My Best Ever Epic Ride From Summit of Mt Lawu 3265 MASL

Prolog :

Another awesome riding invitation came in RogerBagen WA group. This time truly a must-go trip, a trip which has been in bucket-list for several years since I did my MTB hobby back in mid 2009. Ya, info tentang trip gowes ke gunung Lawu benar-benar sebuah undangan yang bikin gue susah untuk memejamkan mata pada beberapa malam memikirkan cara agar mendapatkan visa restu redho istri agar gue bisa join. Oh by the way, when they said about mount Lawu trip they really meant we will be starting riding from 3265 meter above sea level from the summit of the very famous mount Lawu down to the city of Karanganyar at circa 250 meter above sea level …. whoaaaaaaaaah 🙂

IMG_20170826_150226_HDR1
Maha Besar Allah yang telah jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi tidak goncang …. Viewed from Pos 4 Watu Kapur via Cemoro Sewu

 

Preparation

So here we go, finally we got a joined force consisted of 14 confirmed participants, 11 from RogerBagen and 3 riders from Rodeos for this trip. Sangat menarik memperhatikan demografi dari list peserta trip kali ini. Mang Saen and om Noorgan from Rodeos already have experience riding from the top of mountain when they visited mount Merbabu. Not to mention Mang Liwa who has a longer list of experience riding from the top of several mountains the like mount Rinjani, Merbabu and lawu. Meanwhile from RogerBagen only Om Erik and om Budi who have this kind of riding experience in mount Merbabu. As for myself even though I have been visited summit of several mountains many years ago (including mt Lawu in 1994)  but this gonna be my first time ever ride my bike from the top. The rest of participant not even have hiking experience at ALL hihihihihihi.

From age wise I am pretty sure the average age of the all participant somewhere between 40-42 years old. Sebuah rentang umur yang tidak bisa dibilang muda lagi untuk melakukan pendakian sebuah gunung dengan ketinggian 3265 meter diatas permukaan laut (MDPL) yang akan langsung disambung bersepeda dari puncak gunung tersebut menuju ketinggian 250-an mdpl dengan total jarak hampir 43 km. But who cares?? Mindset, semangat pantang menyerah dan persiapan fisik serta peralatan yang prima toh lebih penting ketimbang umur.

IMG_20170827_061727_HDR1

Sudah terbayang akan banyaknya big hits sepanjang jalur turun dari puncak maka kembali gue melakukan beberapa perubahan setting pada fork XFusion Sweep dan rearshock CCDB CS Air yang ada pada Banshee Rune. Sag pada rearshock gue set sekitar 33% atau equivalen dengan 19mm. Ingat … ingat !!! persentase shock sag tidak sama dengan prosentase suspension sag. Artinya jika stroke rearshock gue 63.5mm (2.5 inch) maka nilai shock sag yang 33% tadi bukan berarti menjadi 20.9 mm (33% x 63.5). Sementara untuk settingan HSC, LSC, HSR dan LSR gue biarkan tetap yakni 2,12, 2 dan 12 respectively. Sedangkan tekanan udara pada fork gue turunkan kembali menjadi 44 psi dan rebound tetap gue biarkan 5 klik (dari sisi paling cepat) dan full open untuk compression.

IMG-20170828-WA0004r

Sepeda baru bisa digowes sedikit di bawah puncak Hargo Dumilah karena memang kita masih akan melalui beberapa spot dimana para pendaki mendirikan tenda disana. Saatnya kami kembali ke basecamp di samping warung mbok Yem di sekitar Hargo Dalem untuk melepas windbreaker yang tadi kami gunakan saat summit attack untuk selanjutnya berganti kostum dengan jersey sepeda seperti biasa. Gue sendiri lebih memilih jersey sepeda short slave sebagai baselayer dan dirangkap dengan jersey long slave sebagai antisipasi tergoresnya kulit lengan gue yang mulus ini dari cakaran ranting-ranting yang mungkin ada di sepanjang perjalanan turun nanti.

 

The Trails

Minggu 27 Agustus 2017, 08.18. Ada pemandangan menarik di pagi hari ini pada rombongan depan. 3 rider Rodeos dan om Bima sang marshal yang sudah bersiap memulai trip ini semuanya menggunakan Specialized Enduro dari beberapa seri tahun keluaran. Enduro Expert EVO 650b mang Liwa dengan rearshock coil legenda Ohlins kuning ngejreng yang paling eye caching 🙂 Karena gue memilih posisi rombongan depan ini artinya gue akan “dikeroyok” oleh 4 orang Spez rider.

Suguhan 4 set turunan anak tangga tidak jauh dari persimpangan menuju Hargo Dumilah, Hargo Dalem, jalur pendakian Cemoro Kandang dan jalur pendakian Cetho menjadi hidangan pembangkit selera melalui rute pendakian menuju Cetho. Spot yang kami lalui berupa area terbuka punggungan yang ditumbuhi padang rumput yang sesekali diselingi oleh tanaman sejenis manis rejo dan hampir sebagian besar benar-benar gowesable .. yummie

IMG-20170828-WA0003r

IMG_20170827_085708r

Menurut rencana kami akan regroup di sekitar pos 5 Bulak Peperangan, sebuah area padang savana yang sangat indah. Namun untuk sampai kesana tentunya kami juga harus melalui sebuah spot gunung Lawu lainnya yang sangat terkenal yakni Pasar Dieng atau yang juga lebih dikenal sebagai Pasar Setan. Om Bima meminta agar kami semua TTB di spot Pasar Setan ini agar roda sepeda tidak menyenggol tumpukan batu yang memang banyak terdapat disana.

Selepas Pasar Dieng jalur makin landai, makin terbuka dan makin indah. Namun jangan lupa bahwa kita masih berada di ketinggian diatas 2800 mdpl dan sedang mengarah ke kota Karanganyar pada ketinggian 250-an mdpl. Jadi definisi landai disini bukan berarti kita harus full pedaling saat melaluinya 🙂 🙂

IMG_20170827_090751r

Area Bulak Peperangan tempat pos 5 berada pada ketinggian 2850 mdpl berupa lembah yang didominasi oleh padang savana indah pertemuan dua buah kaki bukit. Vegetasi cemara gunung yang tumbuh pada kedua kaki bukit tadi seolah membuat padang savana ikut terasa sejuk. Menurut gue ini adalah salah satu spot terbaik untuk foto-foto sekaligus menikmati turunan yang lumayan panjang terhitung dari puncak bukit.

Untuk para pendaki gunung bukit inilah yang dinamakan tanjakan cinta versi gunung Lawu karena memang  karakternya sangat mirip dengan sebuah spot di belakang Ranu Kumbolo di gunung Semeru yakni tanjakan cinta.

IMG_20170827_091639r

Setelah lumayan lama beristirahat sambil membuat dokumentasi perjalanan kami lanjutkan dengan target untuk kembali beristirahat di pos 2 Brak Seng yang berada pada ketinggian 2000 mdpl. Untuk sampai ke pos 2 dan memastikan kita tidak salah jalur pastinya kita akan dan harus melalui terlebih dahulu beberapa pos lainnya. Pos 4 Penggik nantinya akan berada pada ketinggian sekitar 2500 mdpl. Sementara pos 3 Cemoro Dowo sendiri akan pada ketinggian 2250 mdpl.  Jadi silahkan dibayangkan bahwa jalur ini akan terdapat elevation lost sebanyak 850 mt dengan jarak kurang dari 3.7 km.

Untuk dapat lebih mudah mendeskripsikan tingkat kecuramannya silahkan buka datasheet trek DH Val Di Sole yang digunakan sebagai seri ke-7 pada World Cup UCI DH 2017. Dimana track tersebut mempunyai elevation lost sebanyak 540 mt dan ‘hanya’ berjarak 2400 mt saja.  Sementara itu track Vallnorld di Andora yang digunakan pada World Cup UCI DH seri ke-5 mempunyai elevation lost 630 mt dengan jarak 2188 meter

IMG_20170827_083251_HDR1

Jalur antara pos 4 sampai dengan pos 2 ini adalah jalur ‘surga’ bagi MTB namun akan jadi jalur ‘jahanam’ terberat jika kita memposisikan diri menjadi seorang pendaki yang memilih jalur Cetho saat menuju puncak gunung Lawu karena rute yang menanjak full tanpa banyak terdapat bidang yang rata di area tersebut.

IMG_20170827_093934_1r

Selepas pos 5 gue berinisiatif untuk ‘merebut’ pole position ke-3 berusaha mencoba sensasi gowes dibelakang mang Liwa dan mang Saen dan akan pasrah dijadikan sandwich karena masih ada 2 Spez rider di belakang gue hahahahaha. Lho kok marshall gak di depan? Mungkin dengan pertimbangan om Bima sebagai marshal percaya bahwa mang Liwa masih hafal jalur ini karena memang beliau di awal bulan Agustus lalu baru saja melewati jalur dari puncak gunung Lawu ini  …. whoaaaaaaah *salim ke suhu*.

Jika sebelumnya gue beranggapan bahwa jalur Susu di Baturaden adalah jalur MTB yang mempunyai drop alami terbanyak, terberat dan mampu membuat “mulitple orgasm” maka saat ini pendapat tersebut terpaksa harus gue revisi. Jalur pendakian gunung Lawu via Cetho antara pos 4 dan pos 2 ini benar-benar membuat klimaks. Jumlah obstaclesnya disini mungkin 3x lebih banyak sedangkan tinggi dari masing-masing drop disini mungkin 0.5-1x lebih tinggi dibandingkan dengan obstacle yang ada di track Susu.

Commitment and front-brake-free are the keywords for enjoying this crazy spot. The way Mang Liwa and Mang Saen eat those obstacles and tight switchbacks really rise the bar for myself. Sementara gue hampir selalu tekor dan terpaksa menghentikan sepeda dan merubah arah sepeda secara manual jika ketemu dengan switchback tajam ke arah kanan ataupun kiri hahahahahaha

IMG_20170827_112517r

Mungkin lebih dari 5x gue harus TTB saat harus melewati drop berupa anakan tangga yang tingginya lebih tinggi dari travel fork gue yang hanya 160mm. Komitmen tetap harus dibarengi dengan logika dan manajemen resiko yang matang. Jika menurut logika di depan mata gue terdapat 2 sampai 4 drop berurutan dan akar dengan tinggi yg aduhai yang tidak mungkin gue loncatin ataupun rolling yaaah otomatis gue lebih memilih TTB 🙂 🙂

Di pos 3 Cemoro Dowo kita berisitirahat regrouping lumayan lama menunggu rekan-rekan lain yang masih jauh di belakang. Waktu masih menunjukkan pukul 10.43 pagi. Gue menduga fisik yang sudah terkuras habis sepanjang hari Sabtu saat perjalanan mendaki dari Cemoro Sewu menuju Hargo Dalem memberi kontribusi besar pada menurunnya pace bersepeda menuruni jalur gila ini pada hampir sebagian besar rombongan RogerBagen yang ada di belakang.

IMG_20170827_094351r
Salah Satu spot bonus menjelang Pos 3, trek lumayan flat untuk mengistirahatkan jari dan lengan hihihihi

 

Flashback sedikit ke belakang, seriously pada hari pendakian menjelang pos 5 gue sendiri sudah terkena gejala mountain sickness dengan gejala kepala yang sangat berat tanda kurangnya asupan oksigen dan kelelahan. Gue bahkan tanpa berfikir panjang sempat tertidur di sebuah warung di pos 5 padahal gue tahu persis bahwa beberapa hari sebelumnya ada seorang pendaki yang ditemukan meninggal dunia di sekitar Hargo Dalem sini.

Saat tiba di warung mbok Yem gue hanya sempat memesan teh panas manis, shalat ashar lalu langsung masuk ke tenda milik mang Liwa dan tertidur pulas dan terlewatkan sholat maghrib dan isya pada waktunya sambil menahan rasa pusing di kepala. Istirahat yang lumayan cukup tanpa dibarengi dengan makan malam memang tidak akan bisa menghilangkan gejala sakit tadi. Rasa pusing masih sangat terasa saat summit attack sembari mendorong Banshee Rune dengan berat tidak kurang dari 14 kg menuju puncak pada keesokan harinya.

IMG_20170827_104814r

 

Gue kembali memilih start urutan ke-3 selepas pos 3 Cemoro Dowo dibelakang mang Liwa dan mang Saen. Sementara om Noorgan ada di belakang gue. Kita berhenti sejenak untuk mengisi perbekalan air di pancuran air asli pegunungan yang lokasinya tidak jauh di bawah pos 3. Lanjut kembali ngibrit mengikuti irama dan speed gowes kedua rider handal Rodeos Purwakarta ini.

Regroup kembali kami lakukan di area yang sedikit membuat bulu roma berdiri. Sebuah area terbuka tidak jauh dari pos 2 Brak Seng. Sebuah kain yang sudah terlihat kusam terlihat menyelimuti bagian bawah sebuah pohon dengan diameter besar yang tumbuh tepat di depan gue duduk. Jalur antara pos 3 dan dan pos 2 memang kembali ditumbuhi vegetasi yang lumayan lebat.

IMG_20170827_121034r
Kata om yang itu, Gunung aja punya Pos 2 masa kamu cuma punya Pos 1 sih? wkwkwkwkwkw

Sekedar info jalur pendakian Cetho benar-benar warungless artinya kita harus menyiapkan energi dengan sarapan yang cukup di warung mbok Yem di Hargo Dalem. Gue pribadi memang sudah terbiasa selalu membawa logistik lumayan banyak di backpack kemanapun gue pergi gowes baik itu jalur yang memiliki banyak warung di sepanjang perjalanan ataupun tidak seperti jalur Cetho ini.

Waktu telah menunjukkan pukul 12.10 pantaslah perut gue sudah mulai keroncongan. Sambil menunggu rekan-rekan lain gue menyantap roti sobek + susu kental manis + madu + jeruk nipis sachet. Namun ternyata rekan-rekan yang lain lebih berminat pada madu+jeruk nipis sachet ketimbang roti.

Pengalaman 1x over-the-bar yang gue rasakan pada sebuah spot menjelang pos 3 menjadi pelajaran serius agar gue lebih pandai memilih jalur saat merolling sebuah multiple drop di jalur selepas pos 2 ini. Kejadian saat gue OTB adalah ketika di depan gue dihadapkan dengan obstacle berupa 3 buah drop dengan ketinggian sedang yang saling berdekatan. Saat roda depan masuk masuk ke drop ke-3 gue terlalu cepat memindahkan porsi berat badan ke arah depan. Shite happens to anyone, bahkan seorang mang Saen pun juga sempat merasakan indahnya OTB cantik di jalur sesudah pos 2 ini .. Hahahahahaha asyiiknya mang 🙂 🙂

IMG_20170827_124004r

Pukul 12.50 gue dan rombongan depan telah tiba di pos 1 Mbah Branthi/Retjo Kethek (patung kera). Perlawanan terhadap Spez rider semakin kuat dengan dengan masuknya Pak Fivin Ketua Roger Bagen dengan Transition BottleRocket Hejonya.

Mulai dari pos 1 jalur sudah lebih terbuka dengan vegetasi ilalang namun menjelang masuk komplek cando Kethek vegetasi akan lebih rapat dan teduh dengan banyaknya pohon-pohon pinus. Ishoma cukup lama kami lakukan di sebuah rumah makan di sekitar base camp candi Cetho.

Etape berikutnya mulai dari candi Cetho menuju home stay kami di kota Karanganyar yang pastinya trek ini juga akan menguras tenaga namun to be honest untuk gue pribadi jalur tersebut less exciting dibandingkan jalur antara Hargo dalem sampai dengan komplek candi kethek sehingga gue memilih berada pada rombongan paling belakang.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore kurang sedikit saat kami memulai trek Cetho yang membutuhkan beberapa kali TTB pada tanjakan yang lumayan panjang pada area perkebunan penduduk.

IMG_20170827_151325r
Beberapa mx rider kawan om Ardi yang kami temui di jalur Cetho menuju Paralayang

Tidak banyak yang gue ingat dari trip etape kedua ini namun yang pasti kita melewati perkebunan teh dekat area paralayang, melewati daerah Kemuning dan saat adzan maghrib berkumandang kala gelap pekat mulai menghalangi pandangan kita masih melalui singletrack maknyus di tengah-tengah hutan karet yang sudah masuk ke dalam area kabupaten Karanganyar. Saat itu gue hanya ditemani om Ardi marshal dan om Erik. Syukur Alhamdulillah gue masih dapat mengejar shalat maghrib di homestay.

>>>>> Photo gallery <<<<<

 

 

Penutup

21078552_10155632231785419_2118631766204290014_n

 

What an Epic Ride !!!!!

Puji syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah melindungi kami semua selama perjalanan. Terimakasih banyak untuk Om Bima dan om Ardi serta semua teman-teman dari Karanganyar yang telah membantu membawakan sepeda serta peralatan tidur kami.

Untuk semua teman-teman RogerBagen, Pak Ketu, Pak Didi, om Demank, om Koesye, om DJ, om Hendri, om Budi, om Anto, om Erik dan om Asrul YOU DA MAN !!!! Special thanks juga untuk om Anto yang telah memberi gue tebengan mobil. Next time kasih sinyal kalau mau kent** ya hahahahahaha.

Thanks a bunch untuk semua teman-teman Rodeos. Mang Liwa, mohon maaf kalau matrasnya sempat saya bajak hahahaha. Mang Saen terimakasih untuk koyo dan obat masuk anginnya. Om Noorgan thanks sudah bantu bikin dokumentasi sepanjang trip yang tidak akan terlupakan ini.

 

>>>>> Essential Guide for Bike-Camping in Mt Lawa <<<<<

Perlu dingat sekali lagi bahwa pada dasarnya sebagian besar rombongan kami adalah berlatar belakang MTB sehingga porsi yang lebih kami utamakan pada trip kemarin adalah saat mengendarai sepeda dari puncak gunung Lawu ke kota Karanganyar. Semoga petunjuk praktis yang gue rangkum ini dapat membantu dan menginpirasi rekan-rekan penggila MTB untuk mencoba trip ini.

Akomodasi dan Transportasi

  • Kami menyewa sebuah homestay sederhana di Karanganyar dengan harga yang sangat bersahabat. Fasilitas 1 buah ruang tamu yang bisa ditiduri sampai dengan 30 orang, 1 buah kamar mandi, 1 buah dapur.  Mengapa harus di Karanganyar? karena marshall dan rekan-rekan lainya yang membantu trip ini tinggal di Karanganyar sehingga koordinasi lebih mudah dilakukan.
  • Untuk menghemat tenaga, maka sepeda masing-masing peserta beserta tenda, peralatan tidur dan semua barang-barang lainnya yang tidak akan dibutuhkan selama pendakian akan dibantu dibawakan ke warung mbok Yem di Hargo Dalem (kurang lebih pada ketinggian 3000 mdpl) oleh temen-teman porter dari Karanganyar. Mengapa membutuhkan porter? Mendaki gunung dengan backpack ukuran 20 lt aja sudah capek bo !!! apalagi kalau harus membawa sepeda dan carrier 🙂 🙂 C’mooon be smart guys…. trust me, biaya pengganti uang lelah untuk temen-teman porter tidak akan membuat anda memecahkan celengan ayam jago kok hihihihihi
  • Kita akan membutuhkan 1 atau 2 buah pickup (tergantung jumlah peserta) untuk mengangkut sepeda dan porter yang biasanya akan berangkat terlebih dahulu sekitar pukul 3 dinihari.
  • Rombongan rider akan berangkat menuju pos pendakian Cemoro Sewu sehabis sholat shubuh. Rombongan peserta gowes akan diangkut oleh pickup ke-1 atau ke-2 (yang telah selesai mengantar sepeda dan porter). Namun sangat direkomendasikan untuk menggunakan mobil milik sendiri dimana nantinya mobil kita tersebut akan dibawa pulang kembali ke homestay oleh salah satu atau dua porter saat mereka sudah turun kembali ke Cemoro Sewu sehabis mengantarkan sepeda. Tentunya akan ada biaya terpisah jika anda memilih opsi ini. Mengapa opsi menggunakan pickup tidak direkomendasikan untuk mengangkut rider? Agar jam keberangkatan rider tidak tergantung kedatangan pickup. Dan yang tidak kalah penting perjalanan sehabis subuh menuju Cemoro Sewu dingiiiin banget bo !!!!!! Khawatir masuk angin 🙂 🙂
  • Tapi gak usah pusing, urusan akomodasi, transportasi, porter akan dibantu diurus oleh sang marshall. Semua peserta hanya butuh tidur cantik yang cukup pada H-1.

 

Perlengkapan Pribadi

  • Sleeping bag
  • Matras
  • Jaket/windbreaker/sweater/baju hangat
  • Tambahan beberapa lapis baju tidur misalnya base-layer. Ingat diatas dingiiiin banget
  • Jas hujan
  • Sepatu khusus untuk aktivitas outdoor
  • Celana lapangan atau celana sepeda yang nyama untuk berjalan jauh (celana jean tidak direkomendasikan)
  • Sarung tangan hangat
  • Kaos kaki hangat
  • Kupluk/buff/balaclava
  • Senter
  • Baju salin
  • Obat-obatan pribadi Misalnya krim oles pegal/kram, obat masuk angin sachet, obat pusing dan demam
  • Perlengkapan gowes seperti biasa seperti toolkit sepeda, ban dalam cadangan
  • Knee protector, elbow protector, body armor. Helm fullface juga sangat direkomendasikan
  • Makanan ringan, coklat, madu sachet, snack untuk menambah energi, air minum +/- 2 liter

Catatan : Pada jalur pendakian via Cemoro Sewu adalah jalur ‘surga’ karena akan terdapat beberapa warung di dekat Pos 1, Pos 2 dan Pos 5 dimana mereka menjual menu makan besar dan juga air minum.

 

Pendakian

  • Ingat, selain saat mendaki, kita juga akan masih membutuhkan energi yang besar saat gowes. Jadi atur irama langkah saat mendaki dan tidak usah terburu-buru.  Tidak ada salahnya untuk banyak berhenti untuk istirahat dan mengatur nafas. Intinya jangan memforsir tenaga saat pendakian
  • Saat pendakian gunakan backpack ukuran sedang (atau yang biasa kita gunakan saat bersepeda) untuk mambawa makanan ringan, air minum, alas shalat, jas hujan, jaket, power bank (khawatir batere di HP cepat habis karena dijamin akan sering foto-foto)
  • Untuk ukuran pendakian santai dari pos pendakian cemoro Sewu hingga Warung mbok Yem gue membutuhkan waktu sekitar 8 jam. Ini sudah termasuk berhenti istirahat untuk ishoma, istirahat sejenak untuk mengatur nafas, istirahat lumayan lama karena pegal, istirahat untuk foto-foto 🙂 🙂
  • Summit attack sambil mendorong sepeda membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit
  • Untuk rekan-rekan yang Muslim, selalu basahi bibir dan lisan dengan takbir saat mendaki

 

Itenerary

Sabtu 26/8/2017

  • 05.00 Berangkat dari Homestay menuju Cemoro Sewu
  • 06.00 Sarapan di rumah makan pinggir jalan sebelum Cemoro Sewu
  • 07.30 Mulai pendakian
  • 16.00 Tiba di Hargo Dalem (warung mbok Yem). Bermalam bisa di dalam warung mbok Yem atau di dalam tenda

Peringatan : Pastikan anda beristirahat yang cukup, istirahat yang cukup dan istirahat yang cukup. Anda butuh recovery yang sempurna untuk gowes esok hari

Minggu 27/8/2017

  • 04.30 Bangun, shalat subuh
  • 05.00 Sarapan, persiapan summit attack.
  • 06.00 Menuju puncak Hargo Dumilah
  • 07.30 Turun kembali ke tenda, merapihkan peralatan pakaian tidur. Tenda akan dibantu dibongkar dan dibawa kembali ke karanganyar oleh porter.
  • 08.15 Turun melalui jalur candi Cetho
  • 14.30 Ishoma di RM sekitar candi Cetho
  • 15.30 melanjutkan gowes menuju Karanganyar
  • 18.30 Tiba di homestay. Istirahat sejenak, beres-beres
  • 21.00 Pulang kembali ke Bekasi

Catatan : Jalur sepedahan Hargo Dalem menuju Cetho adalah warungless alias tidak ada warung sama sekali. jadi siapkan energi saat sarapan dan bawa makanan ringan, air minum secukupnya

Cheers, Mantel
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com

Cikarang 28 Agustus 2017
Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut  (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: