasinya ternyata 2.5 jam perjalanan dari rumah tempat saya tinggal🙂

Selain pecinta gowes petualang, ternyata irama gowes dari rekan-rekan seperjalanan saya hari ini juga benar-benar membuat saya makin sadar bahwa saya masih harus lebih rutin gowes. Fisik saya yang memang tidak terlatih gowes setiap minggu ketambahan di hari itu saya sedang sedang sedikit flu harus sedikit bersusah payah mengejar goweser di depan. Namun sempurnanya jalur disini seakan seperti obat yang mujarab, memberi energi lebih untuk sedikit dapat mengimbangi mereka.

Ini bukan di Whistler lho ….

Hujan langsung deras mengguyur sesaat kami tiba di curug Beret membuat saya sendiri lupa untuk membuat dokumentasi di spot ini. Curug Beret ini sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi yang secara geografis masih masuk ke dalam wilayah Kecamatan Megamendung. Dari cerita yang saya dengar sebelum menjalani trip ini di lokasi inilah pusat dari kerajaan pacet/lintah. Jadi sambil terbutu-buru merapikan backpack sesekali saya memeriksa kaki, betis, tangan, lengan, badan mencari-cari bilamana para pacet sudah hinggap disana🙂 So far masih aman, belum saya temukan satupun pacet dan belum ada rasa perih sedikitpun yang saya rasakan.

Kang Dadan memilih jalur yang berbeda pada sebuah pertigaan tidak begitu jauh dari tempat kami memarkirkan sepeda saat kami menuju Curug Beret. Bersepeda ditengah hujan di dalam hutan seperti ini benar-benar memberikan sensasi yang luar biasa, Tujuan kami berikutnya adalah menuju Bumi Perkemahan Baru Bolang dimana menurut rencana kami akan beristirahat makan siang disana.

Keasikan kami bersepeda melalui jalur flowy dengan bonus hujan yang masih turun rintik-rintik ini terhenti saat kami dihadapkan oleh sebuah sungai (lagi) dengan debit air yang lumayan deras. Kang Cican dan Om Aldi berinisiatif berjalan di muka mencari sisi permukaan sungai yang dangkal yang aman untuk dilalui untuk menyeberangi sungai ini. Bumi Perkemahan Baru Bolang memang berada tidak jauh lagi diseberang sungai ini.

067r

070r

Tidak ada yang lebih nikmat ketimbang makan siang sesudah gowes di tengah hutan

Lauk pauk yang kami bawa untuk bekal makan siang ternyata berlebih. Kang Dadan memberikannya kepada salah seorang siswi yang sedang berkemah disana. Secara tersirat saya menangkap isyarat bahwa perjalanan pulang hanya akan gowes santai tanpa harus berbekal makanan lagi. Yup memang benar 30-45 menit pertama gowes dalam perjalanan pulang memang benar-benar kembali jalur surga. Namun lama kelamaan tingkat kesulitan dan hambatan baik itu batang pohon yang melintang setinggi kepala ataupun batang pohon tumbang yang melintang di tengah jalur makin sering terlihat dan menambah sensasi tambahan gowes di hari ini,

075r

Kang Cican dan kang Dadan di depan sana memberi isyarat kepada rombongan untuk berhenti di posisi kami berada saat itu. Terlihat mereka berdua meletakkan sepeda masing-masing dan berjalan ke arah ilalang di depan sana. Jalur memang terlihat sudah tidak tampak lagi terlihat di lokasi tempat mereka meletakkan sepeda. Cukup lama kami menunggu mereka berorientasi terhadap jalur yang akan kami lalui. Tidak ada perasaan cemas sedikitpun di dalam hati saya karena dua orang di depan sana bisa dibilang yang paling tahu seluk beluk jalur di sekitar kami gunung Pangrango ini.

Ahirnya mereka tiba kembali di lokasi tempat kami regroup ini sambil memberikan isyarat untuk mulai melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur mulai tidak ramah untuk di gowes. Bukan karena permukaan tanahnya, namun halangan dan rintangan semakin banyak kami temui hihihihihihi

084r

Semakin lama dan semakin jauh berjalan semakin sukar untuk dicerna akal sehat apakah jalur ini memang jalur pendakian ataupun jalur penduduk. Halangan yang sama berupa dahan-dahan pohon semakin rapat dan semakin banyak kami temui. Namun kesemuanya tadi belumlah seberapa jika dibandingkan dengan apa yang ada di depan kami saat ini. Sebuah titik longsor kembali menutupi jalur. Dan kali ini kami melihat hanya sedikit kemungkinan  titik longsor ini akan bisa kami lewati.

090r

Tanah longsor yang masih terlihat mudah luruh jika diinjak terlihat menutupi semua bidang jalur. Jangankan untuk membawa sepeda, untuk berjalan membawa badan ini saja sudah terbayang kesulitannya. Hanya semangat untuk sampai kembali bertemu keluarga di rumah yang membuat kami tetap bersemangat untuk mencari cara agar bisa melewati titik longsor ini. #LebayModeOn

088r

Alhamdulillah dengan kerjasama tim yang solid walaupun fisik sudah nyaris habis terkuras ahirnya kami bisa melewati spot titik longsor tadi. Perjalanan kami lanjutkan dan objektif kami selanjutnya adalah mencari landmark berupa pipa air sebagai tanda bahwa kami berada pada arah yang benar menuju jalan pulang melewati makam Nazi Jerman.

Penutup :

Menjelang adzan ashar kami sudah mulai melihat pepohonan pisang ciri khas tumbuhan daerah yang tidak terlalu tinggi. Dan alhamdulillah-nya lagi tidak lama kemudian disusul hujan yang lumayan deras. Sungguh tidak terbayang jika hujan tadi turun saat kami masih berada di dalam area hutan kawasan  Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Special thanks untuk kang Cican JJ, kang Dadan, om Aldi Bogor yang telah memperbolehkan nyubi ikut serta dalam trip kali ini. Undangan gobar yang sedianya akan dilakukan pada bulam Mei 2015 lalu terpaksa kita cancel dulu ya kang. Semoga jika saatnya tiba saya masih ingat cara mengayuh sepeda🙂

Cheers,

Mantel. Cikarang 23 Juni 2015

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut  (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com


2 comments

  1. Mantap nih om ceritanya…
    Pepotoannya juga kerenn…
    Main ke tempat ane om🙂 sirun.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s