Your Essential Guide To BikeCamp at Mount Slamet

Prolog : When the first time I saw in RogerBagen WAG an open-list to redo North Slamet Gravity Adventure (NSGA) which was scheduled on 17-18 March 2018 I then cross-checked at mountain-forecast.com and mumbled to myself, “as long as they can leave the camp very early in the morning for summit-attack, likely there’s a big chance they gonna reach the summit this time..” So I was thinking hard, very very hard to find the best way to obtain permission from my spouse, I will double her monthly salary if needed as long as I could join the team for this invaluable experience  hahahahaha *wink wink

A side note : Mang Liwa revealed that due to the storm and unfriendly weather near Plawangan, none of 12 riders was able to reach the summit of mount (mt.) Slamet during NSGA first trip on 20-22 January 2018.

Prakiraan Cuaca Gn Slamet 17-18032018

By way of introduction, what is NSGA all about? as far as I can observe, in short NSGA is kind of mixed adventure activities in which go to the top of mount (mt.) Slamet by hiking and go back to basecamp at Jurangmangu by MTB using the northern hiking route of mt. Slamet. A systematic attempt to utilize the beauty of mt. Slamet, human capital and willingness of local villager to make Jurangmangu village to become an adventure-tourism destination and for the long run this will (hopefully) increase local villager welfare.

Is it legal? even though we are sharing the trails with fellow hikers but Yeah it’s legal. Indeed this activity is fully supported by local government officer

Ok let’s back to my 17-18 March trip. Kesempatan langka menjadi bagian dari rombongan pertama yang dapat menjejakkan sepeda dan membuat foto di puncak sisi utara gn. Slamet yang sangat instagramable memang sungguh sangat menggoda. Apalagi tanggal 18 Maret adalah akan menjadi 1st anniversary Banshee Rune gue *halaaaaaah.

Melihat data prakiraaan cuaca dimana diperkiraan pada hari Sabtu 17 Maret 2018 akan turun hujan semenjak pagi hingga petang yang pastinya akan membuat aktivitas mendaki sedikit banyak akan terhambat. Memang terkadang untuk mencoba mendapatkan sesuatu yang wah, sesuatu yang baru yang sangat menarik hati kita harus berani mengambil resiko namun pastinya dengan tetap dapat me-manage resiko tersebut. Resiko akan kehujanan saat mendaki dan kedinginan saat nge-camp di ketinggian diatas 2500 mdpl seakan sudah gak gue hiraukan lagi. Weather forecast is just a forecast. Awan, angin dan hujan adalah milik Allah. Gue serahkan semuanya kepada pemilikNya. Intinya gue harus ikut !!!

IMG-20180318-WA0009rr

Saat visa sudah ditangan buru-buru gue menghubungi mang Liwa namun saat itu beliau mengabarkan bahwa peserta sudah pas berjumlah 15 orang … damn !!! Namun beberapa puluh menit kemudian sebuah pesan dari mang Liwa masuk di WA membawa angin segar mengabarkan bahwa salah satu calon peserta baru saja menggundurkan diri sehingga nama gue bisa dimasukkan di daftar peserta … Yeeeeyyyy 🙂

Anyway seiring berjalannya waktu sampai dengan H-1 keberangkatan beberapa peserta mengundurkan diri dan batal ikut sehingga jumlah peserta menyusut menjadi tinggal hanya 12 orang.

  1. Mang Liwaul
  2. Momie (istri mang Liwa)
  3. Mang Saens aka Hasan Basri
  4. Om Bagus AC
  5. Om Marin Fatkhurozi
  6. Om Erik – Roger Bagen
  7. Om Noorgan
  8. Om Taopik Hidayat
  9. Mantel (it’s me)
  10. Om Arto Toto Yuniarto
  11. Om Holise – RogerBagen
  12. Om Asep A. Hasyim

Sekilas mengenai demografi dari para peserta tersebut diatas, bahwa rata-rata umur adalah 40 thn. Dimana usia rider termuda adalah 31.4 thn dan usia rider tertua adalah 54 thn. Sebanyak 25% dari total peserta mengakui belum pernah sama sekali mempunyai pengalaman mendaki gunung. Satu hal lain yang membuat trip kali ini makin spesial adalah dengan ikut sertanya satu orang rider wanita uhuuuuuuy *SalimkeMomie 🙂

Sedangkan menurut asal kota, 2 rider dari Purwakarta, 4 rider dari Cikampek, 2 rider dari Bumiayu, 3 rider dari Bekasi dan 1 rider dari Cikarang (it’s safe to say Cikarang is NOT part of Bekasi hahahahahahaha)

Semoga artikel singkat ini dapat menginspirasi rekan-rekan penggila MTB dan sekaligus membantu persiapan rekan-rekan yang hendak mencoba dalam waktu dekat trip yang luaaaar biasa ini.

Preparation

  • Akomodasi dan Mobilisasi 

Perlu diingat sekali lagi bahwa pada dasarnya sebagian besar peserta rombongan kami adalah berlatar belakang MTB sehingga porsi yang lebih kami utamakan pada trip kemarin adalah saat mengendarai sepeda di jalur pendakian gunung Slamet untuk menuju kembali ke desa Jurangmangu.

Semua rider MTB tahu bahwa TTB aka menuntun sepeda (regardless type or genre of your bikes, XC, enduro, DH bike, either alu or carbon … you name it) di tanjakan sangatlah menguras tenaga. Apalagi jika kita berbicara TTB ke puncak gunung dengan jarak lebih dari 8 km. Oleh karenanya pihak penyelenggara (dalam hal ini om Malvin is our first person of contact for NSGA) telah menyediakan jasa porter yang tidak lain dan tidak bukan adalah para warga desa Jurangmangu sendiri.  Begitupun dengan barang bawaan kita lainnya semisal tenda, matras, windbreaker, baju ganti, logistik ataupun peralatan lainnya juga akan dibantu dibawakan oleh para porter yang sangat luar biasa ketahanan fisiknya.

Selain para porter, karena kita tiba di desa Jurangmangu pada hari Jum’at maka kita membutuhkan tempat untuk menginap. Namun gak usah bingung dan gak usah pusing karena pihak penyelenggara juga sudah menyediakan 2 buah homestay yang dapat menampung sampai 20 rider. Homestay pertama ada shower air panasnya lho guys!!! Gue sendiri tidur di homestay kedua yang memiliki kasur empuk dan selimut hangat namun mandi air hangat tetap di homestay pertama Yeeeey  🙂 🙂 🙂

Trus kalau urusan sarapan di hari Sabtu gimana? Did I say om Malvin already arranged this for us as well? Tenang aja, sarapan sudah akan siap di homestay karena biayanya sudah termasuk paket yang kita bayar.

You know what guys, our group were very very lucky this time, pihak pejabat desa Jurangmangu ternyata menyediakan tambahan makan malam pada hari Jum’at dan Minggu secara g.r.a.t.i.s. But ssshhhhhhh promise me not tell anyone else… this big secret is for your eyes only ok? 🙂 🙂 🙂

Matur suwun sanget pak *dua jempol

  • Perlengkapan Pribadi
  1. Sleeping bag
  2. Matras
  3. Jaket/windbreaker/sweater/baju hangat
  4. Tambahan beberapa lapis baju tidur misalnya base-layer. Ingat camp di Pos 8 dingiiiin banget
  5. Jas hujan
  6. Sepatu khusus untuk aktivitas outdoor
  7. Celana lapangan atau celana sepeda yang nyaman digunakan untuk berjalan jauh (celana jean tidak direkomendasikan)
  8. Sarung tangan hangat
  9. Kaos kaki hangat
  10. Kupluk/buff/balaclava
  11. Senter
  12. Jersey salin
  13. Obat-obatan pribadi Misalnya krim oles pegal/kram, obat masuk angin sachet, obat pusing dan demam. Multi vitamin dan mineral untuk menghilangkan pegal
  14. Perlengkapan gowes seperti biasa seperti toolkit sepeda, ban dalam cadangan dll
  15. Knee protector, elbow protector. Body armor dan helm fullface juga sangat direkomendasikan
  16. Makanan ringan, roti, coklat, kurma, madu sachet, snack untuk menambah energi, air minum +/- 2 liter

IMG_20180318_094032r

Pendakian

  • Ingat, selain saat mendaki di hari Sabtu, kita juga akan masih membutuhkan energi yang besar untuk summit attack dan saat gowes turun di hari Minggu. Jadi atur irama langkah saat mendaki dan tidak usah terburu-buru.  Tidak ada salahnya banyak berhenti untuk istirahat dan mengatur nafas. Intinya jangan memforsir tenaga saat pendakian
  • Saat pendakian gunakan backpack (plus rain cover) ukuran sedang (atau yang biasa kita gunakan saat bersepeda) untuk mambawa makanan ringan, air minum, alas shalat, jas hujan, jaket, power bank (khawatir batere di HP cepat habis karena dijamin akan sering foto-foto dan bikin video)
  • Untuk rekan-rekan yang Muslim, selalu basahi bibir dan lisan dengan dzikir ‘Allahu Akbar’ saat mendaki
  • Pihak penyelenggara NSGA sudah menginstrusikan kepada semua porter sepeda dan porter carrier/barang agar nantinya berjalan bersama dengan rider pemilik sepeda dan barang. Usahakan agar sesekali berbaur ngobrol dengan mereka agar selama pendakian alam pikiran kita tidak kosong. Untuk rekan-rekan yang muslim silahkan kombinasikan dengan bullet point tentang dzikir diatas

Itinerary

Jum’at 16/3/2018 : Tiba di homestay desa Jurangmagu pada malam hari

Sabtu 17/3/2018 :

  • 04.30 Bangun shalat subuh, sarapan, persiapan terahir sepeda, gears dll
  • 08.15 Berangkat dari basecap pendakian desa Jurangmangu
  • 13.00 Tiba di Pos 5 untuk berisirahat makan siang
  • 16.30 Tiba di Pos 8 untuk mendirikan tenda, isoma dan bermalam

Peringatan : Pastikan anda makan malam (pokoknya paksain makan) dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung cukup carbo dan protein.

Beristirahat dengan tidur yang cukup, gue ulangi ya, istirahat yang cukup dan istirahat yang cukup. Anda membutuhkan recovery yang sempurna untuk summit attack dan gowes esok hari.

Untuk menghilangkan rasa pegal di paha dan betis, jika diperlukan silahkan mengkonsumsi 1 tablet supplement multivitamin dan mineral semisal Fatig** sebelum tidur.

IMG_20180318_054518rr

Pada jalur pendakian Jurangmangu ini nantinya kita akan melewati 9 buah pos plus sebuah pos bayangan di area Plawangan. Berikut waktu tempuh dari dan ke masing-masing pos :

  • Basecamp Jurangmangu ke Pos 1 (Pondok Pinus @ 1216 mdpl) : 20 menit
  • Pos 1 ke Pos 2 (Kedung Warak @ 1347 mdpl) : 30 menit
  • Pos 2 ke Pos 3 (Sampyang Pasang @ 1608 mdpl) : 55 menit
  • Pos 3 ke Pos 4 (Sampyang Geringging @ 2017 mdpl) : 1 jam 55 menit
  • Pos 4 ke Pos 5 (Sampyang Gembirung @ 2127 mdpl) : 35 menit. Isirahat makan siang +/- 40 menit
  • Pos 5 ke Pos 6 (Sampyang Kematus @ 2328 mdpl) : 40 menit
  • Pos 6 ke Pos 7 (Sampyang Rangkah @ 2513 mdpl) : 30 menit
  • Pos 7 ke Pos 8 (Sampyang Gorang @ 2874 mdpl) : 1 jam 45 menit
  • Pos 8 ke Pos 9 (Pondok Goa @ 2995 mdpl) : 40 menit
  • Pos 9 – Plawangan (Klenting Mungil @ 3030 mdpl) : 25 menit
  • Plawangan – Puncak @ 3378 mdpl : 1 jam 45 menit

Catatan : Semua satuan waktu gue ukur dengan langkah normal. Gue bukan tipe orang yang mempunyai nafas panjang, gak pernah jogging dan main sepedahan belum tentu sebulan 1x (trip sepedahan gue terahir kali di tahun 2018 bisa dibaca disini). So sepanjang perjalanan mendaki gue sering berhenti untuk mengatur nafas jadi waktu yang gue tempuh hampir sebagian besar lebih lama ketimbang yang tertera pada papan petunjuk yang ada pada setiap pos.

IMG_20180318_144906r

Minggu 18/3/2018 : 

  • 04.30 Bangun, shalat subuh
  • 05.00 Sarapan, persiapan summit attack.
  • 06.30 Menuju Plawangan
  • 09.10 Tiba di puncak
  • 11.30 Tiba kembali di Plawangan
  • 11.50 Tiba kembali di basecamp pos 8
  • 12.35 Tiba di Pos 6, regrouping
  • 14.50 Tiba di Pos 2, regrouping
  • 15.30 Alhamdulillah semua rider tiba kembali tanpa kurang suatu apapun di basecamp desa Jurangmangu

Getting the Summit

Tidak seperti trip gn. Lawu (baca disini artikelnya), NSGA berjenis A-to-A dimana kita akan start dan finish di titik yang sama yakni desa Jurangmangu. Seperti namanya, jalur pendakian Jurangmangu dimulai dari Desa Jurangmangu Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang yang berada pada ketinggian sekitar  1200-1300 mdpl. Terdapat plus dan minus jalur bertipe A-to-A seperti ini. Sisi plusnya adalah kita dapat menggunakan sesi mendaki sebagai ajang track-walk yakni mempelajari detail dari spot-spot turunan tehnikal yang sekiranya butuh perhatian khusus semisal bila terdapat percabangan ataupun roots garden maka kita sudah bisa mendapatkan gambaran jalur mana yang akan nantinya kita kan pilih saat sesi bersepeda. Sesi minusnya adalah pengalaman alias Curriculum Vitae dari jalur pendakian yang pernah kita lewati akan lebih sedikit hahahahaha.

Walaupun blog ini sejatinya adalah blog MTB namun berhubung sudah banyak tulisan di FB baik dari mang Liwa ataupun om Erik dan bahkan video di youtube saat trip pertama NSGA tentang sesi turunan saat bersepeda menuju Jurangmangu maka kali ini gue akan lebih banyak melihat NSGA dari sudut pandang lain.

1). Menurut gue pribadi spot antara pos 5 dan pos 6 mempunyai view yang paling chantique dimana jalur pendakian yang membelah hutan tropis gn. Slamet di area ini melewati rimbunnya batang pepohonan yang hampir semunya telah tertutup oleh lumut.

IMG_20180317_134258r

2). Huge respect and sincere gratitude untuk semua para porter dan khususnya 2 porter yang membawakan sepeda Banshee Rune warna hitam dan carrier dengan cover kuning milik gue. Kalian semua luaaar biasa. Semua sangat patuh atas perintah om Malvin untuk selalu jalan bersama para rider. Setapak demi setapak kedua porter gue ini melangkahkan kaki berusaha mengimbangi langkah gue yang memang tidak lebar dan sering berhenti. Bahkan selepas pos 3 saat hujan mulai turun dengan derasnya mereka tetap setia berjalan mendampingi gue. Padalah gue tahu persis bahwa dengan ketahanan fisik dan langkah kakinya, kedua porter ini bisa dengan mudahnya melewati gue.

Sampai keesokan harinya pun saat summit attack porter gue tetap setia menggotong sepeda sampai Plawangan bahkan ketika gue tanya apakah masih siap untuk menggotong sepeda sendirian (tanpa gantian dengan porter lain) sampai ke puncak beliau dengan sigap menjawab SIAAAP. Namun sayang sungguh sayang hari itu sepeda yang boleh dibawa sampai puncak ternyata hanya dibatasi 5 sepeda saja but it’s OK.. it’s all good I didnt envy you guys hahahaha …. damn 🙂 

IMG_20180317_091730r

Oh iya satu lagi saat meninggalkan pos 8 menuju puncak ternyata beliau telah menyiapkan secara khusus termos kecil berisi kopi untuk selebrasi kita nanti di puncak. A half cup of coffee might be a small thing but when you are on the top of mountain and find someone offering you, it’s really really nice gesture from him. Bahkan saat sesi bersepeda pulang ke Jurangmanggu dimana saat hujan deras kala kita tiba di Pos 4 beliau sudah siap dengan backpack berisi cadangan air minum yang tadi memang sempat gue titipkan padanya.

Duuuuuh kalau ingat momen itu kadang rasanya air mata ini ingin menetes karena rasa haru apalagi setelah gue dengar sendiri berapa nilai uang nett yang mereka terima atas kerja keras mereka selama 2 hari tersebut dan melihat sendiri betapa saat kita semua para rider tidur pulas dengan menggunakan sleeping bag yang hangat di dalam tenda dome yang nyaman maka hampir sebagian besar para porter tidur dengan peralatan tidur seadanya di pos 8 dan tanpa tenda pula, bahkan ada diantara mereka yang sama sekali tidak membawa baju salin untuk sekedar mengganti baju yang telah basah kuyup sehabis kehujanan saat menuju pos 8 ini.

Terlepas dari hubungan profesionalisme antara client dan porter dimana kita sudah membayar paket yang salah satunya berisi jasa porter namun gue rasa tetap aja pelayanan yang mereka berikan sangat beyond my expectation. Kesalahan terbesar gue pada trip ini adalah sampai saat detik terahir meninggalkan desa Jurangmangu gue gak sempat bertemu untuk sekedar mengucapkan terimakasih dan memberi sedikit uang tip kepada porter kedua yakni yang membawakan carrier/barang. So guys if you are reading this article and ever have a chance to visit Jurangmangu for next NSGA trip please kindly drop my sincere gratitude for him.

3). Hehehehehe maaf yaaaa kalau kepanjangan dan agak-agak mellow. Gue lanjutin lagi ya, menurut gue pribadi jalur terberat pada rute pendakian via Jurangmangu ini adalah saat summit attack tepatnya mulai dari Plawangan sampai sekitar 20 meter menjelang puncak

Syukur alhamdulillah ahirnya setelah berjuang selama +/- 1 jam 45 menit terhitung mulai dari Plawangan, dimana saat itu kami semua harus menjejakkan kaki langkah demi langkah penuh kehati-hatian pada bebatuan yang sangat mudah luruh dengan kemiringan yang terkadang membuat beberapa orang dari kami harus sedikit merayap sampai ahirnya mengantar rombongan tiba di puncak gn. Slamet sisi Jurangmangu pada ketinggian 3378 mdpl (meter di atas permukaan laut).

IMG_20180318_083628r

IMG_20180318_080906r

IMG_20180318_085919r

Lho kok ‘cuma’ 3378 mdpl? hehehehe harap gak usah pada bingung. Bagian tertinggi dari jalur Jurangmangu yakni sisi utara gn. Slamet memang berada pada ketinggian tersebut sedangkan puncak tertinggi gn. Slamet seperti yang pernah gue daki 20 tahunan lalu berada pada ketinggian 3428 mdpl berada pada jalur pendakian Blambangan. Bagi kita rider MTB perbedaan elevasi sebanyak 50 mdpl ini gak perlu lah menjadikannya sebuah polemik karena sama sekali tidak mengurangi arti sebuah pencapaian yang memang sudah sangat luar biasa ini.

Going Back BaseCamp

IMG-20180318-WA0002r

Huhuyyyyy tanjakannya cuma ada sepanjang 8 meter lho guys. Ya seingat gue sepanjang trek turun kemarin memang kita cuma 2x melewati sungai kecil yang telah nyaris kering. Berarti saat TTB kembali menuju jalur diatas itulah elevation gain sebanyak 8 meter terjadi. Selebihnya mulai dari Plawangan sampai basecamp desa Jurangmangu semuanya full turunan.

Akibat hujan yang turun sepanjang siang dan sore pada hari Sabtu yang membuat tanah gembur menjadi makin gembur maka beberapa spot turunan tajam pada etape Plawangan menuju pos 8 harus gue lewati dengan TTB … Eaaaaaaaaa 🙂

Saat tiba di pos 8 gue berinisiatif untuk sedikit mengurangi tekanan angin pada Schwalbe Magic Mary pada roda depan dan Schwalbe Hans Dampf pada roda belakang agar bisa sedikit menambah daya cengkram di turunan nan licin selepas pos 8.

Secara umum andai kemarin tidak hujan maka jalur yang berada mulai dari pos 9 sampai dengan pos 7 (etape ini memang baru diperbaiki) sudah layak bahkan amat sangat layak untuk memacu adrenalin karena sangking banyaknya turunan curam yang licin hahahaha. Kalau sudah begini gue gak banyak berharap dari kinerja brakeset shimano SLX yang sudah gue bleeding ulang sesaat sebelum berangkat.

Sama seperti saat di gn. Lawu, mang Liwa dan mang Saens selalu di depan. Disusul kemudian oleh mang Thoge Namun selepas pos 7 gue dan mang Thoge bergantian menempati posisi ketiga.

IMG_20180318_123857rJangan ditanya berapa kali para rider jatuh semenjak dari pos 8 sampai pos 6. Menurut sumber yang bisa dipercaya sih katanya mang Saens lebih dari 3x jatuh bangun. Sedangkan gue sendiri kalau cuma jatuh imut karena ban kepeleset saat melewati akar ataupun saat ban menabrak semak-semak saat kecepatan rendah mah udah gak gue hitung tapi yang pasti gue mengalami 1x over the bar alias jatuh jungkir balik sampai visor lepas dari helm akibat over speed saat di turunan yang sangat licin. Untung visor gak pecah seperti om yang entuh tuh wkwkwkwkwkwkw

IMG_20180317_093814r

IMG_20180317_100024r
Roots garden jalur gn  Slamet

Jalur turunan bengis full akar seperti foto diatas tidak terhitung banyaknya di jalur Jurangmangu ini. Silahkan pilih sendiri mau ambil jalur sisi yang mana. Untungnya disini tidak terdapat banyak drop-drop akar yang tinggi seperti di gn Lawu jadi gue gak terlalu khawatir sepeda akan ‘nancep’ alias jatuh nombak 🙂 🙂

Saat berada di spot antara pos 6 menuju pos 4 terkadang gue sangat merindukan jalur datar untuk sekedar berhenti sebentar menurunkan adrenalin ataupun sekedar membersihkan tanah yang menempel di bagian sambungan antara chainstay dan bagian bawah seat tube. Ada untungnya juga sih dengan banyaknya tanah yang terbawa disitu sehingga sepeda gak terlalu meluncur liar di turunan curam yang licin hahahahaha

IMG_20180318_125202r

Di pos 4 dan pos 2 lalu kemudian terahir di pos 1 kita menunggu cukup lama om Malvin yang bertugas mengawal momie di rombongan paling buncit. Duuuh sungguh mengganggu ritme deh mereka ini. Hehehehehe just kidding… seriously it’s not about speed sepedahan di jalur ini disaat hujan deras. Buat gue pribadi bisa tiba kembali di basecamp Jurangmangu dengan utuh dan selamat tanpa kecelakaan berarti sudah syukur alhamdulillah banget karena memang sudah merupakan pencapaian yang luar biasa.

IMG_20180318_144508r
Harap abaikan penampakan tanah yg menempel di grip

MTB in mt. Slamet : Myth vs Facts

Myth #1. We can ride our bike from *the summit* of mt. Slamet at 3378 masl down to Plawangan.

Fact #1. To the best of my knowledge there’s no way you can ride your bike (even if you’re riding full DH rig) on the super loose rocks from the summit to Plawangan of mt. Slamet. The lane choice is very limited even if you find one (or two) it will end up at pretty deep hole. Check photos below then tell me which lane you will choose

If you’ve ever seen any vids on internet showing someone riding his bike on top of mt. Slamet I can assure you those vids are real but those taken at the other quite flat side of the summit NOT went down to Plawangan.

Myth #2. We can do NSGA without any helps from the porters

Fact #2. Theoretically yes you can. But make sure you are strong enough to bring your (at least) 15 kg carrier of your camping stuffs at your back and (at least) 13.5 kg bike at your shoulder and at the same time you need to hike on your own foot 8 km from Jurangmangu basecamp till the summit

Myth #3. Without having any camping gears the like tent, cooking stuffs, sleeping bag etc (but we do have our own bikes) we still can do NSGA

Fact #3. That’s not a myth… Yes you can do that. Jurangmangu basecamp provides all of your camping stuffs for rent

Penutup

Wooow what another epic trip … ahirnya kita mempunyai satu lagi jalur MTB yang sangat menantang dan mengasyikan.

ThanksList :

  • Special thanks untuk seluruh warga desa Jurangmangu yang terlibat pembukaan dan pemeliharaan jalur serta para porter yang telah membantu rombongan kedua NSGA pada tanggal 17-18 Maret lalu.
  • Ucapan terimakasih juga gue ucapkan untuk segenap pejabat desa/kelurahan Jurangmangu yang telah mendukung dibukanya jalur MTB di jalur utara pendakian gn. Slamet.
  • Terimakasih untuk Mang Liwa yang telah meng-arrange trip ini.
  • Terimakasih untuk om Malvin, you did a very awesome job with NSGA project
  • Huge thanks to Momie Erinda, Mang Saens, Om Bagus AC, Om Marin Fatkhurozi, Om Erik, Om Noorgan, Om Taopik Hidayat, Om Arto Toto Yuniarto, Om Holise dan Mang Thoge. Kalian semua ruaaaaar biasa !!!

Mari kita nabung lagi and see you on another big mountain trip

Cheers, Mantel – NSGA #021
Twitter : @jashujan
Email : payung[at]yahoo.com
Blog : jashujan.wordpress.com

Cikarang 19 March  2018
Salam T4 aka TaTuTuTa aka Tanjakan Tuntun Turunan Takut  (https://www.facebook.com/T4.aka.TaTuTuTa)

Advertisements

2 thoughts on “Your Essential Guide To BikeCamp at Mount Slamet

Add yours

    1. Terima kasih dah mampir om… Silahkan dicoba NSGA.. sangat recommended .. Apalagi menjelang pertengahan April cuaca Inshaa Allah akan sangat mendukung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: