Gn. Sindoro, Perfect Trail For T4 Addict

Prolog

Rencana menginap di Wonosobo dan gowes di beberapa jalur MTB di gn Sindoro pada minggu ke-4 bulan September 2015 akan  menjadi kunjungan ketiga gue di kota ‘dua gunung’ ini setelah dua kunjungan sebelumnya untuk dua hobi gue yang lain di tahun 2012 dan 2014. Bagi rekan-rekan yang lahir atau menghabiskan masa kecilnya di era acara Gemar Menggambar bersama Alm. Pak Tino Sidin di TVRI mungkin masih teringat banyaknya kiriman gambar berupa pemandangan dengan dua buah gunung dengan sebuah jalan yang membelah di tengahnya serta tiang listrik ataupun pohon di sisi kiri-kanan jalan. Mungkin seperti itulah kondisi alam kota Wonosobo yang memang diapit oleh gunung Sindoro dan gunung Sumbing.

Persiapan trip gn Sindoro ini seperti dejavu dari trip ke gn Merapi pada awal Februari 2014 saat rarat Race seri kedua diselenggarakan. Kalau saat itu rencana keberangkatan kami dihantui perasaan was-was karena adanya potensi guguran material akibat gunung Merapi yang sedang terbatuk-batuk, maka keberangkatan rombongan ke Wonosoba kali ini juga disertai dengan perasaan was-was dengan kadar yang hampir sama akibat berita terbakarnya beberapa bagian di gunung Sindoro.

IMG-20150923-WA0004r

Sampai ahirnya kami mendapat konfirmasi dari rekan-rekan di Wonosobo bahwa area yang terbakar terletak masih cukup jauh di atas titik start etape ke-1 yang akan kami coba. So here we go again …. Gue berangkat mendahului rombongan Roger Bagen kurang lebih dengan selang waktu hampir 7 jam. Menurut rencana mereka akan menginap di rumah om Adit; salah seorang selebritis MTB Indonesia yang terkenal akan kebaikan hati, keramahtamahannya🙂. Sementara gue dan istri akan mencoba go-show mencari hotel dengan harga yang bersahabat namun nyaman di sekitar alun-alun kota Wonosoba.

Jika memori daya ingat gue masih bagus, perkenalan pertama gue dengan om Adit saat beliau ikut gowes lokal ke Nawit bersama RogerBagen dan saat itu om Adit ‘hilang’ hampir 1.5 jam di hutan belantara jalur Nawit (atau Bondol ya? please cmiiw) saat perjalanan pulang🙂

Sangat senang di lokasi yang jauh dari tempat tinggal namun dapat berjumpa kembali dengan om-om rombongan kecil dari RogerBagen. Pak Fivin CEO-nya RogerBagen, pak Didi, om Demank, om Ade TN, om Agung, om Budhie, om Asrul yang baru kembali dari jazirah Arab, om Yans kakak kelas gue di SMAN 1 Jakarta, dan om Holies sang EO handal tampak diantara peserta rombongan dari Bekasi ini.

Tidak kalah exited-nya gue manakala mendengar penjelasan dari om marshal saat briefing di halaman rumah om Adit sesaat sebelum berangkat bahwa saat ini MTB (pada umumnya) dan jalur MTB di sekitar Wonosobo (pada khususnya) sudah mulai bisa menjadi daya tarik wisatawan lokal (baca : MTB rider) baik itu dari pulau Jawa ataupun luar pulau Jawa untuk datang ke Wonosobo. Uang yang mereka belanjakan sedikit banyak akan menambah pendapatan asli daerah dan tentunya juga akan dapat meningkatkan perekonomian daerah. Think about this simple example; MTB rider seperti gue ini yang membelanjakan uangnya menyewa hotel ataupun rekan-rekan Roger Bagen yang berbelanja purwaceng,  jajan mie ongklok. Lalu para pegawai hotel, toko oleh-oleh dan warung mie onglok dapat menerima gaji karena tempat mereka bekerja mendapatkan pemasukan. Lalu mereka membelanjakan gaji mereka membeli kebutuhan pokok di pasar. Pedagang di pasar dapat meneruskan usahanya karena dagangannya laku terjual dan para pedagang tersebut terus dapat membeli hasil bumi para petani. Para petani mendapatkan pemasukan dan begitu seterusnya sehingga membentuk efek domino yang masif.

The Trails – Etape 1, Posong

Saat briefing tadi om marshal juga sempat bercerita bahwa butuh waktu lebih dari 3 hari full day gowes untuk bisa menuntaskan selurih jalur MTB yang ada di gn Sindoro dan gn Sumbing. So jika kami hanya punya waktu 1 hari saja maka andai kami dapat mencoba 2 jalur rasanya itu sudah lebih dari cukup.

Entah dengan pertimbangan apa sehingga jalur Posong khusus dipilihkan oleh rekan-rekan marshal untuk RogerBagen pada etape pertama. Gue memilih untuk aklitimasi sambil menikmati pemandangan sekeliling ketimbang berfoto ria seperti yang sedang temen-teman lakukan di bawah sana. Gunung Sumbing berdiri nan gagah saat dipilih untuk menjadi background acara ritual foto keluarga.

Sindoro 014r

Mirip dengan yang dimiliki oleh jalur Sapuangin ataupun Klangon, jalur Posong ini juga telah langsung tanpa basa-basi mempersilahkan kami semua untuk segera bergerak menuju titik start yang sesungguhnya dengan TTB hihihihihihi. Sekedar informasi acara gowes terahir kali yang gue lakukan adalah sekitar 1,5 bulan sebelumnya saat mencoba jalur C2AM 7 menuju curug Cibareubeuy yakni pada tanggal 8 Agustus 2015. Jadi kalau saat di Posong ini gue harus langsung TTB sepertinya memang sebuah bentuk pemanasan yang gue benar-benar gue butuhkan.

Setelah vakum total dari kegiatan gowes selama berminggu-minggu membuat gue nyaris lupa semua tehnik bersepeda di medan off road. Saat itu mungkin hanya tehnik memilih jersey, celana, helm dan kaos kaki dengan warna yang selaras saja yang masih gue ingat betul dari dunia MTB. Anyway sebuah turunan lumayan terjal dan panjang yang ada di hadapan gue adalah awal sebenarnya dari jalur Posong ini.

Sindoro 017r

Jujur saja gue gak mau nantinya malah tidak bisa meneruskan acara gowes hari ini hanya karena memaksakan diri di turunan ini. Gak peduli apa nanti komentar dari para om marhsal terhadap rider dengan tunggangan Santa Cruz Bullit dengan rear wheel dan fork travel 180mm yang TTB di turunan ini, yang pasti gue tetap memilih untuk menuntun sepeda di spot ini🙂

Selepas turunan tadi barulah gue benar-benar bisa menikmati suguhan singletrack khas lereng gn Sindoro pada ketinggian 1500-1600 mdpl dimana hampir sebagian besar tanpa terlindung rindangnya pepohonan. Bahkan di beberapa bagian saat melewati punggungan bukit hampir bisa dibilang kita melewati area terbuka yang hanya ditumbuhi ilalang. Mungkin hal ini juga menjadi salah satu penyebab mudah terbakarnya gn Sindoro ini.

IMG-20150927-WA0006r

Seleksi alam dan perbedaan pace gowes saat diturunan panjang ini membuat rombongan mulai tercerai berai lumayan jauh. Gue sendiri berusaha menikmati gowes perdana ini sambil tetap santai namun berusaha untuk tidak menghambat goweser yang mungkin makin mendekat di belakang gue. Setalah melahap turunan yang panjang tadi dengan lumayan kencang gue harus menghentikan sepeda karena di depan sana jalur terbelah dua. Tidak ada seorangpun peserta rombongan yang gue temui disana. Jika mengikuti kata hati dan common sense pasti kelanjutan jalur yang akan gue pilih adalah ke arah kiri karena memang jalur tetap menurun ke arah sana. Sebaliknya jalur ke arah kanan adalah sebuah tanjakan. Belum lagi tidak jauh dari posisi gue berhenti ini gue lihat sebuah plang petunjuk arah dengan tulisan crystal clear ‘Jalur Pendakian’ dengan arah panah menunjuk ke arah jalur yang menanjak. So which one should i choose?

Alhamdulillah setelah berhenti hampir 5 menit ahirnya dengan besar hati namun plus senyum kecut gue harus memilih berbelok ke arah kanan yang menanjak. Beberapa rekan yang menggunakan jersey dengan warna ngejreng nan menyolok yang tadi posisi gowesnya berada di depan gue terlihat juga sedang berteduh sambil beristirahat sekitar 300 mt dari lokasi pertigaan ini bak mengkonfirmasikan arah yang harus gue ambil adalah memang benar adanya ke arah kanan. TTB kembali menjadi pilihan utama saat menyusul rombongan untuk regroup disana.

Sindoro 021r

Setelah istirahat hampir 20 menit di lokasi regroup hanya tinggal om Holis yang belum terlihat batang handlebar-nya. Padahal posisi beliau saat di turunan panjang sebelum pertigaan tadi sebenarnya tidak terlalu terpaut jauh dengan gue. Bahkan ketika hampir seluruh peserta rombongan belakang sudah tiba disini dan mereka mengatakan sama sekali tidak melihat dan melewati om Holis. Dengan kata lain bisa dipastikan bukan karena trouble pada sepeda yang menghambat om Holise tiba di lokasi regroup.

Om Marshal yang berinisiatif menyusul  ke arah turunan panjang tadi bahkan sudah kembali ke lokasi regroup dengan tangan hampa. Jadi dimanakah keberadaan om Holis???  Ternyata bukan hanya gue yang mengalami kebingungan saat di pertigaan tadi. Om Holis dengan sangat PD-nya langsung ambil jalur ke arah kiri dan sepertinya lupa diri terlalu asyik meneruskan jalur menurun sampai pada ahirnya baru sadar bahwa jalur yang dipilihnya adalah salah manakala sama sekali tidak menemui peserta rombongan. Lumayan laaaah om harus balik arah plus menanjak🙂

Sindoro 033r

Gue teringat ucapan om marshal saat briefing tadi pagi tentang karakter jalur MTB di gn Sindoro pada umumnya dan jalur Posong pada khususnya dimana banyak terdapat roller-coaster alias turunan super terjal yang langsung disambung dengan tanjakan (yang super terjal juga tentunya hihihihi). So far perkataan beliau memang benar adanya.

Terhitung sejak start tadi sudah 3 buah roller coaster yang harus kita lewati.  Sebenarnya kurang tepat rasanya jika turunan tersebut dikiaskan dengan roller-coaster karena setelah kita tiba pada dasar turunan yang biasanya adalah sebuah sungai kecil lalu arah jalur sedikit berbelok baru dilanjutkan dengan tanjakan.  Sepandai-pandainya kita menjaga momentum agar kecepatan sisa dari turunan dapat kita gunakan saat ditanjakan namun faktanya sungguh sulit melewati tanjakan tersebut tanpa TTB.

Satu hal lain yang menjadi ciri khas jalur MTB di gn Sindoro adalah banyaknya punggungan yang harus kita lalui. Mungkin karena jalur ini juga sudah jarang dilalui oleh para penduduk maka jalur nyaris tidak terlihat karena tertutup ilalang.  Yang menjadikan masalah sesungguhnya bukanlah ilalang tersebut, namun jalur yang setipis silet dengan jurang yang lumayan dalam sebagai bonus disisi kiri atau kanan jalurlah yang patut para rider harus selalu waspadai.

IMG-20151001-WA0035rr

 

I know it’s very basic but gue berusaha berkomitmen untuk tetap berada pada sisi berseberangan dengan jurang saat melalui jalur seperti ini. Jadi jika dinding punggungan ada disisi kanan maka gue TTB  merapat punggungan dan posisi sepeda disisi dekat jurang. Worst come to worst gue akan tetap mempunyai pijakan yang kuat bilamana roda sepeda harus terpeleset dan jatuh ke jurang.

Saat sedang tertatih-tatih menuntun sepeda di jalur silet lumayan panjang ini tiba-tba di depan sana gue lihat om Agung dan om Revi Marshal sedang berdiri sedikit membungkuk ke arah sisi jurang. “Kemana sepeda mereka? ataukah ada peserta rombongan yang terjatuh.” gumam gue dalam hati sambil bergegas menghampiri mereka berniat untuk ikutan memberikan pertolongan jika memang telah terjadi kecelakaan disana. Dan ternyata benar adanya, salah seorang rekan kami menginjak tanah yang rapuh dan terperosok. Namun alhamdulillah ilalang yang tumbuh rapat sepanjang dinding jurang menahan tubuh korban sehingga tidak terus jatuh lebih dalam lagi.

Tentang identitas goweser yang terjatuh di jurang mini tadi biarlah kita tutup rapat serapat tertutupnya kasus kematian alm Munir. Namun decal yang ada pada helm dan rim milik si korban bisa menjadi clue bila anda tetap memaksa ingin tahu identitas beliau :-)) Yang pasti syukur alhamdulillah frame dan sekuruh komponen sepeda milik sang korban tidak mendapatkan cidera yang berarti saat berhasil dievakuasi ke atas. Sedangkan sang rider mungkin hanya harga dirinya saja yang sedikt tergores .. hahahaha ampun om #wuz wuz wuz … kabur

Walaupun agak molor, seluruh peserta rombongan (minus salah seorang peserta rombongan yang kehabisan energi dan minus seorang marshal yang mendapat panggilan super urgent sehingga harus pulang terlebih dahulu) dapat menyelesaikan jalur Posong menjelang pukul 3 sore. Selama kurang lebih 6 tahun mengenal dan gowes bareng  puluhan kali dengan RogerBagen baik itu di trip 6 jam-an (halaaaaah kaya jenis hotel langganan si om xxxxx di group sebelah) ataupun di trip yang sampai harus membuat kita bermalam di tengah hutan, mungkin baru kali ini gue melihat Pak Didi menjadi ‘cerewet’ karena seringnya terpaksa harus TTB :-))

Waktu yang singkat untuk beristirahat benar-benar kami manfaatkan untuk shalat dan sekedar menghilangkan lelah. Makan siang secara mufakat kami sepakati untuk ditunda karena kami harus segera meneruskan perjalanan untuk etape 2 jika tidak ingin kemalaman di tengah jalan :p

The Trails – Etape 2, Surodilogo 

Setelah menyelesaikan menu makan siang yang tertunda, di atas kertas kami hanya akan punya waktu efektif selama 1 jam 28 menit sebelum waktu maghrib tiba untuk kami dapat menyelesaikan jalur Surodilogo ini. Adzan maghrib sebagai indikator mutlak bahwa sinar mentari sudah tidak akan terlihat sehingga akan cukup menyulitkan saat kita harus tetap gowes. Sisa waktu yang cukup singkat itupun masih harus dipangkas sekian menit karena awal dari jalur ini juga memaksa kami semua untuk TTB (lagi) di tanjakan imut berkabut.

Sindoro 041r

 

Andai diperbolehkan memberi stempel ‘Mantel Approved’ terhadap jalur Posong dan Surodilogo seperti layaknya manakala majalah mtb online memberikan penilaian terhadap sebuah produk maka tentunya gue akan lebih memilih dan memberi stempel tersebut pada jalur Surodilogo. But hey … every trail is unique and has its own characteristics doesnt it?.

Jalur ini sungguh mempunyai potensi dan sangat mungkin akan menjadi tambahan jalur favorit bagi para goweser pecinta kecepatan. Saat ini gue baru saja melintasi suatu area yang jalurnya lumayan lebar dan sangat terpelihara layaknya track DH. Kabut yang masih turun di area ini plus pepohonan pinus yang rindang sungguh menambah kenikmatan gowes saat gue melintasi sebuah jalur lurus lumayan panjang selepas melewati sebuah chute. Nothing but big smile from all riders saat kita berhenti regroup agar rombongan tidak terputus terlalu jauh.

Sindoro 055r

Namun keterbatasan waktu tidak bisa membuat kita berlama-lama istirahat. Target untuk tiba di titik finish sebelum adzan maghrib terlihat masih realistis. Sisa dari jalur yang mengasikan plus satu atau dua chute kembali dilahap dengan buas oleh seluruh peserta rombongan. Selepas area hutan mini kali ini rombongan mulai masuk ke area yang lebih terbuka. Pepohonan pinus yang tinggi nyaris sudah tidak terlihat lagi.

Om marshal memutuskan untuk kembali berhenti sejenak untuk regroup, waktu sudah menunjukkan pukul 17.16 saat gue melirik jam yang ada di hp. Berarti kurang lebih 22 menit lagi adzan maghrib akan berkumandang. Om marshal juga mengisyaratkan bahwa kemungkinan besar kita akan NR pada bagian ahir jalur Surodilogo ini. NR tanpa lampu tentunya, karena memang tidak ada satupun diantara kami yang menyiapkan senter untuk trip ini.

Sindoro 057r

Bismillah, rombongan kembali bergerak dan gue memilih memulai gowes dari urutan nomer 2 paling buncit sementara om Revi beralih tugas menjadi sweeper mengawal rombongan. Ingatan gue segera menerawang saat gowes di pulau Lombok pada medio September 2014 bersama om Dewo dimana saat itu adalah juga NR tanpa senter yang terahir gue lakukan. Perbedaan yang menyolok adalah saat di Lombok jalur yang kita lalui manakala gelap mulai turun adalah berupa tanah lapang dan sudah terlihat lampu yang menyala dari beberapa rumah di kejauhan. Sedangkan saat ini kita masih di lokasi yang lumayan jauh dari perkampungan penduduk manakala sudah tidak ada lagi sinar yang membantu kami melintasi jalur.

“GEDEBUGGGGGG” tiba-tiba gue mendengar suara sangat keras dari arah belakang di mana om Revi berada. Segera gue menghentikan sepeda dan menengok ke arah sumber suara.  Terlihat om Revi sedang berusaha mendirikan sepedanya yang tergeletak tidak jauh dari tempat beliau berdiri.

“Hah .. bagaimana mungkin seorang om Revi bisa terjatuh dengan keras saat kita gowes dengan kecepatan rendah” ujar gue dalam hati sambil langsung berusaha menenangkan diri dengan membaca beberapa ayat Al Quran. Om Revi mengkonfirmasikan bahwa beliau baik-baik saja dan meminta kita ssegera meninggalkan tempat tersebut. Sesaat sebelum mulai gowes gue berusaha mencuri pandang ke sekeliling lokasi tempat kita sedang berhenti ini. Terlihat walau agak samar di belakang sana beberapa rumpun pohon bambu dan beberapa pohon dengan batang yang lumayan besar di dekatnya.

Setelah lumayan jauh dari lokasi tadi ahirnya om Revi buka suara terhadap kejadian yang tadi menimpanya. Menurut beliau saat itu dia seperti ditabrak oleh sebuah benda yang besar dari arah samping kanan. Hal itulah yang membuat beliau terpental dari sepedahnya.

 

Penutup

Well those were another priceless and fun rides… Trip gn Sindoro adalah trip terahir yang gue lakukan di tahun 2015. By the time gue menulis novel ini berarti sudah menginjak bulan ke-7 (yes seven bloody months) gue kembali harus berhenti total dari kegiatan gowes arghhhhhhhh  ….. Semoga Allah memudahkan segala urusan ini agar gue bisa kembali gowes secepatnya.

Special thanks untuk RogerBagen masih membolehkan saya join trip ini. Huge thanks untuk seluruh teman-teman marshal dari Wonosobo. See you all soon.

 

Cheers and keep pedalling

Mantel. Cikarang 03 Juni 2016

Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut  (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s