Interesting Bikes Seen and Ridden During My Holiday

It’s always nice to discover, see, know, learn and do new things in new places in your picnic season. Especially if those new things relate to your hobby. Sounds like a bonus, as if you are successefully able to maximize the value of the money you had spent. In my case, I found and rode some intereseting bikes -not necessarilly MTB- when I spent my lovely 2 weeks in Batam and couple of other cities in South East Asia.

1. Kona Process 153

Salah satu ‘Can-Do-Everything bike‘ yang menurut pengamatan gue seolah tidak pernah melintas di radar dan jarang diperbincangkan oleh para penggila MTB di Indonesia. IMG_20180120_091541r

Kona memang bukan termasuk boutique-bike, bahkan untuk tipe Process 153 mungkin hanya goweser anti mainstream yang meminati sepeda bergenre asli Trail-to-AM ini. Namun jika bicara tentang kemampuan saat pedalling di jalur rata, di jalur menanjak ataupun sesi turunan gue sangat yakin bahwa Process 153 ini tidak kalah jika dibandingkan dengan sepeda bergenre yang sama dari merek mahal semisal Big S, Intense, SC ataupun Yeti.

2. Ghost RT 7700

Gue sangat beruntung bisa mencoba Kona Process 153 dan Ghost RT 7700 saat gowes di Duriankang Bike Park (DBP) Batam. Kalau menilik decal yang ada pada Ghost RT 7700 ini sepertinya ini adalah keluaran edisi 2012. IMG_20180120_081219r

Dengan rear wheel travel 100 mm sepeda carbon yang sangat ringan ini (maklum, gue dah terbiasa bawa sepeda diatas 13.5 kg, so any bikes ligther considered enteng hahahaha) memang sangat cocok digunakan di trek full pedaling seperti di DBP ini.

3. Unknow MTB Folding Bike

Sepeda lipat dengan ukuran ban 26 inch yang dilengkapi groupset Shimano Altus 3×8 speed serta disk brake mekanik ini milik Polda Kepri juga terlihat di DBP Batam yang saat itu sedang digunakan oleh para polwan pecinta gowes.

IMG_20180120_075451r

Seperti sebuah sepeda lipat pada umumnya, tidak terdapat downtube pada frame namun terdapat sebuah engsel dan pengunci lipatan frame pada toptube. Melihat sekilas design frame pastinya sepeda ini tidak diperuntukkan untuk digunakan pada medan yang tehnikal karena untuk ukuran sebuah mtb sepeda ini terlihat flexy dan rawan patah.

4. VanMoof City SmartBike

Sebuah city bike dengan design frame yang simple namun elegan terlihat dipajang pada sebuah mall besar di daerah Siam Bangkok Thailand. Toptube memanjang dengan ukuran melebihi headtube. Terdapat sebuah lampu sorot LED pada ujung toptube tersebut 🙂 Menggunakan internal gear hub, diskbrake mekanik depan dan belakang, ban anti bocor.

IMG_20180124_114729r

5. Classic Mobike

Sepeda versi pertama yang digunakan oleh Mobike, sebuah perusahaan bike-sharing berbasis internet terbesar asal Beijing Cina. Mobike yang satu ini gue temui saat gue berada di Chiang Mai Thailand dimana Mobike sudah mulai beroperasi disana sejak pertengahan tahun 2017.

IMG_20180128_090412r

Mobike tipe classic ini menggunakan frame alumunium berbentuk V-shape. Menggunakan transmisi shaft (chainless), fork rigid lefty, wheels dengan 5 spokes dan ban anti bocor. Classic Mobike versi Chiang Mai ini sudah ditambah dengan keranjang yang dicat sewarna dengan wheelset.

 

 

6. Mongoose EC-D DH Bike

Whoohooooo ahirnya gue berhasil juga nyobain salah satu sepeda DH legendaris. Mongoose tipe EC-D adalah signatures seri dari Eric Carter yang saat itu menjadi sponsored rider-nya Mongoose.  Elo lebih kenal Nick Carter ketimbang Eric Carter? gue saranin buruan cuci muka dulu dech dan abis itu baru googling hahahahahaha.

IMG_20180128_105946r

Sepeda ini milik operator MTB tour yang menemani saat gue gowes di gunung Doi Suthep Chiang Mai Thailand. Sepeda DH keluaran sekitar tahun 2007 ini masih tetap asik dan capable saat gue coba meloncati drop-drop imut dan pedaling beberapa saat.

Karena peserta lain tour hari itu (cuma ada 2 peserta sih sebetulnya) mengundurkan diri ahirnya sang marshall menyarankan gue menggunakan Glory yang geometry-nya lebih pas untuk gue. Yo wes gue sih nurut ajah.

7. OBike

Nah kalau yang ini sepeda milik perusahaan pesaing Mobike. OBike berasal dan bermarkas di Singapura. Sepeda yang gue lihat di Kuala Lumpur ini mempunyai bentuk frame yang lebih imut dan lebih enak dilihat ketimbang Mobike edisi classic.

IMG_20180130_143332r

OBike juga menggunakan GPS berbasis Bluetooth dan para penyewa harus mengunakan Apps saat hendak menyewa maupun saat akan memarkirkan sepeda ini setelah selesai menyewa. OBike versi ini lebih terlihat seperti sepeda pada umumnya karena menggunakan chainring dan rantai walaupun pengeremannya masih menggunakan sistem drum. OBike sudah mulai ‘menjajah’ Kuala Lumpur sejak pertengahan tahun 2017.

Rasanya hanya bisa ngiri jika melihat kota-kota di negara lain sudah mempunyai infrastruktur yang sangat mendukung aplikasi bike-sharing seperti Mobike dan OBike ini. *mewek*

 

Cheers, Mantel
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com

Cikarang 1 Februari 2018
Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut  (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: