Tasting Some Chiang Mai Best Trails

Prolog : Ahirnya kesampaian juga gue menyicipi salah satu ‘surga’ MTB yang berada di taman nasional Doi Suthep Pui yang lokasinya kurang dari 16 km di sebelah barat kota Chiang Mai Thailand. Pada ahir Januari 2018 kemarin kebetulan gue mengunjungi Thailand selama 7 hari. Setelah mengotak-atik itinerary dan berkompromi ahirnya gue bisa mengalokasikan 3 hari 2 malam untuk mengunjungi Chiang Mai dimana 1 hari di tanggal 28 Januari khusus dialokasikan untuk main sepeda dengan mencoba icip-icip beberapa trek di Chiang Mai.

Doi Suthep sendiri sebenarnya lebih tepat dikategorikan sebagai bukit ketimbang gunung dimana titik tertinggi hanya berada pada 1676 mdpl (meter diatas permukaan laut). Terdapat lebih dari selusin jalur MTB (termasuk diantaranya gabungan dari 2 jalur atau lebih) dengan tingkat kesulitan yang beragam mulai dari mudah sampai dengan sulit.

How To Get There

Saat ini tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta menuju Chiang Mai. Semua maskapai akan melakukan 1x transit di kota Bangkok baik itu bandara Don Mueang ataupun di bandara Svarnnabhumi. Harga tiket bervariasi mulai dari 1.4 jt-an sampai dengan 4.1 jt-an untuk one-way. Silahkan menggunakan aplikasi pencarian penerbangan dan hotel favorit elo untuk data lebih detail.

Sebagai info tambahan, jika operator tour mtb (marshal) yang elo gunakan tidak menyediakan fasilitas penjemputan di bandara Chiang Mai maka ada beberapa counter taksi yang dapat elo pilih untuk mengantarkan ke lokasi hotel tempat elo menginap. Tarif  taksi tergantung ukuran mobilnya, untuk mobil ukuran kecil (sedan) dipatok dengan harga yang sama yakni 120 baht untuk semua tujuan di DownTown. Karena elo membawa tas sepeda maka pastinya elo akan butuh mobil taksi ukuran besar dengan tarif berkisar antara 150-200 baht.

Menurut pengalaman counter taksi dengan label ‘Taxi Meter’ dengan armada berwarna kuning-biru mempunyai mobil lebih sedikit. Sehingga saat itu gue cukup lama menunggu dengan antrian yang lumayan panjang sampai ahirnya gue memutuskan untuk keluar dari antrian dan ganti memesan taksi di counter dengan label ‘Airport Taxi Limousine’. Gak sampai menunggu 2 menit mobil langsung datang hehehehehe.

IMG_20180127_140521RIMG_20180127_142428R

Bring Or Not To Bring Your Own Bike

Jika elo pergi ke Chiang Mai sendirian (tanpa keluarga) khusus untuk sepedahan dan tidak akan mampir ke kota-kota lain di Thailand maka rasanya membawa sepeda dari tanah air adalah opsi yang paling tepat. Namun pastikan bahwa penerbangan yang elo pilih sudah termasuk jatah bagasi (minimal) sebesar 20kg. AirAsia adalah salah satu  LCC yang tidak menyediakan jatah bagasi. Untuk mendapatkan potongan harga untuk bagasi elo harus membelinya saat melakukan pemesanan tiket pesawat.

Namun jika elo ke Thailand bersama keluarga dan sebelum atau sesudah mengunjungi Chiang Mai elo akan mengunjungi kota-kota lain rasanya akan repot jika harus membawa sendiri sepeda dari tanah air. Namun jangan khawatir, di Chiang Mai ada operator tour mtb yang menyediakan paket dimana sudah termasuk sewa sepeda. Paket DH full day seharga 2900 baht (sudah All-In termasuk biaya marshall, sewa sepeda downhill, protective gears, lunch, drinks, hotel pick-up/drop-off, dan tiket masuk taman nasional) untuk gowes di 3 trek dari pagi hingga sore hari inilah yang kemarin gue gunakan. Sedangkan apabila elo membawa sepeda sendiri maka paket ini akan seharga 2100 baht.

The Trails #1

Pada awalnya gue sangat penasaran dengan pilihan 3 trek  yang ada pada paket gowes yang gue pesan ini. Sampai ahirnya saat di lokasi gowes sang marshal mengkonfirmasikan (ahirnya gue cuma berduaan aja gowes private) bahwa biasanya mereka akan ‘mengetest’ skill tehnik bersepeda kita saat di trek pertama dimana biasanya mereka akan memilihkan trek dengan grade green circle (hijau = mudah/gampil/enteng) sampai dengan grade blue square (biru = intermediate/agak susah). Apabila menurut sang marshall skill bersepeda kita diatas rata-rata maka pilihan trek kedua dan ketiga berupa jalur dengan grade biru atau bahkan black diamond (hitam = susah/nyeremi/extreme). So jika elo dah yakin kemampuan bersepeda elo diatas rata-rata maka elo bisa langsung memilih trek dengan grade biru ataupun hitam saat melakukan komunikasi pertama dengan pihak operator tour mtb. Namun yang pasti trek dengan label grade hijau sekalipun sudah membuat adrenalin gue memuncak saat gowes di run pertama hahahahaha.

Mobil marshal tiba di halaman hotel tempat gue menginap pukup 9 lebih sedikit.  Karena harus menjemput rombongan lain dan melalui jalan yang sempit sepanjang perjalanan menuju puncak bukit Doi Suthep-Pui maka baru pada pukul 11 kita tiba di titik start. Kita gowes onroad sedikit untuk sekedar warming up menuju sebuah kedai kopi. Secangkir kopi seharga 40 baht lumayan membuat mata melek setelah tadi sempat terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan.

Elevation Graph Behind School Into Scout Camp

Nama resmi dari trek pertama yang gue coba di pagi/siang hari ini adalah ‘Behind School Into Scout Camp’. Pada awal-awal trek di dominasi oleh akar-akar dan drop-drop kecil manja dimana kondisinya sangat mirip dengan yang pernah gue temui pada jalur antara pos 5 sampai dengan pos 2 di gunung Lawu (baca disini untuk trip gunung Lawu).

Panjang total trek ini ‘hanya’ 5,6 km dimana 2,3 km pada ahir trek adalah jalur asli Scout Camp yang padahal cuma mempunyai grade biru. Tapi kok walaupun gue menggunakan pinjaman sepeda DH Giant Glory, namun nyatanya gue masih tetap harus bekerja keras agar bisa sampai di titik finish utuh in-one-piece 🙂

The Trails #2

Pukul setengah dua lebih sedikit kita mulai masuk trek kedua dengan nama resmi ‘Bamboo’. Dari namanya bisa ditebak bahwa trek ini akan melewati hutan bambu. Namun menurut pengalaman gue pohon bambu sangat jarang ditemui pada area di ketinggian 1400-an mdpl tempat titik start trek ini. Karakter di awal trek Bamboo ini sangat mirip dengan trek Scout Camp namun plus bebatuan yang mulai keliatan gak sopan dan turunan yang makin curam 🙂

 

 

So far gue sudah makin bisa menikmati karakter jalur hutan di bukit Doi Suthep ini dan mulai bisa mengimbangi ritme gowes sang marshal dengan mencoba tetap memilih jalur yang dilaluinya. Kombinasi singletrack, akar, tikungan, drop, jump dengan variasi turunan curam dengan bebatuan lepas di beberapa tempat makin menjadikan trek Bamboo ini menjadi trek bintang 5 yang sempurna.

Trek Bamboo yang mempunyai panjang kurang lebih 5,8 km dapat kami selesaikan dalam waktu kurang dari 25 menit saja. Dapat mengontrol emosi dan kecepatan sepeda saat meluncur deras di turunan curam dan panjang pada trek-trek di Doi Suthep sepertinya kunci utama untuk dapat menikmati trek dan selamat sampai di titik finish.

Elevation Graph Bamboo Trail

Seperti yang sudah gue sebuatkan diatas bahwa paket gowes yang gue pilih ini sejatinya sudah termasuk makan siang. Namun berhubung rumah makan yang ada di sekitar titik finish trek Bamboo tidak ada satupun yang memasang/menuliskan stiker ‘Halal’ maka gue memutuskan mencari mie instan cup di sebuah supermarket. Setelah berusaha seteliti mungkin membaca kandungan isi pada semua kemasan mie cup yang ada di supermarket tersebut ahirnya gue menyerah dan memutuskan hanya membeli 3 potong buah pisang sebagai menu makan siang plus beberapa potong crackers yang memang sengaja gue bawa dari Indonesia.

The Trails #3

Mungkin setelah mereview skill bersepeda gue yang gak terlalu malu-maluin banget hahahaha, sang marshal memutuskan bahwa kita akan mencoba trek yang nama resminya ‘ATV’ sebagai trek ketiga. Trek ATV ini salah satu signature trail di Doi Suthep-Pui Chiang Mai dengan grade black diamond.

Elevation Graph ATV Trail

Menurut marshal inilah trek dimana seringkali brakeset ‘Hope’ menjadi sangat hopeless karena hilangnya daya cengkram brakepad akibat rotor yang terlalu panas. Namun justru di trek ATV inilah gue merasakan brakeset level Deore bersinar. Entah treatment atau modifikasi apa yang telah dilakukan oleh tehnisi operator tour mtb yang gue gunakan ini terhadap piston Deore yang notabene cuma kelas entry level namun yang pasti gue merasakan sendiri bahwa daya pengeremannya yang lumayan kuat dan lumayan predictable.

IMG_20180128_123156r

IMG_20180128_123200r

Turunan rock garden yang panjang lagi curam di beberapa spot selepas pertengahan menjadi ciri khas trek ATV ini. Jalurnya sih memang lebar bahkan sangking lebarnya elo bisa sesuka hati memilih line yang paling smooth ataupun yang paling menantang.

Dengan menunggangi full DH rigs semacam Glory ini literaly gue cukup mengarahkan handlebar ke line manapun yang ada di depan gue. But in reality it’s not that simple. Beberapa tahun yang lalu gue cukup lama mempunyai Giant Reign X1 jadi gue sudah lumayan hafal dengan karakter dan kehandalan sistem suspensi Maestro saat melahap rock garden. Namun karena trek ATV ini kami lalui saat fisik jari dan pangkal paha sudah mulai lelah maka gue tetap harus berkonsentrasi super extra saat melalui medan seperti ini 🙂 🙂

IMG_20180128_160545RR

IMG_20180128_160600r

Penutup

Rasanya butuh minimal 2 hari untuk benar-benar dapat menikmati trek-trek ajib di bukit Doi Suthep Pui Chiang Mai Thailand ini. Apalagi mengingat ongkos menuju kesini tidak bisa dikatakan murah. Namun apa mau dikata, kesempatan emas yang gue miliki cuma selama satu hari dan itupun gue sudah sangat bersyukur Alhamdulillah dapat mencicipi 3 buah trek yang super ini.

Ayo pada nabung, jangan upgrade terus 🙂

Cheers, Mantel
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com

Cikarang 5 Februari 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: