Ringkasan Itinerary 15 Hari Musim Panas Ke Jepang Untuk Traveller Muslim Dengan Anggaran Terbatas

Jepang sebagai sebuah negara modern yang memproduksi berbagai macam jenis barang bertehnologi tinggi, sebuah negara dengan industri otomotif yang masif, sebuah negara yang juga maju dalam industri game dan animasi. Rasanya tidak pula ada yang akan menyangkal bahwa Jepang sebagai negara yang terkenal akan keteraturan dalam berbagai hal serta sebagai sebuah negara yang diwarisi oleh generasi sebelumnya dengan banyak bangunan bersejarah nan indah. Dan negara Jepang pada ahirnya telah berhasil mengelola kesemuanya itu sehingga menjadikan Jepang sebagai sebuah destinasi wisata impian dari banyak orang.

IMG_20180707_164602r

Setelah cukup lama menabung dan menunggu adanya tiket penerbangan promo syukur alhamdulilah ahirnya pada tanggal 24 Juni – 9 Juli 2018 gue dan istri ahirnya dapat mengunjungi Jepang untuk dapat melihat dengan mata kepala sendiri dari apa yang selama ini gue baca dan dengar tentang Jepang.

Walapun di internet sudah banyak berserakan informasi mengenai wisata ke Jepang namun sepulangnya dari sana tangan ini gatal rasanya kalau gak sharing mengenai itinerary liburan selama 15 hari pada musim panas di Jepang untuk wisatawan muslim dengan budget/anggaran terbatas. Juga tentang apa yang gue alami dan rasakan selama liburan disana. Semoga dapat menambah informasi bagi man-teman yang berencana liburan ke Jepang dalam waktu dekat.

Namun sebelum masuk ke pembahasan mengenai itinerary ada baiknya gue sharing sedikit tentang beberapa hal. Namun yang pasti ada banyak hal ataupun tempat wisata yang memang benar bagus adanya seperti yang telah ‘diiklankan’ di internet namun ada juga yang menurut gue pribadi yang overrated 🙂 Di tulisan ini nantinya Inshaa Allah gue akan memberikan skor penilaian dari gue pribadi dari masing-masing tempat wisata yang gue kunjungi.

Kesulitan (baca : Tantangan) Wisata di Jepang

1. Butuh Fisik Yang Prima

Liburan ke Jepang bagi gue adalah sebuah liburan fisik. Mengapa demikian? Karena moda transportasi utama di kota-kota tujuan wisata di Jepang adalah kereta api dan semua turunannya (seperti kereta bawah tanah/subway, monorel, kereta cepat dsb)  serta bis umum (dengan asumsi bahwa kita liburan ke Jepang tanpa menggunakan agen tour travel ).

Kalau gue perhatikan ada 3 jenis stasiun dilihat dari fungsi dan ukurannya.

  • Stasiun super besar. Biasanya stasiun jenis ini mempunyai atau digunakan oleh banyak perusahaan kereta api ada di dalamnya. Sebagai contoh stasiun Shinjuku digunakan oleh perusahaan kereta antara lain Japan Railway/JR, Odakyu dan Keio. Contoh lain stasiun Osaka digunakan oleh perusahaan kereta antara lain Hankyu, Nankai, Kintetsu dan Hanshin. Naaaah lebih serunya  adalah masing-masing perusahaan kereta tadi mempunyai lebih dari satu jalur tujuan kereta. Malah terkadang masing-masing perusahaan kereta tersebut secara fisik sebenarnya mempunyai stasiun sendiri namun stasiun-stasiun tadi dihubungkan dengan lorong bawah tanah (jangan bayangkan ‘lorong’ ini sebuah lorong yang gelap, sempit dan pengap ataupun tunnel pendek yang menghubungkan gedung BEJ dengan Pacific Palace ya hihihihihihi) sehingga secara virtual membentuk sebuah stasiun yang sangat besar
  • Stasiun ukuran sedang yang digunakan oleh lebih dari satu perusahaan kereta tempat dimana kita bisa pindah tujuan dengan menggunakan perusahaan kereta ataupun jalur lain. Misalnya stasiun Nippori, stasiun Ueno dll. Stasiun ukurang ‘sedang’ disana bisa jadi bahkan berukuran lebih besar dari stasiun Gambir disini.
  • Stasiun lokal ukuran kecil dimana hanya ada 1 atau 2 jalur kereta lokal. Stasiun ini mirip-mirip berukuran seperi stasiun Tebet ataupun stasiun Dukuh Atas Sudirman lah kalau di Jakarta

IMG_20180704_110441r

Walapun telah didesign dan terintegrasi dengan bangunan di sekitarnya dengan baik namun hampir semua stasiun mempunyai jalur untuk kereta bawah tanah. Sehingga dengan demikian tetap dibutuhkan fisik yang prima untuk berjalan naik turun tangga saat masuk ataupun keluar dari sebuah stasiun ataupun saat transfer menuju jalur kereta lain. Memang telah disediakan eskalator dan lift tapi fasilitas tersebut biasanya diprioritaskan untuk para manula, penyandang disabilitas, ibu hamil dan semisalnya. Dalam kondisi tertentu seperti saat membawa carrier ataupun koper yang berat gue biasanya memilih untuk menggunakan fasilitas tadi. Trust me… beraaat bo nenteng-nenteng koper menaiki dan menuruni puluhan anak tangga 🙂

Faktor lain yang membuat wisata di Jepang menuntut fisik yang prima adalah jarak antara stasiun terdekat dengan suatu spot wisata serta luasnya area suatu spot tujuan wisata yang terkadang membutuhkan waktu lebih dari 2 jam hanya untuk sekedar mengitarinya.

Work Around : Jangan lupa membawa tablet multi vitamin dan mineral untuk menghilangkan pegal yang diminum saat sebelum tidur untuk cepat memulihkan stamina dan menghilangkan asam susu penyebab rasa pegal

2. ‘Tersesat’ di Stasiun

Gak usah malu ataupun minder jika kita menghabiskan lumayan banyak waktu untuk banyak berhenti di stasiun besar manakala akan menaiki kereta yang akan membawa kita ke lokasi wisata. Bahkan warga lokal Jepang sendiri masih banyak kok yang terkadang terlihat bingung mencari jalur kereta saat di stasiun hehehehe.

Sebagai ilustrasi gue akan menggunakan contoh saat pertama kali gue tiba di stasiun Shinjuku dan hendak check in hotel di daerah Hatagaya. Dari informasi tentang yang gue baca di website tentang akses menuju hotel dan saat mencocokannya dengan hasil penelusuran via google map dan hyperdia.com sepertinya sangat mudah namun saat di lapangan ternyata gak segampang yang gue duga.

Shinjuku - Hatagaya

Informasi utama yang kita butuhkan saat menuju suatu tempat adalah nama stasiun terdekat dengan lokasi yang hendak kita tuju. Untuk kasus gue stasiun target adalah stasiun Hatagaya. Masalah pertama adalah dari bandara Narita gue menggunakan kereta Narita Express milik dari perusahaan JR yang berhenti di stasiun Shinjuku milik JR. Sedangkan untuk menuju stasiun Hatagaya gue harus menaiki kereta perusahaan Keio jalur Keio New Line dengan jurusan Hashimito atau Sasazuka yang ada di stasiun Shinjuku milik Toei. Maka gue harus jalan dulu menuju stasiun Shinjuku Toei. Perkiraan waktu 6 menit itukan kalau lancar hehehe … aslinya sih gue menghabiskan waktu hampir 45 menit untuk bisa tiba di peron tunggu kereta Keio New Line di stasiun Shinjuku Toei.

Petunjuk arah yang menggunakan bahasa Inggris di semua stasiun sebenarnya sudah sangat memadai. Cara bodoh-bodohan yang gue gunakan saat ‘tersesat’ di stasiun Shinjuku adalah sebagai berikut :

Ikuti terus petunjuk yang ada kata ‘Keio New Line’. Jika ada persimpangan (akan ada banyak persimpangan selama di stasiun Shinjuku) selalu cari petunjuk arah yang  ditempel di tiang ataupun digantung seperti ini

Keio New Line Sign

Setelah berhasil tiba di stasiun Keio/Teoi dan masuk dengan men-tap kartu IC (kartu Pasmo ataupun Suica; yakni ejenis kartu isi ulang model e-money yg bisa kita beli di vending mechine) tempat jalur Keio New Line sekarang tinggal cari petunjuk arah menuju nomer track/peron kereta yang nantinya akan berhenti di stasiun Hatagaya. Gambarannya gini kereta Keio New Line yang berhenti di stasiun Shinjuku Keio/Teoi itu kan menggunakan 2 track, ada yang akan menuju stasiun Hatagaya dan juga ada yang datang dari arah stasiun Hatagaya. Biasanya di sekitar tangga menuju track akan ada papan petunjuk arah dari masing-masing track. So jangan sampai salah pilih track yaaa. Naah untuk memastikannya sih biar aman tanya ke petugas ataupun orang disekitar.

Terkadang jika stasiun yang kita hendak tuju bukanlah sebuah stasiun besar dan juga bukan stasiun ahir perjalanan kereta maka biasanya petunjuk arah yang ada bertuliskan nama 1 stasiun sesudah stasiun keberangkatan dan atau nama stasiun besar sesudah stasiun keberangkatan. Untuk kasus gue bisa jadi petuntuk nomer track misalnya tertulis “Track 4 Hatsudai”. Untuk memastikannya kalian bisa klik link ‘Train Timetable’ pada output hasil pencarian hyperdia.com tadi. Dari sini kita yakin bahwa kereta di track 4 ini ke arah stasiun Hatsudai dan akan berhenti pula di stasiun Hatagaya.

train taime table

Seperti yang gue udah singgung bahwa sebuah stasiun di Jepang terintegrasi dengan bangunan di sekitarnya sehingga pemilihan pintu keluar juga berpotensi menimbulkan masalah karena harus berjalan lumayan jauh kembali memutar jika kita tidak memilih arah yang benar. Sebagai contoh stasiun dengan ukuran tidak terlalu besar seperti stasiun Karasuma di Kyoto, akan kita temui banyak pintu keluar yang langsung (yang terkadang diberi nama dengan area sekitar atau diberi nama dengan nomer) dapat membawa kita lebih dekat ke suatu gedung/area. Harap selalu memperhatikan petunjuk arah seperti yang ada gambar berikut.

IMG_20180628_140412r

 

3. Makanan Halal, Tempat Sholat dan Jenis Tempat Wisata

Pemerintah dan pengusaha bidang pariwisata di Jepang sudah tahu bahwa banyak turis yang berasal dari negara muslim yang tentunya akan membutuhkan makanan yang halal dan tempat untuk shalat oleh karenanya mereka sudah menyediakan restoran yang menyediakan menu halal dan juga ruangan tempat shalat di beberapa area. Namun jangan membayangkan jumlahnya akan sebanyak mushala yang akan sangat mudah kita temui pada hampir semua  tempat di Indonesia.

Website mesjid-finder.com dan halalgourmet.jp dapat sedikit membantu memecahkan masalah saat mencari ruang untuk shalat dan mencari makanan halal saat kita sedang wisata di Jepang. Namun bagaimana jika kita sedang mengunjungi area yang lokasinya jauh dari restoran dengan sertifikat halal serta jauh dari keberadaan ruang untuk shalat?

Workaround : Setiap bepergian keluar negeri gue selalu membawa makanan dari Indonesia semisal rendang, abon, sambal goreng teri, saus sambel ukuran sachet, sambel uleg terasi ukuran sachet dan berbagai macam snack. Those are my life saver in Japan hehehehehe. Jadi gue tinggal beli nasi putih polos di mini market. Sebagai info tambahan di Jepang juga banyak dijual nasi putih dengan sisipan ikan atau daging kecil di tengahnya. Gue pernah 3x salah beli nasi model seperti ini yang ahirnya gak jadi gue makan. Lho kok dibuang gitu? karena kita gak pernah tahu bahan yang digunakan saat mengolah ikan atau daging kecil tersebut.

IMG_20180630_205923r

Lalu bagaimana cara membedakannya saat membeli di supermarket karena tulisan pada hampir semua bungkus nasi yang dijual menggunakan tulisan Jepang. Cara bodoh-bodohanannya adalah dengan melihat harganya. Nasi putih polos dengan ukuran seperti pada gambar diatas berharga sekitar 90-100 yen (sesudah pajak). Jadi jika ada nasi putih yang dijual dengan harga misalnya 130 yen bisa diyakini di dalamnya ada berisi sesuatu.

Terkait tempat untuk shalat, beberapa kali gue pernah shalat di area terbuka. Kriteria pemilihan tempat terbuka adalah sebisa mungkin tempat tersebut tidak mengganggu lalu-lalang orang. Kami pernah mengelar sejadah untuk shalat di pojokan dekat pintu exit darurat sebuah mall dan juga pernah shalat di peron paling ujung di sebuah stasiun kecil.

Lalu bagaimana dengan wudhu? Semua toilet yang gue temui di Jepang hampir semuanya bersih dan selalu ada kran pada wastafel dimana kita bisa ‘numpang’  berwudhu (selain saat membasuh kaki) disini namun dengan catatan PASTIKAN cipratan air wudhu  tidak membuat sekeliling wastafel menjadi becek/basah. Kurang etis jika kita membersihkan kaki saat berwudhu di kran wastafel ini sehingga gue lebih memilih selalu membawa botol kosong bekas air mineral. Saat akan membasuh kaki maka gue mengisi botol tersebut di kran westafel lalu membasuh kakinya di dalam bilik toilet. Pastikan kalian tidak membuat basah toilet dan lantainya dengan cipratan air saat membasuh kaki. Biar bagaimanapun kita cuma tamu disana sehingga kita harus tetap selalu menjaga kebersihan dan keapikan toilet tersebut.

Terkait tempat wisata secara garis besar gue membagi wisata di Jepang ke dalam beberapa kelompok :

  1. wisata budaya/sejarah : misalnya mengunjungi istana, kastil
  2. wisata religi : misalnya mengunjungi tempat beribadah umat beragama lain
  3. wisata alam : misalnya mengunjungi, pantai gunung, taman
  4. wisata belanja : misalnya belanja barang elektronik, baju, sepatu dll
  5. wisata edukasi : misalnya mengunjungi musium, kebun binatang
  6. wisata wahana hiburan : misalnya mengunjungi Tokyo Disneyland, Universal Studio dan semisalnya
  7. wisata kuliner : misalnya menikmati makanan khas Jepang

Nah karena keberadaan kami sebagai seorang muslim dan dengan budget untuk liburan yang tidak terlalu besar maka dari sini kami ahirnya memutuskan untuk hanya melakukan aktifitas wisata budaya/sejarah, wisata alam dan sedikit wisata belanja (jika ada uang sisa hihihi). Untuk wisata religi, kami berusaha keras untuk tidak mengunjungi kuil tempat ibadah umat beragama lain. Beberapa kuil yang kami kunjungi hanya akan sekedar di area halaman ataupun taman depan untuk sekedar foto dokumentasi.P_20180702_143352r_Halaman Luar Kuil Chin-in_r

 

Menyusun Itinerary

Selama 15 hari di Jepang gue 3 kali berpindah tempat menginap yakni 2 tempat di Tokyo dan 1 tempat di Osaka. Oleh karenanya itinerary yang gue susun juga gue bagi menjadi 3 kelompok besar. Semua tempat wisata yang gue kunjungi ada di jalur emas dan kategori mainstream artinya yang biasa dikunjungi oleh kebanyakan wisatawan.

Beberapa hal lain yang menjadi pertimbangan saat menyusun itinerary ini adalah :

  • pemilihan urutan lokasi wisata. Jadi gue usahakan agar setelah selesai berkunjung ke suatu lokasi wisata maka lokasi wisata berikutnya haruslah searah tanpa harus memutar terlalu jauh. Misalnya dalam 1 hari gue akan mengunjungi 3 lokasi wisata. Maka lokasi wisata C haruslah dapat dituju dengan mudah setelah gue selesai mengunjungi lokasi wisata B dan lokasi wisata B haruslah dapat dituju dengan mudah setelah gue selesai mengunjungi lokasi wisata A
  • lokasi dimana nantinya gue akan shalat
  • restoran halal tempat nantinya gue akan makan

 

Itinerary Ringkas :

Bagian 1 (Klik disini jika ingin langsung membaca Itinerary lengkapnya)

Day  #0 – Minggu 24 Juni 2018. Penerbangan dari Bandara Soetta T3 ke Bandara Narita T2 dengan AirAsia XT-407; 23.50 PM

Day #1  – Senin 25 Juni 2018. ETA di bandara Narita Tokyo 09.10 am

  • Check in Hotel di area Hatagaya
  • Area Harajuku.
  • Taman Yayogi
  • Area Shibuya

Catatan : karena baru memulai aktivitas di siang hari maka makan siang, shalat dzuhur dan ashar jama qashar di kamar hotel

Day #2 – Selasa 26 Juni 2018. Mengunjungi area Kawaguchiko

  • Taman Yagisaki
  • Iyashi No Sato
  • Taman Oishi/Oishi Koen

Catatan : makan sekedar isi perut dengan mie cup halal, shalat dzuhur dan ashar jama qashar di sebuah kedai gak jauh dari pintu keluar area Iyashi No Sato

Day #3 – Rabu 27 Juni 2018. Main sepeda full day di Fujimi Panorama Bike Park

Catatan : makan siang bawa sendiri. Shalat dzuhur dan ashar jama qashar di peron stasiun Fujimi

Day #4 – Kamis 28 Juni 2018.

  • Check out dan titip barang di hotel
  • Mengunjungi Yokohama
  1. Area China town
  2. Taman Yamashita
  3. Area Motomachi Yamate
  4. Minato Mirai
  5. Area French Hill dan Minato-no-Mieru Oka Koen
  6. Nissan Gallery
  • Ambil barang di hotel dan menuju Osaka naik bis malam

Catatan : makan siang di resto halal Malay Asian Cuisine. Shalat dzuhur dan ashar jama qashar di ruang khusus shalat di gedung Yokohama World Porters. Shalat maghrib dan isya jama di pojokan pelataran gedung di seberang Nissan Global Headquarters

Bagian 2a (Klik disini jika ingin langsung membaca Itinerary lengkapnya)

Day #5 – Jumat 29 Juni 2018.  Bis Willer tiba di terminal bis di Osaka Umeda +/- 07.40 AM

  • Titip barang di counter milik Willer Bus
  • Shalat Jumat di Mesjid Osaka
  • Osaka Umeda

Catatan : Makan siang di resto halal Naritaya Shokudo

Day #6 – Sabtu 30 Juni 2018. Keliling Osaka

  • Nakanoshima Park
  • Osaka Castle
  • Dotonbori
  • Pusat perbelanjaan Shin Saibashi

Catatan : karena baru memulai aktivitas di siang hari maka makan siang, shalat dzuhur dan ashar jama qashar di kamar apartment

Day #7 – Minggu 1 Juli 2018. Daytrip ke Kyoto (bagian #1)

  • Istana Nijo
  • Taman di sekitar Kuil Kinkakuji

Catatan : bisa kembali ke apartment di Osaka masih sore jadi makan siang, shalat dzuhur dan ashar jama qashar dilakukan di kamar

Bagian 2b (Klik disini jika ingin langsung membaca Itinerary lengkapnya)

Day #8 – Senin 2 Juli 2018. Daytrip ke Arashiyama dan Sagano Kyoto (bagian #2)

  • Jembatan togetsubashi
  • Halaman luar dan taman di Kuil Tenryuuji
  • Hutan bambu (takebayashi)
  • Halaman luar kuil Kiyomizudera
  • Halaman luar kuil Chion-in
  • Halaman luar kuil Yasaka

Catatan : bisa kembali ke apartment di Osaka masih sore jadi makan siang, shalat dzuhur dan ashar jama qashar dilakukan di kamar

Day #9 – Selasa 3 Juli 2018. Daytrip ke Kobe

  • Kobe China Town
  • Taman Sorakuen
  • Mesjid Kobe
  • Area belanja Sonnomiya

Catatan : makan siang bawa sendiri dan makan di salah satu sudut taman Sorakuen. Shalat dzuhur dan ashar jama qashar di mesjid Kobe

Day #10 – Rabu 4 Juli 2018. Daytrip ke Kyoto (bagian #3)

  • Check out dari apartment, titip tas di locker stasiun Osaka
  • Taman di area kuil Tofukuji
  • Halaman depan kuil Fushimi Inari Taisha
  • Kembali ke Osaka, ambil tas lalu naik bis dari terminal OCAT ke Tokyo

Catatan : makan siang dan shalat dzuhur dan ashar jama qashar di resto Naritaya Gion

Bagian 3 (Klik disini jika ingin langsung membaca Itinerary lengkapnya)

Day#11 – Kamis 5 Juli 2018. Daytrip ke Hakone

Catatan : Catatan : makan siang bawa sendiri dan makan di salah satu sudut stasiun Gora

Day#12 – Jum’at 6 Juli 2018.

  • Taman Shinjuku Gyoen
  • Shalat Jumat di Mesjid Tokyo Camii
  • Government Metropolitan Building Observatory
  • Liat-liat Islam Yokocho Okubo

Catatan : Kebetulan sesudah shalat Jum’at pihak mesjid Camii menyediakan makan siang gratis untuk para jemaah 🙂

Day#13 – Sabtu 7 Juli 2018.

  • Area Nakamise (toko oleh-oleh) di Asakusa
  • Tokyo Skytree
  • Tour dgn perahu Tokyo Cruise (Sumida River Line)
  • Taman Hama Rikyu
  • Akihabara

Catatan : makan siang di Kebab Factory Asakusa. Shalat dzuhur dan ashar jama qashar di mushala Laox dept store

Day#14 – Minggu 8 Juli 2018

  • Area stasiun Tokyo
  • Aea Ginza
  • Area Odaiba

Catatan : makan siang bawa sendiri dan makan di salah satu sudut mall. Shalat dzuhur dan ashar jama qashar di mushala Decks Tokyo Beach

Day #15 – Senin 9 Juli 2018. Kembali ke Indonesia AirAsia XT408 Narita (T2), 11.30 AM. ETA at Soetta 17.20 PM

 

Akomodasi

Sedikit tambahan pengalaman pribadi mengenai akomodasi selama di Jepang. Pada saat memperispkan liburan ini gue telah melakukan 3 reservasi apartemen via AirBnB.com sesuai dengan itinerary yang telah gue susun yakni yang pertama apartmene di Tokyo untuk periode 25-28 Juni, kemudian apartemen di Osaka untuk tanggal 29 Juni – 4 Juli dan terahir apartemen di Tokyo untuk tanggal 5-9 Juli.

Ternyata oi oi oh ternyata pemerintah Jepang mulai tanggal 15 Juni 2018 menerapkan aturan baru yakni semua apartemen yang disewakan untuk periode singkat melalui airbnb.com haruslah apartemen yang sudah mempunyai izin dan lisensi. Dampaknya adalah 10 hari menjelang tanggal check-in, satu persatu reservasi gue dibatalkan oleh Airbnb yang pastinya membuat gue kalang kabut walaupun uang yang sudah gue bayarkan akan dikembalikan secara penuh ke rekening kartu kredit gue.

Email Cancelation from Airbnb.jpg

Dari 3 reservasi yang telah gue buat hanya 1 reservasi di Osaka yang gue berhasil mendapatkan penggantinya. Sedangkan 2 reservasi lain karena waktu yang mepet dan susahnya mencari apartemen yang sudah mempunyai lisensi untuk periode yang gue inginkan maka terpaksa dech gue bikin reservasi pengganti. Untuk periode tinggal di Tokyo terpaksa gue bikin reservasi di sebuah hotel di Tokyo yang pastinya dengan harga yang lebih mahal. Belum lagi gue masih harus mengeluarkan extra biaya untuk menyewa pocket wifi untuk periode 4 hari.

Sedangkan pengganti reservasi untuk apartemen di Osaka gue menempuh cara yang sedikit  beresiko yakni dengan tetap menyewa apartemen yang sama namun pembayaran dilakukan secara cash-on-hand langsung ke pemilik apartemen. Tentunya segala resiko yang gue ambil telah gue pertimbangkan seperti misalnya informasi akses untuk masuk apartemen pada dasarnya sudah gue gue dapatkan saat deal melalui Airbnb. Kemudian dengan logika bahwa pemilik apartemen pastilah tetap membutuhkan pemasukan selama apartemen miliknya belum punya lisensi. Kemudian dari harga sewa awal melalui Airbnb sebesar USD 295 gue minta diskon menjadi sebesar 25.000 Yen atau kurang lebih gue minta potongan sebesar 1 juta rupiah.

 

Alat Bantu Navigasi

Saat berada di Kyoto gue menggunakan hypermedia.com dan Google Map. Saat berkunjung di Kyoto jelas gue lebih suka menggunakan Google Map karena output pencarian akan menampilkan opsi bis kota. Sedangkan saat di kota lain gue lebih suka menggunakan hypermedia.com atau kombinasi dari keduanya.

Eitherway selama liburan di Jepang akses internet menjadi hal yang wajib kita miliki. Baik itu melalui pocket wifi yang bisa kita sewa ataupun koneksi wifi gratis yang banyak disediakan pada stasiun-stasiun ataupun supermarket. Tapi yang pasti 2x gue merasakan hidup tanpa pocket wifi saat disana yakni saat pindah dari satu tempat menginap ke tempat menginap lain dan rasanya tuh sangat menyusahkan 🙂

Have a nice reading !!!

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: